Pages

Showing posts with label dialog. Show all posts
Showing posts with label dialog. Show all posts

Tuesday, August 30, 2011

Edisi Lebaran 1 syawal 2011

Catatan hari ini edisi lebaran, seperti majalah saja.

Panasnya masih tetap terasa, meskipun sekuat apa pun saya berusaha mensugesti diri saya bahwa hari ini tidak lah panas. Tetapi tetap saja, tubuh ini tidak bisa dibohongi.

Edisi lebaran, edisi hari raya, masak memasak pekerjaan wanita katanya. Menghabiskan waktu bersama ibu tercinta (Hahahahaha), tertawa terpingkal-pingkal dalam acara masak memasak bersama beliau. Ada kekonyolan ketika kantung yang breisi terigu yang sempat beliau letakkan di atas -serok sampah-, beliau letakkan di dalam mangkuk besar berisi sagu. Terpingkal-pingkal saya tertawa dibuatnya, 'ibu jorok' dan ibu tertawa sembari berdalih 'ibu lupa' wkwkwkwk. Dan prosesi pembuatan pempek tetap berjalan, dengan ke-jorok-an yang sempat terjadi.

Kami berdua pura-pura lupa dan berjanji untuk menyembunyikan kejadian hari ini dari ayah saya. Karena ayah saya -penjijik- ahahahaha.

Menjelang tengah malam 11 PM, aktifitas bermain-main dengan keyboard netbook sempat terhenti, karena keponakan saya yang sudah memasuki waktu tidurnya.

Kembali menenggelamkan diri sejenak ke dalam dunia kata-kata. Menyenangkan karena saya tidak perlu takut tersedak karenanya, mengingat tidak ada unsur air di dalam permainan -menenggelamkan- diri di dalam lautan kata-kata yang Allah ciptakan indah dan tak terhingga.

Blackberry saya mulai menunjukkan rasa ke-aku-annya, terasa hangat, sesekali ia lamban dalam bereaksi. Kenapa? usut punya usut ternyata aktifitas komunikasi GRUP BB di BB saya, yang menjadi penyebabnya. Entah mengapa mereka betah menghabiskan waktu berlama-lama saling mengomentari satu sama lain. Kenapa tidak membuat -conversation- sendiri, yang memang layanannya disediakan oleh BB itu sendiri. Sehingga mereka tidak perlu membuat BB anggota yang lainnya, menjadi -NGADAT- dalam hal operasinya.

Tapi itulah manusia

Tidak dapat eksis di dunia nyata, maka dunia maya dirambahnya. Atau merasa kurang puas dengan bercakap-cakap di dunia nyata, mereka melakukan expansi ke dunia maya. Apa tidak ada kesibukan yang lain? Sepertinya ada, kesibukan dengan pacarnya, bagi yang memiliki pacar. Kesibukan dengan keluarganya atau karena -single- jadi mencari kesibukan diluaran seperti berkomunikasi tanpa batas melalui BB yang mereka punya.

Aaaaaaaaaahhhh
Whatever, at least jangan terlalu sering lakukan komunikasi -ngalor-ngidul- di grup bb tempat saya menjadi anggota, kegiatan yang mereka lakukan sungguh merugikan anggota yang lainnya. Kalau tidak diatur sedemikian rupa sehingga, maka sudah bisa dipastikan BB bisa lekas kekurangan daya dari -battery- nya. Menghela nafas panjang, begitulah anak-anak muda atau seperti itulah manusia-manusia zaman sekarang.

Kembali bercerita tentang -me and mom-, happy ied mobaraq. Meskipun ada yang merayakan hari ini, ada pula yang esok hari. Semua kembali kepada keyakinan dan kemantapan hati masing-masing pihak. Jangan seperti anak kecil yang adu argumentasi dengan alasan diskusi. Seperti yang terjadi di GRUP BB hari ini. Kesannya memang berdiskusi, tapi sebenarnya kedua orang itu saling serang dalam hal peryataan. Yang seorang serta merta menyalahkan pemerintah, yang seorang lagi serta merta menyalahkan si pemberi informasi.

Keduanya sama bodohnya, sama-sama menciptakan isu yang bisa jadi beberapa dari anggota grup, menjadi ragu karenanya. Yang satu begitu nampak menggunakan emosinya, yang satu lagi -seolah-olah tak berdosa- tetapi karena penggunaan kata yang tidak tepat, ia berhasil menyulut emosi lawan bicaranya.

Manusia dewasa dalam usianya, tetapi kurang bijak dalam tindakannya. Kasihan kasihan kasihan, saya juga kasihan, karena saya semakin bertambah dalam hal usia, tetapi kematangan berpikir ummm sepertinya -segini-segini aja- wkwkwkwkwk.

Baiklah, kepada semua pembaca BLOG saya, kapan pun kalian memutuskan tgl 1 syawal, pada intinya semua tetap muslim. Harapan saya, perbedaan penetapan dimulainya syawa, tidak menjadi alasan untuk meributkan hal-hal yang sebenarnya tidak -urgent- untuk diperdebatkan. Biasa saja dalam menyikapi, mau ikut pemerintah -monggo-, mau ikut yang lain -monggo-. Jangan dibuat -lebay-, karena Allah tidak suka segala sesuatu yang sifatnya -lebay- apalagi -berlebay-lebay-an- ria hahahahah. 

Selamat datang di 1 syawal
Selamat merayakannya dengan istilah -ied- atau -idul fitri-

Mohon maaf lahir dan batin
Ucapan ini bukan sekedar cara saya beretika, tetapi dari hati yang paling dalam. 
Mencoba meminta kemurahan hati saudara sekalian dalam hal memaafkan.

Sampai jumpa di Ramadhan dan Ied tahun depan

Thursday, July 23, 2009

Pandai-pandailah bersyukur

Sebuah kontemplasi bagi cacat diri
Keenam


Sehari yang lalu, rawa belakang asrama, langit-langit yang dipenuhi awan putih yang beranjak kelabu, burung-burung yang terbang sore itu, senja itu, angin yang tak berhembus itu, mereka mengajak saya berpikir akan sesuatu.

Ada yang membuat saya kecewa, ada yang membuat saya sakit hati, ada yang membuat saya ingin dihargai, ingin dihormati, ada pula yang membuat saya tersinggung.

Burung-burung layang itu terbang, hilir mudik, menjelang senja mereka semakin ramai berkumpul di angkasa. Berpikir, kenapa harus kecewa, kecewa akan apa, untuk apa, pada siapa. Mengapa harus sakit hati, pada apa, pada siapa? Manusia? Untuk apa? Karena toh manusia wajar berbuat salah pada manusia yang lainnya. Untuk apa sakit hati, karena hati ini bukan saya yang punya, bukan saya yang miliki kuasa atasnya.

Untuk apa ingin dihargai, untuk apa ingin dipuji, untuk apa pula saya merasa tersinggung. Untuk apa ingin dipahami, untuk apa pula ingin dimengerti, untuk apa pula ingin di dengarkan, tidak menjadi begitu penting itu semua, ketika, manakala saya menyadari bahwa saya tidak punya hak apa-apa atas diri saya, atas pemikiran, atas perasaan, atas hati, atas fisik yang Allah anugerahkan.

Lebih baik menghargai, lebih baik memuji, lebih baik memahami, lebih baik mengerti, lebih baik mendengarkan, lebih baik menjaga perasaan, lebih baik mengalah, lebih baik diam. Pujian-pujian yang manusia tujukan pada saya, saya tidak punya sedikit pun hak atasnya, melainkan Allah yang memiliki kuasa, hak atas segalanya.

Pujian dalam hal fisik? Tak punya hak untuk bangga, karena Allah yang berikan, anugerahkan fisik, rupa, bentuk, ini pada saya. Pujian karena pola pikir, karena tulisan, tak perlu merasa senang, karena akal dan pikiran itu Allah yang berikan dan mengapa saya bisa menulis, mengapa saya bisa berpikir sedikit berbeda dari manusia yang lainnya, semua itu karena Allah, karena Rabb, karena Dia yang arahkan, saya hanya menjalankan, saya hanya meneruskan, saya hanya menikmati hasil.

Dan bilamana saya dikatakan sopan, berbudi pekerti baik dan terpuji, jangan merasa senang hati wahai manusia, karena saya bisa seperti ini karena peran serta mereka-mereka yang berada di dekat saya, yang sudah membantu proses terbentuknya watak dan paradigm berpikir saya saat ini. Hingga, sampailah pada intinya bahwasannya, saya benar-benar tidak memiliki apa-apa untuk disombongkan, bahwasannya saya tidak pula memiliki sesuatu sehingga layak untuk dipuji akan sesuatu itu.

Saya tidak pernah dapat menciptakan karena Mencipta itu adalah kuasa Nya, tidak pula dapat menghasilkan sesuatu yang bermakna kecuali kotoran hasil pembuangan dari system pencernaan. Sisanya, semua Allah yang punya, dan bila mereka memuji saya, tak perlu merasa senang, tak perlu merasa bangga cukuplah berkata Alhamdulillah karena setidaknya kamu tidak membuat Allah malu, tidak membuat Allah murka, tidak membuat Allah marah dan kecewa. Dan bila manusia yang lainnya menyakiti hati, melukai perasaan ini, menyinggung sisi sensitive dari diri ini, maka agar rasa sakit itu tidak ada, katakanlah bahwa “mereka manusia, wajar kiranya berbuat salah” dan “kembalikanlah kepada Yang Memiliki hati agar kiranya Dia berkenan menentramkan hati hingga tidak pernah merasa tersakiti”.

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.
QS. al-Isra' (17) : 37

Mencoba mensyukuri semua yang Dia berikan, meskipun ada yang katakan bahwa suara yang saya punya seperti suara lelaki begitu kata mereka, bahwa tubuh saya tidak proporsional adanya, dan masih banyak lagi kekurangan lainnya.

Berpikir-berpikir, sampai ketika ada seorang wanita yang berkata “bla…bla…”, saya menjawabnya dengan berkata “ini yang Allah berikan pada saya, saya hanya mencoba mensyukuri dengan menjaganya”, seperti ini pun, saya sudah merasa begitu sempurna, begitu subhanallah karena saya tidak pernah bisa menciptakannya. Hingga ketika mereka katakan suara saya begini, rupa saya begini, bentuk saya begini dan cara berjalan saya begini, maka saya balas dengan berkata bahwa “saya hanya mensyukuri apa yang Allah berikan pada saya”.

--selesai--

Wednesday, July 22, 2009

---- ---- ---

Oke Blog, kali ini izinkan saya menangis,

izinkan saya menangis,
izinkan saya menangis,
izinkan saya menangis,
izinkan saya menangis.

Temani saya menangis
temani saya menangis
temani saya menangis
temani saya menangis
temani saya menangis
temani saya menangis

ternyata saya bisa juga menangis
maka menangis lah

Pegawai paruh baya itu

Sebuah kontemplais bagi cacat diri
Kelima


Keinginan untuk segera keluar dari kampus hujau unila membuat saya berkenalan dengan seorang bapak pegawai dekanat FMIPA, umurnya berapa? Saya tidak begitu mengetahuinya, tetapi nampaknya tidak begitu jauh berbeda dengan usia ayah saya, sudah separuh abad, ya ayah saya sudah tua, tetapi beliau selalu berkata “ayah masih muda de, masih ganteng” begitu kelakarnya pada saya putrinya.

Saya sadar, pada saat menjajakan pop mie, di kereta kelas ekonomi, bahwa saya sudah berlaku sombong, mungkin rasa sombong itu sudah muncul dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tetapi, bapak petugas dekanat itu berkata, menasehati saya, ketika saya bercerita tentang pengalaman saya berjualan di kereta, dan berakhir pada kalimat “saya sudah sombong pak… bla..bla..bla”, beliau menimpali dengan berkata “gak boleh sombong, apa yang kita lakukan, orang lain juga bisa lakukan, hanya mungkin ada yang langsung bisa, ada yang perlu belajar untuk bisa”. Diam, saya hanya diam, bapak sekretaris itu benar, apa yang saya lakukan, orang lain pun bisa lakukan.

Antasida mulai bekerja, system pencernaan sudah mulai kembali normal bekerja sepertinya.

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. QS. al-Isra' (17) : 37

Berat, nafas itu berat tertahan, mendengarkan bapak pegawai dekanat.

Allah sudah memuliakan manusia, melebihkan manusia di atas makhluk Nya yang lainnya. Dia berikan dunia dan segala isinya, Dia anugerahkan akal dan pikiran, Dia ciptakan manusia, dengan sebaik-baiknya bentuk. Dan bila ada satu dari kita yang berkata “si fulanah atau si fulan mengalami cacat fisik atau mengalami cacat mental”, itu hanya sekedar sudut pandang yang manusia hasilkan.

Di sisi lain, Dia katakan kita, manusia, sombong, lemah, tergesa-gesa, mudah berputus asa, gemar bekeluh kesah. Ketika ditimpa musibah, kita meratap, kita menghamba, dan bila musibah itu terlepas, bila anugerah nikmat itu didapat, kita lupa, kita khianat. Kita diibaratkan seekor kera, seekor keledai, seekor anjing, yang tercipta dari air mani, air yang hina. Sebegitu hinanya kita, hingga bila bukan karena rahmat dan kasih Nya, aku, kamu, mereka dan kita semua, bukan apa-apa, bukanlah apa-apa.

Manusia tidak pernah dapat menciptakan selain menemukan dan menghasilkan, itu pun karena rahmat dan kasih Nya pada manusia hingga manusia dapat gunakan akal dan pikiran yang ia ciptakan.

Saya sombong, padahal saya tidak memiliki apa-apa, sama sekali. Bahkan hingga tulisan ini saya munculkan, bisa jadi saya pun sudah merasa sombong, riya, ujub, hanya saja, mungkin saja, mereka bersembunyi, terselubung oleh kabut yang berada di dalam hati dan kepala, hingga yang nampak hanya remang-remang saja.

Beberapa orang katakan, kamu pandai menulis, kamu pandai berbicara di depan khalayak ramai, ada juga yang katakan, budi pekerti mu baik, bapak pegawai dekanat itu pun berkata “sampeyan niki wes ayu, baik, sopan, sopo sing jadi bojo mu nduk, beruntung sekali” begitu ujar si bapak, tersenyum, saya malu.

-bersambung-

Monday, July 20, 2009

Sombong itu 'memalukan'

Sebuah Kontemplasi bagi cacat diri
Keempat


Saya tidak mengingat kesombongan-kesombongan yang lainnya, yang saya hasilkan, yang saya nampakkan pada saat saya duduk di bangku sekolah dasar, di bangku SLTP tidak juga di bangku SMA. Maka, mari mereview kembali kesombongan yang saya hasilkan pada saat saya menginjak masa-masa dewasa.

Hari itu hari sabtu sepertinya, tanggal berapa saya lupa tepatnya, tapi insya Allah kejadian itu berlangsung satu tahun yang lalu, ya kurang lebih begitu.

Di dalam kereta menuju desa kelahiran saya, baturaja. Bukan karena ingin pulang ke kampong halaman, tetapi adik lelaki ibu saya yang nomor Sembilan, menikah pada hari minggunya. Singkat cerita, saya mengambil kesimpulan bahwa kereta ekonomi tidak begitu menyenangkan, karena asap rokok yang sedianya selalu lalu lalang, mengganggu pernapasan.

Inilah sombong yang ketiga, rasa sombong itu ada ketika seorang penjual pop mie di kereta jurusan tanjung karang – baturaja, belum berhasil menjajakan dagangannya. Tiba-tiba hati ini berkata, antara sisi putih dengan sisi hitamnya.

Sisi putih berkata “hitung-hitung cari pengalaman, bagaimana rasanya menjadi mereka yang mencari apa yang namanya penghidupan di atas kereta yang berjalan, di atas kereta yang penuh sesak, di atas kereta yang bercampur baur segala macam bau manusia”.

Sisi hitam berkata “mari buktikan, masak kamu tidak bisa menjual satu buah saja. Kamu seorang sefta, pedagang pop mie itu saja bisa, lantas mengapa kamu ndak bisa”, yak benar sekali, sisi hitam itu pada saat itu, pada hari itu, lebih mendominasi hati dalam berniat, sombong sekali rasanya. Dan saya baru sadari itu beberapa saat kemudian, dalam keadaan malu, karena ternyata satu pop mie pun tidak ada yang laku.

Berjalan dari gerbong yang satu ke gerbong yang lainnya, sudah mandi peluh dan keringat saya saat itu, tetapi Allah menggariskan di dalam buku catatan kehidupan saya, bahwasannya saya tidak akan dapat menjual satu pun pada saat itu, hari itu, di atas kereta itu.

Saya sudah dewasa, bukan anak TK, bukan SD, bukan SLTP, bukan pula SMA, maka tak berapa lama, saya pikir, saya kira, hati dan kepala saya berkata, mereka mencoba membantu saya menarik satu benang merah, dari sekian banyak benang yang berwarna-warni yang menghalang rintang di dalam kepala saya saat itu.

Pertama, ternyata mencari uang itu bukanlah hal yang mudah, bahkan menjual satu buah mie instant pun, saya belum dapat, meskipun sejatinya saya sudah hilir mudik menjajakan, mengesampingkan rasa malu, mengesampingkan panas terik matahari yang menyinari atap gerbong kereta pada saat itu, hingga produksi keringat tubuh saya meningkat.

Kedua, ini yang membuat saya malu, betapa saya sudah diliputi rasa ujub, sombong , dengan beranggapan bahwa “tidak mungkin saya tidak bisa menjual satu buah mie instant pun” saat itu.

Hari ini, nikmat itu sedang berkurang satu, tubuh saya mengalami disfungsi, system pernapasan ini terganggu, berimbas pada system syaraf yang lainnya hingga rasa demam itu sedikit mendera. Lama, nikmat yang lainnya berkurang pula, penyakit maag itu mendera system pencernaan saya, kalau sudah begini, tak berguna bersombong-sombong ria.

-bersambung-

Sunday, July 19, 2009

Sombong itu menyakitkan

Sebuah kontemplasi bagi cacat diri
Ketiga


Sombong yang berikutnya benar-benar sombong yang menyakitkan, menyesakkan, dan memalukan.

Jam pelajaran olah raga itu tiba, semua murid bebas bermain di luar, asalkan gelarnya tetap berolah raga, bukan hanya diam, tertawa “Cekikikan” tidak jelas, seperti yang teman-teman perempuan saya lakukan. Main kasti, setidaknya begitu kesepakatan yang timbul antara kami para murid dengan guru yang mengajar olah raga pada saat itu.

Baiklah, pemukul kasti sudah ada di tangan seorang teman saya, bola sudah diambil alih oleh teman saya yang lainnya. Semua sudah berada pada posisi jaga, termasuk saya. Dan ketika teman saya berkata “jangan di depan situ sef, nanti kena bola” begitu kata teman saya, lelaki. Tidak menggubris, saya sudah katakan saya ini sombong bukan, maka inilah sombongnya. Saya pikir, saya pasti bisa menghalau bola kuning bergaris, berdiameter tak sampai 10 cm itu.

Dan bila saya bisa menangkap bola yang dipukul itu, lalu melemparkannya tepat ke tubuh tim lawan saat itu, maka saya pikir tim saya bisa menang.

Keras kepala, satu lagi fakta yang saya temui tentang saya selain introvert adalah bahwa saya sudah keras kepala sejak kecil nampaknya. Maka, “ya sudahlah”, mungkin seperti itu yang ada di kepala teman-teman saya saat itu. Bola pun dilempar, dengan kecepatan yang saya tidak tahu berapa kilometer/jam, atau berapa knots untuk ukuran kecepatan kapal. Seorang teman saya, yang menjadi lawan dalam permainan pun sudah siap dengan pemukulnya, tak lama, “hap”, bola dan pemukul itu bertemu, lalu tiba-tiba semua terasa menyesakkan. Bola yang dipukul, tapi mengapa saya merasakan sakit yang luar biasa bahkan hingga tidak bisa bernapas dengan leluasa.

“brukkk, saya terjatuh”, setelah sebelumnya terdiam menahan rasa sakit tepat di bawah tulang rusuk. Nampak remang-remang, rekan-rekan silih berganti bertanya “kamu gak papa sef?”, si pemukul berkata sembari tersenyum menampakkan barisan gigi-giginya “tu kan, sudah saya bilang, jangan dekat-dekat sef, ujung-ujungnya kena bola kan?”

Setidaknya itulah yang saya ingat, saya memang berhasil menangkap bola kuning itu, tetapi bukan dengan kedua tangan saya, melainkan dengan perut saya. “udah ke UKS aja yuk” begitu ujar teman-teman yang perempuan, tetapi dengan sombongnya saya berkata “gak apa, gak papa kok”, senyum tidak jelas itu saya sunggingkan, senyum menahan rasa sakit, senyum menahan rasa sesak karena tidak dapat bernafas bebas untuk beberapa saat. Saya “sok” kuat, padahal saat itu rasa sakit yang amat sangat sudah mendera system syaraf yang berada di sekitar perut saya yang terkena lemparan bola. Tapi, demi menyelamatkan muka yang sebenarnya bukan milik saya, dengan sombongnya saya berkata “tidak apa-apa”.

Inilah sombong yang kedua dan konyol, lucu rasanya, karena saya menyadari kesombongan saat itu baru beberapa hari yang lalu.

-bersambung-

Saturday, July 18, 2009

Sombong yang pertama

Sebuah kontemplasi bagi cacat diri
Kedua


Saya introvert, ya saya baru menyadari bahwa saya introvert dari seorang teman saya yang berkata bahwa “dari cerita kamu, saya bisa ambil kesimpulan bahwa kamu itu sudah merasa nyaman dengan kesendirian, itulah kenapa ketika ada orang lain yang mencoba untuk masuk, kamu menjadi begitu sulit untuk menerimanya”, ya saya pikir memang begitu, saya pikir sepertinya saya memang seperti itu. Entah mengapa, sendiri itu menyenangkan.

Pada saat saya duduk di bangku Taman Kanak-kanak, sepulang sekolah, saya selalu sibuk dengan urusan saya sendiri, tak perlu berganti seragam, begitu sampai ke rumah, tas sekolah saya tinggalkan, saya keluar bermain, sendirian, entah, sepertinya saat itu saya punya dunia sendiri, dan tidak ingin ada orang lain yang masuk, kemudian mengganggu kesenangan saya saat itu.

Sekolah dasar negeri 3 kotabumi, pagi itu, pemimpin upacara berkata “pembacaan undang-undang dasar 1945”, saya maju, karena memang itu tugas saya pada saat itu. Dag dig dug bercampur rasa bangga, gugup bercampur rasa ujub, sombong sekali rasanya saya pada saat itu merasa senang tampil di muka, merasa riang ketika saya berbiaca lantang, semua mata tertuju pada saya, benar-benar sombong.

“undang-undang dasar 1945, pembukaan, bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, oleh sebab itu, segala bentuk penjajahan harus di hapuskan, karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan. Dan perjuangan Indonesia, telah sampailah ke depan pintu gerbang kemerdekaan, dengan selamat, santausa..bla..bla…bla” saya lupa apa lagi berikutnya.

Ini sombong yang pertama
-bersambung-


Thursday, July 16, 2009

Kamu tahu? kamu tak tahu

Sebuah kontemplasi bagi cacat diri
Pertama


Kamu tau, burung-burung itu kembali berkicau lagi di pagi ini, matahari itu kembali bersinar lagi, dan hari ini usia saya sudah bertambah lagi 1 hari. Selalu begitu akan terus seperti itu siklus yang akan saya hadapi, yang harus saya hadapi. Ingin hidup seribu tahun lagi, ingin tetap berada pada usia ini,23 tahun dan terhenti hingga tidak pernah bertambah lagi. Inginnya ada sesuatu yang tercipta abadi, selama-lamanya, tidak akan pernah berubah, tidak berubah karena waktu, tidak pula berubah karena bertambahnya usia.

Berpikir, sia-sia, bila semuanya berada pada keadaan dimana segala sesuatu bersifat kekal, abadi, selamanya. Maka anak-anak kecil itu akan tetap seperti itu, remaja-remaja itu akan terus seperti itu, orang-orang dewasa, orang-orang tua itu, akan selalu begitu, dalam bentuk dan rupa, dalam pola pikir mereka. Berpikir, kekal, abadi itu akan berujung pada sesuatu yang tidak baik, tidak menyenangkan, tidak indah pada akhirnya. Akan muncul apa yang namanya rasa bosan, karena selalu berada pada usia 23, tidak bertambah tidak pula berkurang. Akan ada rasa jenuh, ketika semuanya nampak sama, dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, dari abad ke abad. Benar kiranya, segala sesuatu sudah berada pada porsinya, sudah Ia tetapkan masing-masing ketentuannya. Benar pula kiranya, bahwa segala sesuatu yang berlebihan tidak akan baik pada akhirnya.

Manusia-manusia itu terus lahir, kemudian tumbuh, kemudian mereka berkembang biak, hingga tua itu menyapa, hingga nikmat itu sedikit demi sedikit Ia kurangi seiring dengan bertambahnya usia. Ada yang berkurang dalam penglihatan, ada yang berkurang dalam pendengaran, ada pula yang berkurang dalam ingatan, semua kembali seperti awal mula ia diciptakan, awal mula ia ada, awal mula ia lahir ke dunia.

Saya sombong, aku sombong, seseorang pernah berkata “mengapa aib dibuka, bila nyatanya Allah sudah menutup aib kita, manusia”, maka saya mencoba mencari pembenaran, dengan berkata bahwasannya saya tidak sedang membuka aib saya, tetapi saya lebih suka menyebutnya “saya sedang mencoba untuk jujur pada diri saya sendiri, agar rasa sombong itu pergi, atau paling tidak, ia merasa jera untuk sering muncul ke permukaan dan menampakkan diri”.

Sekolah dasar negeri 3 kotabumi, kabupaten kecil yang dari dulu hingga sekarang tidak banyak perubahan yang saya rasakan. Kecuali manusia-manusianya yang datang dan pergi, yang awalnya anak-anak hingga menjadi dewasa dan memilih tinggal atau bahkan meninggalkan tanah kelahirannya.

Saya dilahirkan pada tanggal 20 maret 1986, hari kamis,ba’da shubuh, setidaknya begitu yang kedua orang tua saya katakan, setidaknya begitu yang tertera pada akta kelahiran saya. Nama saya, sefta marisa dwipasari Jn, dengan Jn singkatan dari nama ayah saya, Junaidin. Tidak begitu mengerti mengapa ayah saya menamai saya dengan naman sepanjang itu, selain “ayah ketemunya itu de, ya kalau dulu ayah ngerti nama-nama dari al qur’an, pasti nama kalian sudah diambil dari al qur’an” begitu kira-kita jawab ayah saya, ketika saya bertanya apa makna dari nama yang beliau berikan pada saya.

Tapi yah sudahlah, frasa bahwa “nama itu adalah doa” saya mengerti, saya setuju, sangat setuju akan hal itu. Tapi, bila saya sudah terbentur pada dinding hingga yang tersisa hanya bertahan manakala mereka bertanya apa makna dari nama saya yang begitu panjang, maka saya akan berkata, berkilah, menyelamatkan harga diri yang sebenarnya itu tidak begitu penting bagi manusia macam saya. Saya akan berkata “menurut Shakespeare, apalah arti sebuah nama”, ya begitu, selalu begitu. Dan mereka yang merasa tidak terima, akan kembali berkata “nama itu doa”, di dalam hati “siapa juga yang ndak mau didoakan melalui namanya”, tapi sudahlah, pada akhirnya saya bangga dengan nama yang panjang yang ayah saya berikan, sematkan pada saya anak perempuannya.

-bersambung-

Wednesday, July 15, 2009

Saya yang sok tahu

chapter 3

Saya tidak tahu pasti apa yang ada di dalam pikiran mereka, yang saya tahu yang ada di dalam kepala saya adalah “mengapa mereka semua ingin menjadi pemimpin, ingin menjadi presiden???”, betapa berat beban menjadi seorang pemimpin, hingga bila ia salah di dalam langkahnya, maka NERAKA lah tempatnya. Bila memang sejatinya mereka pro pada rakyatnya, mereka benar-benar memikirkan rakyatnya, mengapa tidak dengan legowo berkata “silahkan, saya percayakan negeri ini untuk saudara pimpin, insya Allah kami mendukung sepenuhnya selama saudara masih memegang syariat Nya, selama saudara benar-benar tulus ingin bekerja dan mengabdi untuk rakyat Indonesia”.

Tidak ada yang dengan legowonya berkeinginan untuk percaya kepada saudaranya untuk menjadi pemimpin, belum ada yang bersedia menjadikan saudaranya sebagai pemimpinnya. Semua ingin bersuara, semua ingin menjadi presiden, seperti halnya semua ingin menjadi anggota legislative, mulai dari artis, tukang sate, tukang somay, sampai tukang becak. Apa salah? Tidak, tidak ada yang salah, semua memang mempunyai hak, tapi “segala urusan bila tidak diserahkan pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya”.

Saya pikir, sampai beberapa hari kedepan, penghitungan akan terus dilakukan, entah itu manual entah itu dengan menggunakan system quick count. Akan sangat bijak bagi kita bila berpendapat bahwasannya siapapun yang menang nantinya, mari bekerja bersama, mari turut mensukseskan program-program yang digulirkan ia bersama kabinetnya, dan mari berkata siapapun yang menjadi pemimpin negeri ini nantinya, insya Allah itulah yang terbaik yang Allah putuskan bagi nasib bangsa ini kedepannya.

Ada hikmah, ada pelajaran dari debat, sindiran, kritikan, atau bahkan celaan dan sanggahan yang mereka sampaikan melalui media massa, elektronik, cetak. Baik yang disampaikan secara resmi, terbuka, blak-blakkan, mau pun yang disampaikan secara tersembunyi melalui permainan kata-kata.

Akan sangat bijak, bila dia yang terpiih nantinya, mau dengan lapang hati memanajemen sindiran, kritikan dari lawannya dengan beranggapan “mungkin memang seperti itulah saya, maka saya harus berubah, karena ternyata sikap yang seperti itu merugikan Negara, mempersulit rakyat Indonesia” atau jika memang dia tidak seperti itu adanya, maka alangkah bijaknya bila ia beranggapan bahwa “berarti sikap seperti itu tidak disukai oleh bangsa ini, maka insya Allah akan saya hindari”.

Akan sangat bijak bila kiranya, ia yang nantinya menjadi pemimpin bagi bangsa ini mau dengan berlapang dada, merealisasikan setiap program kerja yang rencananya akan digulirkan oleh masing-masing lawannya bila nantinya mereka menjadi salah satu pemenangnya.

Merebahkan diri sejenak, tubuh ini kembali mengalami disfungsi, ahh beberapa hari ini, disfungsi itu selalu datang dan pergi silih berganti. Saya manusia yang pandai bicara, pandai melihat keluar, ke sekeliling yang ada, yang dapat dijangkau oleh pandangan mata, yang dapat dirasa, diraba, hingga dapat didengar oleh telinga.

Tetapi saya buta, buta mata, hati, pendengaran dan buta akan rasa, karena sejatinya, cacat manusia yang lainnya begitu mudah dicari, begitu mudah ditelusuri, begitu mudah dicermati, tetapi cacat diri sendiri seperti tak nampak, berlagak sempurna padahal justru sebaliknya. Saya kosong, penuh dengan cacat dan carut marut di dalamnya, saya nampak bergerak tetapi sejatinya saya diam, hingga akhirnya diam itu = m.a.t.i, kalau bukan karena kemurahan hati Sang Maha yang sudah menciptakan diri ini.
-selesai-

Saturday, July 11, 2009

Prologue

Kontemplasi 8 juli 2009,
chapter 1


"mari mengulas kembali"

Kadang apa yang menurut kita penting, belum tentu menurut orang lain penting. Miris, seperti menagih simpati dari sesama kalangan manusia. Malang, laksana seorang lebay yang tak ada satu orang pun mau memperhatikan.

Mari berkisah di sebuah halaman word berwarna biru tua, pekat, ditemani nyanyian orchestra jangkrik-jangkrik rawa, sembari sesekali terdengar suara riuh ramai kendaraan yang lalu lalang di luar sana, sembari sesekali dijeda dengan deru klakson transportasi paling egois abad ini, kereta api. Entah mengapa hingga kini masih dinamai kereta api, padahal seumur hidup saya, tidak pernah melihat kereta itu mengeluarkan api.

Hari ini, tgl 8 juli 2009, menjadi hari paling bersejarah bagi rakyat Indonesia yang beragam macam suku bangsa, agama, dan budaya. Pemilihan umum presiden secara langsung untuk kedua kalinya setelah yang pertama kali dilakukan pada tahun 2004 silam.

Tidak ingin memilih pada awalnya, tak lain dan tak bukan, karena di lingkungan asrama, kami-kami mahasiswa sudah sejak lama kehilangan hak pilihnya, entah mengapa. Bahkan saya yang sudah bertahun-tahun berada di daerah ini pun, tetap saja tidak mendapatkan hak untuk memilih, kecuali pada pemilu tahun 2004 lalu.

Ibu saya bilang, “pulang, sayang satu suara, usahakan untuk pulang”. Nampaknya kali ini, kami satu keluarga memiliki satu suara, memilih calon yang sama. Agak malas sebenarnya, karena beberapa hari yang lalu, karena pulang pergi, akhirnya tubuh ini menunjukkan keeksistensiannya atas diri saya. Sebagian besar mengalami disfungsi, dimulai dari sakit kepala yang luar biasa, disusul dengan flu dan batuk yang tak terhingga, lalu demam hingga akhirnya penyakit maag itu pun ikut bersuara, ia turut andil dalam acara “pesta mogok” yang dilakukan oleh tubuh saya.

Benar-benar tim yang solid, benar-benar kolaborasi yang sempurna. Akhirnya, traumatic, saya putuskan untuk tidak pulang, tidak memilih, “toh, yang terpilih pun tidak akan bisa membantu menyelesaikan tugas akhir saya” begitu kata saya pada ibu. Dan keesokan harinya “bu, tolong surat undangan untuk memilih saya dibawa, insya Allah saya sampai di rumah pkl 11”, begitu kiranya bunyi pesan saya pagi ini.

Memutuskan untuk pulang pergi, entahlah, panggilan nurani, ya saya menamakan ketololan saya kali ini dengan sebutan “panggilan nurani”. Saya tiba di kotabumi, perjalanan 2 jam dari tanjung karang, tempat saya menuntut ilmu. Kata ibu “langsung saja ke tempat Om wustho”, ya rumah pak RT masih tetap menjadi tempat pemungutan suara. Entah sejak tahun berapa bapak yang satu itu menduduki jabatannya, yang jelas, sepertinya ia memang tidak pernah ada yang menggantikannya. Apakah pak RT itu ingin seperti bung karno yang berkeinginan menjadi presiden seumur hidupnya???? Sepertinya tidak, sepertinya bukan. Karena setahu saya RT tidak digaji, selain dari pada tanggung jawab yang menanti.

Perbedaan antara kedua jabatan itu adalah bahwa jabatan yang pertama RT tentunya, bisa dihitung dengan jari orang-orang yang mau mengembannya, atau memang tidak ada, bahkan meskipun RT sebelumnya ingin menyerahkan tampuk kekuasaannya dengan sukarela, tetap saja, tidak akan ada yang mau mengembannya menggantikan pejabat sebelumnya.

Berbeda dengan jabatan yang satunya, presiden. Manusia rela mati demi mendapatkannya, capres-capres menghabiskan dana yang tak terbayangkan oleh gelandangan-gelandangan yang kelaparan di luar sana, yang mungkin memegang uang 50ribu rupiah saja sudah bukan main senangnya. Milyaran rupiah tidak tanggung-tanggung mereka keluarkan.

Muak, saya muak, melihat iklan-iklan yang bertebaran, ditambah lagi dengan spanduk, baliho, papan reklame, semua ada, semua lengkap, setiap sudut jalan tidak akan luput dari gambar-gambar yang hanya akan menjadi sampah pada akhirnya.

------

Thursday, June 18, 2009

Calon2 pemimpin di negeri dongeng ini

Debat capres, kt temen sie,ZeeruuuUU, tapi kt cep, buang2 waktu.

Saling tuding, semua saling klaim, semua saling obral, yg lebih parah, ketika salah satu capres sbegitu sdemikian shingga 'mnegatifkan' lawannya.

hhh, padahal swasembada beras, gara2 pak petani dg keringat dan pupuk mahalnya.

padahal pancang suramadu, bapak2 kuli yg menegakkannya
padahal perdamaian, juru bicara yg mendiplomasikannya.....
poinnya, semua yang terjadi, semua prestasi yang ada, bukan karena satu orang saja, bukan kerja satu orang semata.

Manusia indonesia dialihkan, anggota DPR melenggang senang dengan CINCIN emas di jari jemari mereka.
Tersenyum dengan bangga, memakai LENCANA mematut diri di layar kaca tualet seharga jutaan rupiah sepertinya.
Gila, mata manusia dialihkan dari tingkah polah anggota DPR lama dan baru, 5 miliar, begitu ujar koran lokal.
Alokas 5 miliar untuk CINCIN emas bagi anggota DPR lama, dan LENCANA emas bagi anggota DPR baru.
Hahhh, sementara busung lapar mengancam di mana-mana.
Sementara angka pengangguran bertambah lagi
Sementara angka kemiskinan tidak berubah ke arah turun, melainkan naik yang signifikan

Timpang
Pitza Hut didirikan
termasuk ke dalam propinsi termiskin, sudah disandangkan
Timpang
enam daerah di lampung raih penghargaan program peningkatan produksi beras
tetapi, busung lapar pun tersebar di empat daerah yang menerima penghargaan.

bersedekahlah kamu baik dalam keadaan terang-terangan maupun bersembunyi, diam-diam.
Mengapa baru janjikan laptop ketika PilPres akan diadakan bulan juli tahun ini.
Mengapa tidak bersedekah ketika Aceh sedang tertimpa musibah
Ketika Yogya dilanda gempa bumi yang luar biasa

Mengapa baru menjanjikan melindungi negeri dari intervensi negara asing, tepat ketika diri mencalonkan diri menjadi salah satu kandidat di negeri ini.

Mengapa semua mengaku berjasa pada perdamaian ambon, poso, aceh.
Mengapa semua mengklaim keberhasilan tanpa mau mengakui kesalahan, kecerobohan akan rusaknya lahan gambut, rusaknya lahan resapan air, rusaknya hutan yang ada di negeri ini.

Mengapa tidak ada yang mengklaim bertanggung jawab pada banjir yang setia melanda negeri ini, apa lagi kota jakarta yang katanya ibukota negeri kita.

Mengapa pula tidak ada yang mengklaim bertanggung jawab atas jebolnya situ gintung beberapa waktu yang lalu.

Friday, May 15, 2009

'Guru Muda'

“Di sini, banyak guru perempuannya ya pak” begitu ujar saya pada pak kepala sekolah MTSN 1 kotabumi. Kepala sekolah tempat saya bertugas, bahasa kerennya berdinas sebagai salah satu Tim Pengawas Independen dari kampus yang katanya hijau UNILA.

Ruang kepala sekolah, dengan sofa dan karpet hijau. Pak kepala duduk di kursi yang berhadapan dengan sofa tempat saya berada.

“ya, disini banyak guru perempuannya” begitu jawabnya, “tapi bagus, karena kalau perempuan itu kan lebih perasa, lebih sabar, lebih bisa mendidik daripada guru yang laki-laki” begitu jelas pak kepala sekolah pada saya. “oooo, iya juga ya pak” begitu jawab saya.

Diam, lalu tiba-tiba pak kepala berkata “tapi, ada gak enaknya juga”, “lho kok? Memang gak enaknya dimana pak” begitu tanya saya. “gak enaknya di saya, kepala sekolahnya” begitu jawab pak kepala.

Aneh, bagaimana bisa. Sesaat sebelumnya pak kepala sekolah bilang ‘enak’, beberapa waktu kemudian bilang ‘enggak’, bertolak belakang, jadi kembali menimbulkan pertanyaan. “kok bisa pak?” begitu tanya saya. “ya nggak enak, apalagi kalau guru-guru muda” begitu jawabnya. “o iya pak, ikut suaminya” begitu saya simpulkan, yang ada di dalam pikiran saya saat itu, pak kepala sekolah akan menjawab bahwa ‘kalau guru-guru muda, baru ditempatkan, kalau suaminya pindah tugas, maka dia juga ikutan pindahan’, tapi ternyata dugaan saya salah, bukan itu yang pak kepala ingin sampaikan.

“ya nggak enak, kalau lagi hamil muda” begitu katanya “ooo saya pikir apa” begitu jawab hati saya. Lalu “mau dekat melahirkan, pasti cutilah dia, kalau sudah begitu, kepala sekolah yang pusing cari guru penggantinya” begitu terang pak kepala. “iya juga ya pak” begitu balas saya. “ya iya, belum lagi kalau anaknya nanti lahir, mulailah dia datang terlambat, yang alasanya ngurusin anaklah, belum mandiin anaklah, belum ngasih makan, nah sudah itu kalau begitu” begitu jawab pak kepala.

Lalu, “mau dimarahin, gak mungkin, perempuan. Nanti kalau dimarahin, kita dikatakan ndak berperasaan, seperti ndak tau gimana susahnya ngurus anak. Gak dimarahin gimana, jadi serba salah” begitu keluh pak kepala sekolah. Saya hanya mengangguk-angguk, sembari sesekali menjawab “iya juga ya pak”, entah si bapak bosan atau tidak dengan tanggapan saya, tidak tahu. “ya sudah, gak bisa marah. Repot, kalau guru pengganti gak ada. Anak-anak itu ribut, tendang sana tendang sini, belum lagi kalau ada yang berantem” begitu kata pak kepala.

“iya ya pak, mereka mah seneng-seneng aja, gurunya gak masuk”, begitu jawab saya, ya itu fakta, karena saya sudah pernah menduduki bangku SLTP 3 thn lamanya. “bukan seneng lagi, malah gurunya didoakan sakit, biar gak bisa mengajar, beda sama zaman saya dulu, kalau guru nggak masuk, kita rugi, sampai gurunya dicari. Kalau anak sekarang, sudah lain lagi” begitu ujar pak kepala,. “yang lebih repot lagi, baru selesai cuti, eh sudah melendung lagi (hamil.red), kalau gitu kan cuti lagi” tambahnya pada saya dan kami berdua pun tertawa.

Benar, pak kepala benar. Tapi tidak juga bisa menyalahkan si guru muda, terlebih lagi dalam hal keinginan untuk memiliki keturunan. Masa-masa produktif seorang wanita tidak bisa ditukar atau dipindahkan ke usia 35thn – 40 thn. Sebenarnya tidak ada masalah dengan guru muda yang sedang giat-giatnya memiliki keturunan, hanya saja manajemen waktu yang tidak pada tempatnya mengakibatkan salah satu menjadi terkorbankan

Apa benar begitu? Siapa yang menjadi korban? Murid-murid kah? Entahlah, kenapa saya menjadi agak sedikit sangsi. Kenapa? Karena setahu saya, anak-anak akan menjadi sangat senang begitu mendapat kabar “ibu ini gak masuk atau bapak ini gak ngajar”.

Yah, suka atau tidak, beginilah salah satu potret dunia pendidikan yang ada di negeri kita, Indonesia.