Pages

Showing posts with label remah-remah hikmah. Show all posts
Showing posts with label remah-remah hikmah. Show all posts

Friday, June 1, 2012

Dunia benar panggung sandiwara

Mari berbual-bual tentang kehidupan. Malam semakin larut, adzan isya baru saja selesai dikumandangkan, dan itu berarti tak berapa lama lagi orang-orang kampung akan datang ke rumah ini, untuk memulai tahlilan. Tahlilan yang sudah berlangsung sejak hari minggu yang lalu dan malam ini memasuki malam ke 6.

Di dusun ini, apabila ada yang meninggal, terkadang ada keluarga yang memutuskan untuk -mentahlilkan- anggota keluarganya tersebut sampai 7 malam berturut-turut. Bahkan, memberikan bingkisan tanda terima kasih pada tamu undangan yang datang, bayangkan kalau ada 1000 orang yang datang, sementara si keluarga yang ditinggalkan notabenenya adalah keluarga yang tidak mampu. Kalau begitu, setiap keluarga akan berdoa supaya anggota keluarganya tidak pernah meninggal, karena meninggal itu ternyata -mahal- harganya.

Setiap yang hidup akan merasai mati, hal yang pasti. Ketika kita berpikir, berangan-angan tentang yang tak pasti, merencanakan yang belum pasti, tetapi seringkali terlupa tentang yang pasti, MATI.

Dunia ini panggung sandiwara, benar-benar panggung sandiwara. Menjadi -familiar- ketika gelar sandiwara itu berubah nama menjad -drama, sinetron- dan sebagainya. Lingkungan sekitar kita tak ubahnya seperti cerita dalam sebuah sinetron kejar tayang, yang setiap hari tayang di televisi, dari hari ke hari. Tayangan yang menjadi konsumsi ibu-ibu, ibunya ibu, sebagai pengganti drama telenovela beberapa tahun yang lalu, yang dulu.

Aku bercerita tentang lingkungan tempat dimana aku tinggal, suasana yang begitu asing, atmosfer yang aku hindari, sejatinya benar-benar aku hindari, tetapi pada kenyataannya Allah menginginkan aku berada di lingkungan itu, berada di sini.

Para lelaki sudah berada tepat di bawah kamar ku, mereka sebentar lagi akan memulai membaca doa-doa, yang sebenarnya kalau diartikan dalam bahasa indonesia, doa itu untuk diri sendiri dan keluarga si pembaca doa, bukan untuk yang meninggal, karena 'doa anak yang sholeh dan sholehah' yang sebenarnya akan cepat sampai ke Almarhum, sebut saja namanya Pak Imam. Dan almarhum adalah seorang lelaki yang sudah beranak dan bercucu.

Sepeninggalnya, cucunya menangis tersedu-sedu, begitu juga ketiga anaknya, yang dua orang lelaki dan seorang perempuan. Tetapi, kepada salah seorang cucunya aku berpikir "tangismu akan terhenti ketika matamu dihadapkan pada uang -sumbangan- para pelayat itu" lalu "sedihmu pun tak akan lama, begitu diberikan mobil dari orang tuamu" begitu pikirku saat itu, dan -wallahhh- hari kedua sang cucu sudah tertawa terbahak-bahak, memerintah neneknya yang sudah tua, berkata kasar, menyanyi seperti seseorang yang gagal rencana keartisannya. Pikirku "tebakkanku sungguh jitu"

Dan untuk anak lelaki si almarhum, sebut saja namanya Ridwan yang lebih banyak diam, tenggelam dalam alam pikirannya. Bersyukurnya almarhum, karena dari ketiga anaknya, hanya dialah yang menunaikan sholat wajibnya. Harapanku saat itu, semoga anak tak lupa mendoakan bapaknya, yang sudah berada di alam sana.

Anak perempuannya sebut saja namanya Nindi, yang hanya terlihat di hari kematiannya, sisanya? dia tidak pernah nampak, karena memang sudah berpindah agama, menjadi seorang nashara/nasrani. Tetangga kiri dan kanan bergumam "sungguh berat beban almarhum, karena anak perempuannya berpindah agama". Dan pada suatu ketika, anak lelaki almarhum yang lain berkata, "dia (anak perempuan) bilang, tidak menemukan ketenangan ketika sholat, tetapi menemukan ketenangan di dalam agama barunya" begitu ceritanya.

Dan anak lelakinya yang lain, kita sebut dia dengan nama Rio, menurut cerita tetangga kiri dan kanannya, menurut cerita si nenek yang adalah ibunya si anak lelaki ini (*sebut saja namanya Yati). Katanya, tabiatnya yang buruk, tidak dapat diandalkan, melulu hanya berpikir, berbicara tentang uang. Bahkan ketika si almarhum sudah tak ada, anak lelaki ini berkata "biar saya yang urus pensiun bapak". Ibunya hanya diam, tak ingin semakin membuat kusam situasi yang memang sudah runyam.

Dunia ini seperti panggung sandiwara, benar-benar panggung sandiwara, dan keluarga ini tak ubahnya seperti cerita di dalam sebuah sinetron kejar tayang. Ketika si ibu bercerai secara agama dengan almarhum, kemudian ketika si ibu yang sudah renta itu melulu membanggakan anak perempuannya yang sudah berpindah agama, melulu menegatifkan anak lelakinya yang terakhir itu, dan begitu mengelu-elukan, membanggakan cucunya, anak dari anak perempuannya.

Seperti kisah sinetron, ketika pada awalnya si ibu dan suaminya yang kini sudah almarhum, adalah pada mulanya sebuah keluarga yang kaya raya. Kemudian sampai ibu dan bapak bercerai, kemudian anak perempuan dan anak lelakinya yang berfoya-foya, ke tempat hiburan malam, sampai ketika cucu perempuan si ibu, (*sebut saja nama cucu itu Riri) mendapati Nindi (ibunya) dan Rio (pamannya) sedang menghisap narkotika bersama-sama.

Pak imam dan ibu Yati memiliki 2 orang putera dan 1 orang puteri. Cerita dimulai ketika Ibu Yati dan Pak Imam memutuskan untuk berpisah Pada saat itu tak berapa lama, Nindi melahirkan anaknya yang kemudian diberi nama Riri. Nindi adalah seorang wanita karir yang kemudian bekerja di Ibukota, kecintaannya pada pekerjaan membuat dia meninggalkan bayinya pada ibunya, ibu Yati. Sampai suatu ketika, Nindi bercerai dengan suaminya. Singkat kata singkat cerita, nindi mengikuti jejak kedua orang tuanya -bercerai-. 

Aku temukan perceraian menjadi hal yang biasa, ketika tetangga kiri dan kanan, termasuk ibu yati bercerita tentang -si anu, si itu- dan masih banyak lagi yang lainnya -bercerai-, dengan anak satu, dua, atau tiga.

Lambat laun Riri menjadi dewasa, kemudian menjadi terpukul ketika dia dihadapkan pada 'ibunya, nindi, pindah agama'. Riri semakin menelan pil pahit ketika dihadapkan pada fakta yang tak kunjung berujung mengenai siapa ayah kandungnya. Setelah bercerai, nindi menikah lagi dengan Wijaya, orang-orang berkata -wijaya adalah ayah biologis riri', sementara suami pertama Nindi, bukan ayah biologis Riri, "cuma formalitas" begitu ujar tetangga.

Keadaan yang rumit, membuat Riri tumbuh menjadi anak perempuan yang keras. Dan semakin rumit ketika Ibu yati mendidik Riri dengan manja. Riri tumbuh menjadi gadis yang melulu berpikir tentang uang, tak peduli neneknya memiliki uang atau tidak. Bahkan, Riri pun bisa dengan mudah meneriaki neneknya, berkata kasar pada nenek yang sudah membesarkan dia, yang memasakkan air mandi untuknya setiap pagi, yang memijitinya ketika kelelahan, bahkan yang menyuapinya sampai umurnya sudah menginjak 17 tahun. Pendek kata, neneknya tak ubahnya seperti "kacung, pembantu" baginya. Persis seperti 'sinetron Hidayah yang ditayangkan di sebuah stasiun televisi swasta beberapa tahun yang lalu'.

Sampai saat ini, aku tetap tak habis pikir, kejadian seperti ini benar-benar ada di dunia. Kejadian tentang orang tua yang bercerai, kemudian anaknya pun bercerai. Tentang anak lelakinya yang menghambur-hamburkan uang orang tuanya, bahkan kesimpang-siuran cerita antara sang ibu, Yati, dengan sang anak, Rio. Semua nampak begitu membingungkan.

Tentang bagaimana Riri bisa dengan beraninya memanggil ibunya hanya dengan "Si Nindi itu sudah kasih uang belum?" atau suatu ketika "kamu yang goblok" begitu dia membentak neneknya. Atau ketika dia tertawa-tawa ketika melihat uang, ketika dijanjikan untuk dibelikan mobil oleh Wijaya, suami kedua ibunya. Meskipun pada kenyataannya, para tetangga berkata "ibu yati hutangnya banyak, bahkan meskipun rumah itu dijual, hutangnya tak tertutup". Beberapa orang bilang, "hutang itu karena Rio" ada juga yang bilang "hutang itu karena Nindi". Semua begitu simpang siur, tak jelas. Dan entah dimana letak hubungan kekeluargaan mereka, antara anak, ibu, saudara, menantu.

Karena ketika Ibu Yati mengadakan acara tahlilan di rumahnya, dua anak menantunya yang perempuan, tidak lagi nampak, kecuali di hari pertama dan kedua. Sisanya? keponakan ibu Yati dan beberapa orang tetangg membantu ibu Yati mempersiapkan segalanya. Bahkan Riri pun hanya sibuk dengan telepon genggam dan kegiatan bersoleknya.

Semua begitu membingungkan, bukan karena begitu inginnya aku untuk ikut campur ke dalam sebuah sandiwara drama. Tetapi aku tak ubahnya seperti manusia naif yang termelongo berkata "ada ya kejadian seperti ini di dunia nyata". Melulu begitu isi kepalaku berkata, bahkan sampai saat ini aku masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi pada atmosfer tempat aku berteduh kini. 

All i can do, berdoa semoga apa yang terjadi di sekelilingku saat ini, tidak terjadi pada keluarga dan orang-orang terdekatku. 

Seperti ini yang nampak ketika manusia tidak mengenal Tuhannya, tidak mendekatkan diri pada Allah ta'ala. Melainkan menjadikan dunia sebagai tujuan, menjadikan harta sebagai idaman, sebagai idola di dalam hidupnya. Dan begitu menyedihkan ketika menjadikan agamanya sebagai permainan. 

Naudzubillah, semoga Allah menjauhkan aku, keluargaku, orang-orang terdekatku dan kamu dari siksa kubur, siksa api neraka, dan tipu daya dunia. Amin

Thursday, May 10, 2012

Bocah lelaki dengan burung besi bernama sukhoi jagoannya

Mentari beranjak ke peraduan, burung-burung sudah terbang pulang kembali ke sarang. Kota ini seakan tidak pernah mati. Suara deru mesin kendaraan roda dua, roda empat hilir mudik ke sana ke mari. Suara anak-anak, balita, orang tua, muda memenuhi rongga-rongga udara yang kemudian tertiup terbawa angin petang, hingga dalam hitungan beberapa meter, suara-suara itu masih akan terdengar oleh telinga manusia dan makhluk hidup yang lainnya.

tidak ada angin bertiup senja yang semakin temaram ini. Hanya sisa-sisa awan yang sebenarnya berwarna biru, putih, atau sebenarnya tak berwarna, yang kemudian serta merta berubah menjadi gelap, suram, kelabu manakala mentari mulai tenggelam di ufuk barat, meninggalkan awan yang tetap berada di atas, langit katanya. Berjejer rapi, tanpa pernah runtuh, jatuh ke bumi meskipun sejatinya awan-awan itu tidak ada yang menyangga, tidak pula ada tali yang menggantungnya. 

anak kecil itu terdiam, duduk menekuri  pinggir jalanan sebuah desa di salah satu kota yang ada di Indonesia. Dia adalah satu titik yang ada di dunia, yang tinggal di sebuah negeri, negeri antah berantah kata orang 'berambut pirang' di sana. Anak lelaki kecil itu beralaskan sendal jepit, memanggul bongkah-bongkah es batu yang di letakkan di dalam sebuah karung, tepat di punggungnya.

apakah lahir dapat memilih? tidak ada yang bisa memilih. Sebagian orang merasa beruntung lahir di tengah keluarga yang kaya, dengan harta melimpah, fisik dan wajah yang tampan, gagah, rupawan, dengan makanan minuman yang luar biasa enaknya. Dan sebaliknya, sebagian orang merasa tak beruntung ketika lahir dan hidup dari keluarga yang sebaliknya.

dia adalah anak lelaki, berusia 13 tahun, tinggal di sebuah desa, dengan kaki-kaki yang yang kokoh, dengan jari jemari kaki yang kuat menapak, memijakkan diri ke bumi. Dia berjalan di bawah terik matahari, setiap hari, dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun.

Hari itu dia terduduk di tepi jalan yang bersisian dengan sawah yang hampir menguning padinya. Anak lelaki itu duduk dalam diam, kelelahan, bongkah-bongkah es batu yang akan digunakan oleh bapaknya untuk membuat 'es tong-tong' itu, terasa begitu membebani punggungnya. Pikirnya "ah aku istirahat sebentar, tak mengapa" begitu gumamnya.

Anak lelaki itu tetap duduk, meski mentari begitu menggoda dengan lidah-lidahnya yang panas. Dan anak lelaki berambut pirang kerana matahari itu tetap tak bergeming, sampai ketika seorang penjaga warung kecil, tepat di seberang jalan dia duduk, memanggilnya "Kene 'le" begitu penjaga warung itu berteriak dari kejauhan.

Anak lelaki itu serta merta kegirangan, mengangkat sekarung penuh bongkah es batu yang beratnya mencapai 12 kg itu, kemudian meletakkannya di punggungnya yang masih muda belia, sama belianya dengan usianya.
"istirahat di sini le, di luar panas" begitu ujar penjaga warung itu. Seorang wanita tua, dengan kain 'jarik' yang melilit tubuhnya, dari perut sampai ke mata kakiknya. Dengan kebaya yang sudah lusuh, dengan rambut berwarna putih yang tersanggul rapi di kepalanya.

"inggih mbah, matur suwun" begitu ujar bocah lelaki itu

mbok penjaga warung meninggalkan bocah kecil itu setelah berkata "nek haus, airnya di atas meja ya le, ambil sendiri" begitu ujar si mbok, sembari menunjuk ke meja kayu tua yang tepat berada di hadapan bocah lelaki itu. 

"mbah ke belakang dulu ya, ada yang mau mbah kerjain" begitu ujar wanita renta itu, sembari meninggalkan bocah lelaki itu sendiri di amben-amben warung kecilnya.

Angin semilir bertiup, Tuhan tidaklah jahat, begitu pikir bocah lelaki itu. Panasnya matahari yang membuat tersiksa jari-jemari dan telapak kakinya, masihlah diiringi dengan tiupan angin yang meskipun semilir tetapi mampu membuat butiran-butiran keringat yang semula mengalir deras dari ujung kepala sampai ke pelipisnya, menguap, hilang, meninggalkan kesejukan. 

Bocah lelaki yang berambut merah karena matahari itu masihlah menikmati indahnya dunia, versinya, versi orang desa, versi seorang bocah lelaki yang merupakan satu titik kecil di galaksi bima sakti ini. Masih begitu asiknya sampai ketika pandangannya tertumpu pada sebuah tulisan yang berjalan, berganti hilir mudik di layar televisi milik wanita tua yang menjamunya siang ini.

Tulisan itu menceritakan tentang kematian, maut, sesuatu yang tak terduga, sesuatu yang pasti, datang tiba-tiba, bisa terjadi pada seseorang, atau pun terjadi pada banyak orang dalam waktu yang bersamaan. 

Pesawat milik rusia bernama sukhoi itu menarik hatinya, bocah lelaki berambut merah karena matahari itu. Dia tertegun mengamati betapa gagahnya burung besi yang berwarna dominan biru itu terbang, menukik, sebelum kemudian akhirnya dia tahu bahwa burung besi itu sudah hancur, berkeping-keping, karena melawan kokohnya tebing.

Dia pun tertegun, dia tak mengerti mengapa burung besi yang baru itu bisa celaka seperti itu. Mengapa burung besi yang katanya kokoh itu bisa hancur berkeping-keping karena tebing yang diam tak bergerak, mati tak peduli. Pikirnya "tebing yang angkuh berdiri itu sudah menghancurkan burung besi idamanku" begitu gumam bocah lelaki berambut merah karena matahari itu.

Bocah lelaki itu masih enggan untuk beranjak dari tempat dimana dia duduk dan termangu, menekuri setiap gerak yang dimunculkan oleh kotak ajaib yang berada di hadapannya saat itu.

Dia semakin terbingung-bingung ketika banyak orang berkerumun, menangisi kehancuran burung besi jagoannya yang berwarna biru, yang bernama sukhoi itu.

Bocah itu tidak lulus SD, tetapi dia masih mampu membaca, mengerti sedikit tentang apa yang di sampaikan oleh ibu-ibu pembaca berita yang ada di dalam kotak ajaib si mbah yang sudah tua renta. Burung besi yang baru saja lahir itu membawa banyak orang di dalam perutnya. Orang-orang yang pada awalnya merasa akan menjadi bagian dari sejarah, berada dalam burung besi yang bernama sukhoi, yang berasal dari rusia itu, negeri yang bocah lelaki itu sama sekali tidak pernah membayangkan seperti apa rupanya.

Mati, kata itu yang melayang-layang di dalam kepala bocah lelaki itu. Mereka yang berada di dalamnya secara simpang siur dikabarnya sudah pasti tidak selamat, "mestine wis menghadap gusti Alloh" begitu gumam lelaki itu. Dia merasa sedih, sedih karena burung besinya kalah dari pertarungannya dengan tebing yang sudah lebih dahulu lahir dari pada burung besinya. Dia merasa iba pada mereka-mereka yang ikut di dalam burung besinya, yang kini tidak jelas bagaimana nasib mereka di sana.

Untuk sejenak, bocah kecil berambut merah karena matahari itu tertunduk lesu, kemudian termangu. Sampai ketika dia mendengar beberapa orang selamat, tak jadi menghadap gusti Alloh, karena memang belum ajalnya, karena memang bukan takdir mereka untuk wafat bersama burung besi yang menjadi jagoan bocah lelaki itu beberapa menit yang lalu.

Ibu-ibu pembaca berita yang berada di dalam kotak ajaib itu berkata, beberapa penumpang, ada yang selamat karena dilarang oleh istrinya untuk ikut terbang bersama burung besi itu, ada yang selamat karena menunaikan sholat zhuhur, sehingga bawahannya menggantikan posisinya. Pikir bocah lelaki itu bapak itu beruntung karena mengikuti permintaan istrinya, yang lain selamat karena mendahulukan sholat lohor memenuhi kewajibannya kepada Sang Penciptanya, daripada coba-coba terbang dengan burung besi baru bernama sukhoi itu. Sedangkan yang lain tidak selamat karena menolak mengikuti perkataan ibunya, yang melarangnya terbang bersama burung besi asal negeri beruang merah itu.

Hari semakin siang, matahari tetap tidak mau berkompromi dengan kelelahan yang dirasakan oleh bocah lelaki berambut merah karena matahari itu. "Mbah, aku arep mulih" begitu ujarnya sembari sedikit mengeraskan suaranya.

si mbah yang semula berada di dapur, mengurusi dagangannya, menemui bocah lelaki berambut merah karena matahari itu. "ooo iyo, sudah segeran tho?" ujar wanita renta itu
"sampun mbah, suwun yo mbah. Pulang dulu, bapak pasti nunggu es batunya" balas bocah lelaki itu
"yo, salam karo bapakmu yo le" kata mbah putri itu kepada bocah lelaki itu.
"yo mbah, assalammu'alaikum"
"kumsalam" jawab mbah putri

Bocah lelaki itu kembali mengumpulkan tenaganya, mengangkat sekuat tenaga sekarung es batu yang beratnya mencapai 12 kg itu, kemudian meletakkannya di punggungnya yang masih belia itu. Bocah lelaki itu kembali menapak dengan sendal jepitnya yang berwarna biru tua, sendal jepit yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun lamanya.

Hari ini, dia belajar, dia belajar untuk mengatakan 'ya' pada semua kata-kata, perintah yang baik, yang dikeluarkan oleh otoritas tertinggi di dalam kehidupan anak manusia. Ketika Suami berkata 'ya' pada larangan istrinya, begitu juga sebaliknya. Dan bagaimana seharusnya seorang anak berkata 'ya' pada larangan yang disampaikan oleh orang tuanya, dan tentang bagaimana mendahulukan kewajiban pada Gusti Allah, daripada mendahulukan urusan dunia yang tak akan pernah ada habisnya.

Dan hari ini, dia belajar untuk mensyukuri apa yang sudah dia terima hari ini. Bersyukur karena matahari sudah bersedia 'memerahkan' rambutnya tanpa dia harus pergi ke salon dan membayar dengan rupiah untuk itu. Bersyukur meskipun dia tidak memiliki sepeda untuk mempermudah pekerjaan 'memanggul esnya' tetapi Allah masih memberikannya kekuatan fisik dan tubuh yang sempurna. Bersyukur meskipun dia harus berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi kedua orang tuanya, tetapi dia memiliki keluarga yang utuh, yang menyayanginya. Menyesal? tidak ada, meksipun orang tuanya tidak mampu, meskipun harus terhenti sekolahnya, meskipun kakaknya mengalami kekurangan dari sisi pendengarannya.

Allah Maha Adil adik kecil
meskipun susah payah engkau rasakan saat ini
meskipun tak dapat memilih di keluarga mana, kamu dilahirkan
tetapi, dengan syukurmu kepada Tuhan yang menciptakan kamu
tetapi, dengan syukurmu terhadap apa yang Allah berikan kepadamu

kamu jauh, jauh lebih mulia daripada aku, dia, mereka dan manusia yang lainnya, yang sempurna, yang tak sempurna, yang sehat, yang kaya raya, yang memiliki segalanya tetapi lupa, tidak pandai mensyukuri dan tidak ber-qanaah terhadap apa yang telah Dia berikan kepada aku, kita, kami, manusia.






Monday, October 10, 2011

cerita tentang manusia, cerita yang tua

Lihat bagaimana rasa kenyang bisa mematikan hati, akal dan pikiran.
Saya terjebak dengan bertumpuk-tumpuk makanan siap makan. Dengan beberapa bungkus makanan yang tidak lagi bisa dimakan untuk beberapa hari ke depan. Lihat, lihat lah bagaimana rasa kenyang itu bisa membuat manusia seperti aku, terjebak dalam rasa malas yang terkadang membebaniku dengan bujuk rayunya, dengan tarian-tarian erotisnya yang mengingatkan aku tentang betapa "nikmatnya bergulat dengan kasur empuk itu"

Sial, kenapa harus pula keluar kata "sial" itu, ah anggap saja sebagai bentuk aktualisasi diri. Sebagai ujud dari keinginan untuk dianggap -wah-, meskipun tidak jelas dengan benar, -wah- dari segi apa. Mungkin saja sisi kegelapan yang sedang ingin muncul, yang kemudian diwakilkan dengan kata -sial-.
Baiklah para pembaca dunia maya sekalian, mari hentikan omong kosong tentang aku, yang merupakan manusia sebagian, manusia yang belum juga lengkap otaknya secara implisit. 
Ingin sedikit bercerita tentang profesi memalukan yang semakin lama semakin marak di Indonesia. Profesi ini menjadi sebuah keniscayaan, lahir dari apa yang kita sebut dengan -KEMALASAN-. Muncul ke permukaan sebagai akibat dari hilangnya rasa malu, putusnya urat syaraf malu dari manusia-manusia yang katanya -penghuni- asli bumi ini, penguasa dunia, yah setidaknya begitulah asumsi saya saat ini. 

Profesi ini menjadi bisnis, bisnis yang menguntungkan. Semakin marak karena tingkat pertumbuhan ekonomi yang kian menjanjikan. Bisnis dan profesi ini memiliki target dan segmen pasar tersendiri. Dengan menyerang rasa iba manusia, dengan mengandalkan rasa belas kasih yang tertanam sejak lahir pada setiap diri anak adam dan hawa. Dengan memposisikan diri seolah-olah sebagai manusia paling menderita dari pada pelanggannya, maka bisnis ini semakin berkembang pesat saja di bumi Indonesia.

This boy, hiding his cellphone from me using his right hand. He is a beggar
MENGEMIS - PENGEMIS - beggar

Dengan omset luar biasa, mari kita asumsikan si -acep- beroperasi dari pkl 7 pagi sampai pkl 9 malam. Di wilayah padat merayap dengan tingkat populasi pejalan kaki, pengendara kendaraan roda dua dan empat yang apabila dikalkulasikan bisa mencapai 1 juta orang setiap harinya. Berasumsi lagi yang beriba memberikan dia uang sekitar 300 - 500 orang setiap harinya. Dengan kisaran -receh- yang didapatkan Rp 300 - Rp 1000 / harinya. Silahkan menghitung berapa omset yang -acep- dapatkan setiap harinya, minimal acep bisa mendapatkan Rp 90.000/hari dan maksimal Rp. 500.000/ hari. Lalu asumsikan dia beroperasi setiap hari selama 1 bulan, jadi jumlah penghasilan si acep, maksimal adalah Rp @#$%^&&& (silahkan hitung sendiri).

Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Bayangkan atau tak perlu bayangkan, karena bahkan pengemis pun memiliki ponsel genggam di tangannya. Bahkan pengemis pun memiliki strategi di dalam usahanya. Bahka secara tidak sadar, mengaplikasikan operasi managemen di dalam waktu efektif kerjanya. 

Ada banyak kisah yang menginspirasi mata, akal, pikiran dan hati saya. Merangsang setiap titik-titik syaraf  untuk berpikir tentang apa, mengapa, kenapa. Beberapa kisah, sungguh membuat geli hati karenanya, beberapa meninggalkan luka pedih karenanya. 

Kisah seorang bapak berambut -gondrong-, dia duduk di sudut sebuah pertokoan. Dengan pakaian lusuhnya, menghadapi dinginnya cuaca bumi parahiyangan di malam hari. Tak ada aktifitas bermakna yang dia kerjakan, selain hanya sesekali melihat kantung plastik bawaannya. Sekilas saya pikir dia -pengemis-, tidak jauh berbeda seperti yang lainnya. Tetapi, lelaki paruh baya yang satu ini berbeda, dia bukan pengemis sepertinya. Lebih tepatnya dia manusia yang mengais rezeki dari tempat-tempat pembuangan sisa makanan -tempat sampah-. Mengambil gelas dan botol plastik bekas, sepertinya akan dijual.

Malam yang dingin, rasa sedih, rasa kesal akibat sopir angkutan umum jurusan kalapa-ledeng yang asal. Rasa marah akibat tersasar hingga harus berjalan lumayan jauh, membuat aku kembali menjadi manusia yang lebih banyak pikir -tentang hal tak berguna-, dari pada mengimplementasikannya.

Saat itu, ada rasa ingin menghampiri lelaki paruh baya, sekedar bercakap-cakap sekenanya. Atau mungkin membelikannya sesuatu untuk ia kunyah, telan, kemudian disalurkan menuju sistem pencernaan. Tetapi, yang ada aku hanya diam, berlalu pergi, meninggalkan lelaki paruh baya dengan tumpukan sampah plastiknya. 

Malam semakin larut, dingin semakin menusuk, bersyukur tubuh ku yang kurus dan terlihat ringkih ini terlindungi oleh tebalnya jaket kumal berwarna merah menyala, yang terkadang membuat lelaki itu -tersulut rasa kelelakiannya-. 

Menyusuri jalan raya, dengan kaki yang sudah mulai memberontak, ia melaporkan perbuatanku kepada otak yang berada di dalam kepalaku "hentikan, aku sudah cukup lelah wahai manusia serakah". Aku abaikan pemberontakan kecil itu, sebagai ujud otorisasi kediktatoranku atas tubuh kurusku. "Tap, tap, tap" begitu derap langkah kaki ku, dan sejenak terhenti bersamaan dengan tertegunnya kedua buah bola mataku. Tertumpu pada seorang wanita, seorang ibu dengan seorang bayi berusia beberapa bulan di pangkuannya.

Kisah tentang seorang ibu, apakah mungkin dia ibunya? atau hanya sekedar ibu sementara saja? entahlah. Tapi, benarkah begitu tega seorang ibu membaringkan bayinya dipinggil jalan, di atas trotoar, tepat bersandar pada tiang lampu merah. Drama semakin memilukan ketika plot kejadian diletakkan pada suasana malam hari yang dingin, dengan tiupan angin yang menusuk. Aku terus memaksakan kaki ku untuk berjalan, sembari isi kepala ku mengisyaratkan jari-jemari untuk segera mengambil Hp blackberry dengan sinyal edge itu. 

Ingin meng-capture apa yang dilihat oleh mata, membawanya ke dunia maya, mencoba membuka mata manusia yang lainnya, bahwa inilah wajah indonesia, wajah kota bandung, wajah bumi parahiyangan, dibalik sisi glamor dan borjuisnya. 

Hampir saja saya mengambil gambar anak beranak itu, kalau bukan karena si ibu melihat saya sejenak, kemudian memalingkan wajahnya. Dia duduk bersandar sembari bersenandung untuk bayi kecil yang berada tepat di sampingnya. "yah, mungkin itu anaknya" saya kembali berjalan, sembari berpikir si ibu begitu bertolak belakang dengan lelaki paruh baya yang aku lalui beberapa menit yang lalu. "tapi tunggu" atau mungkin mereka suami istri? siapa yang tahu. Tapi, seperti inilah kehidupan, rasa malas, kebutuhan perut akan makan, menjadi sebuah keniscayaan.

Entahlah, aku sempat terdiam, termangu sesaat, tergugu, hanya tenggelam dalam pikiran, untuk kemudian melangkah pergi, setengah berlari, bersembunyi dari pahitnya sisi muram dari kehidupan. 

Malam yang kelam, rembulan menutup kedua matanya, menangis ia, melihat banyak anak manusia seperti si ibu beserta anaknya. Mencari serpihan-serpihan 'rupiah' di tengah-tengah keramaian hilir mudik kendaraan. Mengabaikan serangan timbal asap kendaraan, demi apa yang kita sebut dengan 'uang'. 

Derap langkah kaki semakin jauh, meninggalkan pemandangan pahit seorang ibu dengan anak bayinya yang berada di tepi jalan. Meninggalkan lelaki paruh baya dengan tumpukan gelas-gelas plastiknya. Rasa lapar yang mulai perlahan menyerang sisi sensitif dari syaraf yang berada di kepala. "Aku sakit" begitu ujar kepala kepada kumpulan syaraf yang berada di sana, "ya kita sakit" begitu sahut yang lainnya. Derap langkah kemudian terhenti, di sebuah warung tenda di pinggir jalan, mencari kenikmatan sesaat bagi lidah, mencoba memenuhi hasrat, mengobat rasa sakit di dalam kepala akibat rasa lapar yang mendera.

Tentang dua orang waria yang pria
"Krincing, krincing" dua orang manusia bernyanyi dengan suara seadanya. Dengan tampilan khas wanita, wanita jalanan yang beroperasi dengan alat musik seadanya. Melahirkan gelak tawa dari aku dan beberapa pengunjung warung yang lainnya. Sedang si penjual martabak asyik masyuk dengan alat penggorengannya, aku beserta jiwa dan ragaku berjibaku mengamati tingkah laku kedua anak manusia yang bernyanyi dengan suara pas-pasan itu.
He is a man, but to earn money he dressed like a girl, he talk like a girl and his act like a girl
"Permisi teh" begitu ujarnya, "walau malam gelap, tiada berbintang. Asalkan lagu ku ....." yah sepenggal lirik yang masih benar, kemudian secara serampangan, silang lintang, jumpalitan. Kacau tidak keruan, tidak beraturan, hingga aku sampai pada kesimpulan, anak manusia berdua ini tidak hapal dengan lirik lagu yang mereka nanyikan.

"Waria", mereka bukanlah wanita, melainkan pria yang berpakaian wanita. Seorang dipanggil dengan sebutan "saya ule' teh, tinggal di kopo, caringin", oh ya, saya tahu caringin, tapi tidak dengan kopo. Interview, sombongnya saya seperti seorang pimpinan perusahaan yang sedang menginterview calon karyawan. Bertanya tentang berapa usia, hingga tentang apakah mereka wanita atau pria sejati mulai dari fisik dan mentalnya. Lalu bertanya tentang sebab dan musabab mengapa meraka bisa menjadi seperti itu rupanya.

his name ule'
"Uang" semua karena uang pada akhirnya, dengan alasan tidak ingin meminta uang dari orang tua, mereka bekerja sekenanya. Pekerjaan yang ringan, hanya 'cring cring' dapat uang. Tidak perlu tenaga, hanya cukup membuang rasa malu jauh-jauh ke tempat yang paling jauh. Seorang berusia 26 tahun, lahir pada tahun 1985, dan kalau tidak salah dengan sekolah menengah pertama pun tidak selesai. Sedang yang seorang yang pemalu berusia 19 tahun. Dengan berkata "main ke tempat teman" seperti itulah cara mereka mengelabuhi kedua orang tuanya. "Tapi, kita gak jual diri teh" begitu selanya, "kalau pagi kita norma" begitu tambahnya, demi membuktikan kesejatian dari gelar lelakinya.

Mengapa dengan wanita, mengapa berdandan sepreti wanita? beberapa survey mengatakan pria percaya bahwa lebih mudah mendapatkan uang bila manusia tersebut adalah wanita. Benar begitu? belum tentu, karena pada kenyataannya ke-perempuan-an ku merasa tersulut api, ketika beberapa profesi meletakkan pria sebagai kriteria utamanya.

Apapun itu, banyak kisah, banyak cerita, cerita tentang anak manusia. Aku pun seorang anak manusia, meng-capture potret-potret kehidupan, pagi, siang, sore dan malam. Mengeksploitasi dari sisi lain kehidupan, aku terjebak dalam alam pikiran tanpa pernah bisa melakukan sesuatu atas potret yang aku ambil dengan kedua indera penglihatanku.

Pun terjebak pada rasa inginku, pada rasa laparku, hingga membuat aku membuang apa yang sebenarnya lebih berguna bila orang lain yang memanfaatkannya.
Rembulan, berpikir apakah dia melihat bulan yang sama dengan yang aku lihat setiap harinya? Apakah begitu wahai rembulan?. Pastinya begitu, mungkin begitu, dan rembulan pun tersenyum dalam diam sembari menatap lekat wajahku.
"Begitu nampak jelas kah wajah kusut ku di hadapanmu, sahabat karib ku" begitu aku bertanya pada rembulan di separuh malam yang kelam. "ya, setidaknya begitu lah yang nampak oleh ku" begitu jawabnya. "Lama rasanya engkau tidak menyapaku, anak manusia yang lupa"

"Ya, aku terlalu sibuk dengan ke-aku-an ku. Terlalu diperbudak oleh mimpi dan angan-anganku tentang dunia yang semua" tak berani aku menengadahkan wajah, menatap wajahnya yang nampak indah dari kejauhan, namun kelam, dingin, pekat bila aku menatapnya dalam dan lekat.

"Nampak semakin rapuh dan angkuh, itulah kamu yang sekarang ini. Senang itu membuat mu lupa akan aku yang dahulu sejatinya menemani malam-malam sendu mu itu" begitu ujar rembulan padaku.


"Entah lah, tapi aku tahu itu, aku tahu. Senang dan sedih, rasa bersalah dan lepas, antara jatuhnya air mata dan bahagia, mereka berlari-lari di dalam hatiku. Di dalam akal dan pikiranku, membuat aku bingung untuk memetakan perasaanku".

Malam semakin larut, bintang-bintang tak nampak dalam jarak beberapa juta kilometer dari rembulan berada. Aku terjebak dengan alam pikiran ku, setidaknya semakin hari aku semakin menyadari itu. Semakin aku pikirkan, semakin aku tidak tahu tentang untuk apa aku berpikir tentang banyak sesuatu itu.

"Manusia, kalian memang selalu begitu. Tidak kah kamu tahu, aku melihat setiap gerak-gerikmu. Aku tatap lekat, aku mengingat setiap tingkah laku dan polahmu. Dan aku malu, aku menangis akan hal itu" ia tutupkan wajahnya, bersembunyi sejenak di balik awan kelabu yang bertebaran di luasnya malam yang gelap gulita. Sedu sedannya sesekali terdengar, terasa menusuk hati, menghujam seluruh tubuh ini. Dan rembulan pun terluka, dan rembulan pun menangis, di tengah malam yang gelap, yang gulita.

"Aku pergi" begitu ujarnya, "Pikirkan tentang apa dan seperti apa kini, kamu wahai anak manusia. Pikirkan dalam dan lekat, kenyataan bahwa saat ini kamu benar-benar terjebak, terjerembab, jatuh ke dalam palung kehidupan yang gelap, kelam, dingin dan lembab. Tak ada sesuatu yang dapat membawa mu kembali ke permukaan, kecuali rasa inginmu untuk itu, kecual rasa belas kasih Nya padamu" begitu rembulan berkata. "Setiap bait kata yang aku sampaikan padamu, bukan sekedar untaian-untaian bait yang tidak bermakna. Dan pikirkan bahwa hidup kalian, manusia tidak akan lama, tak pernah lama kecuali hanya 1 hari saja" 

Dia pergi, menghilang di gelapnya malam. Meninggalkan aku berjalan sendirian, menapaki jalan setapak, berusaha mengingat-ingat setiap kejadian. Serpihan-serpihan memori yang tersimpan hampir usang, dan menjadi sebuah pengingat yang lembut namun menyakitkan.

Helaan nafas itu aku hembuskan, rasa sakit mulai aku rasakan. Tumor ini seperti mulai menunjukkan ke-aku-an nya atas aku yang menjadi inang baginya. "Apa yang harus aku lakukan, tak pernah aku sebuntu ini", begitu kemudian aku berbicara pada layar putih yang berada di hadapanku kini. Namun ia hanya terdiam, tanpa ada sepatah dua patah kata keluar dari dirinya.

Sore semakin menjelang, begitu padat cerita tentang kehidupan. Kembali menelaah dari 1 hari 1 malam yang sekejap, namun meninggalkan bekas, meninggalkan ribuan bahkan jutaan kata yang tak mampu aku sampaikan. Setiap kata, setiap bait, setiap kalimat yang ada, sebagai pengingat untuk ku beberapa hari, minggu, bulan, tahun berikutnya. Dan rembulan tetap tak bergeming, diam, belum ingin, atau memang ia sedang tak berkenan untuk berbicara padaku, sahabat lamanya

Friday, September 30, 2011

Merasakan bagaimana menjadi hampir -victim- dari sebuah peristiwa yang biasanya hanya saya lihat dari layar kaca.

Awal september mendekati tengah malam, masih berada dekat dengan pelabuhan. Ketika kapal yang saya tumpang bersenggolan dengan bagian tubuh kapal yang lain, yang saat itu sedang mengisi muatan. Kapal sempat kehilangan keseimbangan dan rasa ingin tahu orang Indonesia, semakin memperparah keadaan. Kapal -miring- ke satu sisi, ke sebelah kanan tepatnya. 


Sontak, semua yang berada di dalam kapal merasakan panik yang luar biasa. Para lelaki sibuk pergi menyelamatkan keluarganya, yang single sibuk pergi meninggalkan lawan bicara yang baru saja dikenalnya. Wanita dan anak-anak mulai berteriak, histeris, tangis mereka bercampur baur dengan hilir mudik manusia yang lari berebutan, demi mendapatkan pelampung yang disediakan pihak kapal.

"jadi beginilah rasanya" setidaknya itu yang ada di dalam pikiran saya saat itu. Saya tidak tahu apakah saat itu saya merasa panik atau tidak, yang pasti saya hanya berjalan ringan. Menuju tempat pelampung penyelamat berada, mengenakannya lalu berusaha keluar, "setidaknya saya tidak berada di dalam ruangan ini" begitu pikir saya saat itu.

"jadi seperti inilah rasanya, mereka yang kapalnya mengalami masalah", yang karam, yang kapalnya terbakar, yang kapalnya tenggelam. Saya bersyukur, kapal yang saya tumpangi bisa tiba dengan selamat di pelabuhan merak. Saya bersyukur, kepanikan tidak berlangsung lama dan saya bersyukur meskipun saya tidak dapat berenang, saya memiliki pelampung sempat memakainya untuk beberapa lama, kemudian saya kembalikan.

Tahukah kamu apa yang ada di dalam pikiran saya saat itu? saya bingung tentang ekspresi apa yang harus saya perlihatkan. Lihat lah, bahkan untuk disaat genting pun saya masih saja banyak berpikir. Saya membayangkan bila keadaan semakin buruk, kapal tenggelam dan saya hanya tinggal nama yang tertera di layar televisi. 


Lelaki-lelaki yang beristri, yang ber-anak, sibuk mencari-cari pelampung demi anak dan istrinya. Ada yang memarahi petugas kapal, karena tak dapat menemukan pelampung untuk anggota keluarganya. Beberapa wanita yang berteriak mulai menangis, anak-anak yang ketakutan mulai berteriak, menambah riuh ramai suasana kapal. Dan saya masih tidak tahu, saya harus memposisikan diri saya seperti apa. Berteriak? ah tak mungkin, menangis? buat apa. Saya hanya diam, berjalan, mencari tempat dimana setidaknya saya bisa berpikir bahwa "saya aman".

Saya ketakutan? ya, tentu. Cerita dahulu bahwa saya tidak takut mati, omong kosong semua itu. Keringat dingin mulai mengucur, rasa panik itu sebenarnya sudah menyeruak, memenuhi kepala hingga mempengaruhi pola pikir ku saat itu. Aku belum ingin mati benarkan begitu? atau aku takut mati? ya sepertinya begitu. Jadi seperti inilah rasanya yang mereka rasakan ketika mereka tahu bahwa mereka akan mati? mungkin iya, mungkin juga tidak.
Manusia itu pun berlari, tertawa-tawa menyadari kebodohannya. Sembari berteriak seperti orang hilang akalnya "aku takut mati" lalu tertawa terbahak-bahak ia. "Aku takut mati, Tuhan ku" kembali tertawa terbahak-bahak ia. Dan manusia itu adalah aku, aku yang berada di sini, yang duduk yang katanya terlalu banyak berpikir, yang berpikir bahwa tidak ada lagi langit selain langit yang aku punya. Manusia itu adalah aku, seberapa hinanya aku? Allah Maha Tahu, seberapa buruknya aku? Allah, hanya Allah Yang Maha Tahu. Aku? hanya satu yang aku tahu kenyataan pahit bahwa aku takut pada apa yang namanya -kematian- itu. BODOH 

Monday, August 22, 2011

contemplated, August 22, 2011

Sendirian, kembali menikmati harmoni dari sebuah perjalanan panjang. Usia 25 membuat saya menjadi manusia yang berbeda. Beragam, berbagai macam kejatuhan sudah seperempatnya saya rasakan, dan kejatuhan terbesar adalah ketika harus berperang dengan hati nurani demi membungkam suara-suara jujur dari dalam jiwa, aku melupakan, membuang prinsip yang seharusnya menjadi pegangan, pedoman selama berada di dunia, menjalani kehidupan.

Kemana takdir membawa, kemana angin kehidupan meniupkan tubuh kurus seperti kerangka ini. Saya tidak tahu, saya hanya mengikuti takdirnya, atau sebenarnya apa yang saya jalani saat ini sebagai imbas dari rasa ego saya sebagai anak manusia yang selalu ingin dipenuhi keinginannya.

Rasa ingin dikenal yang saya kemas sedimikian serupa sehingga lalu mengubah istilahnya menjadi –ingin bermanfaat bagi manusia yang lainnya-, rasa sombong dan arogan sebagai manusia yang kemudian saya sembunyikan di dalam istilah –ingin membantu sesama-. Tidak, tidak ingin begitu, kalau pun memang pada awalnya saya seperti itu, saya ingin kembali ke fitrah dimana semua anak manusia ingin berada, menjadi manusia yang bahagia karena melihat manusia yang lainnya berbahagia.

I had a dream i scream

Saya berteriak, hati ini berteriak, ingin kembali ke jalan tempat dimana saya berada dulu, ke tempat di mana saya berpijak dulu. Anak manusia yang lupa, saya berharap, menggapai dari dalam ngarai yang gelap, yang lembab, yang kelabu, yang sunyi, berharap seseorang akan membawa tubuh dan jiwa ini bangkit dari kejatuhan. Berjuang sekuat tenaga dengan harapan yang tersisa, secercah cahaya dari ibu yang membesarkan saya, dari keluarga yang mencintai saya apa adanya, yang sempat saya lupakan bahwa mereka peduli dan menyayangi tubuh yang ringkih ini dengan segenap jiwa. 

Cinta dan kasih sayang dari ibu-ibu yang menganggap saya selayaknya anak mereka, itu yang membuat saya ingin kembali menjadi putih, meskipun noda hitam itu akan terus melekat selama hidup saya di dunia. Rahmat dan kasih sayang Nya yang membuat saya kembali, rasa malu pada nabi muhammad SAW, yang membuat saya sekuat tenaga meninggalkan lembah dan ngarai yang hitam dan kelam itu.

Dunia, tidak mau buta karena mu, tidak ingin menjadi bodoh karena kelalaian dalam bersikap terhadapmu.

Membentuk rasa bahagia, menjadi manusia yang melihat bahagia dari sisi yang berbeda. Membiarkan tumor yang bersarang di dada, dan menjadikannya sebagai ladang untuk mencari bahagia. Ada rasa iri ketika melihat jutaan manusia berkeliaran dengan harta dunia yang melekat pada diri mereka. Tetapi mengembalikan semua pada kenyataan bahwa, setiap manusia hanya menjalankan tugasnya di dunia. Siapa yang dapat meminta untuk lahir menjadi indonesia, siapa yang dapat menolak lahir menjadi seorang india? atau siapa yang dapat memilih untuk lahir menjadi cantik, kaya? atau siapa pula yang dapat menolak untuk lahir menjadi anak dari seorang pemulung di tengah-tengah kota jakarta.

Tidak ada yang dapat memilih takdir awal mereka sebagai seorang anak manusia.

i dont wanna give up in this struggle of life, i dont even want to put my hands up

-to be continued-

Sunday, August 14, 2011

Iman seharga uang 30 juta,

Tentang bagaimana melihat sesuatu itu tidak bulat sempurna, tentang bagaimana melihat sesuatu itu tidak hanya hitam atau putih saja. Tentang bagaimana melihat bahagia dari sisi yang berbeda, tentang bagaimana menghadirkan rasa bahagia ketika orang-orang lain yang berada di sekitar kita, menangis tersedu sedan sedemikian rupa sehingga.

Bersyukur? itu yang terkadang atau bahkan luput dari ingatan, hilang dari pandangan, lepas dari jangakauan. Masih ada yang lebih menderita, masih banyak yang lebih sakit dan terluka di dalam hidupnya, dari pada luka dan derita, dari pada susah dan sedih yang kamu, yang saya, yang kita saat ini rasakan.

Sebuah cerita, tentang seorang anak manusia, paruh baya, menjelang 40 tahun usianya.

Bukan berasal dari keluarga papa, tidak pula berasal dari keluarga yang begitu kaya rayanya, tetapi dari keluarga yang cukup, serba cukup pada masa itu, hingga wanita paruh baya itu menentukan garis kehidupannya untuk menikah dengan seorang pria, pria yang tercium bau alkohol dari mulutnya.

Singkat kata, saya tidak begitu lama berkenalan dengan dia. Tetapi, seringnya berinteraksi dengan wanita itu, membuat saya tahu sedikit banyak tentang kehidupannya. Salah satunya tentang betapa banyak hutannya, hingga membuat ia harus bersembunyi dari orang-orang yang menagihnya. Dari penuturannya, saya bingung bagaimana bisa dia terlilit hutang, mengingat kedua orang anaknya tidak begitu banyak meminta.

"Saya banyak hutang karena dulu saya belum kerja neng, suami saya juga gak kerja"
"Tadinya cuma pinjam 1 juta, sekarang jadi 5 juta"

Tapi uangnya untuk apa? lari kemana? entahlah, si peminjam uang tidak tahu untuk apa uang pinjaman itu ia gunakan. Uang itu berbunga, yah pergi ke rentenir juga dia rupanya. Gali lobang, tutup lobang, kemana-mana dicari oleh orang si pemberi hutang. Lari ke sana kemari, bersembunyi, keluarga besarnya sudah tidak mampu atau mungkin enggan untuk membayarkan hutang si wanita paruh baya, yang tidak jelas untuk apa uang itu ia gunakan.

Atau mungkin memang "pasak yang ia pasang ternyata lebih besar dari pada tiang yang sudah ia gunakan?"

Suatu hari "neng bisa pinjam uang 1 juta? untuk bayar sekolah anak saya"

Saya tidak bisa berbuat apa-apa, keadaan saya saat ini jauh berbeda dengan ketika saya masih bekerja. Meminta maaf karena tidak bisa membantunya, merupakan hal menyakitkan yang saya rasakan. Melihat wajahnya yang sayu, tatapan mata penuh kecewa, saya tahu bukan jawaban "maaf teh, saya tidak punya uang sebanyak itu saat ini" yang ingin ia dengar. Tapi, apa hendak dikata, saya saat ini berdiri di atas pilar-pilar yang dibangun oleh kedua orang tua saya.

Berhemat, itulah yang saya lakukan, karena S2 tidak sepenuhnya berasa dari tabungan saya yang jumlahnya tidak seberapa.

Menukar akidah demi uang Rp. 30.000.000, ia pun rela

Sampai ketika beberapa kali "saya mah kalau ditawari 30 juta buat pindah agama, mau aja" dia sampaikan itu sembari tertawa. Miris hati saya mendengarnya, tidak bisa berbuat apa-apa, karena saat ini saya masih belum apa-apa. Ingin berbuat sesuatu, tapi masih merasa belum mampu. Beberapa kali, berkali-kali saya putar otak, mengoptimalisasi kemampuan berpikir saya, kiri dan kanan. Membangkitkan rasa -nekad- saya, untuk membawa perubahan bagi kehidupan saya, agar dapat berguna bagi manusia seperti 'teteh' yang satu itu. 

Tapi, masih belum dapat.

Saya terjebak dalam pola pikir pragmatis, terjebak di dalam cara pikir saya yang terkadang tidak beraturan. Sesekali praktis, sesekali rumit silang lintang dan terkadang sulit untuk dihubungkan. 

Menempuh pendidikan S2, mengurangi waktu tidur dan istirahat saya. Karena saya hanya hidup sekali di dunia ini, tidur panjang akan saya rasakan nanti, ketika saya meninggalkan dunia ini. Itulah mengapa saya kurang porsi tidur saya di dunia, untuk mengoptimalkan apa yang Allah titipkan pada saya.

Kelas bahasa, pulang malam, tidak tidur seharian, semua untuk sebuah mimpi yang bagi sebagian orang saya tidak realistis, terlalu ambisius. Tapi, itu bukan untuk saya, tidak untuk diri saya, tapi untuk mereka yang saat ini memerlukan bantuan saya, tetapi saya belum bisa berbuat apa-apa. Untuk manusia lainnya yang jauh tidak beruntung dari pada saya.

Sakit, sedih, susah, lelah, peluh dan keringat saya redam jauh ke dalam hati, menyimpan semua keluhan, mentrasformasinya menjadi energi positif. Untuk mendapatkan bahagia dari sisi yang berbeda, bahagia dari lelah yang menyapa, bahagia dari rumitnya tugas-tugas mata kuliah, bahagia dari padatnya aktifitas saya hingga membuat saya mengabaikan kehidupan pribadi saya.

Bersabar itu yang saat in saya lakukan, berusaha, berdoa, mengumpulkan semua kekuatan positif untuk meredam semua hal yang negatif. Menanamkan ke dalam hati, kepala dan alam pikiran ini, untuk dapat melihat positif dari hal yang orang anggap negatif. Memilih untuk melihat bahagia dari sisi yang berbeda, agar otot-otot wajah dapat mentransformasikannya menjadi seulas senyum, yang dapat menenangkan hati yang melihatnya.

Sedih itu ada, pasti ada, rasa marah, kecewa, sakit hati, itu pun ada, terlintas, mengunjungi ruang-ruang ego di dalam hati. Tetapi, memilih untuk meredam, membenam, mengubah menjadi sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang indah untuk dijalankan, dilalui, dikehidupan yang singkat ini.


Friday, July 1, 2011

Keep away from Facebook


......... itu yang seseorang pesankan pada saya, sore itu, kemarin, tanggal 30 Juni 2011.

Sore yang indah, ketika langit digelayuti awan-awan kelabu nampaknya akan turun hujan hari itu. Dan memang tidak berapa lama, hujan pun turun. Sedang senang mengunjungi bumi rupanya, hingga hampir setiap hari hujan menyirami tanah-tanah kering di tempat ini.

Wajah bertekuk itu kembali terlihat dari ibu muda itu. Kesenangannya membersihkan segala sesuatu, membuatnya terkurung di dalam sebuah keterbatasan, dimana jiwanya alam pikirannya tidak lagi merasa bebas. Kesenangannya berubah menjadi beban yang menggelayutinya setiap harinya. Ditambah dengan tingkat kedewasaan yang belum berada pada tingkat matang, beban tersebut berimbas pada semua orang yang berada di sekelilingnya. 

Angry woman just illustration
Maka, mulailah wajahnya berubah menjadi sesuatu yang tidak sedap dipandang mata, bahkan yang melihat pun menjadi malas dibuatnya. Pekerjaannya terkesan dipaksakan, tidak ada keikhlasan, tidak ditemukan kesenangan di dalamnya. Tidak, tidak lagi. Dampak yang lain adalah segala sesuatu yang bisa dibuat efektif, hemat dari segi biaya dan waktu, berubah menjadi hal yang mubazir, membuang tenaga dan waktu dengan sia-sia. Untuk hasil yang tidak seberapa atau bahkan buruk sebenarnya.

Tetapi, menurut dia, si pelaksana, si ibu muda yang berusia seperempat abad lebih beberapa tahun. Pekerjaan yang ia lakukan, dilakukannya dengan sepenuh hati, dengan penuh keikhlasan. Tetapi, sayangnya yang menilai pekerjaan itu bukan kita yang mengerjakannya, tetapi individu lain yang melihatnya.

Baiklah, mari kita membuka hari ini dengan cerita kemarin, tentang saran dari seorang kawan lama, tentang -menjauhlah dari Facebook-.

Entah kenapa, lama saya memang tidak pernah bercakap-cakap lagi dengannya. Lelaki yang usianya beberapa tahun jauh lebih tua dari saya. Dia sudah menikah dengan wanita yang jauh lebih baik dan lebih cantik dari saya. Dahulu perasaan saya mengatakan bahwa dia menyimpan rasa terhadap saya, tetapi dari cara saya bertindak, bertingkah laku, saya menolaknya. Dia lelaki yang baik, lucu, tetapi baru kemarin sore saya menyadari mengapa saya melewatkan dia, mengapa saya menghindari perasaannya, mengapa saya menolaknya. Karena, setiap kali dia meminta saya bercerita tentang hari-hari saya, dia tidak pernah membiarkan saya menyelesaikannya. Dia tidak pernah memposisikan diri sebagai pendengar setia, bahkan hingga kemarin sore.

"Jarang online ya?"
"Jarang lihat di Facebook?"

"Oh ya kak, saya memang jarang membuka Facebook. Tidak menemukan manfaat lagi di sana, banyak status-status yang tidak penting menurut saya". Dan di dalam hati saya berkata, -aku sudah muak melihat status-status tidak penting dan tidak berguna-, yang mereka publikasikan di sana, Facebook.

"ya, baguslah, memang gak ada manfaatnya. Baguslah kalau kamu sudah tahu".

"Ya memang sudah tahu dari dulu"
"status-status seperti -huuft lapar-, -mengeluh sakit-, atau -suami istri yang saling balas membalas status- padahal bisa dikirim lewat pesan singkat, atau bahkan si suami/istri bisa menelpon langsung tanpa mempublikasikannya melalui account Facebook nya.

"Sebenarnya saya sudah pernah menasehati seorang teman saya kak, tapi ya sudah sepertinya nasehat saya kurang diterima, dianggap angin lalu". Tidak bisa dan tidak akan pernah bisa memaksakan pendapat, kehendak, bahkan pada orang terdekat kita sekalipun. Itu yang saya tahu, yang saya pelajari dari manusia tentang psikologi mereka.

"oke lah kalau begitu, sukses ya dengan rencananya"

"yup, salam untuk istri dan anaknya kak"

selesai, percakapan terhenti begitu dia mengucap salam dan saya membalasnya. 'Click' telepon terputus.

-Keep away from Facebook-

Beberapa orang menganggap FB adalah hal yang positif, ya tentu saja apabila digunakan untuk tujuan yang positif. Tetapi, dari sekian banyak mereka yang masuk ke dalam jaringan saya, status yang saya baca terkadang membuat geli indera penglihatan saya, membuat jengah, membuat saya enggan membacanya. Bahkan sempat membuat muak, hingga saya pernah memutuskan untuk tidak -contact- dengan account FB saya untuk beberapa bulan lamanya.

Memaki, scolded in illustration
-Sakit-, mereka tumbuh menjadi manusia yang jiwanya sakit. Mengeluh tentang -lapar- hingga -putus cinta-, padahal FB tidak akan bisa menyelesaikan masalah -lapar- mereka, anda masih tetap harus makan untuk mengobati rasa lapar yang mendera. Atau ada yang memaki-maki temannya, konsumennya, melalui account FB nya. Dan ketika saya coba beri saran, mereka memberi alasan -saya sudah antisipasi dia, orang yang saya maki, tidak akan membaca status saya ini- atau, -konsumen saya tidak mengerti FB-. Baiklah, nasehat saya memang terkesan -ikut campur-, tidak berharga, tetapi jauh dari apa yang mereka pikirkan. Tindakan mereka berbahaya bagi kesehatan jiwa mereka sendiri. Pribadi yang kekanak-kanakan, tidak matang dalam berpikir, tua dalam usia tetapi tidak dewasa di dalam tindakannya.

Atau kebiasaan memposting photo pribadi yang seksi, atau kebiasaan memposting status -sayang- antara lelaki dan perempuan, atau kebiasaan mempublikasikan -kemesraan- di wall Facebook, hingga beratus-ratus orang yang menjadi teman di LINK Facebook nya membaca, what for ???. Saya muak, benar-benar muak. Analisa saya, mereka yang setiap hari memposting status tidak pentingnya, merupakan orang-orang yang bermasalah dengan dunia nyata. Mereka merupakan individu kesepian yang tidak dapat eksis di dunia nyata. Hingga memutuskan dunia maya sebagai tempat untuk mengeskpresikan diri mereka.

Menyedihkan, ketika manusia kehilangan tempat sandaran untuk membagi ceritanya. Bukan dengan Tuhannya, Allah Yang Menciptakannya, tetapi Facebook yang di -created- oleh manusia, melenakan mereka. Analisa lain adalah, mereka yang terbiasa memposting status -tidak penting-, -memposting photo diri sendiri secara berlebihan-, memposting status mesra suami istri atau dengan pacar-, memiliki keinginan untuk diakui. Sadar atau tidak, entahlah tetapi sepertinya para pelaku tidak sadar dengan dampak dari apa yang mereka lakukan setiap hari. Tidak sadar dengan akibat dari kebiasaan mereka mem-post-ing status di wall Facebook mereka, bahkan tentang berita bahwa -suami lagi dinas keluar kota, sendirian nih- tidak sadar bahwa dia sedang mengundang bahaya untuk datang ke rumahnya.

Atau tentang seseorang yang memposting kata-kata yang bijak, tetapi secara tidak sadar percayalah perasaan mu akan senang ketika banyak -jempol i like this- yang menempel di Wall mu. Di kata-kata yang kamu tampilkan pada account Facebook mu. Hingga membuat si pembuat status, ketagihan untuk mem -posting- status yang kurang lebih sama bijaknya.

Keep away from facebook

yes i am, yes i did. Saya mengupayakan jiwa, hati, alam dan pikiran untuk membuat sesuatu yang terpampang di sana, merupakan sesuatu yang bermakna, yang ketika orang lain membacanya. Menjadi sadar ia, terbelalak matanya, terbuka hatinya, tersingkap tabir gelap yang berada didalam indera pendengarannya. Agar menjadi sadar ia, terbangun dari mimpinya. Mengurangi atau bahkan berhenti dari aktifitas tak bermaknanya di dunia maya. Aktifitas yang membuat untung dan kaya seseorang yang sudah meng -created- Facebook dan rekan-rekannya yang memasang iklan di sana. 

Yang kaya makin kaya, kita? tetap memilih menjadi konsumen yang dibutakan, yang kecanduan, yang dicuci dan tercuci otak, hati dan alam pikirannya. Kemudian terlahir kembali menjadi manusia yang tidak tahu apa-apa
Dan meskipun saya tidak bisa membuat mereka sadar dan terbangun untuk kembali ke dunia nyata. Setidaknya, saya menjaga hati, akal, jiwa, pikiran dan psikologi saya untuk tetap terbangun. Tidak tenggelam ke dalam dunia maya dengan menjadi pesakitan yang berkeliaran di account Facebook saya.

Monday, June 27, 2011

Nyanyian selamat datang

Aku senang, hari ini aku senang, benar-benar senang

Menarik nafas panjang, mendengarkan lantunan ayat suci Al Qur'an berkumandang dari tempat yang jauh di sana, meskipun tidak sampai berkilo-kilometer jaraknya. Adzan ashar pun berkumandang, kicauan burung turut meramaikan suasana petang yang sejuk dan temaram.

Hujan, hujan itu turun membasahi bumi. Sudah lama mereka tidak datang mengunjungi, dan hari ini beberapa saat Allah menurunkan rahmat Nya melalui air hujan yang mengguyur kota ini, kotabumi dan sekitarnya. Tidak seberapa tetapi penuh makna. Tidak banyak, tetapi cukup mengobati rasa rindu sang bumi kepada air hujan, kepada kesejukan. Tidak melimpah, tetapi cukup membuat manusia tersenyum gembira akan datangnya rahmat dari Sang Pencipta, Pencipta air hujan itu sendiri tentunya.

Aku tumpu kan wajah pada jeruji besi jendela kamar ku, merasakan setiap jengkal kesejukan itu. Aku tumpu kan wajah ku pada hembusan angin di sore hari ini, merasakan lembutnya belaian, terpaan angin di penghujung sore hari ini. Gembira, senang hati, aku bahagia, seperti merasa jatuh cinta, tetapi jatuh cinta pada apa ? pada siapa ? Hati ini bertanya-tanya akan perasaan di dalam hati yang berbunga-bunga, meletup-letup seperti loncatan-loncatan elektron dan proton di dalam alam raya. Seperti apa rupanya? aku tidak tahu, aku tidak pernah melihatnya, hanya dapat merasakannya, rasa gembira itu hanya dapat dirasakan oleh alam pikiran dan alam imajinasi ku. Tidak dengan akal sehat ku.

Aku jatuh cinta, pada sore hari yang bahagia ini. Aku jatuh cinta menumpukan hati pada angin yang menerpa wajahku dengan lembutnya. Aku jatuh cinta pada kicauan burung yang melengkapi hatiku dalam menjelajahi perasaan yang meletup-letup di dalam sini, di dalam kalbu ku ini. Aku merasa jatuh cinta pada kumandang adzan di sore hari yang sejuk ini. Dan aku merasa semakin jatuh cinta kepada Dia, Tuhan ku, Allah Yang sudah menganugerahkan rahmat Nya di sore hari yang indah ini.

Aku masih lah tetap aku, terkadang penggunaan kata aku begitu terasa mengganggu. Seperti rasa ego yang ingin diakui ke aku an ku. Kata saya itu lebih menarik hati, dirasa lebih menggugah jiwa, menyentuh rasa bersalah ku sebagai seorang hamba, anak manusia, hamba sahaya, yang tak mampu berbuat apa-apa, yang hanya bisa meminta belas kasih pada Nya.

Ini tentang cinta, tentang perasaan yang begitu lama terpendam, teredam sebagai akibat dari kebodohan ku sebagai anak manusia, cucu adam yang sempat terhempas jauh ke dalam ruang gelap yang lembab dan menakutkan. Ini tentang jiwa, jiwa yang gersang, yang kembali merasakan haus akan titik-titik cahaya yang menenangkan jiwa. Ini tentang rasa haus, rasa haus akal sehat dan alam pikiran, rasa haus tentang kebenaran, rasa haus tentang kesadaran, rasa haus tentang kenyataan bahwa sebagai manusia seharusnya aku bisa menempatkan dimana posisi ku berada kini.

Kumpulan partikel-partikel seperti aku ini, yang mudah tercerai berai dengan satu kalimat -kun fa yakun-. Sebuah individu yang sempat lupa, kemudian mencoba kembali ke jalurnya, meskipun secara tak sadar aku mencoba menafikannya. 

Sore hari ini, bumi aku mencintai mu, apa adanya kamu. Rindu di dalam hati ini akan hembusan angin mu, rindu di dalam jiwa ini akan ketenangan di sore hari mu. Bahkan beberapa dari manusia, ada yang terlena, terlelap di dalam tidurnya, terlena dengan angin petang mu yang menyejukkan raga, yang mengobati gersang selama beberapa hari lamanya.

Selamat datang hujan yang menyejukkan, selamat datang angin petang yang melenakan bagi mereka yang terlena yang sempat lupa. Dan selamat datang kepada burung-burung yang berkicau di sore hari yang menyejukkan jiwa, di hari ini. Akan aku nyanyikan lagu selamat datang untuk mu wahai hujan, ku persembahkan pada mu wahai bumi, ku berikan pada mu wahai petang.

Wednesday, May 25, 2011

Hilangnya burung terkuku adik lelaki ku

"Yuda, sudah lagi main burung itu. Lihat, sudah banyak lubang itu di kandangnya !!!" begitu kicau ibu di pagi hari. -hahahaha, tega sekali saya menjuluki ibu saya dengan julukan 'kicau'. inilah dia cerita jenaka penuh makna tentang -hilangnya 'burung' adikku yuda-

Gambar ini diambil dari google image.
Burung adikku sudah hilang, jadi tidak sempat mengambil gambarnya hahahaha
Berawal dari kegemaran baru kakak iparku dan seorang pegawai ibuku, yang mencoba keahlian mereka dalam berburu. berburu burung di sekitar pemukiman rumah orang tua ku. selepas bekerja, bisa dipastikan kakak iparku dan seorang temannya yang bernama sama dengan adikku -yuda- beserta seorang karyawan ibuku. mulai mengarahkan moncong senapan angin mereka ke arah langit yang biru. menanti, mengawasi burung yang bertengger di pucuk-pucuk pohon, di cabang-cabang anthena rumah para tetangga.

Pada suatu hari, karyawan ibuku mendapatkan seekor burung yang sudah mati dari teman kakak ku itu, kak yuda. lalu "lumayan, untuk lauk makan" begitu ujar karyawan ibuku itu. 

Yuda, itu nama singkat adikku, entah sejak umur berapa aku tak tahu, tapi yang pasti adik lelakiku yang satu-satunya ini, sudah murni 100% mengalami gangguan di syarafnya. Fisiknya memang normal, ia tumbuh seperti anak biasa pada umumnya dan usianya saat ini sudah 20 tahun. tetapi, akal pikirannya hanya terhenti pada usia 7 tahun. tidak berkembang lebih jauh lagi, mungkin memang sudah enggan untuk berkembang.

Tidak ada aktifitas yang berarti, itulah yang adikku lakukan setiap hari. memutar musik yang ada di handphone miliknya, kemudian bernyanyi dengan lirik yang ia gubah sesukanya. 

Lalu hari itu adikku melihat ritual penyerahan burung yang sudah mati itu, 'burung yang diserahkan kak yuda kepada karyawan ibuku itu-. dan entah dengan alasan apa, karyawan ibuku itu pun memberikan burung yang sudah mati itu pada adikku. 'bodoh' begitu gumamku begitu mengetahui hal itu.

Adik lelaki ku ini keras kepala, luar biasa, apa yang ia mau harus didapatkannya, bila tidak maka mengamuk dengan caranya sudah menjadi senjata ampuh bagi dirinya. Dia paling pandai membuat kesal orang-orang yang berada di sekitarnya. alhasil, ibu saya pun terkadang melayangkan tangannya di tubuh adik saya, yang tingginya jauh melebihi ibu saya. tak pelak, burung mati itu pun menjadi anggota baru di rumah kami. kerja adikku itu meletakkannya di sebuah tempat sampah, kemudian mengisinya dengan benang-benang bordir sisa dari mesin jahit di rumahku. membawanya ke sana dan ke mari, hingga membuat kesal sekaligus iba ibuku tercinta. 

Tiba-tiba, -yah beginilah besarnya rasa cinta ibu pada anaknya- suatu hari ibuku pulang dengan membawa seekor burung terkuku. entah bagaimana asal mula burung itu bisa disebut terkuku, mungkin di dalam bahasa ilmiah burung itu bukan bernama terkuku, aku tak tahu. Dan sejak siang itu, burung terkuku itu menjadi anggota baru keluarga ku. 

Adikku, adik lelakiku itu memiliki aktifitas baru. bermain-main dengan burung itu kemana saja di sekitar rumahku. Ke depan, ke belakang, pendek kata, burung itu dibawa kemana saja beserta kandangnya. Memodivikasi kandang burung, memberikan 'makanan dan minuman-, hingga membuat ibu dan ayah saya kesal kepada adik saya itu. Segala macam rerumputan, benang, hingga air minum kemasan dimasukkan adik saya ke dalam kandang burung itu.

Burung itu indah, ya meskipun hanya dominan berwarna abu-abu dan cokelat, tetapi ia terkadang bersuara -terkuku, terkuku- begitu bunyinya. ayah saya menjadi begitu senang mendengarkannya berkicau, -bagus suaranya- begitu kira-kira ayah saya berujar.

Tersiksa, mungkin itu yang dirasakan si burung terkuku. Kandang yang rusak, tak lagi indah seperti ketika ibu saya membawanya pertama kali pulang ke rumah. Kegemaran adik lelaki ku, membuat kandang burung itu berlubang di sana-sini, bambu-bambunya mulai patah. hingga adik saya menambahkan lidi-lidi untuk diselipkan di setiap titik yang ada di kandang burung itu. Tidak terbang, meskipun lubang yang ditinggalkan cukup besar, ibu saya bilang "kata penjualnya, burung ini sudah jadi alias sudah jinak". tetapi apa iya begitu? aha saya tidak tahu, hingga hari ini burung itu terbang, hilang.

Cengar-cengir, itu yang adik saya tampakkan di wajahnya. "terbang, ibu burungnya terbang, gak tau" begitu katanya pada ibu saya. "ya sudah, kalau sudah terbang mau diapakan lagi" begitu ujar ibu saya. Dan ketika ayah saya pulang kantor, iya berkata "itulah jadinya kalau tidak mendengar apa kata orang tua".

Di dalam hati saya tertawa, geli, melihat drama antara ibu, ayah dan adik lelaki saya itu.

Sejinak-jinaknya burung, pasti ada naluri ingin bebas di dalam dirinya. Aha memang seperti apa yang ada di dalam burung terkuku itu? Naluri? apa iya punya naluri? mungkin insting sebagai seekor hewan, mungkin insting sebagai seekor burung yang ingin terbang bebas di luar sana. Yah, mungkin insting itu yang membawanya untuk tidak melewatkan kesempatan untuk terbang, ketika melihat lubang besar di sisi kandangnya.

Lagi pula, kandang yang indah pun tak mampu menahannya dari kebebasan, apalagi kandang yang rusak di sana sini, berlubang, kotor, tak jelas rupanya. Seperti itu pula apa yang dirasakan oleh manusia, berada di dalam istana tetapi bila 'judulnya' terkurung, tetap saja ia ingin kabur tentunya.

Dimana kamu burung terkuku adikku seharga 30 ribu? sudah makan kah kamu? bagaimana minum mu? tidak kedinginan kah kamu? nyenyak kah tidur mu? hahahaha, pertanyaan bodoh, burung itu lebih mampu bertahan di luar sana dari pada aku tentunya.

Baiklah burung terkuku adikku, tak mungkin kamu dapat membaca tulisanku. Tetapi, aku ucapkan selamat kepada mu, kebebasanmu adalah keinginanku. Mengenai adik lelaki ku, tak perlu kau risaukan itu hehehehe, dia baik-baik saja setelah kepergian mu. tetapi kenapa tidak kau bawa serta kandangmu bersama mu? agar tidak menjadi kerja adikku, mondar-mandir di sekitar rumah orang tuaku, sembari membawa kandang kosong mu itu hahahahaha.

Tuesday, May 3, 2011

Masih merupakan fakta tentang mahasiswa

naaa sekarang bicara ttg mahasiswa yg baru ketemu tujuan dr kuliahnya mendekati akhir masa, alias hampir DO. Jangan ngarep dah kalo jarang masuk, meskipun pinter. Jgn ngarep bisa dapet prioritas dr dosen krn kpinteran mu buat minterin org.

Buat mhs jg berada di ujung tanduk, bbrp kisah yaaa ada yg kmudian rajin kuliah, tp terengah2. Ada sih yg selamat, bisa lulus, tp bnyk juga yg pindah kuliah, transfer ke swasta.

Yg ekstreem, ada yg sampai ancam dosennya, di depan mata. Ada juga yg bw2 jabatan bapaknya (huweeek malu2in aja). Ada juga yg hampir selamet smp tugas akhir eeee dia jelek2in dosen pembimbingnya di dpn mhs yg lainnya. Ada juga yg dpikir bakal slamet mpe lulus, eeee ternyata memilih mninggalkan begitu sj tugas akhirnya.

Yaaa kuliah itu tentang semangat, semangat u kerja keras, semangat untuk sukses. Pintar otak gak cukup, belum cukup, kalau -songong- hehehe. Dosen sy bilang yg dia butuhkan itu orang yang mau kerja keras, bukan orang pinter. Hehehe soale sy gak pinter.

Bbrp fenomena saat tugas akhir melanda. Yaaa ada tmn yg mau bantu tmnnya, ikhlas, ikhlaaaas dah demi setia kawan. Tp ada juga yg -bodo ah- yg penting sy lulus. Ada juga yg mau mmbantu, ada juga yg spt angin lalu. Parahnya, ada yg pelit ilmu, dia mau dibantu tp tidak mau membantu. Ada jg yg mencuri karya, mencuri judul skripsi rekannya. Hahahaha, macam2 wajah muncul juga. Bbrp mahasiswa akan mengedepankan kepentingannya, serobot jadwal seminar mahasiswa lainnya. Atauu serobot sewa ruang hanya u dirinya.

Yaaa sah-sah saja, tapi lihat saja nanti diakhirnya. Soale Allah tidak tidur, buat yg nnt merasakannya, yaaa yg sabar2 aja. Buat yg mendahulukan kpentingan saudaranya, tunggu aja ada buah manis di belakanggnya Insya Allah.

Pesan berharga bagi kalian semua yg masih berstatus mahasiswa. Semoga pengalamn kami mahasiswa yg sudah jd mantan, bisa jd cerminan bagi kalian semua yg masih berstatus mahasiswa hehehehe.

Sunday, May 1, 2011

Ini tentang mahasiswa

iya, lain dulu lain juga sekarang.

Masa-masa baru jadi mahasiswa baru. Amaaat sangat baru, clingak clinguk, gupek, bingung, orang kata masih masa peralihan dr SMA. Masuk smester2 awal, masih semangat dg kuliah, yaaa itu buat yg smangat. Datang tepat waktu, plus kagak kpikiran buat bolos kuliah dg istilah ambil jatah.

Awal2 kuliah masih semangat2nya, masih takut2 dengan dosen pengajarnya. Kemana2 masih rame2, sudah seperti bebek yg berbaris, bergerombol. Yaaa masih bawaan habis makrab, ospek de el el. Jadi setia kawan katanya. Menginjak pertengahan tahun di kampus. Mulai nganeh, yg ketemu cara nyontek yg jitu, y dia pakai cara itu. Ada yg mulai berani 'ngepEk', ada yg lirik sama kawan dsebelahnya. Atau selipkan kertas di lengan bajunya. Atauuu cara ekstreem letakkan buku di atas meja.

Yaaa mantap, IPK mmg tinggi tp setelah lulus, jd gigit jari, melongok bingung mau cari kerja, tp gak tau mau kemana, karena keahlian dia kagak punya hehehehe.

Menjelang tengah tahun kuliah, mulai senang kalau dosen gak masuk, apa lgi kalau ternyata mau ujian. Tambah girang pas ada kabar, si bapak atau ibu dosen gak bisa masuk. Bahkan, pas jamannya saya, ada yg berharap 'semogaa bapaknya sakit', oooh sungguh teganya. Mendekati akhir masa di kampus, ckckckck yg nilai bermasalah, mulai cari2 dosen MK nya. Yang tadinya gk rajin, jadi mulai rajin kuliah.

Menjelang akhir masa mukim di kampus, mendekati tugas akhir, naaa mahasiswa mulai mencari dosen2nya. Para dosen serta merta berubah menjadi seleb, dicari kemana-mana. Ditunggu dr pagi hingga petang menjelang.

Yang kagak pernah ketemu dosen PA, mulai rajin menyambanginya. Hahahaha, akibat gk dekat dg dosen, akibat dulu kurang peduli dg dosen, akibat dulu senang begitu dosen gak ada. Dan akibat dulunya begitu senang kalau kuliah atau ujian dibatalkan. Mahasiswa jadi kelimpungan, karena jadi kagak tau karakter dosennya, jadi kagak tau juga kapan waktu yang tepat buat konsultasi untuk tugas akhirnya.

Jadilah itu mahasiswa/i merasa dilempar sana-sini, gigit jari karena pak dan ibu dosen jarang di jurusan, jarang di fakultas. Eee dia baru tau kalau pembimbingnya, dosennya orang sibuk, orang penting.

Waktu berlalu, tugas akhir selesai, si mahasiswa sedikit merasa beban satu terlepas, tapi beban lain menunggu, 'terjun ke masyarakat u mencari kerja'.

Wkwkwkwk, msh belum sadar juga poinnya. Dulu mahasiswa rasa jenuh kuliah, sampai bolos 'gak keruan', sampai terlontar omongan 'jenuh'. Tapi, begitu dia lulus, diwisuda. Yaaa baru 'nyaho', kangen sama dosen-dosennya, sama teman-temannya, sama kampusnya. Tapi, mau ke kampus, 'isin' belum kerja katanya, mau kkampus bingung krn tmn2nya sudah pd lulus semua.

Hhhhaaahh, ya buat yang masih kuliah dinikmati apa yg masih bisa dinikmati saat ini. Semua ada masanya dan suatu hari nanti kalian sedikit banyak akan merasakan apa yg saya tuliskan di note saya kali ini.

Friday, March 25, 2011

Inilah aku di suatu hari, 25 Maret, Jumat di tahun ini, 2011

Jumat, 25 maret 2011

Pagi, menjelang, seperti biasa aktifitas sehari-hari saya lakukan. Menyibukkan diri, menguras sedikit energi, demi menghilangkan rasa sepi, penat, akan sesuatu yang terlepas. Burung-burung pagi itu bernyanyi 'cuit cuit' seperti itu setiap hari. Alhamdulillah masih ada sedikit tempat untuk mereka bertengger, menegakkan sarang sebagai tempat berlindung dari panasnya matahari dan dinginnya hujan.

Meretas asa, menembus bayang-bayang gelap yang remang. Sudah ku coba menghidupkan pelita, pelita asa yang temaram, yang hampir saja padam. Tetapi angin pilu itu sungguh kuat menusuk sumsum tulang jiwa, sungguh menyayat sanubari, membuat hati tersengal-sengal, terengah-engah menjaga asa yang hampir padam.

Entah mengapa hari ini terasa begitu pilu wahai awan pagi, entah mengapa hati ini terasa begitu melankoli, titik-titik air itu hampir membasahi bumi ini, sedih. Aku ingin pergi, melangkahkan kaki, kemana? entahlah aku tak tau, menembus angin pagi, memburu nafas yang serasa ingin pergi meninggalkan diri ini. Aku pergi, ku cium tangan wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan aku, dia lah ibuku. Wanita yang menatap dunia lebih dari separuh abad. Wanita yang menghabiskan sisa-sisa harinya di atas lantai yang dingin, wanita yang mempersingkat waktu tidurnya, demi berkutat dengan dinginnya angin malam, demi berkawan dengan terik matahari dan dinginnya angin dikala hujan datang.

Dia ibu ku, aku sayang, meski terkadang lidah yang tak bertulang milik ku, yang ia lahirkan, tanpa sengaja menghujam hatinya, jauh masuk hingga mungkin terasa sakit ia ketika mendengarnya. Dia ibuku, tak lagi muda, kerut keriput mulai menghiasi wajahnya. Aku pergi, begitu kata ku, dan ketika dia bertanya kemana arah dan tujuan ku, ku katakan 'aku tak tahu' ya aku memang tak tahu. Dalam kebingungan, kekhawatiran, ia menatapku dari kejauhan. Sembari kembali mengulang 'ade, mau kemana?', aku katakan suatu tempat yang ibu memang sudah tau itu. "hati-hati" begitu kata-kata itu meluncur dari bibirnya yang tak lagi muda, mengikuti seluruh tubuhnya. Ya Allah aku menyayanginya, menyayanginya, sungguh.

Dan titik-titik air ini menggenang di kelopak mata, hangat, sedih dan rasa bersalah itu menyeruak, aku menyayangimu, wahai wanita tua, separuh abad, yang mencari nafkah siang dan malam itu, untuk aku dan ketiga saudaraku.

Bus Ekonomi, tujuan terminal raja basa,

Ia melaju kencang, ia datang setelah hampir setengah jam aku menunggu, dan menunggu hingga menjadi perhatian segelintir orang. TIdak ada teman, pembunuh rasa sepi hanya sebuah alat komunikasi, aku berbicara melalui kata dengannya, ibuku yang jauhnya beberapa ratus meter dari tempatku berdiri. Ia mencoba menghubungiku berkali-kali, membujukku untuk tidak jadi pergi, menemani ia berseloroh, bercengkrama, menghabiskan hari-hari membantu meringankan sedikit pekerjaannya. Tapi, 'maaf ibu, aku harus pergi, untuk hari ini, sore hari aku akan pulang kembali'. "Tapi, mau kemana de?" begitu tanya nya."sekedar melangkahkan kaki, menenangkan diri", demi membunuh rasa jenuh akibat -menganggur, tanpa aktifitas otak'.

Hilir mudik orang-orang, manusia yang berada di kota ini, dari desa yang satu, desa yang lainnya. Dengan berbagai macam rupa, warna, corak, bahasa, kulit mereka. Dengan berbagai macam pikiran yang silang lintang di dalam kepala mereka. Bus ekonomi ini penuh sesak, semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Asap rokok yang mengepul, menambah kadar carbon di bumi yang hijau ini, semakin tinggi. Menyedihkan, kesadaran manusia akan betapa berharganya -bumi- yang Allah berikan, masih amat kurang.

Manusia Indonesia, mungkin manusia-manusia lain yang berada di belahan bumi lain, -no idea- bahwa ada manusia seperti kami ini, bagian dari bumi ini, bagian dari bangsa ini, di sini.

Tenggelam dalam pikiran, lelah, lelap selama perjalanan. Entah seperti apa rupa, entah seperti apa bentuk ketika mata terpejam, ketika jiwa jauh berada di dalam alam bawah sadar, aku tertidur kemudian. Entah sudah berapa kali mobil ini menaik dan menurunkan penumpang, entah sudah berapa kali pula ia berhenti dan berjalan, aku tak tahu, aku tak sadar akan hal itu

"19.23, adza isya pun berkumandang, rasa sakit dari salah satu titik syaraf dirasa mulai mengganggu. Bodohnya aku, sebentuk butiran di wajahku yang ku rasa mengganggu, sudah ku usik keberadaannya dengan menekannya sekuat tenaga. -Jerawat- itu mulai memprotes tindakannya, ia meradang, hingga rasa sakit itu muncul ke permukaan. Mari kita rehat sejenak, sholat, karena kita tidak pernah tahu, kapan Dia akan meminta malaikat mautnya menjemput kita untuk selamanya

Terminal raja basa

Kota ini penuh sesak, menghabiskan waktu bersama ibu angkatku. Ibu dari seorang lelaki yang hampir saja menikahiku. Lelaki itu kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dalam sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawanya, ia pergi untuk selama-lamanya. Lebih menyedihkan ketika, karena kecelakaan itu terjadi setelah ia pulang dari rumah kedua orang tua ku. Hancur, aku, kedua orang tuanya, keluarganya, teman-temanku dan semua orang yang mengenalnya, ketika lelaki bernama Dyan Isworo itu pergi, meninggalkan dunia ini dan tidak akan kembali.

Bayang-bayang masa lalu, melambai-lambai menghantui setiap jejak yang aku langkahkan di bumi ini. Seperti apa pun berusaha mencoba untuk menegakkan kepala, menatap dunia, tetap saja, rasa pilu itu diam-diam merayap, merambat, mencabik-cabik jiwa, hati dan rasa. Sesak, tersengal-sengal, hingga terisak-isak, sedih itu tak tertahankan.

Aku, sefta marisa dwipasari jn, -jobless, unemployed, pengangguran-, ya itu kini yang tersematkan.

Hari mulai menjelang petang, wanita yang usianya lebih dari separuh abad itu, sedikit lebih tua dari usia ibu kandungku. Ia sudah bagai ibu bagi ku, ibu dari Dyan Isworo Fisika Instrumentasi 2004. Menghabiskan separuh dari hari ku bersamanya, mendengarkan ia bercerita, berkisah tentang kedua anaknya, anak lelaki yang tersisa, yang masih menjadi tumpuan harapannya. Kakak-kakak dari Dyan isworo, mereka lah yang membuat wanita paruh baya itu, mempertahankan, memperjuangkan senyumnya, walau rasa kehilangan seorang anak bungsu, anak kesayangan, benar-benar memukulnya jatuh, telak jauh ke dalam palung jiwanya.

Aku pulang, ku cium tangan wanita itu, ibu angkatku. Ku cium pipinya, aku pamit, 'hati-hati de' begitu katanya. Aku menyayanginya, begitu pun ia, akulah pengganti anak bungsunya, Dyan Isworo yang sudah meninggalkan kami semua. 

BUS DAMRI jurusan Tanjung karang - terminal Rajabasa

Penuh sesak dengan manusia, beragam usia, beragam bau, peluh keringat bercampur di dalamnya. AC yang menyejukkan sedikit menurunkan tingkat emosi manusia, akibat dari cuaca panas yang menghembuskan nafasnya.

Sudah hampir 2 bulan, murni aku tidak bekerja. Sudah hampir 5 bulan, hal bernama -gaji- itu tidak aku terima. Ibu angkat ku menyadarkan aku akan hal itu, senyum miris aku sunggingkan, menyembunyikan rasa kekhawatiran akan sesuatu yang bernama -uang-. 

Bus ini terus melaju, kencang, semua ingin segera mengakhiri penderitaan dari duduk, berdiri berdesakan, dan dari bau keringat manusia yang beragam macam, yang sudah bercampur baur dengan bau matahari dan asap kendaraan.

ketika Supir bus DAMRI berteriak ANJING!!!

-Anjing- begitu teriak supir bus DAMRI, beberapa saat setelah sesuatu menyebabkan ia menginjak pedal rem secara tiba-tiba, hingga membuat beberapa penumpang wanita berteriak terkejut karenanya. Apa gerangan, emosi pak supir terpancing tiba-tiba. -Ooo- begitu ujar beberapa penumpang, mengetahui bahwa yang menyebabkan pak supir tersulut emosinya adalah ketika seorang wanita bersama seorang bocah lelaki di belakangnya, mengendarai motor dengan tidak hati-hati, membahayakan nyawa orang lain dan diri sendiri.

Di sini lah aku, kembali, terminal Raja Basa

-Aku pulang-,

di dalam bus, terlena dalam setiap lantunan lagu yang membangkitkan memori, yang menstimulus setiap ujung-ujung syaraf yang berada di kepala. Mereka bersinkronisasi dengan hati, rasa pilu itu kembali menyeruak, masa lalu itu kembali lagi. Helaan nafas panjang, berat, sesak, itu yang aku rasa, itu yang aku rasa.

Pabrik itu masih seperti dulu, hanya pagar biru itu membuat ia seperti sesuatu yang baru, karena dahulunya pagar itu lusuh, begitu menampakkan ketuaannya. Aku melongokkan sedikit kepala ku, melihat dari dalam bus Penantian Utama jurusan kotabumi, yang melaju kencang. Beberapa detik, aku menatap, tumpukan-tumpukan karet itu sudah mulai meramaikan. -Ya, pabrik itu sebentar lagi akan beroperasi, sebentar lagi akan berjalan, seperti dahulu, ketika pertama kali aku bekerja di situ-.

Titik-titik air hangat itu menggenang, ada setitik rasa yang ingin menimbulkan, memunculkan kata, rasa -penyesalan-. Seandainya dahulu aku tidak menerima tawaran kerja di Perusahaan Otoparts itu, tentunya aku masih bisa berada di situ, di pabrik itu. Mengasah otak, menghibur alam pikiran ku, dengan ilmu pengetahuan yang selalu baru dari waktu ke waktu. Tapi, itu sudah berlalu, pabrik karet itu tinggal masa lalu, aku bukan lagi bagian dari mereka, aku hanya mantan -Kepala Laboratorium- yang dulu pernah berada di sana.

Berpikir, sedih, pilu itu, sesal itu menghantui, tapi apakah perlu? Keputusan sudah diambil, penyesalan tidak akan berujung pada sesuatu yang membawa matahari di dalam hati ini cerah kembali. Aku, saya, bukan tipikal manusia yang senang menyesali sesuatu yang sudah terlepas dari tangan. Mengundurkan diri, mungkin memang itu jalan yang harus saya lakukan. Memang saat ini aku tidak berpenghasilan, -tidak apa-, sesuatu itu memang sedang Dia sembunyikan, sebagai pengganti dari apa, dari pekerjaan yang sudah aku lepaskan.

Mengingat sebuah perusahaan Otoparts yang membatalkan pekerjaanku, karena Jilbabku, karena pakaianku. Menyesal? tidak, aku tidak mau itu, percaya, aku percaya, sinar matahari itu akan menyinari setiap pori-pori hidup ku. Aku percaya, angin kehidupan itu akan kembali menghembuskan sejuknya, di setiap bulu roma jiwaku. Penyesalan akan waktu yang terbuang, beberapa bulan (sebagai akibat dari gelar PENGANGGURAN) yang nampaknya menyebabkan otakku, kepalaku, pikiranku, membeku, membisu, kaku? Tidak, tidak perlu itu, ilmu itu akan aku dapatkan, sudah aku dapatkan, ilmu itu tentang kehidupan, ilmu itu tentang bagaimana mengikhlaskan setiap apa-apa yang terlepas dari tangan.

Ilmu tentang dunia, tentang kalkulasi matematis, tentang analisis, ya memang belum aku dapatkan, karena aku masihlah seorang pengangguran. Tapi, ilmu tentang kehidupan, ilmu tentang keikhlasan, ilmu tentang kesabaran, itu yang saat ini sedang dalam genggaman. Dia mengajariku banyak hal, Allah memberitahu semua hal itu, ilmu pengetahuan itu, Dia mengosongkan pikiran ku dari ilmu dunia yang silang lintang membutakan mata hati yang aku punya.

Ini memang jalannya

Dan pilu itu, sedih itu, tusukan rasa yang menghujam jiwa itu bukan karena -Gelar pengangguran itu-, bukan hanya karena -tidak ada aktifitas otak tentang ilmu analisis dunia itu-, tetapi karena sesuatu, sesuatu yang meninggalkan ku, yang selalu meninggalkan ku, orang-orang yang penting di dalam hidup ku, yang menjadi penghuni di dalam hati ku, yang berkata -mencintai ku- untuk kemudian pergi, melangkah, meninggalkan aku dengan serpihan hati yang tercecer, tertiup angin di suatu hari yang kelabu, pekat, dan menyayat.

Aku tidak ingin menyesal, aku tidak ingin menyesal, aku ingin melepaskan, aku ingin mengikhlaskan setiap anak manusia yang datang, kemudian pergi meninggalkan. Sisakan harapan, secuil harapan, sisakan cahaya, walaupun temaram. Bila ia datang, biarkan temaram itu menjadi terang benderang. Bila ia sudah melupakan, biarkan temaram itu tetap temaram atau relakan ia untuk padam. Mari membuka jendela jiwa, mari kembali menata cahaya hati agar ia hidup kembali, agar ia mampu kembali menerangi setiap sudut yang ada di dalam jiwa ini

itu memang jalannya, itu memang jalan Nya