Pages

Thursday, May 10, 2012

Bocah lelaki dengan burung besi bernama sukhoi jagoannya

Mentari beranjak ke peraduan, burung-burung sudah terbang pulang kembali ke sarang. Kota ini seakan tidak pernah mati. Suara deru mesin kendaraan roda dua, roda empat hilir mudik ke sana ke mari. Suara anak-anak, balita, orang tua, muda memenuhi rongga-rongga udara yang kemudian tertiup terbawa angin petang, hingga dalam hitungan beberapa meter, suara-suara itu masih akan terdengar oleh telinga manusia dan makhluk hidup yang lainnya.

tidak ada angin bertiup senja yang semakin temaram ini. Hanya sisa-sisa awan yang sebenarnya berwarna biru, putih, atau sebenarnya tak berwarna, yang kemudian serta merta berubah menjadi gelap, suram, kelabu manakala mentari mulai tenggelam di ufuk barat, meninggalkan awan yang tetap berada di atas, langit katanya. Berjejer rapi, tanpa pernah runtuh, jatuh ke bumi meskipun sejatinya awan-awan itu tidak ada yang menyangga, tidak pula ada tali yang menggantungnya. 

anak kecil itu terdiam, duduk menekuri  pinggir jalanan sebuah desa di salah satu kota yang ada di Indonesia. Dia adalah satu titik yang ada di dunia, yang tinggal di sebuah negeri, negeri antah berantah kata orang 'berambut pirang' di sana. Anak lelaki kecil itu beralaskan sendal jepit, memanggul bongkah-bongkah es batu yang di letakkan di dalam sebuah karung, tepat di punggungnya.

apakah lahir dapat memilih? tidak ada yang bisa memilih. Sebagian orang merasa beruntung lahir di tengah keluarga yang kaya, dengan harta melimpah, fisik dan wajah yang tampan, gagah, rupawan, dengan makanan minuman yang luar biasa enaknya. Dan sebaliknya, sebagian orang merasa tak beruntung ketika lahir dan hidup dari keluarga yang sebaliknya.

dia adalah anak lelaki, berusia 13 tahun, tinggal di sebuah desa, dengan kaki-kaki yang yang kokoh, dengan jari jemari kaki yang kuat menapak, memijakkan diri ke bumi. Dia berjalan di bawah terik matahari, setiap hari, dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun.

Hari itu dia terduduk di tepi jalan yang bersisian dengan sawah yang hampir menguning padinya. Anak lelaki itu duduk dalam diam, kelelahan, bongkah-bongkah es batu yang akan digunakan oleh bapaknya untuk membuat 'es tong-tong' itu, terasa begitu membebani punggungnya. Pikirnya "ah aku istirahat sebentar, tak mengapa" begitu gumamnya.

Anak lelaki itu tetap duduk, meski mentari begitu menggoda dengan lidah-lidahnya yang panas. Dan anak lelaki berambut pirang kerana matahari itu tetap tak bergeming, sampai ketika seorang penjaga warung kecil, tepat di seberang jalan dia duduk, memanggilnya "Kene 'le" begitu penjaga warung itu berteriak dari kejauhan.

Anak lelaki itu serta merta kegirangan, mengangkat sekarung penuh bongkah es batu yang beratnya mencapai 12 kg itu, kemudian meletakkannya di punggungnya yang masih muda belia, sama belianya dengan usianya.
"istirahat di sini le, di luar panas" begitu ujar penjaga warung itu. Seorang wanita tua, dengan kain 'jarik' yang melilit tubuhnya, dari perut sampai ke mata kakiknya. Dengan kebaya yang sudah lusuh, dengan rambut berwarna putih yang tersanggul rapi di kepalanya.

"inggih mbah, matur suwun" begitu ujar bocah lelaki itu

mbok penjaga warung meninggalkan bocah kecil itu setelah berkata "nek haus, airnya di atas meja ya le, ambil sendiri" begitu ujar si mbok, sembari menunjuk ke meja kayu tua yang tepat berada di hadapan bocah lelaki itu. 

"mbah ke belakang dulu ya, ada yang mau mbah kerjain" begitu ujar wanita renta itu, sembari meninggalkan bocah lelaki itu sendiri di amben-amben warung kecilnya.

Angin semilir bertiup, Tuhan tidaklah jahat, begitu pikir bocah lelaki itu. Panasnya matahari yang membuat tersiksa jari-jemari dan telapak kakinya, masihlah diiringi dengan tiupan angin yang meskipun semilir tetapi mampu membuat butiran-butiran keringat yang semula mengalir deras dari ujung kepala sampai ke pelipisnya, menguap, hilang, meninggalkan kesejukan. 

Bocah lelaki yang berambut merah karena matahari itu masihlah menikmati indahnya dunia, versinya, versi orang desa, versi seorang bocah lelaki yang merupakan satu titik kecil di galaksi bima sakti ini. Masih begitu asiknya sampai ketika pandangannya tertumpu pada sebuah tulisan yang berjalan, berganti hilir mudik di layar televisi milik wanita tua yang menjamunya siang ini.

Tulisan itu menceritakan tentang kematian, maut, sesuatu yang tak terduga, sesuatu yang pasti, datang tiba-tiba, bisa terjadi pada seseorang, atau pun terjadi pada banyak orang dalam waktu yang bersamaan. 

Pesawat milik rusia bernama sukhoi itu menarik hatinya, bocah lelaki berambut merah karena matahari itu. Dia tertegun mengamati betapa gagahnya burung besi yang berwarna dominan biru itu terbang, menukik, sebelum kemudian akhirnya dia tahu bahwa burung besi itu sudah hancur, berkeping-keping, karena melawan kokohnya tebing.

Dia pun tertegun, dia tak mengerti mengapa burung besi yang baru itu bisa celaka seperti itu. Mengapa burung besi yang katanya kokoh itu bisa hancur berkeping-keping karena tebing yang diam tak bergerak, mati tak peduli. Pikirnya "tebing yang angkuh berdiri itu sudah menghancurkan burung besi idamanku" begitu gumam bocah lelaki berambut merah karena matahari itu.

Bocah lelaki itu masih enggan untuk beranjak dari tempat dimana dia duduk dan termangu, menekuri setiap gerak yang dimunculkan oleh kotak ajaib yang berada di hadapannya saat itu.

Dia semakin terbingung-bingung ketika banyak orang berkerumun, menangisi kehancuran burung besi jagoannya yang berwarna biru, yang bernama sukhoi itu.

Bocah itu tidak lulus SD, tetapi dia masih mampu membaca, mengerti sedikit tentang apa yang di sampaikan oleh ibu-ibu pembaca berita yang ada di dalam kotak ajaib si mbah yang sudah tua renta. Burung besi yang baru saja lahir itu membawa banyak orang di dalam perutnya. Orang-orang yang pada awalnya merasa akan menjadi bagian dari sejarah, berada dalam burung besi yang bernama sukhoi, yang berasal dari rusia itu, negeri yang bocah lelaki itu sama sekali tidak pernah membayangkan seperti apa rupanya.

Mati, kata itu yang melayang-layang di dalam kepala bocah lelaki itu. Mereka yang berada di dalamnya secara simpang siur dikabarnya sudah pasti tidak selamat, "mestine wis menghadap gusti Alloh" begitu gumam lelaki itu. Dia merasa sedih, sedih karena burung besinya kalah dari pertarungannya dengan tebing yang sudah lebih dahulu lahir dari pada burung besinya. Dia merasa iba pada mereka-mereka yang ikut di dalam burung besinya, yang kini tidak jelas bagaimana nasib mereka di sana.

Untuk sejenak, bocah kecil berambut merah karena matahari itu tertunduk lesu, kemudian termangu. Sampai ketika dia mendengar beberapa orang selamat, tak jadi menghadap gusti Alloh, karena memang belum ajalnya, karena memang bukan takdir mereka untuk wafat bersama burung besi yang menjadi jagoan bocah lelaki itu beberapa menit yang lalu.

Ibu-ibu pembaca berita yang berada di dalam kotak ajaib itu berkata, beberapa penumpang, ada yang selamat karena dilarang oleh istrinya untuk ikut terbang bersama burung besi itu, ada yang selamat karena menunaikan sholat zhuhur, sehingga bawahannya menggantikan posisinya. Pikir bocah lelaki itu bapak itu beruntung karena mengikuti permintaan istrinya, yang lain selamat karena mendahulukan sholat lohor memenuhi kewajibannya kepada Sang Penciptanya, daripada coba-coba terbang dengan burung besi baru bernama sukhoi itu. Sedangkan yang lain tidak selamat karena menolak mengikuti perkataan ibunya, yang melarangnya terbang bersama burung besi asal negeri beruang merah itu.

Hari semakin siang, matahari tetap tidak mau berkompromi dengan kelelahan yang dirasakan oleh bocah lelaki berambut merah karena matahari itu. "Mbah, aku arep mulih" begitu ujarnya sembari sedikit mengeraskan suaranya.

si mbah yang semula berada di dapur, mengurusi dagangannya, menemui bocah lelaki berambut merah karena matahari itu. "ooo iyo, sudah segeran tho?" ujar wanita renta itu
"sampun mbah, suwun yo mbah. Pulang dulu, bapak pasti nunggu es batunya" balas bocah lelaki itu
"yo, salam karo bapakmu yo le" kata mbah putri itu kepada bocah lelaki itu.
"yo mbah, assalammu'alaikum"
"kumsalam" jawab mbah putri

Bocah lelaki itu kembali mengumpulkan tenaganya, mengangkat sekuat tenaga sekarung es batu yang beratnya mencapai 12 kg itu, kemudian meletakkannya di punggungnya yang masih belia itu. Bocah lelaki itu kembali menapak dengan sendal jepitnya yang berwarna biru tua, sendal jepit yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun lamanya.

Hari ini, dia belajar, dia belajar untuk mengatakan 'ya' pada semua kata-kata, perintah yang baik, yang dikeluarkan oleh otoritas tertinggi di dalam kehidupan anak manusia. Ketika Suami berkata 'ya' pada larangan istrinya, begitu juga sebaliknya. Dan bagaimana seharusnya seorang anak berkata 'ya' pada larangan yang disampaikan oleh orang tuanya, dan tentang bagaimana mendahulukan kewajiban pada Gusti Allah, daripada mendahulukan urusan dunia yang tak akan pernah ada habisnya.

Dan hari ini, dia belajar untuk mensyukuri apa yang sudah dia terima hari ini. Bersyukur karena matahari sudah bersedia 'memerahkan' rambutnya tanpa dia harus pergi ke salon dan membayar dengan rupiah untuk itu. Bersyukur meskipun dia tidak memiliki sepeda untuk mempermudah pekerjaan 'memanggul esnya' tetapi Allah masih memberikannya kekuatan fisik dan tubuh yang sempurna. Bersyukur meskipun dia harus berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi kedua orang tuanya, tetapi dia memiliki keluarga yang utuh, yang menyayanginya. Menyesal? tidak ada, meksipun orang tuanya tidak mampu, meskipun harus terhenti sekolahnya, meskipun kakaknya mengalami kekurangan dari sisi pendengarannya.

Allah Maha Adil adik kecil
meskipun susah payah engkau rasakan saat ini
meskipun tak dapat memilih di keluarga mana, kamu dilahirkan
tetapi, dengan syukurmu kepada Tuhan yang menciptakan kamu
tetapi, dengan syukurmu terhadap apa yang Allah berikan kepadamu

kamu jauh, jauh lebih mulia daripada aku, dia, mereka dan manusia yang lainnya, yang sempurna, yang tak sempurna, yang sehat, yang kaya raya, yang memiliki segalanya tetapi lupa, tidak pandai mensyukuri dan tidak ber-qanaah terhadap apa yang telah Dia berikan kepada aku, kita, kami, manusia.