Pages

Showing posts with label agama. Show all posts
Showing posts with label agama. Show all posts

Friday, June 1, 2012

Dunia benar panggung sandiwara

Mari berbual-bual tentang kehidupan. Malam semakin larut, adzan isya baru saja selesai dikumandangkan, dan itu berarti tak berapa lama lagi orang-orang kampung akan datang ke rumah ini, untuk memulai tahlilan. Tahlilan yang sudah berlangsung sejak hari minggu yang lalu dan malam ini memasuki malam ke 6.

Di dusun ini, apabila ada yang meninggal, terkadang ada keluarga yang memutuskan untuk -mentahlilkan- anggota keluarganya tersebut sampai 7 malam berturut-turut. Bahkan, memberikan bingkisan tanda terima kasih pada tamu undangan yang datang, bayangkan kalau ada 1000 orang yang datang, sementara si keluarga yang ditinggalkan notabenenya adalah keluarga yang tidak mampu. Kalau begitu, setiap keluarga akan berdoa supaya anggota keluarganya tidak pernah meninggal, karena meninggal itu ternyata -mahal- harganya.

Setiap yang hidup akan merasai mati, hal yang pasti. Ketika kita berpikir, berangan-angan tentang yang tak pasti, merencanakan yang belum pasti, tetapi seringkali terlupa tentang yang pasti, MATI.

Dunia ini panggung sandiwara, benar-benar panggung sandiwara. Menjadi -familiar- ketika gelar sandiwara itu berubah nama menjad -drama, sinetron- dan sebagainya. Lingkungan sekitar kita tak ubahnya seperti cerita dalam sebuah sinetron kejar tayang, yang setiap hari tayang di televisi, dari hari ke hari. Tayangan yang menjadi konsumsi ibu-ibu, ibunya ibu, sebagai pengganti drama telenovela beberapa tahun yang lalu, yang dulu.

Aku bercerita tentang lingkungan tempat dimana aku tinggal, suasana yang begitu asing, atmosfer yang aku hindari, sejatinya benar-benar aku hindari, tetapi pada kenyataannya Allah menginginkan aku berada di lingkungan itu, berada di sini.

Para lelaki sudah berada tepat di bawah kamar ku, mereka sebentar lagi akan memulai membaca doa-doa, yang sebenarnya kalau diartikan dalam bahasa indonesia, doa itu untuk diri sendiri dan keluarga si pembaca doa, bukan untuk yang meninggal, karena 'doa anak yang sholeh dan sholehah' yang sebenarnya akan cepat sampai ke Almarhum, sebut saja namanya Pak Imam. Dan almarhum adalah seorang lelaki yang sudah beranak dan bercucu.

Sepeninggalnya, cucunya menangis tersedu-sedu, begitu juga ketiga anaknya, yang dua orang lelaki dan seorang perempuan. Tetapi, kepada salah seorang cucunya aku berpikir "tangismu akan terhenti ketika matamu dihadapkan pada uang -sumbangan- para pelayat itu" lalu "sedihmu pun tak akan lama, begitu diberikan mobil dari orang tuamu" begitu pikirku saat itu, dan -wallahhh- hari kedua sang cucu sudah tertawa terbahak-bahak, memerintah neneknya yang sudah tua, berkata kasar, menyanyi seperti seseorang yang gagal rencana keartisannya. Pikirku "tebakkanku sungguh jitu"

Dan untuk anak lelaki si almarhum, sebut saja namanya Ridwan yang lebih banyak diam, tenggelam dalam alam pikirannya. Bersyukurnya almarhum, karena dari ketiga anaknya, hanya dialah yang menunaikan sholat wajibnya. Harapanku saat itu, semoga anak tak lupa mendoakan bapaknya, yang sudah berada di alam sana.

Anak perempuannya sebut saja namanya Nindi, yang hanya terlihat di hari kematiannya, sisanya? dia tidak pernah nampak, karena memang sudah berpindah agama, menjadi seorang nashara/nasrani. Tetangga kiri dan kanan bergumam "sungguh berat beban almarhum, karena anak perempuannya berpindah agama". Dan pada suatu ketika, anak lelaki almarhum yang lain berkata, "dia (anak perempuan) bilang, tidak menemukan ketenangan ketika sholat, tetapi menemukan ketenangan di dalam agama barunya" begitu ceritanya.

Dan anak lelakinya yang lain, kita sebut dia dengan nama Rio, menurut cerita tetangga kiri dan kanannya, menurut cerita si nenek yang adalah ibunya si anak lelaki ini (*sebut saja namanya Yati). Katanya, tabiatnya yang buruk, tidak dapat diandalkan, melulu hanya berpikir, berbicara tentang uang. Bahkan ketika si almarhum sudah tak ada, anak lelaki ini berkata "biar saya yang urus pensiun bapak". Ibunya hanya diam, tak ingin semakin membuat kusam situasi yang memang sudah runyam.

Dunia ini seperti panggung sandiwara, benar-benar panggung sandiwara, dan keluarga ini tak ubahnya seperti cerita di dalam sebuah sinetron kejar tayang. Ketika si ibu bercerai secara agama dengan almarhum, kemudian ketika si ibu yang sudah renta itu melulu membanggakan anak perempuannya yang sudah berpindah agama, melulu menegatifkan anak lelakinya yang terakhir itu, dan begitu mengelu-elukan, membanggakan cucunya, anak dari anak perempuannya.

Seperti kisah sinetron, ketika pada awalnya si ibu dan suaminya yang kini sudah almarhum, adalah pada mulanya sebuah keluarga yang kaya raya. Kemudian sampai ibu dan bapak bercerai, kemudian anak perempuan dan anak lelakinya yang berfoya-foya, ke tempat hiburan malam, sampai ketika cucu perempuan si ibu, (*sebut saja nama cucu itu Riri) mendapati Nindi (ibunya) dan Rio (pamannya) sedang menghisap narkotika bersama-sama.

Pak imam dan ibu Yati memiliki 2 orang putera dan 1 orang puteri. Cerita dimulai ketika Ibu Yati dan Pak Imam memutuskan untuk berpisah Pada saat itu tak berapa lama, Nindi melahirkan anaknya yang kemudian diberi nama Riri. Nindi adalah seorang wanita karir yang kemudian bekerja di Ibukota, kecintaannya pada pekerjaan membuat dia meninggalkan bayinya pada ibunya, ibu Yati. Sampai suatu ketika, Nindi bercerai dengan suaminya. Singkat kata singkat cerita, nindi mengikuti jejak kedua orang tuanya -bercerai-. 

Aku temukan perceraian menjadi hal yang biasa, ketika tetangga kiri dan kanan, termasuk ibu yati bercerita tentang -si anu, si itu- dan masih banyak lagi yang lainnya -bercerai-, dengan anak satu, dua, atau tiga.

Lambat laun Riri menjadi dewasa, kemudian menjadi terpukul ketika dia dihadapkan pada 'ibunya, nindi, pindah agama'. Riri semakin menelan pil pahit ketika dihadapkan pada fakta yang tak kunjung berujung mengenai siapa ayah kandungnya. Setelah bercerai, nindi menikah lagi dengan Wijaya, orang-orang berkata -wijaya adalah ayah biologis riri', sementara suami pertama Nindi, bukan ayah biologis Riri, "cuma formalitas" begitu ujar tetangga.

Keadaan yang rumit, membuat Riri tumbuh menjadi anak perempuan yang keras. Dan semakin rumit ketika Ibu yati mendidik Riri dengan manja. Riri tumbuh menjadi gadis yang melulu berpikir tentang uang, tak peduli neneknya memiliki uang atau tidak. Bahkan, Riri pun bisa dengan mudah meneriaki neneknya, berkata kasar pada nenek yang sudah membesarkan dia, yang memasakkan air mandi untuknya setiap pagi, yang memijitinya ketika kelelahan, bahkan yang menyuapinya sampai umurnya sudah menginjak 17 tahun. Pendek kata, neneknya tak ubahnya seperti "kacung, pembantu" baginya. Persis seperti 'sinetron Hidayah yang ditayangkan di sebuah stasiun televisi swasta beberapa tahun yang lalu'.

Sampai saat ini, aku tetap tak habis pikir, kejadian seperti ini benar-benar ada di dunia. Kejadian tentang orang tua yang bercerai, kemudian anaknya pun bercerai. Tentang anak lelakinya yang menghambur-hamburkan uang orang tuanya, bahkan kesimpang-siuran cerita antara sang ibu, Yati, dengan sang anak, Rio. Semua nampak begitu membingungkan.

Tentang bagaimana Riri bisa dengan beraninya memanggil ibunya hanya dengan "Si Nindi itu sudah kasih uang belum?" atau suatu ketika "kamu yang goblok" begitu dia membentak neneknya. Atau ketika dia tertawa-tawa ketika melihat uang, ketika dijanjikan untuk dibelikan mobil oleh Wijaya, suami kedua ibunya. Meskipun pada kenyataannya, para tetangga berkata "ibu yati hutangnya banyak, bahkan meskipun rumah itu dijual, hutangnya tak tertutup". Beberapa orang bilang, "hutang itu karena Rio" ada juga yang bilang "hutang itu karena Nindi". Semua begitu simpang siur, tak jelas. Dan entah dimana letak hubungan kekeluargaan mereka, antara anak, ibu, saudara, menantu.

Karena ketika Ibu Yati mengadakan acara tahlilan di rumahnya, dua anak menantunya yang perempuan, tidak lagi nampak, kecuali di hari pertama dan kedua. Sisanya? keponakan ibu Yati dan beberapa orang tetangg membantu ibu Yati mempersiapkan segalanya. Bahkan Riri pun hanya sibuk dengan telepon genggam dan kegiatan bersoleknya.

Semua begitu membingungkan, bukan karena begitu inginnya aku untuk ikut campur ke dalam sebuah sandiwara drama. Tetapi aku tak ubahnya seperti manusia naif yang termelongo berkata "ada ya kejadian seperti ini di dunia nyata". Melulu begitu isi kepalaku berkata, bahkan sampai saat ini aku masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi pada atmosfer tempat aku berteduh kini. 

All i can do, berdoa semoga apa yang terjadi di sekelilingku saat ini, tidak terjadi pada keluarga dan orang-orang terdekatku. 

Seperti ini yang nampak ketika manusia tidak mengenal Tuhannya, tidak mendekatkan diri pada Allah ta'ala. Melainkan menjadikan dunia sebagai tujuan, menjadikan harta sebagai idaman, sebagai idola di dalam hidupnya. Dan begitu menyedihkan ketika menjadikan agamanya sebagai permainan. 

Naudzubillah, semoga Allah menjauhkan aku, keluargaku, orang-orang terdekatku dan kamu dari siksa kubur, siksa api neraka, dan tipu daya dunia. Amin

Tuesday, August 30, 2011

Edisi Lebaran 1 syawal 2011

Catatan hari ini edisi lebaran, seperti majalah saja.

Panasnya masih tetap terasa, meskipun sekuat apa pun saya berusaha mensugesti diri saya bahwa hari ini tidak lah panas. Tetapi tetap saja, tubuh ini tidak bisa dibohongi.

Edisi lebaran, edisi hari raya, masak memasak pekerjaan wanita katanya. Menghabiskan waktu bersama ibu tercinta (Hahahahaha), tertawa terpingkal-pingkal dalam acara masak memasak bersama beliau. Ada kekonyolan ketika kantung yang breisi terigu yang sempat beliau letakkan di atas -serok sampah-, beliau letakkan di dalam mangkuk besar berisi sagu. Terpingkal-pingkal saya tertawa dibuatnya, 'ibu jorok' dan ibu tertawa sembari berdalih 'ibu lupa' wkwkwkwk. Dan prosesi pembuatan pempek tetap berjalan, dengan ke-jorok-an yang sempat terjadi.

Kami berdua pura-pura lupa dan berjanji untuk menyembunyikan kejadian hari ini dari ayah saya. Karena ayah saya -penjijik- ahahahaha.

Menjelang tengah malam 11 PM, aktifitas bermain-main dengan keyboard netbook sempat terhenti, karena keponakan saya yang sudah memasuki waktu tidurnya.

Kembali menenggelamkan diri sejenak ke dalam dunia kata-kata. Menyenangkan karena saya tidak perlu takut tersedak karenanya, mengingat tidak ada unsur air di dalam permainan -menenggelamkan- diri di dalam lautan kata-kata yang Allah ciptakan indah dan tak terhingga.

Blackberry saya mulai menunjukkan rasa ke-aku-annya, terasa hangat, sesekali ia lamban dalam bereaksi. Kenapa? usut punya usut ternyata aktifitas komunikasi GRUP BB di BB saya, yang menjadi penyebabnya. Entah mengapa mereka betah menghabiskan waktu berlama-lama saling mengomentari satu sama lain. Kenapa tidak membuat -conversation- sendiri, yang memang layanannya disediakan oleh BB itu sendiri. Sehingga mereka tidak perlu membuat BB anggota yang lainnya, menjadi -NGADAT- dalam hal operasinya.

Tapi itulah manusia

Tidak dapat eksis di dunia nyata, maka dunia maya dirambahnya. Atau merasa kurang puas dengan bercakap-cakap di dunia nyata, mereka melakukan expansi ke dunia maya. Apa tidak ada kesibukan yang lain? Sepertinya ada, kesibukan dengan pacarnya, bagi yang memiliki pacar. Kesibukan dengan keluarganya atau karena -single- jadi mencari kesibukan diluaran seperti berkomunikasi tanpa batas melalui BB yang mereka punya.

Aaaaaaaaaahhhh
Whatever, at least jangan terlalu sering lakukan komunikasi -ngalor-ngidul- di grup bb tempat saya menjadi anggota, kegiatan yang mereka lakukan sungguh merugikan anggota yang lainnya. Kalau tidak diatur sedemikian rupa sehingga, maka sudah bisa dipastikan BB bisa lekas kekurangan daya dari -battery- nya. Menghela nafas panjang, begitulah anak-anak muda atau seperti itulah manusia-manusia zaman sekarang.

Kembali bercerita tentang -me and mom-, happy ied mobaraq. Meskipun ada yang merayakan hari ini, ada pula yang esok hari. Semua kembali kepada keyakinan dan kemantapan hati masing-masing pihak. Jangan seperti anak kecil yang adu argumentasi dengan alasan diskusi. Seperti yang terjadi di GRUP BB hari ini. Kesannya memang berdiskusi, tapi sebenarnya kedua orang itu saling serang dalam hal peryataan. Yang seorang serta merta menyalahkan pemerintah, yang seorang lagi serta merta menyalahkan si pemberi informasi.

Keduanya sama bodohnya, sama-sama menciptakan isu yang bisa jadi beberapa dari anggota grup, menjadi ragu karenanya. Yang satu begitu nampak menggunakan emosinya, yang satu lagi -seolah-olah tak berdosa- tetapi karena penggunaan kata yang tidak tepat, ia berhasil menyulut emosi lawan bicaranya.

Manusia dewasa dalam usianya, tetapi kurang bijak dalam tindakannya. Kasihan kasihan kasihan, saya juga kasihan, karena saya semakin bertambah dalam hal usia, tetapi kematangan berpikir ummm sepertinya -segini-segini aja- wkwkwkwkwk.

Baiklah, kepada semua pembaca BLOG saya, kapan pun kalian memutuskan tgl 1 syawal, pada intinya semua tetap muslim. Harapan saya, perbedaan penetapan dimulainya syawa, tidak menjadi alasan untuk meributkan hal-hal yang sebenarnya tidak -urgent- untuk diperdebatkan. Biasa saja dalam menyikapi, mau ikut pemerintah -monggo-, mau ikut yang lain -monggo-. Jangan dibuat -lebay-, karena Allah tidak suka segala sesuatu yang sifatnya -lebay- apalagi -berlebay-lebay-an- ria hahahahah. 

Selamat datang di 1 syawal
Selamat merayakannya dengan istilah -ied- atau -idul fitri-

Mohon maaf lahir dan batin
Ucapan ini bukan sekedar cara saya beretika, tetapi dari hati yang paling dalam. 
Mencoba meminta kemurahan hati saudara sekalian dalam hal memaafkan.

Sampai jumpa di Ramadhan dan Ied tahun depan

Tuesday, August 16, 2011

Memprioritaskan sebelum meminta diprioritaskan

Pukul 4.39 pagi dini hari

Lantunan ayat suci Al qur'an itu terdengar jelas dari masjid yang terletak tidak jauh dari rumah ku, rumah orang tua ku. Islam, itu agama ku, tetapi yang menjadi pertanyaannya adalah sudah pantaskah saya menjadi seorang muslim? atau sudah kah saya menjalankan semua perintah Nya dan menjauhi semua larangan Nya, rahasia tentang itu semua, hanya aku dan Dia yang tahu, Dia yang Maha Tahu.

Adzan shubuh berkumandang dari salah satu sudut bumi ini, angin dingin musim kemarau bertiup, aku sudah lupa kapan tepatnya musim kemarau itu tiba. -Global warming- membuat perubahan cuaca tak menentu, mereka menjadi sesuka hati atau karena ulah manusia yang sesuka hati, membuat cuaca mengikuti kemana hasrat duniawai manusia pergi.

Aku ingin berbicara tentang memahami tentang mengerti,

Thursday, September 2, 2010

Ada apa dengan negeri ini

Tarik tarik tarik nafas panjang

ada apa dengan negeri ini
semua muda mudi, orang dewasa mengagumi artis luar negeri, memasang memajang wajah idolanya menjadi -poto propil- di situsnya

ada apa dengan negeri ini
semua muda-mudi, orang dewasa gemar mengeluh di situs publik tempat akun dia berada. Semua aktifitas-aktifitas tidak penting menyeruak, merebak, macam nyamuk yang terbang, mendengung mencari, mencoba menarik perhatian kedua belah tangan manusia

ada apa dengan negeri ini
Ini bulan ramadhan
kerusuhan di Sulawesi sampai 8 orang yang tewas, tapi 6 orang itu menurut aparat keamanan

ada apa dengan negeri ini
harga diri negeri terinjak-injak negara tetangga, tetapi pemimpin negeri hanya 'seperti tak berdaya', setidaknya begitu menurut sebagian besar rakyat yang menghuni negeri ini

ADA APA DENGAN NEGERI INI!!!!!!
sungai CITARUM jawa barat menjadi sungai TERPOLUSI di BUMI ini

ada apa dengan negeri ini
anak manusia gemar bergosip di sana sini
menjadikan yang haram ke arah yang remang-remang, lalu -ah halal saja-, begitu setidaknya yang terjadi pada kasus suap dan sogok untuk menjadi pegawai negeri atau aparat negara di negeri ini

ada apa dengan diri ini ya Allah
ada apa dengan negeri ini
aku tak mengerti
aku tak mengerti

susahnya hidup dirasakan manusia di sana sini
tapi dewan kehormatan di negeri ini, ingin tegakkan gedung tinggi dengan uang triliunan hasil keringat anak negeri, hasil keringat orang-orang miskin yang bahkan tak mampu membeli beras RASKIN

ADA APA DENGAN NEGERI INI YA RABB
aku bertanya pada Mu karena tak ada, belum ada manusia yang mampu menjawab semua pertanyaanku. Dimanakah manusia-manusia itu ya RABB, manusia-manusia peduli, manusia-manusia yang Engkau siapkan untuk merubah diri, negeri, dan bumi ini ya RABB

BUmi ini sudah cukup tua
TAk kan lama KIAMAT akhir dari dunia akan segera tiba
Ya RAbb, aku bertanya
aku mengeluh
aku bercerita
aku berkisah tentang dunia tempat aku berada

Wednesday, August 25, 2010

Aku mau ke masjid pak, mau sholat di masjid bu

saya mau sholat di masjid pak
saya mau sholat di masjid bu

tapi, katanya sholat di rumah itu lebih utama bagi wanita dan di sunnahkan oleh Rasul kekasih Nya
tapi, katanya sholat di rumah itu lebih mengurangi mudharat bagi wanita yang melakukannya

tapi kan, pengin sholat di masjid pak
mau sholat di masjid bu

Liat temen-temen pada jalan ke masjid, sholat tarawih. Lihat anak-anak kecil, wanita-wanita yang lain berjalan mengenakan mukena, berjalan, melangkahkan kaki ke rumah Nya. Sementara saya sholat tarawih sendirian di rumah. Gak ada dengar ceramah, cuma selesai sholat langsung baca Al qur'an atau tutup mata. Tidur terlelap, hingga dini hari menjemput, membangunkan diri untuk segera mengisi perut, memenuhi sunnah yang lain, makan sahur.

Tapi, kalau saya sholat di masjid.....
takut mengganggu bu, khawatir terganggu pak
Pandangan mereka yang bukan muhrim saya, dirasa mengganggu. Meskipun itu hanya Pandangan biasa, seperti "selayang pandang, sekedar menatap saja". Tapi saya tidak nyaman Pak dibuatnya, tidak enak bu rasanya

Tapi, kalau saya sholat di masjid
Khawatir mudharat yang saya dapat, khawatir mudharat yang saya timbulkan.
Saya bingung bu, saya bingung pak
Lagi pun, kalau saya berangkat sholat di masjid, pastilah pergi dan pulang sendiri, tak ada teman muhrim yang menyertai.

Kedua orang teman saya, tidaknya menyukai saya. Berjalan dengan mereka di depan, dan saya di belakang, atau dengan saya berjalan sendiri di depan dan mereka berdua di belakang. Akan menimbulkan tanda tanya bagi yang melihatnya. Ujung-ujungnya fitnah, gosip, isu juga yang dirasakan oleh hati dan didengar oleh telinga

akhirnya teman saya berkata "nd usah ngiri cep, pan malah meraih keutamaan, kaidahnya mencegah mudharat lebih utama dan berpahala dibanding meraih manfaat"

jadi lega rasanya

Monday, September 14, 2009

Balita-balita yang tersiksa

Mengapa harus mengajak balita?

Pasar belumlah menjadi tempat “cuci mata” yang menyenangkan bagi anak-anak kecil seusia mereka. Apa yang hendak dilihat? Apa pula yang dapat mereka nikmati selain panasnya cuaca hari ini.

Bagi ibu-ibu, remaja-remaja putri, dan bagi wanita-wanita dewasa, mungkin “mencuci mata” dengan melihat beraneka rupa pakaian, mulai dari atasan hingga bawahan, mulai dari yang dipakai di luar, hingga yang dipakai di dalam, bisa menjadi hiburan. Tapi, lain halnya bagi anak-anak mereka, belumlah menarik melirik pakaian-pakaian orang dewasa, selain daripada asesoris lucu berwarna-warni, selain daripada mainan dan rupa-rupa boneka, dan itu semua tidak ada di pasar kecuali di mal-mal yang memang menyediakan ruang bebas bagi anak-anak seumuran mereka.

Ramadhan menjadi sebuah euphoria, setiap tahunnya sepertinya, meskipun itu hanya bagi sebagian orang saja. Kemajuan yang manusia tampakkan mulai terlihat mana kala waktu sholat wajib itu tiba, manakala waktu sholat tarawih itu sampai pada saatnya. Manusia-manusia yang memilih untuk sholat di masjid, mulai dapat dihitung dengan jari, shaf-shaf yang semula sesak, padat, oleh orang muda, paruh baya, hingga orang tua. Kini hanya orang-orang lanjut usia yang tersisa, dan anak-anak kecil pun turut meramaikan suasana, demi mengisi buku wajib dari guru agama yang ditugaskan pada mereka.

Beginilah kiranya, setiap tahunnya. Ramadhan itu sebentar lagi akan berlalu, berlalu dengan hitungan jari. Bagi saya yang hanya mendapatkan tak sampai 15 hari, begitu menyakitkan dirasa, karena khawatir tahun depan usia tak sampai lagi untuk kembali menikmatinya.

Apa makna dari kemenangan itu sebenarnya? Saya masih ragu dengan pemahaman yang kepala saya berikan tentang apa hakekat kemenangan itu sesungguhnya. Apakah saya sudah menang? Atau justru sebenarnya menelan kekalahan pahit dan hanya hati yang merasakan betapa pahitnya kekalahan itu.

Akal pikiran tak begitu dapat merasakan, karena buta mata, buta hati sesungguhnya. Akibat terlampau senang, akibat terlena dengan dunia yang nilainya lebih buruk daripada bangkai kambing kecil yang tuli umpama yang Rasullah sampaikan kepada para sahabatnya.

Tak akan pernah bisa yang haram dicampurkan dengan yang halal, tak akan pernah bisa. Bagaimana bisa pula manusia katakan cinta pada RAbbnya sedang di sisi lain dia menduakannya dengan kekasihnya, sedang di sisi lain dia katakan cinta pada manusia, wanitanya, lelakinya, sedang di sisi lain dia katakan cinta pada hartanya, fisiknya, jabatannya, bagaimana bisa, bagaimana bisa, bagaimana bisa.

Bodohnya saya, karena saya juga manusia, saya pun masuk ke dalamnya.

-SELESAI-

Saturday, September 12, 2009

Ramadhan sebuah Euphoria

Ramadhan itu menjadi sebuah euphoria bagi sebagian anak manusia. Rasa tak percaya hari ini sudah menemani beberapa orang teman wanita memenuhi hasrat mereka ketika hari lebaran tiba, berbelanja.

Penuh sesak manusia, tumpah ruah. Penuh sesak kendaraan roda dua sampai roda empat, bahkan bus AC tak lagi nampak seperti namanya. Penumpang berjejalan, berdiri karena tempat duduk tak lagi tersisa sementara waktu terus berjalan memaksa manusia untuk bergerak cepat.

Hari sabtu, tanggal 12 september 2009, sudah layaknya seperti hari minggu. Pusat-pusat perbelanjaan dipenuhi oleh ibu-ibu, entah lanjut usia entah pula ibu-ibu muda. Tertegun ketika memperhatikan seorang ibu mengaduh sembari memegangi perutnya “aduh” begitu katanya. Rasa sakit itu ia rasa akibat menaiki beberapa anak tangga dengan bakal bayi yang menyertainya.

Ramadhan itu tak ubahnya euphoria, ketika awal mula ia tiba. MAsjid-masjid penuh sesak dengan manusia-manusia yang ingin berubah katanya, yang ingin kembali ke jalan Nya. Jalan-jalan sepi mana kala maghrib tiba, semua kembali ke rumah, semua kembali kepada fitrahnya, setidaknya begitu pemandangan yang kita lihat pada beberapa hari pertama, ketika ramadhan itu tiba.

Menjelang beberapa hari berikutnya, pasar-pasar kembali ramai. Warung-warung makan kembali dibuka, asap-asap rokok sudah kembali mengotori udara, dan ketika saya bertanya “bapak gak puasa?” “puasa de” begitu katanya “tapi kok merokok” balas saya. “kan Cuma merokok de, jadi gak apa” singkat padat, pintu bus dibuka saya pun masuk ke dalamnya, duduk dalam diam, menerawang selama perjalanan menuju kota metro, berpikir ternyata seperti inilah kehidupan itu sejatinya.

Siang ini benar-benar panas, rasa-rasanya tidak tahan berada di luar seharian. Tapi, tidak begitu dengan ibu-ibu, remaja-remaja putri dan wanita-wanita dewasa yang saya lihat, yang saya temui di seputar areal berbelanja yang ada di kota ini. Mulai dari Ramayana, simpur center, sampai dengan pasar bamboo kuning. Semua penuh dengan manusia-manusia yang hilir mudik kesana kemari mencari barang-barang keperluannya. Dan sebagian besar manusia-manusia itu adalah wanita.

Mengherankan melihat wanita-wanita itu berjejalan membeli bahan-bahan untuk membuat panganan khusus hari raya. Mengherankan melihat wanita-wanita itu hilir mudik, dan tanpa sadar memperebutkan oksigen yang ada di pasar bamboo kuning hanya untuk mencari pakaian sebagai pelengkap untuk meraih kemenangan.

Speaker phone berkali-kali mengingatkan setiap pengunjung yang datang untuk memperhatikan barang bawaannya. Berulang kali pula melaporkan tentang ditemukannya bocah berumur sekian, dengan ciri-ciri seperti ini, dengan nama fulanah atau fulan, dan pada akhir dari pengumuman itu, “bagi yang merasa kehilangan dapat mengubungi pusat informasi”. Selalu begini, selalu seperti ini, anak-anak lepas dari pengawasan orang tuanya. Sampai suatu ketika saya pernah mengajak hati dan kepala saya untuk berpikir “Sebenarnya, yang berbelanja itu ibu atau anaknya? Sebenarnya yang ingin dibelikan pakaian untuk hari raya itu, ibu atau anaknya?”

Beberapa kali, hari ini saya temui anak-anak yang nampak merasa terzalimi oleh tingkah polah ibunya. Lucu rasanya ketika melihat seorang anak kecil bersungut-sungut, menggerutu, memasang wajah cemberutnya sembari memegang kantong plastik berbelanja ibunya. Nampaknya si ibu terlalu lama mengajak si gadis kecil berbelanja atau ketika bertemu dengan bayi mungil yang menangis, dan ketika si ibu berpapasan wajahnya dengan saya, sembari tersenyum saya berkata “aduh kasian si ade’ nya kepanasan ya”, “iya” begitu jawab si ibu dengan senyumnya.

-bersambung-

Tuesday, August 11, 2009

none of them

Menjumpaimu tidak lagi dapat seperti dulu wahai TUhanku, aku sudah layaknya manusia yang kehilangn arah, nahkoda yang kehilangan kompas sebagai bahanacuan dalam menentukan kemana kapal itu akan ia layarkan.

Arrggh aku menjerit ya RAbb
Arrgghh aku berteriak di kegelapan malam
Di dalam remang-remang cahaya rembulan yang semakin lama semakin hilang dari pandangan, bulan itu mati, bulan itu sudah mati, dan tak ada lagi rembulan esok hari

Dunia tidak menyenangkan
Amat sangat tidak menyenangkan mana kala hati tak lagi merasakan tentram
Aku tidak sedang berpuisi kepada Mu yang Maha menciptakan puisi, kepada Engkau yang sudah menciptakan kata-kata ini di kepala.
Aku curahkan apa yang ada di dalam hatiku
Di dalam akal pikiranku
Betapa hatiku merindukanmu Tuhanku

Maafkan hati bila ia sudah khianat
Maafkan diri bila ia sudah pula pada siapa ia seharusnya menghamba.
Aku menangis ya RAbb, dan bahkan air mata itu pun enggan untuk turun karena rasa muak yang mendalam pada si empunya tubuh yang mengandalkan air mata hanya agar supaya hatinya merasa lega.

Aku menangisi Mu wahai Tuhanku
Dzat yang Maha yang tak kasat mata namun dapat di rasa dan lebih dekat dari urat nadi manusia, urat nadiku hamba Mu yang tak jua tersadar untuk menghamba pada Engkau yang maha memiliki segala.

Aku hampir gila,
Kusut masai, hancur sudah, luluh lantaklah semua yang ada, tak berguna segala apa yang sudah aku genggam erat karena pada akhirnya hanya membuat aku lupa untuk kemudian terjerat pada dunia, pada simpati manusia.

Aku muak, aku bosan, aku hampir gila dibuatnya
Aku menangis karenanya
Pintu-pintu itu terlampau membingungkanku
Aku mohon pada Mu dengan segenap jiwa ragaku yang kesemuanya adalah milikmu
Aku mohon tunjukkan padaku pintu mana yang harus aku tuju
Dan ketika aku membukanya aku bisa menjumpaimu
Menatap wajah Mu
Merasakan damainya bersama Mu, berada di dekat Mu
Terlampau bermimpikah aku

Aku membencimu wahai makhluk yang bernama ‘berlebihan’
Aku muak dengan mu wahai makhluk yang bernama ‘khianat’
Aku ingin membunuhmu wahai penyakit hati yang sudah menyakiti hati dan perasaanku
aku mengantuk wahai Tuhanku yang menciptakan rasa kantuk
aku lelah wahai Tuhanku yang menciptakan rasa lelah itu

aku mohon ya Allah
sampai di titik se ekstrem apapun engkau mengujiku
aku mohon, jangan lepaskan aku dari genggamanmu
aku mohon, jangan biarkan aku tersesat dalam gelapnya jalan kehidupan yang semakin lama semakin pekat dirasa.

Friday, June 26, 2009

Masjid Al Wasi'i - mari memahami, mari mencoba mengerti

sampai suatu ketika........

saya memutuskan untuk berkata di dalam hati dan kepala "yah sudahlah, tidak lagi menjadi penting ketika....". Suatu hari salah seorang muslimah yang saya kenal, yang saya pikir dia harusnya lebih paham dari yang lainnya terlebih lagi jurusan yang diambilnya jurusan keguruan yang ada di kampus saya.

Dia, hari itu menginjakkan alas kakinya begitu saja di atas ubin masjid dengan mengabaikan pengumuman tentang batas alas kaki dan tentang perumpamaan bahwa yang mengenakan alas kaki sampai ubin masjid ini sama saja dengan bebek. Dia nampak tidak peduli, saya tidak habis pikir, sampai ketika seorang teman saya berkata ketika saya bertanya "lho kok sendalnya dibawa naik bla...bla", lalu mbak sarmini, teman satu jurusan satu angkatan fisika 2004, berkata "lah cep, saya udah pernah ngomongin kok, kenapa sendalnya dipakai, eh dianya bilang -Wong saya yang bersihin-, gitu katanya, ya udah".

Gdubbrrakkk, saya cuma diam, hanya diam. Padahal salah satu alasan mengapa saya begitu risih melihat alas kaki bertebaran mengotori lantai masjid, karena saya merasa kasihan pada BPH (Badan Pengurus Harian) masjid ini, saya pikir kasihannya mereka yang harus setiap hari membersihkan lantai tempat wudhu wanita berada. Tapi ternyata, yang "merasa" turut membersihkan sendiri berkata "bla..bla... saya yang mbersihin kok...", dan dia dengan tenang saja berlenggang menapakkan alas kakinya.

Lantas, untuk apa pengumuman itu dibuat???

Dia muslimah yang turut membersihkan, saya pikir mungkin maksud dia 'bukan setiap hari ikut membersihkan', tetapi terkadang ia pun turut ambil bagian, terkadang, untuk membersihkan. Tetapi, bukan lantas itu dijadikan sebagai alasan untuk mengotori lantai masjid ini. Rasanya tidak menyenangkan mendengar pernyataan yang seperti itu, karena masjid itu milik semua orang, milik semua hamba Allah, bukan milik organisasi atau perorangan. Memang saya tidak pernah membersihkan masjid Al Wasi'i itu, dan saya pikir saya tidak berhak berbicara apa-apa. Landasan saya hanya satu bahwa "Allah mencintai keindahan", bahwa kebersihan sebagian dari pada iman, meskipun beberapa bulan yang lalu seorang ustadz berkata "hadist itu dha'if"

Waallahu alam

Hanya ingin berkata "guru kencing berdiri, maka murid kencing berlari". Tidak mengherankan bila muslimah-muslimah lain yang saya pikir seharusnya mengerti (dari pada muslimah lain yang belum sempurna dalam berhijab atau bahkan belum berhijab sama sekali), mengikuti jejak si calon ibu guru yang merasa turut berkontribusi membersihkan masjid Al wasi'i meskipun saya pikir itu tidak ia lakukan setiap hari, karena setahu saya pengurus masjid Al wasi'i adalah lelaki.

Waalahu alam, saya hanya ingin menuliskan, menuangkan, menceritakan sesuatu yang berasal dari dalam hati, yang berangkat dari rasa keprihatinan hingga akhirnya berujung pada pertanyaan di dalam kepala "apa saya diamkan saja, tidak usah berkomentar, tidak perlu berkata apa-apa".

Tidak perlu memvonis, tidak perlu bersikap sinis, jangan pula bersikap pesimis. Tanamkan di dalam hati, di dalam dada, bahwa seperti apapun mereka, mereka juga manusia, seperti halnya kamu, seperti halnya kamu wahai sefta. Tempatnya lupa, salah dan alpa, siapapun dia, seperti apapun tampilannya, ia, kamu, mereka, tetap saja manusia.

-selesai-

Thursday, June 25, 2009

Masjid Al Wasi'i - Guru kencing berdiri, murid kencing berlari

Ini yang saya sebut dengan atau yang kita sebut dengan istilah "guru kencing berdiri, murid kencing berlari".
Saya seorang manusia muslim dan demi Dia Yang Maha Menggenggam segala kuasa, saya katakan bahwa saya bangga menjadi salah satu hamba Nya, pemeluk agama Nya, Islam, meskipun pada awalnya, islam, ke-muslim-an saya adalah keturunan yang diberikan oleh ayah dan ibu saya. saya mencintai kebersihan, tapi bukan berarti saya orang yang bersih. Ibu selalu ajarkan untuk seimbang, untuk turut merasakan apa yang orang lain rasakan, agar kiranya saya tidak sombong, tidak dzalim dan bisa lebih berempati bersimpati bukan mencaci karena dengki atau benci.

Sejak kecil, ibu saya selalu berkata "bla...bla kalau bersih kan enak, kalau rapih kan enak ngeliatnya", begitu selalu beliau berkata. Atau ketika ayah saya berkata pada saya yang bila sudah kumat 'rasa malasnya', maka "bla...bla.. jorok ama sih de..", begitu ujar ayah dan ibu sejak dahulu, sejak saya baru mulai merangkak, hingga usia saya memasuki 24.
Mari tinggalkan masa lalu, mencoba mencari, menarik benang merah antara hal yang satu dengan yang lainnya.
Pemanasan global, manusia yang berbuat kerusakan, maka manusia pula yang akan merasakan dampaknya. Salah satunya perubahan iklim yang tidak menentu, terkadang hujan, terkadang cuaca begitu panas menyengat subhanallah sekali rasanya.
Siang itu panas, dan ketika panas begitu terasa, saya pikir alas-alas kaki itu tidak akan berada di atas pelataran ubin masjid Al wasi'i ini. Saya pikir, hanya pada musim hujan saja, ubin-ubin yang mengarah ke tempat wudhu wanita, berwarna cokelat semua, kotor, tanah dari alas sepatu akan membekas, meninggalkan jejak. Tetapi ternyata tidak, beberapa tahun terakhir ini, alas-alas kaki itu tetap naik, entah hujan, entah kering dan panas yang datang.

Saya heran, kalau musim hujan, "baiklah, dimaklumi lantai-lantai masjid bisa kotor", karena memang becek, dan muslimah-muslimah itu, termasuk saya, tidak ingin kaos kakinya basah dan kotor terkena sisa-sisa air hujan. Tetapi bila alas-alas kaki itu naik derajatnya sementara pada saat itu tidak turun hujan sama sekali, saya benar-benar merasa heran. Padahal jelas-jelas tertulis "batas alas kaki", atau "yang pakai alas kaki sama dengan bebek" begitu yang tertera, tulisannya. Begitu jelas oleh mata, tetapi ternyata tetap saja, tidak bergeming, pengumuman-pengumuman itu bagai angin lalu.

kadang sempat terlintas keinginan untuk selama satu minggu mendekati sholat dzuhur dan sholat ashar melakukan survey, kuisioner, menghitung berapa jumlah muslimah yang menginjakkan alas kakinya sampai ke atas ubin masjid dan berapa yang tidak. Kemudian bertanya pada mereka yang memakai dan pada mereka yang memilih tidak memakai sampai menaiki ubin masjid Al wasi i ini. Tetapi sayang, sampai saat ini saya belum sempat.

Sampai suatu ketika,.........

-bersambung-

Tuesday, June 23, 2009

none

Saya tidak suka berdebat, saya tidak suka berdebat ya Allah, saya tidak suka berdebat. Saya hanya mencoba menyampaikan, memberitahu apa yang Engkau beritahu melalui kalam Mu.
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
QS. al-Isra' (17) : 36

Manusia itu adalah aku

Bila kujauh dari Mu, akan ku tempuh semua perjalanan
Akan ku lalui semua rintangan
Akan ku korbankan apa yang memang sepantasnya, selayaknya aku korbankan
Akan aku lakukan agar tak pernah Kau berpaling dariku
Agar dapat kiranya aku menatap wajah Mu
Melihat senyum Mu

The show is over say good bye
Tak sampai satu hari kiranya
Tak berapa lama lagi aku akan tiada

Membayangkan ulat-ulat itu keluar masuk, menggerogoti yang ada
Membayangkan malaikat yang bertanggungjawab, mulai bertanya

Kadang
Kapan waktu itu tiba
Siap, ya aku siap
Lalu, tak berapa lama
Aku takut, aku, mengapa tidak ada yang abadi di dunia ini
semua pasti merasa-i apa itu mati

Hati
Semua berasal dari hati
Kadang, tak guna menyesali diri
Ya tak guna
Tak dapat kembali seperti sediakala
Ta tak dapat

Pernah berharap agar kiranya tak perlu begitu panjang usia
Hanya beberapa tahun saja kiranya
Dan ketika dosa bertambah dirasa
Lain lagi yang hati minta
Panjangkan usia, kalau perlu selama, lama, lamanya

Manusia, manusia,
Tergesa-gesa, berputus asa, diberi nikmat, ia lupa, ia khianat
Diberi musibah, ia berkeluh kesah, ia berkilah, mencari-cari alasan Untuk kemudian berkata "mengapa Allah timpakan ini pada hamba?"
Saat lapang, ia "ha..3x"
Saat sempit itu datang,
Saat terjepit itu tiba
Ia berkata , ia berdoa "ya Rabb, tolonglah hamba" dalam derai air mata
Air mata buaya
Dan bila terlepas dari marabahaya, manusia itu lupa, manusia itu lupa

Celakanya
Saya manusia
Manusia itu adalah saya
Manusia itu adalah aku
Manusia itu adalah diri
Manusia itu adalah daku

MANUSIA ITU ADALAH AKU
aku marah padamu wahai manusia itu

Thursday, June 11, 2009

What is love exactly

Hari ini,
assalammu'alaikum pada semua, pada seluruh penghuni dunia, dan terserah apakah kalian menjawabnya atau tidak, tidak mengapa.

Lelah, tidak juga, hanya ingin menuliskan sesuatu yang sempat terlintas di dalam kepala tentang cinta, melulu tentang cinta.

Apa itu cinta, saya tidak tahu makanan jenis apa itu. Siapa yang tidak pernah jatuh cinta, saya pun pernah merasakannya. Entah itu cinta kepada benda, entah cinta kepada Makhuk-Nya, entah pula cinta kepada Nya itu sendiri.

Apa itu cinta? saya katakan saya tidak tahu dan tidak bisa memaknainya dengan kata-kata. Atas dasar cinta saya dilahirkan di dunia, maka sangat tidak adil rasanya bila mengkambing hitamkan cinta, bila kita tidak bisa memanajemen cinta kita hanya kepada Sang Maha.

Apa itu cinta? saya tidak tahu, sungguh tidak tahu. Apakah cukup cinta bila hanya dibahasakan melalui kata-kata, kata-kata merayu yang lugu, merayu kepada Mu. Atas dasar cinta saya diciptakan oleh Nya, atas dasar cinta pula saya sempat menghianati cinta Nya, dan atas dasar cinta pula, saya kembali kepada Nya.

Mencoba mengumpulkan serpihan-serpihan hati yang berserakan ya Rabbi, mencoba menyusunnya kembali seperti sediakala tanpa cela, tapi hati tak dapat perawan lagi, kesombongan diri membuat hati ternodai. Bersusah payah merangkak, terjatuh dalam berlari, terengah-engah mengejar Mu, mendekati Mu, agar Engkau maafkan diri yang tak dapat menjaga hati, bahkan hingga kini belumjuga mau kompromi.

Jangan pernah salahkan cinta, dengan mengatakan 'virus cinta', tidak ada yang salah dengan cinta, entah bagaimana asal mula kata 'cinta' dicipta, kata untuk melambangkan rasa. Tidak ada yang salah dengan cinta, selama masih tertuju hanya kepada Sang Maha, tapi tidak begitu dengan manusia, adakala cintanya kepada Makhluk Nya, melebihi cintanya kepada Tuhannya.

Tak kan pernah cukup kata cinta untuk mengungkapkan seberapa besar cinta, tak kan pernah cukup. Seandainya ada kata yang lebih memuji dari Alhamdulillah, maka akan diri gunakan kata itu untuk memuji, seandainya ada kata yang lebih tinggi dari Allahu Akbar, maka akan diri gunakan kata itu, menuliskannya dengan tinta terbuat dari emas termurni di dunia di atas secarik kertas yang terbuat dari emas pula. Lalu mengirimkannya dengan pesawat tercepat di dunia, tapi tak dapat, tapi tak ada..........


Diam, hanya dapat tertunduk dalam diam, mencoba melupakan tapi tak dapat dilupakan, hati ini tak lagi perawan, mencoba menyusun kembali serpihan-serpihan hati agar dapat seperti dulu lagi, tapi bayang-bayang itu selalu berkelebat, cepat. Diam, tenggelam dalam titik-titik air di sepertiga malam terakhir. Kiranya sudah hampir satu tahun, hati belum juga mau kompromi...........

Seandainya dapat berandai-andai, seandainya waktu dapat diulang tapi ia tidak akan mau berulang.

Thursday, June 4, 2009

siang di masjid Al wasi'i

selepas menunaikan sholat zuhur bersama teman-teman, cuaca panas, ya beberapa hari ini, Lampung dirasa semakin memanas. Langit boleh mendung, tapi belum berarti hujan, rasa gerah itu tetap saja ada, hingga mengakibatkan tubuh memproduksi keringat dalam jumlah yang tidak biasa.

Sekedar beristirahat selepas sholat zuhur dikerjakan. Tak berapa lama seorang kawan berkata, "gimana ya kalau bumi ini berhenti berputar? apa dia masih memiliki gaya berat?", "ya, tentu saja bumi masih memiliki gaya berat" begitu jawab saya. Lalu "yang jelas kiamat, karena bumi berhenti berputar, otomatis salah satu bagian selalu mengalami siang, dan salah satu bagian mengalami malam" begitu tambah teman saya marhana.

"Jangankan berhenti berputar, bumi itu memiliki derajat kemiringan tertentu bukan? Kalau bumi bergeser sedikit saja dari porosnya, atau kemiringannya bertambah 0.000 sekian derajat saja, kita sudah bisa kiamat" begitu kata saya pada mereka. "lagian, kalau malam terus, ya tidak ada photosintesis, lalu gimana oksigen bisa dihasilkan. Sama juga kalau siang terus-terusan, bisa kering kerontang. Tapi kalau tidak ada matahari, nah itu masih mungkin, seperti di daerah kutub, ada saat-saatnya matahari itu tidak nampak" begitu tambah saya

Hari masihlah panas, tepat ketika teman saya yang lain mengajak pergi untuk memenuhi hasrat sistem pencernaan ini untuk makan

"Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa"
QS. Yunus (10) : 6


Saturday, May 23, 2009

Membunuh dirinya

Bunuh diri, racun serangga berasal dari merk ternama
Jangan membunuh dirimu wahai manusia
Jangan mengakhiri hidupmu dengan cara sia-sia tidak berguna wahai wanita

Saya tidak mengerti apa yang ada di dalam pikirannya ketika mencoba itu racun serangga. Saya pun tidak tahu seperti apa rasa itu racun serangga, adakah lebih menyegarkan bila dibandingkan dengan minuman lainnya yang ada di dunia.

Saya tidak mengerti apa motivasinya, apa yang mendorongnya. Hanya saja, yang ada di dalam pikiran saya saat itu adalah, sepertinya anak perempuan ini, anak gadis berumur hampir 20 tahun ini, nampak tidak menemukan tempat pelarian, ia belum menemukan lintasan berlari yang semestinya.

Entah masalah macam apa yang menimpanya. Seorang anak asrama bercerita, melihat ia terkapar tak sadar dengan racun serangga dalam genggaman. Mengendus-endus, anak asrama yang lainnya mencium aroma racun serangga di dalam mulutnya, mulut si wanita yang nampak berniat mengakhiri hidupnya.

Terkejut, tentu saja, bisa dikatakan saya termasuk angkatan tua, anak itu anak gadis itu baru memasuki semester 2, menjelang tahun keduanya di UNILA.

Calon penjaga asrama mengantarkannya ke sebuah rumah sakit swasta, dan setibanya di sana, menjenguknya bersama anak-anak asrama yang lainnya. Wanita penenggak racun serangga itu berkata "salah paham" katanya, "saya tidak meminumnya" begitu katanya, "hanya memeriksa botolnya" begitu tambahnya, dan pada intinya "saya tidak pingsan karena racun serangga, saya sadarkan diri", jelasnya, lalu "bla...bla...bla".

Anak-anak asrama yang lain, yang turut serta menjenguknya, berkata "aneh", lalu "biarkan saja, benar atau tidak bukan urusan kita, maklumi saja, dia merasa malu dengan tindakannya. Atau ia ingin menyembunyikannya dari ibunya, mungkin juga ingin menyelamatkan nama baik keluarganya, ibunya, yang sudah datang dengan tiba-tiba dan segera dari jakarta.

Tinggalkan ia, gadis yang menenggak racun serangga dengan ibu dan saudara kembarnya. Ya, gadis itu memiliki kembaran yang berbeda dalam hal postur tubuhnya. Saya tidak begitu mengenal dia dan saudara kembarnya, selain bahwa mereka berdua adalah penghuni baru asrama annisa. Tidak tahu apa yang memotivasinya ingin mengakhiri hidupnya, tetapi yang jelas, bukan karena masalah sepele yang kadang dapat diselesaikan bahkan hanya dengan menutup mata saja.

Mengakhiri hidup, padahal sejatinya itu hanyalah kekuasaan Nya sang Maha Pemberi kehidupan.

Entahlah, pada dasarnya manusia memang memiliki sifat dasar mudah putus asa, gampang bekeluh kesah, bahkan terkadang lupa ketika Allah memberikan rezeki, anugerah, dan berkah yang melimpah. Entahlah, wanita kadang menjadi sebuah tanda tanya. Kadang mereka bisa menjadi begitu kuat hingga mencengangkan bagi yang melihatnya, mengetahuinya. Terkadang mereka, wanita, bisa menjadi makhluk yang tidak seimbang, tidak stabil dalam hal emosi, akal dan pikiran, menjadi begitu lemah tak berdaya. Begitulah manusia, beginilah wanita dan saya adalah wanita, saya pun turut ambil bagian dalam karakter yang mereka punya.

Thursday, May 21, 2009

Sabar // Lapar 02

Dalam keadaan lapar karena belum mengisi perut ini dengan makanan, angkutan umum itu saya hentikan, turun dari kendaraan, seorang wanita cantik, berkerudung hitam serta merta menyambut saya. Saya pikir "whuihhh luar biasa pelayanan yang diberikan', tetapi ternyata 'maaf mbak, paketnya terbawa sampai ke metro, mobilnya bla...bla..bla'. Saya tidak lagi mendengarnya, yang ada hanya rasa kecewa, agak sedikit kesal sebenarnya, kesal karena 'kenapa sie mbak gak bilang pas saya telepon dari asrama tadi pagi, kenapa baru bilang pas saya sudah sampai ke sini?' begitu kata hati

Wanita, karena tidak tega, terlebih lagi dia sudah meminta maaf pada saya maka 'ya ndak apa mbak, yang penting saya ingin barang itu diantarkan ke tempat saya, ini alamatnya' begitu kata saya, singkat, mengucapkan terima kasih, kemudian beranjak pergi dalam rasa kesal yang tertahan di dalam.

Hari semakin siang, dan saat itu bukan lagi pkl 09.00, hampir mendekati pkl 10.00 pagi. Sistem pencernaan sudah mulai mempengaruhi sel-sel syaraf, hingga saya hanya dapat duduk dalam diam, dipinggir jalan. Saat itu saya pikir "tidak ada yang salah dengan hari ini, sudah saya buka dengan senyuman, dengan doa. Maka, yang ada hanya bersabar saja, bersabar dalam lapar". Panas terik matahari mulai semakin terasa, mencoba menghubungi mbak dahlia MR saya, untuk kemudian beliau menyebutkan rute menuju rumahnya. "lewat sini, naik angkot ini, jalan sedikit, naik ojek ini, bilang ini... bla..bla.. bla" saya tidak begitu mendengar penjelasannya, karena rasa kesal itu masih ada. Duduk dalam diam, di pinggir jalan. Angkutan-angkutan umum itu lalu lalang, kemudian menawarkan. 'Hmmmh' menghela nafas panjang, angkutan umum berwarna merah itu pun saya hentikan. Melamun, hanya bisa duduk melamun, ternyata rasa kesal itu sudah bercampur aduk, terpupuk oleh rasa lapar, hingga ia menjalar, tumbuh subur hingga mengkontaminasi akal pikiran.

Saya diturunkan, berkali-kali dipindahkan angkutan, menurut MR dan mbak-mbak yang lain 'kamu salah naik angkutan', 'hhhmmmhh, yah mau bagaimana lagi, sudah terlanjur', hingga pada akhirnya, saya menghubungi MR saya kemudian berkata "mbak, cep sudah sampai sini, trus?", "dari sana bla...bla...bla", ternyata masih jauh, masih jauh. Di dalam hati saya "lain kali, gak lagi-lagi liqo jauh-jauh begini", rupanya rasa kesal itu masih enggan untuk pergi. Rasa kesal yang sudah terakumulasi dan semakin parah dirasa karena rasa kesal itu sudah bercampur dengan rasa lapar.

Akhirnya, pkl 11.00 siang, matahari semakin terik saja, saya semakin tersasar saja, tidak taHu dimana tepatnya saya sedang berada. Sampai 'bu, ibu tau daerah ini, bla...bla...", "oh, ya tau, jauh lagi dari sini, di atas sana de", begitu kata ibu yang saya jumpai di pinggir jalan raya yang teriknya begitu terasa. "makasie bu", saya pun beranjak pergi, berjalan kaki. Lalu "jangan jalan kaki de, jauh, naik mobil saja" begitu katanya. Saya hanya bisa tersenyum dari kejauhan, memulai berjalan perlahan, dalam kelaparan, kehausan, di bawah terik matahari yang semakin menantang.

Saya tidak ingin naik angkutan, saya pikir, saya perlu berjalan kaki untuk menjernihkan pikiran, tidak mungkin menampakkan wajah berlipat di hadapan mbak-mbak yang sudah berada di sana, yang sudah lebih dulu sampai di rumah mbak dahlia MR saya. 'Hhhhmmmh' ingin menangis rasanya, sudah barang tak dapat, tersasar dalam keadaan lapar, panas pula. Saya hanya bisa berjalan sembari bergumam sendirian, berjalan sembari melihat ke kiri kanan jalan, 'banyak warung makanan'. Ada bakso, ada warung nasi padang, ada warung nasi uduk, saya ingin berhenti, tetapi kaki tidak ingin berhenti. Sampai, "mau kemana de?" begitu ujar seorang bapak, "ke palem V pak" ujar saya. Singkat kata, salah seorang tukang ojek mengantarkan saya dan saya pun tiba, tiba dalam kelaparan, kepanasan, dan yang pertama kali saya tanyakan begitu tiba di kediaman MR saya adalah 'mbak ada makanan gak?'

Sungguh ada korelasi antara rasa lapar dan sabar, apakah saya sudah bersabar? entahlah? sepanjang perjalanan hari ini, pagi ini, saya hanya bisa melamun dalam diam. Saya lapar, saya tersasar, saya kepanasan, saya dikecewakan, saya belumlah bersabar, 'hhhmmmhh' menghela nafas panjang, mengingat betapa saya menangis di pinggir jalan karena diliputi rasa kesal yang tidak tertahankan. Alhamdulillah rasa kesal itu tidak saya tumpahkan, tidak kepada manusia yang membuat saya kesal pada awalnya.

Rasa kesal itu hanya berbuah air mata pada akhirnya 'whhuuaaahhh, susahnya jadi manusia melankolie', dan Alhamdulillah sebuah pelajaran di hari ini.

Sabar // Lapar - 01

Pagi, membuka hari dengan senyum terbaik di hari ini, hari kamis, tanggal berapa? ya saya lupa, karena bukan lagi berstatus siswa melainkan mahasiswa. Mahasiswa yang tidak pernah lagi upacara, mahasiswa yang ketika mencatat tidak pernah mencantumkan tanggal pada bagian sudut kanan atau kiri atas dari buku catatannya. Dan bahkan, mahasiswa seperti saya, tidak pernah mempersenjatai diri dengan catatan pribadi, kecuali photo copy.

Pagi ini, burung-burung itu bertasbih lagi, melalui kicaunya yang semakin riuh ramai terdengar. Ada harapan baru, ada semangat baru, semangat yang luar biasa untuk berjumpa mbak-mbak teman-teman liqo tercinta, yang saya sayangi karena Nya. Tidak ada rasa malas, merendam pakaian kemudian mendiamkan, hingga beberapa menit kemudian mereka sudah bergaya di atas tali jemuran yang berada di belakang kamar saya.
Ini sudah malam, saya hanya mencoba menceritakan beberapa kejadian yang menjengkelkan, tapi berbuah tawa dan makna pada akhirnya Insya Allah. Dan Alhamdulillah bila pada akhirnya Dia menjadikan apa yang terjadi pada diri hari ini, menjadi pahala yang berbuah syurga hingga bisa menjadi kunci masuk untuk berjumpa dengan Nya, semoga.

Katak-katak rawa kembali bersuara, jangkrik-jangkrik itu kembali mengerik, canon in d itu kembali menemani, jarum-jarum jam itu kembali berdetak, dan sebenarnya sudah sejak dahulu mereka berdetak, tak pernah berhenti terkecuali karena mati.

Hari ini, saya pikir pkl 09.00 pagi beranjak pergi dari asrama membuat saya tidak akan terlambat untuk sampai ke tempat Murabbi saya untuk menuntut ilmu, mengisi ruhiyah dan mengobati rasa rindu, meluapkan rasa sayang pada mereka-mereka yang mulai menempati posisi tersendiri di dalam hati. Teman-teman liqo yang unik, beberapa tahun lebih tua di atas saya, mulai dari angkata 2002 sampai angkatan 2000, semua ada.

Mereka tidak seperti saya, begitu kata MR saya pada awalnya. Saya pikir apa yang 'tidak seperti', ternyata memang sebagian besar dari mereka 'tidak seperti' saya, tapi tak apa, saya merasa nyaman dengan itu semua. Dengan tawa, canda, banyolan, ungkapan, pendapat, gagasan, pendek kata, saya merasa bahagia bisa satu kelompok dengan mereka yang beragam dan berbeda dengan saya. Meskipun menurut seorang teman saya 'kelompok pinggiran', meskipun menurut MR saya 'mereka berbeda'.

Saya pikir pkl 09.00 pagi saya tidak akan terlambat sampai di sana, di rumah MR saya, karena saya memang tidak tahu dengan alamat rumahnya. Ternyata, tidak seperti rencana yang ingin Allah berikan pada saya. Saya bukan saja terlambat tetapi lebih dari terlambat. Rencana awalnya adalah, saya berniat untuk mengambil paket yang khafidl kirimkan pada saya, di dalamnya ada beberapa pesanan teman-teman liqo saya. Dengan semangat 45, dengan semangat ingin memuaskan pelanggan, saya menghampiri 'pahala kencana', tempat dimana paket saya dititipkan.

--to becontinued

Monolog // Dialog

Diamlah, tetapi ia tidak dapat diam, duduk dalam diam pun tak dapat.
Mari berteriak, tak dapat, ini sudah malam, dan kamu perempuan
Mari berlari, tidak dapat, ini sudah malam, dan kamu perempuan

Aku mencinta
Mencinta pada Yang Maha Mencipta
Aku mencinta
Mencinta pada ayah dan ibu yang sudah berjuang, berkeringat, bermandikan panas dan terik, Bermandikan peluh keringat, berdarah, bertaruh nyawa, hingga membuahkan air mata

Aku menangis
Aku menangis ketika pada kenyataannya
Pada akhirnya
Keluarga menjadi masa lalu
Masa lalu bagi aku, entah kapan itu

Aku berjalan, melangkahkan kaki
Menghela nafas berat, terengah-engah penuh kepayahan
Dapatkah aku mencinta tanpa ada sesiapapun diantara Aku dan Dia
Dapatkan aku hanya berdua dengan Nya tanpa ada sesiapa yang menyela

Mengapa harus ada kata mengapa
Kenapa harus ada kata kenapa
Mengapa harus berdua bila memang sudah sendiri pada mulanya
Mengapa harus berdua bila memang sudah berdua dengan Nya

Saya tak mengerti
Aku tak mengerti
Atau saya memang yang tidak mau mencoba mengerti
Atau aku memang tidak ingin memahami

Aku begitu membenci kata itu
Aku tidak menyukai kata yang dengan kata itu, ganaplah dien seorang anak manusia
Menjerit dalam diam
Berlari di kegelapan
Gila, berlebihan, aneh menurut sebagian orang
Mengapa harus menikah ya Allah,
Mengapa harus
Mengapa harus ya Allah
Mengapa

Bertahun-tahun pertanyaan itu hinggap di kepala
Memberatkan hati, karena pada kenyataannya memang harus dihadapi
Berperang, bertarung, bergelut dengan apa yang ada di dalam diri
Menyerah dalam kepasrahan di sepertiga malam yang Engkau ciptakan

Titik-titik itu jatuh,
Sekuat tenaga dengan segala daya upaya mengalahkan pada yang ada
Apa yang terlahir di dalam kepala, hati, akal dan pikiran
Kemudian berkata 'ya, perintah Mu akan aku laksanakan'
'ya, sunnah rasul Mu akan aku jalankan'

Semakin deras ya Allah
Titik-titik itu semakin deras
Semakin deras

Saturday, May 2, 2009

Makanya jangan makan daging babiiii

Jakarta, Kompas - Penyebaran virus influenza tipe A atau H1N1 yang sebelumnya dikenal sebagai ”flu babi” telah sampai pada tahap penularan antarmanusia. Untuk mencegah terjadinya pandemi, pengendalian virus harus difokuskan pada manusia sebagai sumber penularan.

Menurut guru besar Mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Agus Sjahrurachman, dalam diskusi, Jumat (1/5) di Jakarta, kewaspadaan pandemi influenza telah memasuki fase lima yang ditandai penularan dari manusia ke manusia setidaknya di dua negara dalam satu kawasan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Hal ini berarti sumber penularan adalah manusia melalui udara. ”Ini berbeda dengan flu burung di mana hewan sebagai sumber penularan dan faktor lingkungan jadi penting. Pada kasus penyebaran virus influenza A, unsur manusia yang berperan penting dalam penyebaran virus itu,” ujarnya.

Salah kaprah

Pengamat masalah veteriner, dr drh Mangku Sitepu, menilai telah terjadi salah kaprah dalam penanganan wabah raya influenza A. Karena disebut sebagai flu babi, pemusnahan ternak babi dan penutupan peternakan babi terjadi di banyak tempat dan mengakibatkan kerugian ekonomi sangat besar.

Berjangkitnya serangan influenza A mendorong pemerintah melarang sementara impor hewan babi dan produk turunannya yang belum diolah. Tindakan itu ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan No 16/M- Dag/PER/5/2009 dan berlaku mulai 1 Mei 2009.

Menperdag Mari Elka Pangestu di Jakarta kemarin mengatakan, keputusan ini merupakan tindak lanjut sidang kabinet terbatas, rapat koordinasi, dan Keputusan Menteri Pertanian No 1977/Kpts/PD.620/4/2009.

Menurut staf Divisi Tropik dan Infeksi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, dr Leonard Nainggolan, ”Yang terpenting adalah memperketat pengawasan di pintu-pintu masuk orang yang datang dari luar negeri, khususnya di bandara internasional.”

Kemarin di Semarang, Jawa Tengah, Menhub Jusman Safeii Djamal mengimbau warga negara Indonesia tidak berkunjung ke Meksiko dan negara lain yang sudah punya kasus flu babi.

Alat diagnosa

Universitas Diponegoro menyiapkan alat diagnosa dan deteksi dini sebagai langkah antisipasi penyebaran flu babi. ”Kami telah memiliki beberapa peralatan untuk mendeteksi gejala influenza A,” kata Rektor Undip Susilo Wibowo, Jumat di Semarang. Alat deteksi itu antara lain polymerase chain reaction (PCR) yang berfungsi menggandakan DNA.

Menurut Susilo, dengan mengambil sampel dari pasien terduga dan menelitinya dengan alat ini, penanganan tepat terhadap pasien dapat dilakukan.

Sementara itu, pengelola RSUD Abdul Moeloek menemukan sekitar 1.000 dari 6.200 obat oseltamivir cadangan untuk antisipasi penderita influenza A

dalam kondisi kedaluwarsa. Pihak rumah sakit mencoba mendapatkan obat baru untuk menggantikan obat yang kedaluwarsa itu.

Dari Bali, Menkeu sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati menegaskan, pihaknya memastikan seluruh peserta Sidang Tahunan ADB akan diperiksa saat memasuki Denpasar.
Qs 2 Al Baqarah 173

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Qs Al An 'am 144

Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Hmm, Alhamdulillah saya lahir dalam keadaan muslim ho...3x

Wednesday, April 22, 2009

Berdialog dengan bulan

">

Chapter 3


Ia nampak diam sejenak, lalu ‘oh ya, begitu menariknya kehidupan kalian manusia-manusia di dunia’ begitu katanya

‘menarik?’ tanyaku

‘menarik bahwasannya kalian dengan begitu sombongnya, bersedia menjadi khalifah di dunia’ begitu katanya.

Sombong? Sombong, katanya? Darahku mendidih, rasa ego ku sebagai seorang anak manusia muncul ke permukaan, inginku memaki sang bulan karena kata-kata sombong yang ia ucapkan, tapi kemudian tertelan, tertelan dalam wajah cantiknya yang rupawan.

‘sombong? Begitukah yang nampak padamu wahai bulan?’ tanya ku

‘ya begitu, gunung sekalipun merasa tak sanggup menjadi khalifah di muka bumi ini, sedangkan kalian hanya manusia? Apakah kalian sudah merasa sebegitu kuatnya, hingga kalian merasa mampu memikul bebannya?’ begitu jelasnya padaku. Aku hanya menunduk dalam diam, memikirkan apa yang bulan katakan. Ia benar, bulan itu benar.

‘kenapa diam wahai manusia? Benar bukan apa yang aku katakan?’ ia bertanya, tetapi tidak memerlukan jawabnya.

Aku hanya mengangguk dalam diam

‘aku heran, kiranya Allah ciptakan akal dan pikiran, tetapi kalian manusia lebih mempercayai manusia dari pada Tuhannya. Menggelikan kiranya, kalian begitu menggantungkan nasib kepada hal-hal yang gaib’ , aku hanya diam.

‘aku pun heran wahai manusia, bagaimana kiranya kalian dapat dengan senangnya, tertawa memakan daging saudara sesamanya’.

‘aku pun heran wahai manusia, bagaimana kiranya kalian bisa dengan senang tertawa, sedang kalian tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di hadapannya’

‘aku pun heran padamu wahai manusia, kiranya Dia sudah tetapkan seorang panutan bagimu untuk bekal hidup di dunia, tapi sedikit sekali dari kamu yang mau mengerti, sedikit sekali dari kamu yang mau meneladaninya. Seandainya kamu tahu, seperti apa kiranya akhlak Muhammad kekasih Nya itu, demi Allah, tak akan kamu berpaling pada manusia yang lainnya’

‘aku pun heran padamu wahai manusia, mengapa kiranya kamu dan saudara-saudara sesamamu itu begitu mencintai dunia, mengorbankan segalanya demi dunia, padahal kalian berada di dunia tidaklah lama, hanya sebentar saja, sekejap saja’

Aku hanya diam, tidak mampu berkata-kata. Dalam gelap, cahaya rembulan temaram, aku tersungkur, titik-titik air itu jatuh ke bumi, tak tertahan.

‘menangis kembali wahai kamu manusia? Kamu basahi diriku dengan titik-titik air matamu, menyesalkah? Untuk waktu yang tak terhingga? Atau hanya sementara saja’ begitu sang bumi berujar padaku, semua nampak menghujam.

Sang bulan, menusuk dengan tepat ke dalam hati ini, cantiknya ia begitu dirasa membunuh kini. Sang bumi, semakin menyudutkan diri ini, tak terasa sedu sedan itu ku perdengarkan, jangkrik-jangkrik malam, katak-katak yang bersahut-sahutan yang sedari tadi menciptakan harmoni, dirasa turut menghujam ke dalam segumpal darah ini.

Berdialog dengan bulan, bercakap-cakap dengan rembulan, kecantikannya menyakitkan, kata-katanya begitu menghujam jauh ke dalam. Sang bulan kembali dalam diam, meninggalkan aku sendirian setelah sebelumnya berkata ‘tetapi, bagi kalian manusia yang tetap berada di jalan Nya, Ia sudah janjikan surga Nya. Begitu Ia firmankan bukan? Maka bersyukurlah kalian pada Nya wahai manusia, kalian tetaplah hamba yang istimewa di hadapan Nya’

Sedu sedan itu terasa begitu nyaring di telinga, betapa kiranya aku begitu jauh dari rasa syukur itu, betapa kiranya aku begitu dekat dengan rasa sombong itu, betapa kiranya aku terlampau sering menghianati Mu wahai Tuhanku.

Bulan, ia tersenyum, cantik, ia bermain mata, untuk kemudian berlaku seolah-olah di antara aku dan dia tidak pernah terjadi apa-apa.

--END--