Pages

Showing posts with label lelaki. Show all posts
Showing posts with label lelaki. Show all posts

Thursday, May 10, 2012

Bocah lelaki dengan burung besi bernama sukhoi jagoannya

Mentari beranjak ke peraduan, burung-burung sudah terbang pulang kembali ke sarang. Kota ini seakan tidak pernah mati. Suara deru mesin kendaraan roda dua, roda empat hilir mudik ke sana ke mari. Suara anak-anak, balita, orang tua, muda memenuhi rongga-rongga udara yang kemudian tertiup terbawa angin petang, hingga dalam hitungan beberapa meter, suara-suara itu masih akan terdengar oleh telinga manusia dan makhluk hidup yang lainnya.

tidak ada angin bertiup senja yang semakin temaram ini. Hanya sisa-sisa awan yang sebenarnya berwarna biru, putih, atau sebenarnya tak berwarna, yang kemudian serta merta berubah menjadi gelap, suram, kelabu manakala mentari mulai tenggelam di ufuk barat, meninggalkan awan yang tetap berada di atas, langit katanya. Berjejer rapi, tanpa pernah runtuh, jatuh ke bumi meskipun sejatinya awan-awan itu tidak ada yang menyangga, tidak pula ada tali yang menggantungnya. 

anak kecil itu terdiam, duduk menekuri  pinggir jalanan sebuah desa di salah satu kota yang ada di Indonesia. Dia adalah satu titik yang ada di dunia, yang tinggal di sebuah negeri, negeri antah berantah kata orang 'berambut pirang' di sana. Anak lelaki kecil itu beralaskan sendal jepit, memanggul bongkah-bongkah es batu yang di letakkan di dalam sebuah karung, tepat di punggungnya.

apakah lahir dapat memilih? tidak ada yang bisa memilih. Sebagian orang merasa beruntung lahir di tengah keluarga yang kaya, dengan harta melimpah, fisik dan wajah yang tampan, gagah, rupawan, dengan makanan minuman yang luar biasa enaknya. Dan sebaliknya, sebagian orang merasa tak beruntung ketika lahir dan hidup dari keluarga yang sebaliknya.

dia adalah anak lelaki, berusia 13 tahun, tinggal di sebuah desa, dengan kaki-kaki yang yang kokoh, dengan jari jemari kaki yang kuat menapak, memijakkan diri ke bumi. Dia berjalan di bawah terik matahari, setiap hari, dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun.

Hari itu dia terduduk di tepi jalan yang bersisian dengan sawah yang hampir menguning padinya. Anak lelaki itu duduk dalam diam, kelelahan, bongkah-bongkah es batu yang akan digunakan oleh bapaknya untuk membuat 'es tong-tong' itu, terasa begitu membebani punggungnya. Pikirnya "ah aku istirahat sebentar, tak mengapa" begitu gumamnya.

Anak lelaki itu tetap duduk, meski mentari begitu menggoda dengan lidah-lidahnya yang panas. Dan anak lelaki berambut pirang kerana matahari itu tetap tak bergeming, sampai ketika seorang penjaga warung kecil, tepat di seberang jalan dia duduk, memanggilnya "Kene 'le" begitu penjaga warung itu berteriak dari kejauhan.

Anak lelaki itu serta merta kegirangan, mengangkat sekarung penuh bongkah es batu yang beratnya mencapai 12 kg itu, kemudian meletakkannya di punggungnya yang masih muda belia, sama belianya dengan usianya.
"istirahat di sini le, di luar panas" begitu ujar penjaga warung itu. Seorang wanita tua, dengan kain 'jarik' yang melilit tubuhnya, dari perut sampai ke mata kakiknya. Dengan kebaya yang sudah lusuh, dengan rambut berwarna putih yang tersanggul rapi di kepalanya.

"inggih mbah, matur suwun" begitu ujar bocah lelaki itu

mbok penjaga warung meninggalkan bocah kecil itu setelah berkata "nek haus, airnya di atas meja ya le, ambil sendiri" begitu ujar si mbok, sembari menunjuk ke meja kayu tua yang tepat berada di hadapan bocah lelaki itu. 

"mbah ke belakang dulu ya, ada yang mau mbah kerjain" begitu ujar wanita renta itu, sembari meninggalkan bocah lelaki itu sendiri di amben-amben warung kecilnya.

Angin semilir bertiup, Tuhan tidaklah jahat, begitu pikir bocah lelaki itu. Panasnya matahari yang membuat tersiksa jari-jemari dan telapak kakinya, masihlah diiringi dengan tiupan angin yang meskipun semilir tetapi mampu membuat butiran-butiran keringat yang semula mengalir deras dari ujung kepala sampai ke pelipisnya, menguap, hilang, meninggalkan kesejukan. 

Bocah lelaki yang berambut merah karena matahari itu masihlah menikmati indahnya dunia, versinya, versi orang desa, versi seorang bocah lelaki yang merupakan satu titik kecil di galaksi bima sakti ini. Masih begitu asiknya sampai ketika pandangannya tertumpu pada sebuah tulisan yang berjalan, berganti hilir mudik di layar televisi milik wanita tua yang menjamunya siang ini.

Tulisan itu menceritakan tentang kematian, maut, sesuatu yang tak terduga, sesuatu yang pasti, datang tiba-tiba, bisa terjadi pada seseorang, atau pun terjadi pada banyak orang dalam waktu yang bersamaan. 

Pesawat milik rusia bernama sukhoi itu menarik hatinya, bocah lelaki berambut merah karena matahari itu. Dia tertegun mengamati betapa gagahnya burung besi yang berwarna dominan biru itu terbang, menukik, sebelum kemudian akhirnya dia tahu bahwa burung besi itu sudah hancur, berkeping-keping, karena melawan kokohnya tebing.

Dia pun tertegun, dia tak mengerti mengapa burung besi yang baru itu bisa celaka seperti itu. Mengapa burung besi yang katanya kokoh itu bisa hancur berkeping-keping karena tebing yang diam tak bergerak, mati tak peduli. Pikirnya "tebing yang angkuh berdiri itu sudah menghancurkan burung besi idamanku" begitu gumam bocah lelaki berambut merah karena matahari itu.

Bocah lelaki itu masih enggan untuk beranjak dari tempat dimana dia duduk dan termangu, menekuri setiap gerak yang dimunculkan oleh kotak ajaib yang berada di hadapannya saat itu.

Dia semakin terbingung-bingung ketika banyak orang berkerumun, menangisi kehancuran burung besi jagoannya yang berwarna biru, yang bernama sukhoi itu.

Bocah itu tidak lulus SD, tetapi dia masih mampu membaca, mengerti sedikit tentang apa yang di sampaikan oleh ibu-ibu pembaca berita yang ada di dalam kotak ajaib si mbah yang sudah tua renta. Burung besi yang baru saja lahir itu membawa banyak orang di dalam perutnya. Orang-orang yang pada awalnya merasa akan menjadi bagian dari sejarah, berada dalam burung besi yang bernama sukhoi, yang berasal dari rusia itu, negeri yang bocah lelaki itu sama sekali tidak pernah membayangkan seperti apa rupanya.

Mati, kata itu yang melayang-layang di dalam kepala bocah lelaki itu. Mereka yang berada di dalamnya secara simpang siur dikabarnya sudah pasti tidak selamat, "mestine wis menghadap gusti Alloh" begitu gumam lelaki itu. Dia merasa sedih, sedih karena burung besinya kalah dari pertarungannya dengan tebing yang sudah lebih dahulu lahir dari pada burung besinya. Dia merasa iba pada mereka-mereka yang ikut di dalam burung besinya, yang kini tidak jelas bagaimana nasib mereka di sana.

Untuk sejenak, bocah kecil berambut merah karena matahari itu tertunduk lesu, kemudian termangu. Sampai ketika dia mendengar beberapa orang selamat, tak jadi menghadap gusti Alloh, karena memang belum ajalnya, karena memang bukan takdir mereka untuk wafat bersama burung besi yang menjadi jagoan bocah lelaki itu beberapa menit yang lalu.

Ibu-ibu pembaca berita yang berada di dalam kotak ajaib itu berkata, beberapa penumpang, ada yang selamat karena dilarang oleh istrinya untuk ikut terbang bersama burung besi itu, ada yang selamat karena menunaikan sholat zhuhur, sehingga bawahannya menggantikan posisinya. Pikir bocah lelaki itu bapak itu beruntung karena mengikuti permintaan istrinya, yang lain selamat karena mendahulukan sholat lohor memenuhi kewajibannya kepada Sang Penciptanya, daripada coba-coba terbang dengan burung besi baru bernama sukhoi itu. Sedangkan yang lain tidak selamat karena menolak mengikuti perkataan ibunya, yang melarangnya terbang bersama burung besi asal negeri beruang merah itu.

Hari semakin siang, matahari tetap tidak mau berkompromi dengan kelelahan yang dirasakan oleh bocah lelaki berambut merah karena matahari itu. "Mbah, aku arep mulih" begitu ujarnya sembari sedikit mengeraskan suaranya.

si mbah yang semula berada di dapur, mengurusi dagangannya, menemui bocah lelaki berambut merah karena matahari itu. "ooo iyo, sudah segeran tho?" ujar wanita renta itu
"sampun mbah, suwun yo mbah. Pulang dulu, bapak pasti nunggu es batunya" balas bocah lelaki itu
"yo, salam karo bapakmu yo le" kata mbah putri itu kepada bocah lelaki itu.
"yo mbah, assalammu'alaikum"
"kumsalam" jawab mbah putri

Bocah lelaki itu kembali mengumpulkan tenaganya, mengangkat sekuat tenaga sekarung es batu yang beratnya mencapai 12 kg itu, kemudian meletakkannya di punggungnya yang masih belia itu. Bocah lelaki itu kembali menapak dengan sendal jepitnya yang berwarna biru tua, sendal jepit yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun lamanya.

Hari ini, dia belajar, dia belajar untuk mengatakan 'ya' pada semua kata-kata, perintah yang baik, yang dikeluarkan oleh otoritas tertinggi di dalam kehidupan anak manusia. Ketika Suami berkata 'ya' pada larangan istrinya, begitu juga sebaliknya. Dan bagaimana seharusnya seorang anak berkata 'ya' pada larangan yang disampaikan oleh orang tuanya, dan tentang bagaimana mendahulukan kewajiban pada Gusti Allah, daripada mendahulukan urusan dunia yang tak akan pernah ada habisnya.

Dan hari ini, dia belajar untuk mensyukuri apa yang sudah dia terima hari ini. Bersyukur karena matahari sudah bersedia 'memerahkan' rambutnya tanpa dia harus pergi ke salon dan membayar dengan rupiah untuk itu. Bersyukur meskipun dia tidak memiliki sepeda untuk mempermudah pekerjaan 'memanggul esnya' tetapi Allah masih memberikannya kekuatan fisik dan tubuh yang sempurna. Bersyukur meskipun dia harus berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi kedua orang tuanya, tetapi dia memiliki keluarga yang utuh, yang menyayanginya. Menyesal? tidak ada, meksipun orang tuanya tidak mampu, meskipun harus terhenti sekolahnya, meskipun kakaknya mengalami kekurangan dari sisi pendengarannya.

Allah Maha Adil adik kecil
meskipun susah payah engkau rasakan saat ini
meskipun tak dapat memilih di keluarga mana, kamu dilahirkan
tetapi, dengan syukurmu kepada Tuhan yang menciptakan kamu
tetapi, dengan syukurmu terhadap apa yang Allah berikan kepadamu

kamu jauh, jauh lebih mulia daripada aku, dia, mereka dan manusia yang lainnya, yang sempurna, yang tak sempurna, yang sehat, yang kaya raya, yang memiliki segalanya tetapi lupa, tidak pandai mensyukuri dan tidak ber-qanaah terhadap apa yang telah Dia berikan kepada aku, kita, kami, manusia.






Monday, April 2, 2012

aku, pemuda hijau, lelaki paruh baya, dalam sebuah cerita 'hahaha'

Selamat datang malam, aku punya sedikit cerita tentang empati dan simpati yang tidak berujung pada tempatnya. Tidak menyasar pada sasaran yang tepat hingga membuat aku malu, lari terbirit-birit, sekaligus ketakutan dibuatnya.

Malam ini hujan, begitu banyak syukur terucap. Baiklah sedikit prakata, berbasa-basi sejenak tentu bukan hal berat bagi mu bukan, wahai halaman blog-ku. Toh sebagai auditori, melankoli sejati, aku memang senang berbasa-basi. Mengenai syukur, rasa sakit menjalar di sekitar ibu jari kakiku, sebelah kiri. Nampaknya, kuku itu menusuk ke dalam, hingga sel-sel syaraf ujung ibu jariku, meronta-ronta dengan caranya, hingga membuat kepalaku berpikir tentang bagaimana cara menyudahi penderitaan mereka.

walllahh, aku ambil penjepit kuku, dengan perjuangan sedemikian rupa sehingga, aku, kepalaku, jari-jemari tangan dan ibu jari kakiku, berhasil menciptakan sinergi, kemudian, berhentilah teriakan histeris jaringan syaraf yang tertekan kuku ibu jari kaki ku itu. Lihat-lihatlah, nikmat-Nya baru dikurangi sedikit saja, aku sudah merasakan sakit yang tak hingga. Baru sedikit saja kuku kaki ku itu menekan jaringan syaraf yang ada di ibu jari kaki ku itu, dan aku sudah tak berdaya dibuatnya. Sekarang? jaringan syaraf itu bisa berbahagia, senang hati mereka.

Kembali tentang lari terbirit-birit, tentang ketakutan sebagai hasil dari empati, simpati yang salah sasaran.

Ceritanya, aku duduk, mengamati tingkah laku manusia di sebuah taman tepan di belakang masjid salman. Ada seorang pemuda tampan, berkulit putih, berkaos lengan panjang hijau, dengan topinya, dengan celana panjangnya, dengan ranselnya, dengan beberapa kantong plastik yang dibawanya kemana-mana. 

Untuk sesaat, awalnya aku pikir, dia pemulung, normal, seperti pemulung kebanyakan. Tetapi anggapan berubah manakala, dia mulai menggelar koran bekas di atas meja yang terbuat dari bata dan semen. Dia letakkan tas ranselnya di sana, dia keluarkan isi dari dalam tasnya, isi dari dalam kantong plastiknya. Semua????? plastik, kertas, oh Tuhan, Masya Allah, ternyata dia bukan pemulung biasa, dia pemulung dengan ketidaksempurnaan di dalam kemampuan berpikirnya, alias gila *mungkin.

Aku iba, empati, simpati, dia masih muda, sudah seperti itu, menjadi gila karena dunia, keadaan keluarga, ekonomi, gila karena cinta (*hahahahaha banyak korban karena gila yang satu ini), atau memang sedari lahir dia memang tidak normal. Aku tak tahu, ku katakan aku tak tahu, yang aku tahu, aku iba.

Lalu, aku buntuti dia, terlebih mungkin karena rasa keingintahuanku tentang dia atau karena obsesi gila ku atas rasa ego pribadi tentang mengobservasi? aku tak tahu, yang jelas, aku membuntutinya kemudian duduk tepat di sebelahnya.

Jujur saja, untuk duduk di sebelahnya aku harus mempersiapkan hidungku untuk menerima segala macam kemungkinan tentang bau, karena aku alergi dengan bau. Bau tak sedap atau pun bau dari parfum, terlebih parfum wanita *i hate it.

singkat kata singkat cerita, aku duduk di sebelahnya, lalu dengan singkat pula aku bercakap-cakap dengan seorang lelaki paruh baya yang usianya lebih dari setengah abad. Bercerita tentang pekerjaannya, tentang siapa dia, tentang BBM, tentang mahasiswa yang demo, dan menurutnya *demo untuk siapa. Kemudian menceritakan tentang pemuda berkaos lengan panjang hijau, bertopi, yang duduk di sebelah kiriku. Dan itu berarti lelaki paruh baya itu duduk di sebelah kananku.

Untuk lebih singkat lagi, lelaki paruh baya itu berkata dengan perlahan "dia agak kurang" alias tidak normal. "Bapak pernah ajak ngobrol dia, katanya dari sumatera" begitu katanya, lebih lanjut "kenapa bisa ada di sini?" begitu si bapak meneruskan, lalu "wah rumit ceritanya pak" begitu jawab pemuda berkaos lengan panjang warna hijau itu, beberapa waktu yang lalu.

-sok enak- saja, aku dan lelaki paruh baya yang berpuluh tahun berporfesi sebagai supir angkutan umum, angkutan barang, dan sekarang sedang mencari pekerjaan. Kami berbicara tentang jumlah kendaraan roda dua yang tidak dibatasi, yang mengganggu pendapatan para supir kendaraan umum seperti dia. Kami berbicara tentang terlalu banyak angkutan umum yang beroperasi, dengan trayek yang sama. Pada intinya, menjadi supir angkutan umum tidak menguntungkan lagi, saatnya beralih menjadi supir pribadi, paling tidak sampai tahun 2014, karena pada saat itu masa berlaku SIM lelaki paruh baya habis alias tiba masa 'expired' nya.

Dengan masih 'sok enak' nya pula aku dan si bapak membicarakan tentang pemuda itu lagi. Lalu, menjelang gelap, burung pulang ke sarang, anak-anak berhenti bermain di taman, si bapak dan aku pun memutuskan untuk pulang.

Hasil kesalahan analisa sebagai hasil observasiku yang singkat beberapa saat yang lalu mulai terbukti.

"klik.................., klik" anggap saja ini bunyi kamera dari telepon genggamku

-flashhh, zinghhh, clink- anggap saja itu ilustrasi dari lampu kamera telepon genggamku

lalu

"kunaon teh" pemuda berkaos lengan panjang berwarna hijau itu angkat bicara

'gdubrakkk, jdag, jdug' kepala ku serasa dihujani berton-ton kotoran burung yang melintas dan bertengger di setiap pucuk pohon yang mengelilingi taman ini.

terkejut, ternyata pemuda berkaos lengan panjang, berwarna hijau itu bisa berkomunikasi dengan jelas

"kunaon teh diphoto" begitu ujarnya

aku secara terbata-bata, masih terbenam dalam keterkejutanku berkata dengan bodohnya 

"nuhun nya" ujarku
"dihapus ya, demi Alloh ya" begitu ujar pemuda berkaos lengan panjang, berwarna hijau itu

aku tersenyum, beranjak pergi, berjalan cepat setengah berlari, kemudian aku benar-benar berlari. Malu, tentu saja aku malu, asumsiku salah kaprah. Takut, ya tentu aku takut, berbagai pikiran negatif tentang pemuda itu melayang-layang di kepalaku. Sembari bertekad di dalam hati

"aku tidak akan pergi mengunjungi taman itu untuk beberapa waktu" begitu ujarku

Sepanjang jalan aku tertawa, menahankan kebodohanku. Dan sepanjang jalan pula aku berkata pada diriku sendiri tentang betapa bodohnya aku. Tentang betapa malunya aku, ya ya ya, lain kali, observasi memang tidak cukup dilakukan satu atau dua kali, tetapi berkali-kali seperti ketika aku mengobservasi Dewi.

"Untuk semua kesengajaan, aku memaafkan. Kehidupan"

Wednesday, May 25, 2011

Hilangnya burung terkuku adik lelaki ku

"Yuda, sudah lagi main burung itu. Lihat, sudah banyak lubang itu di kandangnya !!!" begitu kicau ibu di pagi hari. -hahahaha, tega sekali saya menjuluki ibu saya dengan julukan 'kicau'. inilah dia cerita jenaka penuh makna tentang -hilangnya 'burung' adikku yuda-

Gambar ini diambil dari google image.
Burung adikku sudah hilang, jadi tidak sempat mengambil gambarnya hahahaha
Berawal dari kegemaran baru kakak iparku dan seorang pegawai ibuku, yang mencoba keahlian mereka dalam berburu. berburu burung di sekitar pemukiman rumah orang tua ku. selepas bekerja, bisa dipastikan kakak iparku dan seorang temannya yang bernama sama dengan adikku -yuda- beserta seorang karyawan ibuku. mulai mengarahkan moncong senapan angin mereka ke arah langit yang biru. menanti, mengawasi burung yang bertengger di pucuk-pucuk pohon, di cabang-cabang anthena rumah para tetangga.

Pada suatu hari, karyawan ibuku mendapatkan seekor burung yang sudah mati dari teman kakak ku itu, kak yuda. lalu "lumayan, untuk lauk makan" begitu ujar karyawan ibuku itu. 

Yuda, itu nama singkat adikku, entah sejak umur berapa aku tak tahu, tapi yang pasti adik lelakiku yang satu-satunya ini, sudah murni 100% mengalami gangguan di syarafnya. Fisiknya memang normal, ia tumbuh seperti anak biasa pada umumnya dan usianya saat ini sudah 20 tahun. tetapi, akal pikirannya hanya terhenti pada usia 7 tahun. tidak berkembang lebih jauh lagi, mungkin memang sudah enggan untuk berkembang.

Tidak ada aktifitas yang berarti, itulah yang adikku lakukan setiap hari. memutar musik yang ada di handphone miliknya, kemudian bernyanyi dengan lirik yang ia gubah sesukanya. 

Lalu hari itu adikku melihat ritual penyerahan burung yang sudah mati itu, 'burung yang diserahkan kak yuda kepada karyawan ibuku itu-. dan entah dengan alasan apa, karyawan ibuku itu pun memberikan burung yang sudah mati itu pada adikku. 'bodoh' begitu gumamku begitu mengetahui hal itu.

Adik lelaki ku ini keras kepala, luar biasa, apa yang ia mau harus didapatkannya, bila tidak maka mengamuk dengan caranya sudah menjadi senjata ampuh bagi dirinya. Dia paling pandai membuat kesal orang-orang yang berada di sekitarnya. alhasil, ibu saya pun terkadang melayangkan tangannya di tubuh adik saya, yang tingginya jauh melebihi ibu saya. tak pelak, burung mati itu pun menjadi anggota baru di rumah kami. kerja adikku itu meletakkannya di sebuah tempat sampah, kemudian mengisinya dengan benang-benang bordir sisa dari mesin jahit di rumahku. membawanya ke sana dan ke mari, hingga membuat kesal sekaligus iba ibuku tercinta. 

Tiba-tiba, -yah beginilah besarnya rasa cinta ibu pada anaknya- suatu hari ibuku pulang dengan membawa seekor burung terkuku. entah bagaimana asal mula burung itu bisa disebut terkuku, mungkin di dalam bahasa ilmiah burung itu bukan bernama terkuku, aku tak tahu. Dan sejak siang itu, burung terkuku itu menjadi anggota baru keluarga ku. 

Adikku, adik lelakiku itu memiliki aktifitas baru. bermain-main dengan burung itu kemana saja di sekitar rumahku. Ke depan, ke belakang, pendek kata, burung itu dibawa kemana saja beserta kandangnya. Memodivikasi kandang burung, memberikan 'makanan dan minuman-, hingga membuat ibu dan ayah saya kesal kepada adik saya itu. Segala macam rerumputan, benang, hingga air minum kemasan dimasukkan adik saya ke dalam kandang burung itu.

Burung itu indah, ya meskipun hanya dominan berwarna abu-abu dan cokelat, tetapi ia terkadang bersuara -terkuku, terkuku- begitu bunyinya. ayah saya menjadi begitu senang mendengarkannya berkicau, -bagus suaranya- begitu kira-kira ayah saya berujar.

Tersiksa, mungkin itu yang dirasakan si burung terkuku. Kandang yang rusak, tak lagi indah seperti ketika ibu saya membawanya pertama kali pulang ke rumah. Kegemaran adik lelaki ku, membuat kandang burung itu berlubang di sana-sini, bambu-bambunya mulai patah. hingga adik saya menambahkan lidi-lidi untuk diselipkan di setiap titik yang ada di kandang burung itu. Tidak terbang, meskipun lubang yang ditinggalkan cukup besar, ibu saya bilang "kata penjualnya, burung ini sudah jadi alias sudah jinak". tetapi apa iya begitu? aha saya tidak tahu, hingga hari ini burung itu terbang, hilang.

Cengar-cengir, itu yang adik saya tampakkan di wajahnya. "terbang, ibu burungnya terbang, gak tau" begitu katanya pada ibu saya. "ya sudah, kalau sudah terbang mau diapakan lagi" begitu ujar ibu saya. Dan ketika ayah saya pulang kantor, iya berkata "itulah jadinya kalau tidak mendengar apa kata orang tua".

Di dalam hati saya tertawa, geli, melihat drama antara ibu, ayah dan adik lelaki saya itu.

Sejinak-jinaknya burung, pasti ada naluri ingin bebas di dalam dirinya. Aha memang seperti apa yang ada di dalam burung terkuku itu? Naluri? apa iya punya naluri? mungkin insting sebagai seekor hewan, mungkin insting sebagai seekor burung yang ingin terbang bebas di luar sana. Yah, mungkin insting itu yang membawanya untuk tidak melewatkan kesempatan untuk terbang, ketika melihat lubang besar di sisi kandangnya.

Lagi pula, kandang yang indah pun tak mampu menahannya dari kebebasan, apalagi kandang yang rusak di sana sini, berlubang, kotor, tak jelas rupanya. Seperti itu pula apa yang dirasakan oleh manusia, berada di dalam istana tetapi bila 'judulnya' terkurung, tetap saja ia ingin kabur tentunya.

Dimana kamu burung terkuku adikku seharga 30 ribu? sudah makan kah kamu? bagaimana minum mu? tidak kedinginan kah kamu? nyenyak kah tidur mu? hahahaha, pertanyaan bodoh, burung itu lebih mampu bertahan di luar sana dari pada aku tentunya.

Baiklah burung terkuku adikku, tak mungkin kamu dapat membaca tulisanku. Tetapi, aku ucapkan selamat kepada mu, kebebasanmu adalah keinginanku. Mengenai adik lelaki ku, tak perlu kau risaukan itu hehehehe, dia baik-baik saja setelah kepergian mu. tetapi kenapa tidak kau bawa serta kandangmu bersama mu? agar tidak menjadi kerja adikku, mondar-mandir di sekitar rumah orang tuaku, sembari membawa kandang kosong mu itu hahahahaha.

Saturday, August 28, 2010

Asal usul WONG FEI HUNG

TRIBUNNEWS.COM - Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film "Once Upon A Time in China". Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang ulama, ahli pengobatan, dan ahli beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong).

Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan jurus "Tendangan Tanpa Bayangan" yang legendaris.

Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju.

Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan jurus "Cakar Macan" dan jurus "Sembilan Pukulan Khusus".

Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek.

Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya.

Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid.

Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin. (sabili)

Tuesday, July 27, 2010

ketika Mas Dyan pergi


Pertama

Sore itu di 3 Januari 2010, sepulang dari kerja. Seorang teman menghubungi saya "cup, sabar ya. Dyan kecelakaan". Oh, kecelakaan, pikir saya saat itu, tak apa mungkin saya akan ambil izin beberapa hari untuk menjaganya di rumah sakit, yang berada tidak jauh dari mes tempat saya tinggal.

Sesampainya di rumah sakit, bapak angkat saya keluar, menjemput saya. Beliau membawa saya ke ruang Instalasi gawat darurat, lalu seorang perawat wanita berkata "kuat kan mbak?", saya yang tidak tahu apa-apa saat itu menjawab "iya, insya Allah saya kuat". Perawat itu membawa saya ke sebuah ruangan dengan pintu terbuka, lalu ia meninggalkan saya bersama bapak angkat saya.

saya terdiam, mematung, lelaki muda itu terbaring, kaku. saya tidak tahu ia siapa, perawat sedang menjahit bagian kanan kepalanya. Satu-satunya yang membuat saya mengenali dia, ketika saya melihat telapak kakinya, pucat pasi, meninggalkan bekas terbakar matahari. Dia Mas Dyan, dia benar-benar Mas Dyan, Dyan Isworo, teman satu angkatan, satu Jurusan Fisika Universitas Lampung, satu konsentrasi Instrumentasi.

Lalu "Pak, mas dyan kenapa pak?" saya bertanya pada bapak angkat saya. Saya keluar, tak tahu harus bagaimana, duduk diam sembari memukul wajah saya, apakah benar yang saya lihat? apa saya tidak bermimpi?

Tak lama kemudian, saya lemas tak berdaya "ya Allah, dia sudah meninggal, Mas Dyan sudah meninggal. Dia lelaki yang katanya akan melamar saya dan menikahi saya bulan Juni tahun 2010 ini.

Noted : catatan ini terhenti, saya ternyata belum cukup kuat untuk menuliskan cerita tentang dia, lelaki yang sempat menawarkan diri untuk menjadi pendamping hidup saya nantinya

Tuesday, September 1, 2009

Jangan Salah Obat untuk Hati

Saya bukan penyembuh bagi luka hati manusia. Luka yang disebabkan oleh manusia yang lainnya. Saya hanya teman, teman yang bersedia mendengarkan bila diminta, teman yang bersedia memberikan solusi bila “ditanya”. Saya bukan obat, saya bukan antibiotic, saya tidak punya kuasa untuk menyembuhkan penyakit hati akut yang menyerang kalian-kalian yang bercerita.

Tidaklah bijak bila saya menempatkan diri saya sebagai obat, dan ketika mereka sudah merasa ketergantungan dengan saya, dan ketika saya terpaksa meninggalkan mereka, yang ada saya hanya membuat luka baru, bisa jadi lebih dalam dari sebelumnya.Saya tidak ingin masuk, kecuali hanya berdiri di depan pagar, untuk sekedar bertanya “apa kabar mu, keluarga mu, pekerjaan mu, dan mungkin sebagai bonus kamu boleh bercerita tentang luka hatimu akibat wanita-wanita itu. Tapi, menempatkan posisi untuk menggantikan wanita-wanita itu untuk menyembuhkan luka, maaf, saya rasa, saya pikir, saya bukan orang yang tepat.

Banyak yang main hati ketika ada sesosok anak manusia yang masuk ketika penyakit hati melanda, yang kemudian salah satu diantaranya atau bahkan keduanya merasakan “jatuh hati”. Dan ketika hanya salah satu pihak yang merasakan, maka yang timbul adalah pengharapan. Karena si sosok manusia itu mampu menghiburnya ketika rasa sakit itu dirasa.

Obat yang salah, manusia yang tadinya terluka, mungkin merasa ada pengganti yang bisa menghiburnya. Tetapi, pada dasarnya ia hanya membuka luka baru karena ternyata ia kembali mengharap cinta, kasih sayang pada manusia.

Saya bukan obat, saya hanya manusia, manusia pendengar. Saya tidak bisa, tidak akan pernah bisa menggantikan posisi wanita yang pernah menyakiti hati mereka, karena hanya Sang Pemilik hati yang bisa menyembukannya, hanya Dia yang mampu menentramkannya. Tapi, beberapa dari mereka kembali membuka luka lamanya dengan orang yang sama. Entah apa yang ada dipikirannya, karena “keledai sekalipun tidak akan jatuh ke lubang yang sama”. Ada pula yang menggantungkan harapannya pada wanita, pria lainnya.

“helaan nafas berat saya hembuskan”

Saya sudah berbuat semampu yang saya bisa, sisanya, kalian yang teruskan kawan. Karena itu jalan hidup kalian, kalian yang memilih, kalian pula yang menentukan pada apa dan siapa cinta itu kalian labuhkan.

Monday, August 31, 2009

Pada dasarnya, Pria dan Wanita

Pada dasarnya, peraturan itu ada untuk dilanggar. Seakan tidak percaya, tentang bagaimana beberapa orang bisa menerapkan peraturan, kedisiplinan, sedemikian rupa, sehingga manusia-manusia di dalamnya, tunduk dan turut serta menjalankannya. Ada yang pada awalnya dengan terpaksa, ada yang acuh-tak acuh tetapi tetap menjalankan juga, ada juga yang melanggar untuk kemudian dengan sendirinya mematuhinya.

Berdasarkan, penelitian orang-orang yang berada di wilayah barat sana. Bahwasannya pria hanya mengeluarkan 7000 kata dalam satu harinya, dan wanita 20.000 kata. Luar biasa beberapa kali lipatnya.

Bagaimana pria diminta begitu bersabar untuk mendengarkan si wanita yang bercerita, guna menghabiskan jatahnya yang ’20.000’ itu. Bahkan hingga waktu menjelang tidur tiba, si wanita tetap saja ‘keukeuh’ dengan ceritanya, sementara suaminya hanya menjawab sekenanya dengan berkata “ya, ooo, hmm” dan masih banyak kata-kata singkat lainnya. Hingga, pada akhirnya si wanita bercerita atau sebenarnya ia mendongeng untuk suaminya???

Buat sebagian wanita, adalah hal yang menjengkelkan ketika sedang asyik bercerita, tiba-tiba ketika sampai pada saat dimana si wanita memerlukan pendapat “menurut abi bagaimana? Menurut mas gimana? Menurut kakak gimana? Menurut Aa gimana?” dan yang terdengar hanya “ZZZzzzzzZZZ”, ternyata sang suami sudah terlelap terbawa ke alam bawah sadarnya.

Beberapa melengos, mengeluh kesal, beberapa mungkin ada yang tersenyum melihat polah suaminya, mengingat betapa lucunya, menyadari bahwasannya ternyata ia terlalu banyak bercerita, sehingga nampak sedang mendongeng saja. Beberapa merasa kasihan, menyadari betapa suaminya begitu kelelahan akibat aktivitas seharian demi ia dan anak-anaknya.

Terserah bagaimana mau menanggapinya.
Renungan sederhana, ia saya tuangkan karena rasa kesal yang muncul sebagai akibat dari mahasiswa-mahasiswa yang mengadakan buka puasa di asrama Annisa. Bukan masalah dengan buka puasanya, tetapi volume suara yang dihasilkan oleh peserta-peserta yang mengikutinya. Hingga menjelang adzan isya menggema, suara-suara itu masih terdengar keras dan sumbang di telinga.
Suara wanita yang tertawa-tawa, senang, riang. Suara baritone para lelakinya, yang diiringi gelak tawa. Suara mereka yang bersahut-sahutan, berlomba-lomba dengan suara adzan dari masjid yang berada tak jauh dari asrama saya, dan saya terganggu, mereka mengganggu. Tidak nampak terdengar akan mengecil volume-volume suara itu, hingga akhirnya saya keluar kamar dan berkata “maaf ini sudah masuk waktu sholat isya, tolong suaranya dikecilkan”. Tidak ada yang hening, teriakan, gelak tawa pria dan wanita, tetap saja keras terdengar.

Saya hanya diam, melihat dari kejauhan, beberapa menit agaknya, hingga akhirnya “sssttt, suaranya” begitu ujar beberapa di antara mereka. Pria dan wanita, mungkin itulah kenapa pria dan wanita harus ada batasannya. Saya heran, bagaimana rasanya tertawa, berteriak di saat adzan berkumandang. Berpikir, mencoba mengingat, seingat saya teman-teman saya tidak sampai sebegitunya, yang lelaki tidak akan betah berlama-lama karena mereka sadar, tempat tinggal saya isinya wanita semua, yang wanita pun tidak sampai sebegitunya dalam mengeluarkan suara, kecuali di kampus dan tempat-tempat dimana sekiranya tidak akan mengganggu manusia di sekelilingnya.

Beginilah dunia dengan banyak macamnya manusia yang berada di dalamnya. Saya ingin menjadi manusia individu bila menyadari bahwa nampaknya bagi mereka “peraturan itu ada untuk dilanggar”. Tapi hati saya tidak pernah mengizinkan begitu, ia tetap saja usil,ia tetap saja jahil, ia tetap saja ingin tampil, ia tetap saja ingin bersuara, menyuarakan kebenaran katanya.

Tapi kebenaran menurut hati yang saya punya, belum tentu benar di mata mereka karena setiap kita memiliki sudut pandang yang berbeda.

Monday, August 17, 2009

Karena dunia itu -harta, tahta dan wanita-

Hujan deras membasahi bumi lampung yang katanya panas, memang panas karena letak geografisnya, panas pula masyarakat yang berada di dalamnya, tetapi pada dasarnya, semua manusia baik adanya.
Patah hati, lebih tepatnya itu yang dialami oleh seorang teman saya. Patah hatinya pula yang membangunkan saya dari lelapnya tidur menjelang siang sebagai pelengkap dari sebuah pembenaran akan munculnya alasan ‘malas’. Semakin mendukung dengan turunnya hujan yang disertai angin kencang, saya menyukainya, saya mencintai hujan yang Dia turunkan sebagai tanda kasih sayang Nya pada ummat manusia, yang terkadang berkhianat kepada Nya, yang terkadang menduakan cinta Nya.

Handphone tua itu berdering, sebuah pesan masuk. “Lagi apa cep” begitu bunyi pesannya. Saya terbangun, sembari sesekali menahan rasa kantuk yang mendera, yang menggoda kedua kelopak mata saya untuk segera mengatupkannya.

Masih patah hati dia rupanya, serpihan-serpihan perasaannya masih berserakan, hingga menyebabkan dia berkata “ya emang benar, tapi sulit pada kenyataannya. Pelajaran yang saya dapet, gak boleh mencitai wanita terlalu dalam. Karena cinta yang abadi cuma cinta pada Nya. Apa saya pantas mencintai wanita?” begitu isi pesan yang kesekian kalinya.

Whuaaahh ini yang saya tidak suka, manusia melankolie yang tidak pada tempatnya. Akhirnya saya katakan padanya, bahwa bersyukurlah ia karena Allah mau menunjukkan jalan yang terbaik baginya, bayangkan bila mereka sudah menikah kemudian si wanitanya meninggalkan ia hanya karenya “motor thunder merah”. Teman saya, dia masih muda, ya setidaknya saya masih lebih tua beberapa bulan dari dia.

Awalnya saya bertanya apa alasannya mengirimi saya pesan di tengah hujan deras yang sesekali diiringi petir yang menimbulkan ketakutan dan harapan. “BT (boring time.red)” begitu alasan awalnya, saya pikir ia merasa kebosanan karena kekasih hatinya, si wanita yang juga sama manusianya dengan saya, sudah tidak bisa lagi ber-sms-an ria dengannya.

Seperti biasa, reaksi yang biasa, teman saya itu menyangkalnya, sampai pada akhirnya “ia curhat juga”, arrgghhhhh gdUbbbRakkk, teman saya ini masih merasakan sakit agaknya. Maka ketika saya katakan “saya mau ke toko buku, gramedia”, dia mau ikut begitu katanya pada saya. Lalu “hujannya sudah berhenti, ke gramed yuk. Saya lagi butuh banget teman yang bisa nunjukin bahwa dunia gak kecil, hidup masih panjang dan masih banyak wanita di dunia ini”.

Boleh, baiklah insya Allah akan saya coba tunjukkan dunia yang saya lihat, pada dia teman saya yang sedang patah hatinya. Tapi, ketika teman saya itu berkata “naik motor”, ohhh maaf saya menolak ajakannya. Dia bilang “sekali-sekali naik motor cep, bla..bla…bla”, “ya ya ya saya juga sering naik motor, dengan ayah saya, dengan ibu saya” begitu jawab saya. Lalu “ya naik motor saja, saya jemput, kita lewat belakang” begitu balasnya.

Gdubbbrakkkkk, lewat belakang
? Memangnya penerimaan PNS, memangnya penerimaan POLISI, memangnya penerimaan Mahasiswa baru, memangnya penerimaan Bank BUMN, memangnya penerimaan siswa/i baru?. Ternyata teman saya ini tidak paham dengan apa yang saya khawatirkan. “bukan masalah lewat belakang atau depan, karena keduanya sama saja, Allah dapat melihat semuanya. Akhirnya teman saya itu menyerah juga, dia mengikuti gaya hidup saya yang kemana-mana via angkutan umum dan jalan kaki “sekali-sekali mengikuti bagaimana cara saya menikmati hidup”.

Deal, dia setuju, hanya demi apa yang dia sebut dengan “melihat dunia dari sisi yang berbeda”. Humph kasihan kau kawan, nasib mu sama seperti nasib beberapa orang teman lelaki satu angkatan yang lainnya, patah hati, ditinggalkan wanitanya.

Ada yang ditinggalkan karena ternyata lelaki yang lain lebih menjanjikan dari pada dirinya, teman saya. Lebih menjanjikan dengan mobilnya, dengan apartemennya. Ada yang ditinggalkan karena kesatria barunya membawa thunder merah sebagai kendaraan andalan. Ada pula yang ditinggalkan karena “katanya saya terlalu baik cep, jadi dianggap kakak angkat aja, biar gak ada putusnya”. Hhumphh, memutuskan hubungan dengan cara yang halus. Ada juga yang ditinggalkan karena gaya hidupnya yang bagaikan seniman, “tidur malam, bangun siang, wajah awut-awutan, mata masih merah meskipun matahari sudah berada di atas kepala”.

Begitulah bila melabuhkan cinta pada manusia, saya sudah pernah mencoba memberikan pengertian kepada mereka. Tetapi ternyata, pepatah lama memang ada benarnya bahwasannya “pengalaman adalah guru yang terbaik” bagi manusia. YUppp teman-teman saya baru mengetahui kebenarannya, baru menyadari kesalahannya ketika mereka sudah terkena batunya.

Humph, ya beginilah ketika sudah menyangkut rasa,

Beginilah rumitnya wanita, diberikan lelaki baik-baik, maka "Terlalu baik katanya". Beginilah dunia wanita, tidak akan cukup bila hanya dengan mengandalkan cinta, karena cinta tidak akan pernah dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan akan -sandang, pangan, papan-, kebutuhan akan yang -primer, sekunder, dan tersier-.

Tidak bisa menyalahkan mereka yang memutuskan teman-teman saya, karena seperti apa yang mbak tingkat saya katakan "hak mereka untuk mencari dan mendapatkan yang lebih baik". Begitulah, saya pada akhirnya hanya dapat menarik nafas panjang, harta, tahta, dan wanita memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan di dunia.

Itulah kenapa saya katakan "dunia itu semu, dunia itu sementara, dan manusia menyukai yang semu dan bersifat sementara itu".

Wednesday, July 29, 2009

Aku berlari mengejar lelaki paruh baya itu

Aku berlari mengejar lelaki paruh baya itu, lalu terhenti. Menanti, temanku yang satu ini sedang sibuk dengan urusannya dengan petugas dan mesin photo copy-nya.
Mari berkisah dalam gelapnya malam, dalam temaram lampu penerangan. Bulan sabit, tak begitu nampak jelas kilau cahayanya di angkasa, namun cukup terang untuk menerangi bintang-bintang yang ada di sekitarnya.
“cep, nginep aja yuk di tempat mbak”, tidak, aku menolaknya serta merta. Pertama karena tidak begitu suka dengan yang namanya menginap di tempat orang, kedua karena memang banyak pekerjaan yang harus aku lakukan, dan itu akan lebih nyaman bila melakukannya di kamar tempat aku tinggal selama beberapa tahun terakhir.

Mari hentikan menggunakan kata aku yang semakin lama semakin mengganggu. Saya kotak sampah, ya saya kotak sampak. Wanita yang usianya lebih tua dari saya, yang saya panggil dia dengan sebutan kehormatan ‘mbak’ itu, mengajak saya untuk menginap di kamarnya, di kostan-kostan tempat dimana dia tinggal selama beberapa tahun belakangan. Untuk apa? Untuk curhat tentunya. Hhhh maka saya katakan padanya, saya ini sudah seperti kotak sampah rasanya. Di sini, di sana, di tempat liqo sekali pun, sama saja, menutup mulut rapat-rapat untuk mereka-mereka yang datang, diam-diam mendekat lalu berkata ‘cep mbak mau cerita, mau curhat’, ya selalu seperti itu pada akhirnya.

Dan topik permasalahannya adalah tentang jodoh, selalu, selalu itu. Atau tentang masalah dalam keluarganya, hahhhhhhh saya introvert, dan terkadang keadaan membuat saya semakin menjadi introvert sejati.

Malam ini, menemani ‘si mbak’ makan malam, ya karena saya juga pada kenyataannya kelaparan. Berhenti sejenak untuk mengambil hasil phoo copy-an dan saya hanya menunggu sembari duduk dalam diam ditemani angin malam yang bertiup kencang.

Tak lama, lelaki paruh baya itu berlalu di hadapan saya. Mata ini rasa tak ingin melepaskan pandangan dari melihatnya. Ia lelaki paruh baya yang unik menurut saya. Perjumpaan yang pertama kali dengannya ketika saya sedang duduk bersama ibu penjual roti bakar. Lelaki paruh baya itu sibuk mencari-cari barang-barang plastik yang bisa ia jual, yang mungkin bisa ia jadikan alat tukar untuk mencari makan.

Ada sedikit rasa iba, melihat postur tubuhnya yang nampak sudah renta. Tetapi, malam hari dengan cuaca yang tak menentu, ia keluar menarik gerobaknya, padahal beberapa hari belakangan ini angin bertiup sangat kencang, dan saya tahu angin malam tidak baik untuk kesehatan.

Berlagak peduli, saya menghampirinya lalu berkata ‘bapak mau itu, kalau mau nanti saya pesankan’ begitu ujar saya padanya. Normalnya saya pikir ia akan berkata ‘iya nak, terima kasih’. Tapi ternyata ‘terima kasih nak, tapi nggak usah, bapak sudah kenyang’ begitu katanya. Lalu mulailah saya memaksa dengan berkata ‘ndak apa pak, buat bekal’, tetapi kembali dia berkata, bersikukuh dengan keputusannya ‘nggak usah nak, terima kasih, tapi bapak sudah kenyang, untuk kamu saja’. Lelaki paruh baya itu pun pergi meninggalkan, lambat laun semakin lama semakin hilang dari pandangan.
Heran, baru kali ini ada yang menolak, biasanya yang ditawarkan akan berkata ‘iya’ dalam artian menerima. Tapi baru kali ini saya temui, lelaki paruh baya itu menolaknya.
Beberapa hari berlalu, lama sudah tak berjumpa dengan lelaki paruh baya itu. Sampai malam ini saya melihatnya, maka serta merta phonecell saya keluarkan, modus malam saya aktifkan. Lelaki paruh baya itu masih tetap dengan aktifitasnya beberapa hari yang lalu, mengais-ngais tempat sampah, mengambil botol-botol plastic yang ada, lalu memasukkannya ke dalam gerobak yang ia bawa.

Berpacu dengan waktu, lelaki paruh baya itu sudah beranjak pergi. Gerak saya terlalu lamban, dan ketika kamera handphone sudah siap untuk dipergunakan, lelaki paruh baya itu sudah hilang dari pandangan. Ingin mengejarnya, tetapi si mbak yang bersama saya, belum juga selesai dengan aktifitas photocopy-nya, jadilah saya menunggu dalam rasa penasaran dan tanda tanya yang besar tentang kemana si lelaki paruh baya berada.

Photo copy selesai, bergegas saya beranjak tanpa mempedulikan si mbak yang setengah berlari untuk mengimbangi cara saya berjalan. Kamera handphone sudah saya posisikan standby, dengan modus malam berharap agar hasil gambar yang saya dapatkan tidak mengecewakan.

Angin malam semakin kencang bertiup, kiri kanan jalan semakin ramai saja menurut penglihatan dan pengamatan saya. Manusia-manusia lesehan sudah bertebaran, ada yang makan jagung, ada yang melahap nasi goreng, ada pula yang membeli durian yang besarnya tidak seberapa tetapi sudah pasti mahal dalam harga karena ini belum tiba musimnya. Lelaki paruh baya itu tidak juga saya temukan, bahkan dengan setengah berlari sekalipun, lelaki paruh baya itu sudah luput dari pandangan.

Ia lelaki paruh baya, mungkin menurut sebagian orang lelaki paruh baya itu tidak jauh berbeda dengan lelaki paruh baya lainnya, tapi tidak menurut saya. Ia berbeda, jelas-jelas berbeda, sangat jelas berbeda, dan insya Allah dia memang berbeda.

Thursday, June 18, 2009

Calon2 pemimpin di negeri dongeng ini

Debat capres, kt temen sie,ZeeruuuUU, tapi kt cep, buang2 waktu.

Saling tuding, semua saling klaim, semua saling obral, yg lebih parah, ketika salah satu capres sbegitu sdemikian shingga 'mnegatifkan' lawannya.

hhh, padahal swasembada beras, gara2 pak petani dg keringat dan pupuk mahalnya.

padahal pancang suramadu, bapak2 kuli yg menegakkannya
padahal perdamaian, juru bicara yg mendiplomasikannya.....
poinnya, semua yang terjadi, semua prestasi yang ada, bukan karena satu orang saja, bukan kerja satu orang semata.

Manusia indonesia dialihkan, anggota DPR melenggang senang dengan CINCIN emas di jari jemari mereka.
Tersenyum dengan bangga, memakai LENCANA mematut diri di layar kaca tualet seharga jutaan rupiah sepertinya.
Gila, mata manusia dialihkan dari tingkah polah anggota DPR lama dan baru, 5 miliar, begitu ujar koran lokal.
Alokas 5 miliar untuk CINCIN emas bagi anggota DPR lama, dan LENCANA emas bagi anggota DPR baru.
Hahhh, sementara busung lapar mengancam di mana-mana.
Sementara angka pengangguran bertambah lagi
Sementara angka kemiskinan tidak berubah ke arah turun, melainkan naik yang signifikan

Timpang
Pitza Hut didirikan
termasuk ke dalam propinsi termiskin, sudah disandangkan
Timpang
enam daerah di lampung raih penghargaan program peningkatan produksi beras
tetapi, busung lapar pun tersebar di empat daerah yang menerima penghargaan.

bersedekahlah kamu baik dalam keadaan terang-terangan maupun bersembunyi, diam-diam.
Mengapa baru janjikan laptop ketika PilPres akan diadakan bulan juli tahun ini.
Mengapa tidak bersedekah ketika Aceh sedang tertimpa musibah
Ketika Yogya dilanda gempa bumi yang luar biasa

Mengapa baru menjanjikan melindungi negeri dari intervensi negara asing, tepat ketika diri mencalonkan diri menjadi salah satu kandidat di negeri ini.

Mengapa semua mengaku berjasa pada perdamaian ambon, poso, aceh.
Mengapa semua mengklaim keberhasilan tanpa mau mengakui kesalahan, kecerobohan akan rusaknya lahan gambut, rusaknya lahan resapan air, rusaknya hutan yang ada di negeri ini.

Mengapa tidak ada yang mengklaim bertanggung jawab pada banjir yang setia melanda negeri ini, apa lagi kota jakarta yang katanya ibukota negeri kita.

Mengapa pula tidak ada yang mengklaim bertanggung jawab atas jebolnya situ gintung beberapa waktu yang lalu.

Friday, June 5, 2009

Mas pendi pergi

Sore itu, saya hanya dapat menatap dalam diam. MObil pick up itu semakin lama semakin jauh, semakin menghilang dari pandangan, saya terus menatap lekat, sampai ia hilang dari tikungan.

"Mbak pit, mbak pit" begitu ujarnya sedikit agak keras sepertinya. Saya seperti mengenal siapa yang mempunyai suara itu. Entah mengapa, ada rasa senang yang mendalam, senang karena pada akhirnya suara itu kembali terdengar di lingkungan asrama Annisa. Saya pikir, itu suara mas pendi, ya saya tidak salah. Suara itu kepunyaan mas pendi yang sebelumnya menjaga asrama annisa ini. Ada perlu apa dia mencari mbak vivit, pikir kepala saya saat itu, hingga "o ya, seingat saya mas pendi memiliki hutang beberapa puluh ribu pada mbak vit, dan nampaknya malam ini beliau berniat mengembalikannya"

Ada sedikit rasa malu, karena bila memang benar uang itu dikembalikan, maka terpatahkan semua keluh kesah mbak vit tentang kenyataan bahwa mas pendi tidak akan mengembalikan uangnya yang sebenarnya tidak begitu besar nilainya baginya (mbak vit.red) yang sudah berpenghasilan sendiri. "ya mas pendi, kenapa mas?" begitu jawab mbak vit dari arah kamarnya. "ini mbak, ada perlu sedikit", begitu jawab mas pendi. Tak lama "makasih ya mbak" begitu ujar mas pendi kemudian, saya pikir transaksi hutang piutang sudah terselesaikan. "iya mas, makasih juga" begitu ujar mbak vit kemudian.

"Sekalian mau pamit mbak"begitu balas mas pendi, "O ya, mas, maaf kalau ada salah" begitu ujar mbak vit. Percakapan terhenti sampai di situ, segera saya sambar jilbab hitam saya yang tergantung tepat di belakang pintu kamar saya. terburu-buru, dalam tergesa-gesa, tersengal-sengal, untuk kemudian membukan pintu kamar. Berjalan keluar, mencari-cari hanya untuk sekedar melihat wajah mas pendi dan veni anaknya sebelum mereka pergi meninggalkan asrama Annisa ini. Pandangan mata saya tujukan ke seluruh penjuru asrama, dimana saja mata saya bisa menjangkaunya.

Mobil pick up itu masih berada di pelataran parkir asrama, bagian belakangnya sarat dengan perabotan yang mas pendi punya. Melihat kesana kemari ke arah mobil pick up, berharap dapat menjumpai wajah mas pendi atau veni untuk yang terakhir kali di lingkungan asrama ini. Hasilnya nihil, yang ada hanya, mobil itu keluar, menjauhi hingga hilang dari pandangan.

Arrrggghhh, saya menjerit, saya tidak begitu menyukai apa yang namanya perpisahan. Dan mas pendi, pergi begitu saja tanpa ada kata-kata. Tidak itu kata selamat tinggal, tidak itu kata maaf, tidak itu kata terima kasih, tidak juga kata sampai jumpa. Tidak ada kata-kata, tidak sama sekali, kecuali hanya hembusan-hembusan angin malam yang kencang membawa debu-debu beterbangan.

Pucuk-pucuk daun-daun muda yang menghijau, sesaat saya tertawa, menatap lahan luas kampus UNILA, seperti stepa dan savana. Ladang kelapa itu disulap menjadi padang rumput tak bertuan.

Mas pendi pergi tanpa permisi, pergi bersama seorang putrinya yang bernama veni. Tidak nampak induk semang kami mbak yeni, ya karena memang pada kenyataannya, mereka sudah berpisah beberapa bulan yang lalu. Dan sampai saat ini, tidak ada yang mengetahui keberadaan mbak yeni kini.

Ada sebab musababnya mengapa mas pendi pergi, ada pula sebabnya mengapa beberapa waktu yang lalu mbak yeni pergi minggat dari asrama annisa ini. Ada hubungannya dengan perkara kasih yang terkikis, entah terkikis karena waktu, entah terkikis karena lupa pada tujuan mengapa sebuah ikatan perkawinan antara dua orang anak manusia bisa terjalinkan. Mendengar kabar bahwa sang suami memiliki wanita lain di dalam kehidupannya, di dalam hatinya. Sebagai seorang wanita, yang juga memiliki rasa seperti yang mbak yeni punya, saya pikir saya mungkin akan melakukan hal yang sama, tetapi semoga Allah selalu melindunginya dimana pun dia berada.

"Tuhkan bener cep, apa yang pernah ku ceritain sama kamu dulu, kamu sieh gak percaya" begitu ujar seorang teman saya. Ya siapa pula yang akan percaya pada berita yang masih kan belum jelas kebenarannya, tentang halnya si bapak yang mempunyai istri selain ibu penjaga asrama, tentang si ibu dan si bapak penjaga asrama yang terkadang baku hantam, cerca mencerca di malam harinya, dan pada akhirnya "katanya, istrinya yang sekarang sudah punya anak, bla...bla" begitu ujar calon penjaga asrama annisa yang juga merupakan kemenakan mas pendi si penjaga asrama sebelumnya. Dan pada intinya, bapak penjaga asrama berlaku seperti itu, karena pada nyatanya ibu penjaga asrama belum bisa memberikan keturunan padanya, begitu menurut mereka-mereka yang bercerita pada saya.

Waallahu alam, saya tak tahu, tak mengerti, tak ingin ikut campur dalam urusan orang dewasa yang terkadang membuat kepala saya tak berhenti bertanya "mengapa? kenapa?" dan berjuta tanya yang lainnya.

Gadis kecil itu, veni namanya, baru saja beberapa hari yang lalu menyelesaikan ujian kenaikan untuk berganti kostum, menjadi siswi salah satu SLTP yang ada di propinsi ini. Kadang tertegun, berpikir kiranya apa yang ada di dalam alam pikirannya. Dia anak perempuan yang menjadi semakin pendiam semenjak pertengkaran kedua orang tuanya yang nampaknya seringkali terjadi di hadapannya. Diamnya gadis kecil itu semakin menjadi, ketika ibunya pergi meninggalkan asrama annisa ini, dan terakhir kali saya melihatnya, tepat beberapa hari sebelum Mas pendi pergi membawa semua perabotannya keluar dari asrama ini.

Kasihan, hanya itu yang dapat saya katakan, dan semoga gadis kecil itu tetap dapat tumbuh seperti gadis kecil lain dalam hal psikologinya, semoga kiranya Allah selalu melindungi dan menjaga gadis kecil itu hingga ia tumbuh dewasa nantinya

Tuesday, May 5, 2009

Dia bilang saya tuli

Burung-burung itu berkicau, satu sama lain saling bertanya kabar melalui cicitan yang mereka keluarkan, yang mereka perdengarkan. Indah, indah sekali, kadang tidak bisa dilukiskan, bahkan dengan kata-kata sekalipun.

Pagi, pkl 05.45. Saya terbangun setelah sebelumnya sepupu saya berkata ‘…sudah sholat shubuh atau belum?’, serentak saya kemudian beranjak, angkat kaki menuju kamar mandi. Saya bangun kesiangan, sekitar pk 05.15 pagi, setelah sebelumnya tidur terlambat, pkl 02.30 pagi.

Entah apa yang saya lakukan, sampai tidur sedini hari itu, tidak ada, hanya duduk menghadapi layar monitor, sembari menjelajah dunia maya, dalam kegerahan, dalam kebingungan, karena saya sedang kehilangan arah dan tujuan.

Pagi ini, mencoba kembali dengan mengingat-ingat percakapan dengan seorang kawan yang tidak begitu saya kenal. Percakapan dengan seorang wanita, entah juga pria. Dia memarahi saya, kesal dengan perbincangan antara dia dan saya. Mengapa? Karena berkali-kali bertanya, “kamu co atau ce?”, saya selalu menjawabnya dengan berkata “pria atau wanita tidak begitu penting”, begitu jawab saya padanya, berulang kali, berkali-kali.

Awalnya dia katakan bahwa dia seorang pria, semester 8, jurusan teknik elektro, dan saya percaya dengan keterangan yang dia berikan. Lama, entah bagaimana, dia mulai bertanya siapa saya sebenarnya, laki-laki kah? Perempuan kah? Dia pikir saya perempuan pada awalnya, lalu menjadi ragu karena nama dan gaya saya berbicara tidak nampak seperti perempuan pada umumnya. ‘Hmhhh’ hingga akhirnya selama berjam-jam dia bertanya, “kamu ini co atau ce”, “retorika” begitu jawab saya, karena memang tidak perlu dijawab.

Lama, berjam-jam kemudian, dia katakan bahwa dia seorang wanita berumur 26 tahun yang sudah bekerja, ‘jadi dia sudah berbohong pada saya’, begitu pikir saya. Tapi benarkah dia wanita? Entahlah, tidak begitu penting agaknya. Jadilah dia bercerita tentang hal “Gw, ditinggalkan pacar gw ke Balikpapan, gw sudah hancur”, begitu katanya. Saya pikir dia hancur hatinya, patah hati menurut istilah orang Indonesia, dan broken heart menurut orang barat sana. Ternyata, hancur itu bukan hatinya, bukan perasaannya, tetapi dirinya, ia sudah tidak perawan lagi, begitu katanya, begitu penuturannya pada saya.

Seperti angin lalu saja saya menanggapinya, berkali-kali dia meminta saran, selalu saya katakan “bertaubat mbak”, “hanya itu”, begitu katanya, “ya hanya itu”, jawab saya. Berkali-kali dia menyalahkan dirinya, dan berkali-kali itu pula saya berkata “jangan terlalu didramatisir mbak, yang lebih dari mbak (menderitanya) banyak”, begitu jawab saya.

Entahlah, agak enggan menanggapinya, bukan karena tidak berempati, tetapi perasaan saya mengatakan dia bukan wanita, melainkan lelaki, pria. Semakin mendekati dini hari, saya masih terus saya berkutat dengan kepala dan hati yang bersikeras untuk kembali tersinkronisas-lagi, tetapi buntu. Dan lawan bicara saya itu masih dengan teguh bertanya “kamu co atau ce”, ‘tidak penting’ lagi-lagi begitu saya menjawabnya, hingga akhirnya emosinya memuncak, dia mulai menampakkan kekesalannya, dia katakan saya “tuli”, saya “sepatu”, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Saya balas dengan “terima kasih mbak, saya merasa tersanjung”, dia semakin meradang. Saya tidak peduli, bahkan biarpun wajahnya memerah padam, saya tidak peduli. Akal pikiran dan hati memiliki urusan sendiri, saya masih punya sesuatu yang lebih penting, sesuatu yang harus saya pikirkan, tentang “mengapa saya tidak mau berpikir”, tentang “missorientasi yang belum juga teratasi, tentang “dunia yang 1 – 0 atas akhirat”.

Saya biarkan si mbak/mas dalam kekesalan, hingga ia mengakhiri percakapan tanpa salam, salam? Saya sendiri tidak yakin pada keyakinan yang dianutnya, bapak ‘nasrani’, ibu ‘muslim’ begitu katanya, tidak jelas. Tapi, ini dunia maya, dan manusia dianjurkan untuk tidak berkata jujur di dalamnya, benar begitu? Sepertinya begitu.

Sunday, May 3, 2009

The music of the night



I have brought you to the seat of sweet music's throne ...
to this kingdom where all must pay homage to music ...
music...

You have come here, for one purpose, and one alone ...
I first heard you sing,
I have needed you with me, to serve me, to sing, for my music ...
my music ...

Night-time sharpens, heightens each sensation ...
Darkness stirs and wakes imagination ...
Silently the senses abandon thier defences ...

Slowly, gently night unfurls its splendour ...
Grasp it, sense it - tremulous and tender ...
Turn your face away from the garish light of day,
turn your thoughts away from cold, unfeeling light -
and listen to the music of the night ...

Close your eyes and surrender to your darkest dreams!
Purge your thoughts of the life you knew before!
Close your eyes, let your spirit start to soar!
And you'll live as you've never lived before ...

Softly, deftly, music shall surround you ...
Feel it, hear it, closing in around you ...
Open up your mind, let your fantasies unwind,
in this darkness which you know you cannot fight -
the darkness of the music of the night.

Let your mind start a journey through a strange, new world!
Leave all thoughts of the world you knew before!
Let your soul
Take you where you long to be!
Only then can you belong to me ...

Floating, falling, sweet intoxication!
Touch me, trust me, savour each sensation!
Let the dream begin,
let your darker side give in to the power of
the music that I write - the power of the music of the night ...

You alone can make my song take flight -
help me make the music of the night ...

Tuesday, April 28, 2009

The Phantom of the Opera

It is not always about the money……….

Funny, this is very funny, when you got missorientation in ur life.
What should I do?
Big riddle is in side of my head
Don’t know what to do, just trying to help any body
Why did I was so lazy
Don wanna quit, don wan just sit
But not even make a move, not even make an action
Just standing here
Do nothing
Everybody staring at me
Is it wear if I sit down in here
Waiting for some people who want to make a transaction with me

The panthom of the opera
When Christine daee, ignore the panthom
Christine said, not because of his ugly face, not because of his beast look like, but because of the panthoms heart, his heart is ugly.

Sadness, very sadness, see it, seing the panthom feel lonely till the Christine daee die, rest in peace, he just put a rose with a ring, in Christine chemetry.

The panthom of the opera

He sing a song, the music of the night. For a few years, the only I know is that the music of the night is just a, no it look like classical music, without lyrics, but at least, I knew it, I knew that the music of the night is one of the soundtrack from the panthom of the opera.

Umm, knowing the lyrics, try to understand it, beautiful, panthom try to express his feeling to Christine daee, but unfortunately, Christine didn give him feed back for his feeling. I think, panthom feels lonely, sadness and sorrow, maybe.

Seeing him, stay and live in the underground of his own theatre, with every body ignore him because his physicly, even his mom.
And because of that, he become a possessive person, close his heart, and at least close his mind.

Poor panthom, beautiful lyrics of the music of the night, very romantic, and ironicly the panthom of the opera life story.

Sunday, April 26, 2009

Skak Mat

Kira-kira benar atau tidak penulisannya ya? skak mat, atau shack mat atau scack match? ah ndak terlalu penting agaknya. Saya bangga, ya pagi ini saya subhanallah bangga pada diri saya sendiri. Skak mat, saya menang, tapi, apa memang benar saya sudah menang? atau justru saya sedang menderita kekalahan? wah entahlah, tidak jelas. lalu bagaimana kisah 'skak mat' itu bermula ???

Begini ceritanya, alkisah pada suatu hari sebuah pesan singkat tanpa nama, mampir, nangkring di depan jendela handphone butut yang saya cinta. seperti apa isi lengkapnya? itu dia, karena sms 'tanpa nama', jadilah itu sms saya anggap angin lalu, saya baca lalu hapus begitu saja. tetapi, saya mengingat sedikit intisari dari sms yang saya terima sore itu. isinya kira-kira begini 'sudah selesai mbak muhasabahnya?' begitu si pengirim pesan bertanya.

Karena saya tidak mengenalnya, ya saya bilang saja 'salah sambung mas/mbak', begitu saya membalasnya. Eh, si pengirim membalas 'saya tidak salah sambung', begitu katanya. Nah lho, darimana ini orang tau nomor saya??? pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang di kepala, bukan di telinga. Berpikir-berpikir-berpikir, mentok, tidak ketemu juga, hingga akhirnya saya bertanya lagi pada si fulan pengirim pesan, tentang darimana dia bisa tau nomor saya. 'Dari mbak ida', begitu katanya. Haduh, gdubbbbbrakkk, kok bisa mbak ida memberi tanpa seizin saya?? begitu tanya saya di dalam hati.

Lalu, si fulan itu berkata yang intinya bahwa saya ndak boleh marah pada mbak ida yang sudah memberikan nomor saya padanya. "yah mau apa lagi, sebenarnya saya agak malas berinteraksi dengan tetangga sebelah, tapi karena kamu sudah tau nomor saya, jadi apa yang bisa saya bantu?' begitu saya bertanya padanya. Dan tahukah kamu dia menjawab apa 'cuma ingin punya teman, saya di sini sudah 3thn tapi ndak punya teman, dan bla...bla...bla', begitu katanya. 'hah gak punya temen, kagak salah? Ngapain aja 3thn di bandar lampung tapi gak punya teman. 'Gak beres nie orang' saya benar-benar menangkap ada sinyal gak beres dari ini manusia.

Akhirnya, saya katakan, bahwa saya ndak masalah berteman dengan dia. Pesan pun tak lagi nampak di layar kaca, identitas si pengirim pesan saya beri nama sesuai nama ponpesnya, bukan nama si empunya, karena saya agak malas menyimpan namanya.

Satu hari berlalu, sejak si fulan mengirim sms itu. Saya pun sudah bertanya pada mbak ida, perihal benar tidaknya dia memberi nomor saya pada salah satu anak ponpes sebelah, dan ternyata 'nggak, aku tu gak pernah kasih nomor yu' sefta ke orang lain' begitu jawabnya, nah lho, tu orang tau darimana???

Adem ayem saja, sampai tiba-tiba saya menerima pesan sekitar pkl 22.00 malam dari si fulan, yang isinya 'mbak septa', sudah itu saja, tidak lebih tidak kurang, dan at least 'gak penting, ini sms'. Nah ini dia, gak beres juga buntut-buntutnya, gerah, saya tidak suka bila ada yang mengirim pesan tidak penting, dari lelaki pula, malam-malam pula, dan saya tidak kenal pula. Handphone butut tercinta saya wafatkan sementara, untuk kemudian menjelang shubuh saya aktifkan. Serta merta dengan semangat 45 saya membalas pesan dari si fulan, yang intinya saya tidak bisa membantunya, beruntun saling berbalasan, hingga akhirnya saya berkata bahwa kalau dia mau berteman dengan saya, dia harus pandai-pandai menjaga hatinya. '... ikhwan itu agak susah menjaga hati kalau sudah berinteraksi dengan perempuan' begitu pesan saya padanya.

Tak berapa lama, dia membalas dengan berkata '......hatinya tidak dijaga, tapi dikurung....' begitu penggalan pesannya. Lalu 'saya serius' begitu pesan saya 'saya ndak mau nanti-nantinya, kamu bilang suka, atau mau menjadikan saya istri di kemudian hari, karena kalau itu terjadi, saya ndak mau berteman dengan kamu' begitu lanjut saya.

Eng ing Eng, skak mat, pesan saya yang terakhir kali tidak berbalas, si fulan tidak membalas pesan saya. Nah ini dia buntut dari perkenalan melalui pesan sehari yang lalu, ada buntut tidak mengenakkan.

Saya hanya bisa tertegun sejenak, kemudian tersenyum-senyum, lalu tertawa tergelak, ternyata dugaan saya benar adanya, pertemanan itu ada maksudnya. Tertawa senang, skak mat dari saya untuk si dia, saya gembira, karena kalau pak warsito tahu akan hal ini sepertinya dia akan berkata bahwa 'kamu sudah mulai berperasaan', kalau pak nandi tahu akan hal ini, pun sepertinya ia akan berkata 'kamu sudah mulai peka', dan kalau teman saya mukhsin mengetahuinya, saya harap dia akan berkata 'kamu sudah gak lugu lagi cep'.

Setidaknya saya sudah sedikit ada kemajuan, sudah ndak gampang lagi dibohongi untuk hal-hal yang seperti ini, skak mat, pokoknya skak mat, saya menang, saya menang, atau saya sedang menderita kekalahan di dalam kemenangan? Arrrggghh entahlah, yang jelas, untuk saat ini saya menang dan saya senanggggggg.

Monday, April 6, 2009

dia mendebat saya, sepertinya

-chapter 2-

Kereta sudah tiba
, khawatir tertinggal saya segera mengajak adik saya masuk agar tempat duduk tidak diserobot orang, maklumlah kelas ekonomi. Tidak ada kelas eksekutif atau bisnis pada jam-jam segini di kota ini, kelas-kelas itu baru dibuka sekitar pkl 21.00 WIB. Menurut seseorang yang baru saya kenal, jam keberangkatan kereta ekonomi dengan eksekutif dan bisnis yang tidak jauh berbeda yang akhirnya membuat penumpang lebih memilih naik kereta ekonomi. Akhirnya pihak perkeretaapian mengeluarkan keputusan bahwa kelas-kelas itu hanya dibuka pada malam hari saja.

Saya tidak begitu mengerti dengan karcis yang saya bawa, karena saya memang hampir bisa dikatakan jarang bepergian dengan alat transportasi yang katanya begitu merakyat di Indonesia. Seorang petugas bertanya dan melihat karcis saya, lalu katanya ”ini gerbong III de”, ’oh begitu pikir saya, tapi saya dan adik saya belum dapat naik, kereta ini masih menunggu penumpang khusus untuk gerbong III yaitu rombongan anak-anak TK.

Tak lama rombongan itu pun tiba, ramai, gerbong III kereta ini menjadi benar-benar ramai, saya dan penumpang yang lain, diminta berdiri selama lebih kurang setengah jam, karena gerbong ini tidak cukup untuk menampung kami yang sudah membeli karcis melalui jalur resmi. Tapi tak apalah, demi anak-anak TK kami yang dewasa mengalah untuk sementara.

Menyenangkan, saya bersama penumpang yang lain berdiri di dekat pintu gerbong kereta. Hingga akhirnya mempertemukan saya dengan orang-orang yang menyebalkan dan ada pula yang menyenangkan. Salah satu dari sekian banyak pengalaman berharga yang saya dapat dari sebuah perjalanan singkat selama 6 jam. Saya sempat bersitegang dengan salah seorang penumpang yang saya tidak tahu namanya, tapi kemudian berakhir dengan kata maaf yang entah ia terima atau tidak.

Dia berdebat tentang agama pada saya dan seyogyanya saya mencoba memberi penjelasan padanya. Tapi, entah berguna atau tidak baginya, karena pada akhirnya saya berkata ”lakuum dienukum waliadien” saya tidak suka berdebat, tidak berguna selain hanya kekalahan saja yang akan didapat oleh saya dan dia. Tak lama anak-anak kecil yang lucu itu sampai di salah satu stasiun kereta yang ada, rejosari kalau tidak salah namanya. Dan akhirnya kami yang berdiri, bisa duduk kembali.

--nyambung--

Thursday, January 8, 2009

Nikmat itu

Nikmat itu baru diambil satu

Masih menahan sakit dalam diam tertahan, seorang wanita dalam sebuah lakon di dalam kotak ajaib berkata ’Allah memberikan ujian ini, karena saya dianggap mampu...bla...bla...’ tapi bukan pernyataan itu yang membuat mata ini berkaca-kaca, wanita di dalam lakon itu dibutakan matanya, ya hanya menurut skenario saja tentunya.

Kepala ini tersinkronisasi dengan hati, lalu ’ masya Allah, baru kiranya satu buah nikmat yang Allah ambil untuk sementara, tapi aku sudah sebegitu sedemikian sehingga, mengeluhkan sakit yang belumlah seberapa bila dibandingkan dengan manusia-manusia difable, kurang beruntung di luar sana’. Tak tahan, aku pun memutuskan untuk segera tidur, dalam diam, hati ini terus berkata-kata ’apa yang saya rasakan saat ini belumlah seberapa, belum apa-apa’

Hmmh, menghela nafas panjang, beginilah kiranya ketika Allah mengambil nikmatnya, meskipun hanya sebentar saja, dan beginilah kiranya manusia ’berkeluh kesah saja kerjanya’.

Diam, dalam lelap hingga entah berapa lama ibu berkata ’de, bangun sahur’, agak malas rasanya, karena memang pencernaan ini tidak mau kompromi dengan makanan yang masuk pada waktu dini hari, kecuali air putih dan sekotak susu cair, tapi ibu tetap memaksa, biar gak masuk angin’ begitu katanya.

Demi, akhirnya makanan itu kutelan juga, tanpa mengunyah, karena gigi ini luar biasa dampak sakitnya.

-bersambung-

Wednesday, September 24, 2008

Radiasi Ponsel Vs Sperma

Jakarta - Setelah studi yang menyebutkan penggunaan ponsel membuat anak rentan kanker, kini sebuah studi yang digagas oleh Cleveland Clinic kembali memperkuat bahwa radiasi ponsel juga bikin sperma loyo.

Sebelumnya, Cleveland Clinic juga pernah melakukan studi serupa yang menyatakan kaum lelaki yang menghabiskan waktu berjam-jam melakukan panggilan via ponsel memiliki resiko penurunan jumlah sperma.

Kini studi lanjutan mencoba mengambil sampel sperma dari 32 subjek dan didekatkan 2,5cm dengan ponsel yang mengeluarkan sinyal. Jarak tersebut disimulasikan berdasarkan kebiasaan pria yang mengantongi ponselnya dimana jaraknya dekat alat kelamin mereka.

"Karena banyak orang menggunakan handsfree untuk karena isu kesehatan dan radiasi, namun kini lebih penting lagi untuk dipelajari dan memberikan pengertian bahwa sinyal radiasi yang paling besar adalah sumbernya yang diletakkan menempel dengan anggota tubuh mereka yang lain," ujar Dr Edmund Sabanegh, salah satu tim periset seperti dikutip detikINET dari Vnunet, Rabu (24/9/2008).

Tuesday, August 26, 2008

Balada Lelaki Tua

Bagian Ketiga
===========
Diam, saya hanya diam. Waktu sholat dzuhur pun lewat sudah, imah meminta izin pada kakek untuk keluar sebentar, dengan suara yang keras 'ah si kakek sudah kurang pendengaran' begitu kata hati kala itu, kakek pun mengizinkan.

Masih dalam diam, waktu pun berlalu menjelang ashar imah belum juga datang. Bukan jadi soal pada awalnya, pun ketika imah memang berjanji pada kakek bahwa ia tidak akan berlama-lama di luar. Hingga adzan ashar berkumandang, bel pun lonceng dari kamar kakek pun berbunyi lagi, saya mulai geragapan, gusar, si kakek terus saja membunyikan loncengnya.

Melihat saya yang muncul, seyogyanya kakek bertanya "imah mana?" begitu tanya dia pada saya. "Lagi keluar mbah" dengan nada yang keras, karena kakek memang benar-benar kurang pendengaran. "Mau sholat ya mbah" begitu tanya saya padanya, "iya" jawab si kakek. "Sini mbah, biar saya saja" saya mencoba menawarkan bantuan "memang anak bisa?" kakek agak ragu pada saya, ya wajar saja, dia baru saja melihat saya, dan itupun hari ini. "Insya Allah bisa mbah" saya mencoba menenangkannya.

Alhamdulillahnya tadi saya sedikit mengamati apa yang imah lakukan pada si kakek. Agak gugup pada awalnya, khawatir membuat kakek tersinggung. Memulai dari membasuh kedua tangan, berkumur, yah layaknya berwudhu seperti biasanya, hanya saja ini dilakukan di atas ranjang. Kakek berwudhu sembari bertanya nama saya "sefta mbah" dan saya harus mengulangi beberapa kali sampai ia berkata "ooo sefta" kira-kira begitu jawabnya.

Gugup yang awalnya hinggap, lambat laun mulai sirna, hingga sampai pada membasuh kedua kaki, tidak sengaja tangan saya menyentuh kakinya. Lalu, si kakek berkata "ya batal", dengan lugunya saya berkata "oh batal ya mbah? kalau gitu ulang dari awal lagi ya?", "iya, ulang dari awal" begitu tambah kakek pada saya.

Selesai, berwudhu pun selesai. Kakek mengenakan koko dan songkok putihnya, "terima kasih ya nak" begitu kata kakek. Saya bergegas pergi, tak ingin mengganggu kekhusyukan sholatnya.

Keluar dari kamar, saya hanya diam. Tergugu, termangu, saya hanya bisa berkata-kata di dalam dada "subhanallah". Entahlah, begitu sulit menggambarkannya dengan kata-kata.

Mengetahui kakek masih menunaikan sholat, ibadah yang paling utama, itu saja sudah cukup membuat saya terpana. Apalagi ketika ia meminta saya untuk mengulangi wudhunya, yang karena secara tidak sengaja saya menyentuhnya.

Padahal sejatinya ia lumpuh, benar-benar lumpuh, sehari-harinya ia habiskan di atas tempat tidur saja.

Masih dalam entahlah.
Banyak yang muda, tidak sholat ia. Padahal masihlah kuat fisiknya.
Banyak yang muda, tapi menunda sholatnya.
Ada juga yang sudah tua, belum juga mau menyadari ketuaannya, malah semakin menjadi saja.
Ada juga yang tua, malah semakin lupa pada Tuhannya.

Kakek, balada seorang lelaki tua....
Allah panjangkan usianya dan berkuranglah nikmat Nya

"Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa."

Ar Ruum (30:54)

Dan ia masih tekun di dalam sholatnya. Saya tak ingin pikirkan apakah diterima atau tidak amalan sholat itu di sisi Nya. Tak peduli akan itu semua, hanya berpikir bilamana saya menginjak usia-usia seperti si kakek tua, apakah saya akan seperti dia?

Kakek memang tua dalam hal usia tapi tidak di dalam ibadahnya

--tamat--

Monday, August 25, 2008

Balada Lelaki Tua

Bagian Kedua
===========
Saya tak banyak mengetahui seperti apa silsilah keluarga yang saya tumpangi dan belakangan saya baru tahu, kalau lelaki yang dimaksud oleh si mbak adalah seorang kakek yang sudah berumur antara 75 - 80 tahun. Tidak pernah melihat kakek berkeliling di sekitar rumah karena pada kenyataannya saya pun baru tahu kalau si kakek menderita suatu penyakit yang menyebabkan ia lumpuh di masa tuanya.

Tidak lama saya habiskan waktu di Jakarta, tidak betah, karena atmosfer yang panas dari kota ini. Esok hari, malam minggu tepatnya, saya akan tinggalkan kota ini.

Hari itu, hari sabtu dan saya lupa tanggal berapa saat itu, tidak ada yang bisa saya kerjakan. Proposal kunjungan industri sudah saya hantarkan kemarin, mau berbenah-benah rumah, bingung apa yang mau dibenahi. Mau memasak, ternyata orang rumah sendiri memang jarang memasak, bukan karena malas, tapi lebih karena semua penghuni yang ada di rumah ini bekerja, kecuali imah.

Imah, salah satu penghuni di rumah ini, saya pikir dia berada di bawah saya satu tahun umurnya. Sehari-harinya, dia mengajar di TPA yang ada di sekitar daerah ini, tidak tahu dimana tepatnya. Hari itu, saya hanya berdua dengannya, awalnya saya sadari begitu. Hingga waktu dzuhur tiba, tepat selepas adzan dzuhur berkumandang, lonceng berbunyi. Imah memasuki kamar yang berada tak jauh dari tempat saya duduk menonton televisi.

Apa yang imah lakukan? tertegun saya pada awalnya. Siapa lelaki tua yang berada di atas pembaringan itu. Setiap detail yang imah lakukan bagi si lelaki tua saya amati dengan seksama. Lama, tahulah saya, bahwa yang membunyikan bel itu ada si kakek yang baru hari itu saya melihatnya meski hanya dari kejauhan saja.

Tak berani mendekat, saya hanya mengamati dari depan pintu kamar, kakek membasuh kedua tangan, layak orang berwudhu, ia lakukan semua ritual itu. Tak lama, imah keluar dari kamar, saya pun memberanikan diri bertanya "kakek sholat ya?", "iya" begitu jawab imah sekenanya.

bersambung...