Pages

Tuesday, July 27, 2010

ketika Mas Dyan pergi


Pertama

Sore itu di 3 Januari 2010, sepulang dari kerja. Seorang teman menghubungi saya "cup, sabar ya. Dyan kecelakaan". Oh, kecelakaan, pikir saya saat itu, tak apa mungkin saya akan ambil izin beberapa hari untuk menjaganya di rumah sakit, yang berada tidak jauh dari mes tempat saya tinggal.

Sesampainya di rumah sakit, bapak angkat saya keluar, menjemput saya. Beliau membawa saya ke ruang Instalasi gawat darurat, lalu seorang perawat wanita berkata "kuat kan mbak?", saya yang tidak tahu apa-apa saat itu menjawab "iya, insya Allah saya kuat". Perawat itu membawa saya ke sebuah ruangan dengan pintu terbuka, lalu ia meninggalkan saya bersama bapak angkat saya.

saya terdiam, mematung, lelaki muda itu terbaring, kaku. saya tidak tahu ia siapa, perawat sedang menjahit bagian kanan kepalanya. Satu-satunya yang membuat saya mengenali dia, ketika saya melihat telapak kakinya, pucat pasi, meninggalkan bekas terbakar matahari. Dia Mas Dyan, dia benar-benar Mas Dyan, Dyan Isworo, teman satu angkatan, satu Jurusan Fisika Universitas Lampung, satu konsentrasi Instrumentasi.

Lalu "Pak, mas dyan kenapa pak?" saya bertanya pada bapak angkat saya. Saya keluar, tak tahu harus bagaimana, duduk diam sembari memukul wajah saya, apakah benar yang saya lihat? apa saya tidak bermimpi?

Tak lama kemudian, saya lemas tak berdaya "ya Allah, dia sudah meninggal, Mas Dyan sudah meninggal. Dia lelaki yang katanya akan melamar saya dan menikahi saya bulan Juni tahun 2010 ini.

Noted : catatan ini terhenti, saya ternyata belum cukup kuat untuk menuliskan cerita tentang dia, lelaki yang sempat menawarkan diri untuk menjadi pendamping hidup saya nantinya