Pages

Tuesday, February 24, 2026

Bukan sekedar di atas kertas, sebuah ilustrasi

Hujan turun, deras, aku bercerita tentang seorang anak manusia yang sudah cukup lama aku kenal, amat lama. Beberapa berkeluh-kesah pada datangnya hujan, tetapi anak-anak pembawa payung-payung besar itu, begitu riang ketika hujan datang, karena berarti 'profesi mereka sebagai pengojek payung' sudah pasti menuai rezeki.

Suara titik-titik hujan itu begitu terdengar keras, membasahi setiap mili dari atap rumah tempat anak manusia itu berada kini. Sekedar ingin bercerita tentang bahwa kualitas seorang anak manusia bukan sekedar apa yang tertera di atas kertas.

Suatu ketika, ketika aku tidak tahu harus memulai darimana, suatu ketika dimana aku merasa tidak bebas dengan kamu, tempat dimana aku terbiasa bercerita, berceloteh tentang tingkah laku manusia, penghuni bumi ini, penghuni bumi nusantara, Indonesia.

Dan anak SD yang jujur itu pun sudah beranjak dewasa

Dan tangis itu pecahlah, sesenggukan ia, sore menjelang sholat maghrib itu, ketika dia mengetahui bahwa dia satu-satunya orang yang mendapatkan nilai mutu terendah dari teman-teman satu kelasnya. Sebenarnya nilainya bukan menandakan bahwa dia tidak lulus untuk mata kuliah itu, dia lulus, tetapi dengan semua apa yang dia usahakan, dia merasa keadaan sudah berlaku tidak adil padanya.

Temannya berkata, "Bill gates berkata, orang sukses itu adalah orang yang tau bagaimana dunia bekerja". Hatinya berkecamuk, dia marah entah pada siapa, marah pada dirinya karena tidak bisa bekerja seperti dunia bekerja, dia mampu, dia tidak mampu, dia tidak mau. 

"Apakah aku harus berbuat curang pula seperti mereka, untuk sukses di dunia?" begitu dia berkata pada temannya yang berada disaluran telepon selulernya

"Ya, supaya kamu bisa mendapatkan hasil seperti apa yang teman-teman kamu dapatkan, jika memang itu perlu menurut kamu" begitu jawab temannya

"aku tidak bisa" begitu jawabnya

"Kenapa kamu tidak bisa?" tanya temannya
"Bekerja seperti apa dunia bekerja, kalau kamu merasa bahwa kamu diperlakukan tidak adil, kalau kamu merasa bahwa perlu agar orang lain tau, kamu tidak sebodoh itu. Maka kamu temui dosenmu, tanyakan mengapa nilai kamu paling rendah diantara yang lainnya. Daripada kamu berkeluh kesah yang tidak menghasilkan apa-apa" begitu ujar temannya pula

Sejenak perempuan itu terus menarik nafas panjang, kepala dan hatinya terus berpikir, kemudian
"menemui dosen? untuk apa? bertanya mengapa nilaiku bisa seperti ini? kalau pun aku diberikan lembaran-lembaran hasil ujianku, aku percaya memang aku pantas dengan nilai itu. Lalu? aku harus berkata apa lagi? mengatakan bahwa hampir 100 % peserta ujian berlaku curang? bekerja sama? menyamakan jawaban setiap kali ujian?"

"ya kalau memang perlu" begitu jawab temannya

"Tidak, aku tidak mau begitu, aku tidak ingin begitu. Berlaku jujur, sudah menjadi keputusanku, meskipun dari dulu aku sudah tahu akan seperti ini konsekwensinya, tetapi tetap saja kali ini begitu mengecewakan aku. Mereka yang sama sekali tidak tahu menahu, yang kadang hanya bermain-main ketika dosen-dosen itu menyampaikan materi di depan kelas. Dan masih banyak lagi hal-hal lain yang membuat aku kecewa. Rasa kesal itu selalu ada, begitu setiap kali ujian diadakan, kejadian sama berulang. Persaingan ini tidak sehat, kompetisi ini tidak menguntungkan aku." ujar anak perempuan itu

lalu tambahnya

"yang semakin membuat aku merasa malu, ketika bagian administrasi tempat dimana aku menuntut ilmu, memperlakukan aku seperti berbeda dengan teman-teman aku yang lainnya. Mereka tidak menatap wajahku ketika aku bertanya tentang subjek yang harus aku ulang di semester depan. Mungkin hanya perasaanku saja, tetapi pada saat itu aku ingin berkata -aku tidak bodoh, pada saat ujian itu diadakan, aku sedang dalam keadaan sakit-, semakin tidak berpihak kepadaku ketika banyak yang berlaku curang pada saat ujian. Itu selalu terjadi, meskipun dosen pengawas melihat, meskipun pengawas ujian berada di sana, seperti tidak terjadi apa-apa. Mereka yang mengawas turut berperan dalam prilaku curang yang dilakukan oleh teman-temanku" begitu ujar anak perempuan itu sembari terus sesenggukan menahankan tangisnya

"Dengar,........." temannya mengomentari celoteh panjangnya
"keluh kesahmu tidak akan menghasilkan apapun itu, temui dosenmu, katakan apa yang terjadi, supaya berhenti tangismu, supaya berhenti keluh kesahmu. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kalau kaum itu sendiri tidak berusaha untuk mengubahnya" tambahnya

Anak perempuan itu terdiam, dia teringat ketika beberapa tahun yang lalu, ketika dia duduk di bangku sekolah dasar, bagaimana dia dikucilkan karena diminta untuk membocorkan jawaban ujiannya kepada teman-teman satu kelasnya. Hal yang menyakitkan, dan lebih terasa menyakitkan ketika dia masuk ke perguruan tinggi, dimana dia berpikir bahwa masa lalu pada saat SD itu sudah berlalu, ternyata itu hanya bayang dan harapan semu. 

Semakin kejam ketika orang-orang dewasa lebih percaya dengan apa yang tertera di atas kertas, daripada apa yang ada di dalam kepala manusia yang memiliki kertas. 

"Sekarang kamu mau apa?" tanya temannya
"Menyerah? perjuangan kamu belum selesai, dunia luar lebih kejam daripada ini, lebih absurd, lebih aneh, sampai saling membunuh. Apa yang terjadi pada mu, dihadapkan pada keadaan dimana orang-orang disekelilingmu berbuat curang massal pada saat ujian? itu masih hal yang kecil, dan memang seperti itulah dunia bekerja. Kalau kamu tidak bisa menerima, bersabar, berlaku curanglah, karena memang seperti itulah dunia bekerja saat ini." begitu ujar temannya saat itu

"Tidak, aku tidak mau. Ibu bilang -nak, yang penting ilmunya, bukan nilainya, biarkan orang berpikir bahwa kita bodoh, yang penting kita tidak bodoh-. Dulu, ibu juga pernah bilang -kita tidak perlu berkata kita pintar untuk membuat orang lain berpikir bahwa kita pintar-. Dan aku tahu, aku tidak ingin berlaku curang seperti itu, aku merasa Allah melihatku, -........,dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan, bukan sebaliknya.....-" ujar anak perempuan itu

"Kalau begitu, tegakkan kepalamu. Memiliki nilai B itu bukanlah aib karena kamu berusaha dengan dirimu sendiri, bukan dengan bantuan orang lain. Tidak perlu merasa malu, tidak perlu merasa iri, menjadi jujur itu adalah pilihanmu. Negara ini memang seperti ini dan kamu sudah tau itu, kalau kamu tidak bisa bertahan, maka kamu harus pindah ke luar dari negeri ini. Negeri ini sudah sampai dimana orang-orang yang berlaku jujur itu dianggap aneh" begitu ujar temannya

Anak perempuan itu masih terdiam, dia membenarkan apa yang disampaikan oleh temannya pada saat itu, malam itu, hari itu. Dan semakin membenarkan ketika dia berpikir, ketika hatinya berkata bahwa orang-orang yang tidak berlaku curang, dianggap aneh, semakin lama semakin menjadi minoritas. Sama seperti agama Islam, agama yang dianutnya, yang datang dalam keadaan aneh, dan akan kembali dianggap aneh, bahkan saat ini pun sudah dianggap aneh.

Anak perempuan itu menghentikan tangisnya, dan aku bersyukur dia sepertinya mulai mengerti jalan hidup yang dia jalani saat ini. Anak perempuan itu semakin menyadari bahwa apa yang dia katakan dahulu bahwa -hidup itu pilihan- seperti inilah nyatanya. Dia yang memilih untuk menjadi berbeda, maka dia harus berusaha lebih karena jalan hidup yang dia pilih. Dunia belum berakhir dengan anggapan miring orang-orang tentangnya, dunia belum berakhir dengan nilai B di lembar kertas miliknya.

"Makasih ya kak" begitu ujar anak perempuan itu kepada kakaknya yang sudah seperti teman baginya

Malam pun semakin larut, anak perempuan itu mencoba berdamai dengan hati dan akal pikirannya. Memberikan semuanya kepada Allah yang menentukan takdirnya, menerima semuanya sebagai rezeki, sebagai nikmat yang harus dia syukuri.

---------------------------------------------

"Jadi gitu cep ceritanya" begitu ujar temanku itu kepadaku

Pagi, ketika lelaki itu datang, duduk kemudian bercerita tentang adik perempuannya yang berkeluh kesah kepada kakak lelakinya, dia. Tentang apa yang terjadi di lingkungan tempat adik perempuannya bersekolah, di sebuah Institut teknologi ternama. 

Aku hanya mengangguk, sesekali tersenyum, mengiyakan, menggelengkan kepala, lalu ujarku
"seperti inilah dunia tempat dimana kita berada"

Angin semilir bertiup, sejuk, membawa matahari berjalan semakin jauh, semakin membumbung tinggi kemudian tertutup awan. Aku dan temanku itu kembali duduk dalam diam, seperti tenggelam dalam alam pikiran kami masing-masing tentang bumi nusantara dan manusianya yang semakin bertambah tua, semakin menjadi tingkah lakunya, semakin menyedihkan, tetapi memang beginilah 'dunia bekerja saat ini', memang seperti inilah dunia yang diterima oleh manusia zaman kini.

Sebuah ilustrasi tentang manusia zaman kini
cerita tentang anak SD yang dikucilkan karena tidak membagi jawaban ujian kepada teman satu kelasnya, cerita setahun yang lalu, membuahkan inspirasi untuk menuliskan cerita ini


Tentang Dia, saya, kita dan bahagia

Bagaimana saya mencintai Nya? Hanya Dia yang tahu, Dia Yang Maha Tahu.

Saya bukan tipikal pribadi yang mudah terkesan dengan makhluk yang sama manusianya dengan saya.

Karena setiap kemampuan yang dimiliki oleh manusia, Allah yang memberikan, Allah yang menggerakkan hati mereka, yang memberikan hidayah kepada hamba Nya.

Tak ada sedikit pun andil manusia di dalamnya, karena semua yang kita miliki, adalah miliknya.

Mereka yang pintar, semua Allah yang membukakan akal pikiran mereka, untuk dengan mudahnya menangkap, menerima, mencerna, ilmu Nya, kalam Nya.

Mereka yang cantik, tampan rupawan, bersuara merdu, semua Allah Yang berikan.

Mereka yang baik hatinya, dermawan, Allah yang menggerakkan mereka agar berlaku demikian.

Seorang kawan saya pernah berkata, kenapa tak ada photo anak-anak mu, suami mu? Karena saya tidak mau penyakit 'ain menjangkiti mereka yang melihat dan menjangkiti keluarga kecil ku. Karena saya tidak ingin menyakiti, melukai perasaan mereka yang belum bertemu dengan jodohnya, yang belum mendapatkan buah hati di dalam kehidupan pernikahannya.

Seorang teman saya pernah bertanya, tak inginkah kamu berjalan-jalan keliling dunia?

50:50  karena saya bisa berimajinasi mengunjungi belahan bumi Nya yang lain dengan memejamkan mata, membayangkan, berimajinasi berada di sana, menghirup udaranya, berlarian di atas rerumputan sembari menikmati air sungai yang mengalir, dengan menutup mata, membayangkan, Alhamdulillah bahagia bagi saya. Karena bahagia kita yang hadirkan bukan?

Tidak ingin kah kamu bekerja? Berusaha? Memiliki banyak harta?

Saya tertawa

Untuk setiap manusia, saya percaya antara yang satu dengan yang lainnya Allah sudah menentukan menetapkan takdir mereka. Apa yang saya butuhkan, tidak sama dengan apa yang orang lain butuhkan. Rezeki bukan sebatas mobil, rumah, jalan-jalan ke luar kota, ke luar negeri saja. Memiliki jodoh yang mengerti, anak-anak yang sehat wal afiat, tetangga yang bersahabat, pun rezeki yang tak terkira bagi saya. Lebih berharga dari sekedar jalan-jalan, makanan minuman lezat, atau barang-barang mewah & mahal yang mungkin dimiliki oleh rekan-rekan saya yang lainnya. Ini menurut saya

Ada banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk mengaktualisasi dirimu, sayang ijazahmu, sayang kemampuanmu.

He he he he

Tetapi, karakter manusia yang satu, dengan yang lain tak sama. Ada dari mereka yang mampu melakukan banyak hal dengan santai, sembari mereka menjaga atau menitipkan anak-anak mereka. Tapi, saya tidak mampu begitu, hati saya merasa tidak nyaman bila saya melakukan itu. Itulah sebabnya saya memilih di rumah, menghabiskan waktu dari pagi hingga pagi dengan titipan yang Allah berikan ini.

Ini pilihan hidup, setiap pilihan yang kita ambil ada cabang di dalamnya. Baik buruknya, menyenangkan atau tidaknya, tergantung bagaimana kita menghadapinya, menjalaninya.

Kesuksesan kita, hanya kita yang rasa, pribadi lain di luar kita, di luar lingkaran keluarga kita, menjadi penonton setia, komentator setia. Berbahagia lah dengan standar sukses mu, dengan standar bahagiamu. Hidup berdasarkan dirimu & keluargamu, bukan berdasarkan penilaian, pendapat, penghargaan orang lain.

Mendengarkan saran itu perlu, melihat bagaimana kehidupan orang lain itu bagus. Tapi sekedar untuk mengambil ibrahnya meninggalkan mudharatnya, bukan untuk menyalinnya, dan berusaha mengaplikasikannya dalam kehidupan berbangsa & bernegara di dalam keluarga kecil kita.

Sampai saat ini, pribadi tanpa cela yang membuat saya terkesan adalah kekasih Nya. Saya pikir, muslim yang lain pun memiliki penilaian yang sama. Sehingga, apabila menemui manusia lain yang pintar, terkenal, memiliki banyak kolega, memiliki paras tampan/cantik, keluarga yg nampak bahagia dari photo keluarga yang dimunculkannya di media sosialnya. Atau manusia lain yang dengan segudang pencapaiannya, prestasinya, segudang pujian untuknya, perjalanan ke luar negerinya.

Mari kita berbahagia untuk rezeki yang Allah titipkan kepada mereka. Mari kita bersyukur, atas kelebihan yang Allah percayakan, amanahkan kepada mereka, semoga mereka juga menjadi amanah atas apa yang Allah titipkan kepada mereka, begitu juga dengan kita.

Karena sombong adalah pakaian Nya

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)

Karena kesalahan terbesar iblis adalah berlaku sombong

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblisia enggan dan takabur (sombong) dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir“ (QS. Al Baqarah:34)


Mendatangkan Bahagia

Bahagia itu tidak pernah pergi ke mana-mana. Sejatinya, dia berada selalu bersama kita. Hanya saja, pengharapan kita sebagai manusia membuat bahagia itu kadang tak nampak, terasa jauh, ada mungkin mustahil dirasa

Bahagia itu, kita yang hadirkan, sedih, takut, bahagia, gelisah, semua datangnya dari diri kita. 

Belajar mengikhlaskan, Insya Allah bahagia akan kelihatan, ia akan segera menampakkan batang hidungnya. Kedatangannya kadang membuatmu meremang

Waktu

Angin itu bertiup, lembut, ia membawa sejuk. Jari jemari ini nampak begitu lelah menekan tuts-tuts keyboard yang semakin usang di makan usia dari waktu ke waktu, ia menjadi salah satu saksi dari aku seorang manusia yang bergelut dengan masa.

mendung itu kembali terlihat, akan turun hujan, ya aku bermimpi hujan akan datang kemudian membawa titik-titik air yang akan membasahi setiap sudut pucuk pohon mangga yang berada di depan rumah.

Sunday, August 5, 2018

Lelaki paruh baya

Musik


Beberapa mengharamkan, ada yang membolehkan dengan catatan, ada pula yang santai, ada yang memuja, terlena, diperbudak, ada yang seperti menghamba.

Aku mungkin seperti mereka yang terlena, setiap petikan dawai, alunan lembut anak kecil yang bersenandung, atau suara sopran lelaki paruh baya dari belahan bumi yang lainnya, mampu membuatku terlena.

Mengenangkan masa lalu, masa-masa menanti itu. Tentang kelanjutan dari kisah kasih antara dua hati anak manusia. Apakah ia akan bertepuk sebelah tangan, memperpanjang malam-malam penantian.

Ataukah ia akan terjawab, anak perawan manusia itu mendapatkan apa yang hatinya harapkan. Cinta dapat membuat kita tiba-tiba menjadi melankolis, sentimentil, cengeng, berderai air mata. Membebani hati dan pikiran, menyiksa jiwa. Itulah yang aku rasakan, anak perawan yang merantau jauh ke pulau seberang. Dalam setiap derap langkah kaki, aku berharap untuk dapat melupakannya.

Tapi, hati memang tak dapat membohongi dirinya sendiri. Aku terlalu mencintai pemuda itu.

Dalam setiap penokohan, adalah biasa ketika para jejaka digambarkan gagah perkasa, cakap, baik budi dan bahasa. Mereka seperti makhluk sempurna yang tanpa cela. Mereka digambarkan sedemikian rupa, dengan semua kelebihannya sehingga mampu memikat setiap gadis yang mendengar ceritanya.

Tapi, lelaki ku ini, jauh dari penggambaran tokoh cerita, tidak seperti pandai bertarung sepertinya arjuna, tidak berotot kawat dan bertulang besi seperti gatot kaca. ia lelaki biasa seperti yang lainnya yang membuat aku jatuh cinta, dia istimewa.

Terpisah selama 7 tahun membuatnya meneguhkan hati untuk menemui atasannya dan meminta, agar ke depannya dia hanya bertugas di daerah ini saja. Kenapa? Agar dekat dengan putra dan putrinya.

Dia biasa, tapi bagi setiap anak wanita lelaki yg dipanggil dengan sebutan ayah itu adalah cinta pertama mereka. Guratan lelah semakin memenuhi wajahnya, di setiap guratan itu pula seperti merekam setiap peristiwa yang terjadi di dalam hidupnya.

Berat masa kecilnya, dia bukan berada dari kalangan orang kaya. Ayah dan ibunya petani yang kemudian menjual hasil ladang berikut ladangnya untuk kemudian mengirim anak pertamanya menempuh pendidikan kepolisian di ibu kota tempat dia tinggal.

Ia tak banyak mengeluh, sekali pun terkadang separuh jiwanya nampak begitu keras padanya. Kadang sedih dirasa, mengapa wanitanya bisa begitu keras. Tapi, belakangan aku mengerti apa yg melatarbelakanginya untuk berlaku begitu. Mereka adalah anak pertama di dalam keluarganya. Dan keduanya menjalani hari-hari yang berat di dalam hidup mereka, masa kecil, masa remaja mereka.

Lelaki paruh baya, yang saya ingat beliau selalu membawa buah tangan begitu datang setelah dinas meninggalkan kami selama berbulan-bulan. Sepanjang waktu sampai akhir masa jabatannya, dia tidak pernah meninggalkan tugasnya untuk waktu yang lama, kewajiban katanya.

Menjelang pensiunnya, di akhir masa tuanya, ia ingin mengunjungi saya katanya. Tapi, apa hendak dikata adik lelaki saya adalah tidak mungkin meninggalkan ibu seorang diri dengan adik lelaki saya itu.

Ah Yang menentukan jalan hidup manusia

Tanpa menuliskan ini pun, aku tau Engkau mendengar keluh kesah kami, manusia-manusia ciptaan Mu

Setiap manusia memiliki jalan terjal dalam hidupnya. Mungkin inilah jalan terjal di dalam kehidupan lelaki dan wanita paruh baya itu.

Sebagai bagian dari mereka, aku memohon belas kasih Mu agar kau jaga selalu kedua manusia paruh baya itu. Mereka begitu jauh dari jangkauan tanganku, jari jemariku. Tak ada se ujung kuku pun sholehnya aku, tentunya belumlah pantas aku banyak meminta kepada Mu.

Lelaki gagah itu, beranjak menua semakin lemah ia. Kadang dari kejauhan aku mendengar suaranya terbatuk-batuk, masih enggan ia berhenti dari kebiasaan merokoknya. Ia yang bisa dikatakan nyaris tidak pernah marah pada wanitanya. Ada sekali dua saya melihat wanitanya menangis dan lelaki paruh baya hanya diam menanggapi dalam diam

Waktu menjelaskan bahwa bentuk dan bahasa cinta manusia, tidak selalu sama

Mereka nampak tak serasi, namun seringkali terlihat harmoni. Keadaan membuat bahasa cinta dan kasih mereka seperti itu, begitu. Keras, kaku, dibalut canda, dan mereka bisa bertahun-tahun bersama

Kini, salah satu dari mereka lebih dulu pergi. Lelaki paruh baya itu lebih dulu menjawab panggilan Ilahi

Masih 1000 tahun lagi katanya, harapnya. Aku tak takut mati, kalau memang harus pergi, kenapa harus ditakuti. Karena semua akan mati. Begitu katanya

Pagi ini, dia menghampiri. Katanya, mimpi itu bunga tidur. Kini, aku mau itu benar-benar dirinya, bukan sekadar alam bawah sadarku yang rindu pada lelaki yang kupanggil ayah

Dengan sarung putihnya, dia bercakap pada istrinya, mencari MBK. Lalu menoleh padaku sembari berkata "eh ada anak ayah", dia mengecup dahiku

Dalam lelap aku tersedu, kencang. Lambat laun tangisan dalam mimpi membangunkanku, sedu sedanku hilang. Ia berlalu, pergi, tinggal di dalam alam bawah sadarku