Pages

Showing posts with label wanita. Show all posts
Showing posts with label wanita. Show all posts

Friday, January 27, 2012

lembar 600 ribu

“Authenticating”, melulu itu yang nampak di layar netbook yang berukuran tak lebih dari 10 inchi ini.

Menggeleng-gelengkan kepala, ke kiri dan ke kanan. Sesekali menggerakkan punggung yang kelelahan, lelah karena sepanjang hari duduk diam, memperhatikan layar putih yang berkelip-kelip. Bermain-main dengan radiasi dalam skala kecil yang lambat laun pasti mengakumulasi diri sendiri, sampai suatu saat menimbulkan dampak berupa mutasi gen, sebagian besar ke arah yang negatif. Tetapi, semoga saja itu tidak terjadi pada ku, kamu dan mereka semuanya. Lalu, pada siapa? Ya boleh jadi pada manusia yang tidak memiliki hati nurani, seorang pembunuh yang mendapati kesenangan dari aktifitas membunuhnya barangkali. Atau mutasi gen itu terjadi pada manusia yang paling jahat se dunia, dan semoga saja itu bukan aku, kamu, dan mereka.

Sore hari, angin sepoi-sepoi bertiup. Menggerak-gerakkan gorden kamar kosan ku yang berwarna kecokelatan. Cokelat karena memang berwarna cokelat, bukan karena berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun tidak menyentuh apa yang namanya air dan sabun, yang menurut iklan dapat membersihkan segala macam kotoran, termasuk yang tidak terlihat.

Bandung 27 januari....................

Ketika seorang anak manusia bernama dian sekarwangi, seorang anak manusia yang ketika akan lahir disangka jejaka. Tapi ternyata, ia seorang bayi perempuan mungil, yang orang tuanya tidak pernah tahu bahwasannya ia akan tumbuh menjadi anak perempuan yang nakal, keras, tetapi memiliki sekeranjang penuh rasa simpati, empati, dan melankolis dalam skala tinggi.

“kakak, dipanggil nenek” begitu ujar remaja tanggung itu. Dia berbicara sembari sibuk menekan tuts-tuts, tombol –keypad- Hp qwerty-nya.

Dengan perasaan agak masgul, antara ragu dan yakin akan asas praduga tak bersalahku terhadap firasat dan perasaan yang melintas di kepala dan di dalam dadaku.

“iya gitu? Kenapa?” Begitu balasku pada gadis remaja tanggung itu

Usianya masih belia, ya bila dibandingkan aku yang sudah berkepala dua, lebih tepatnya seperempat abad hampir plus satu. Karena beberapa bulan lagi aku genap berusia 26 tahun. Oh tuhan, tetangga kiri kanan sudah berlari bersama pasangan, sedangkan aku? Masih berleha-leha dengan kesendirian.
Tidak laku? Tidak ada yang mau? Belum ada yang cocok? Sampai jodohnya belum sampai, semua kata-kata itu memiliki makna yang serupa meskipun tak sama dalam susunan katanya.
Mari kembali menterjemahkan seperti apa gadis belia yang menjadi cucu dari ibu kost ku itu.

Cantik? Ya bila dibandingkan aku

“hahahaha” aku tertawa

Tingginya mungkin sekitar 155 cm dengan berat badan lebih kurang 45 kg. Wajahnya seperti pualam, meskipun aku tidak tahu seperti apa itu pualam. Tapi kesan mungil, bersih, disertai dengan rambutnya yang terjuntai se-bahu, dilengkapi dengan warna hitam pekat, lebat. Sungguh, Allah menciptakan manusia tidak pernah sama, meskipun satu keturunan dengan ayah dan ibunya. Dan gadis remaja tanggung ini, sedang berada pada titik-titik cantiknya ia.

“hahahhahaha” aku kembali tertawa, 

Pikiran nakalku mencoba mendeskripsikan gadis remaja itu, kemudian menyertai penggambaranku dengan sebuah kalimat pamungkas, agar tak iri aku dibuatnya

-----gadis itu cantik karena memang dia sedang berada pada usia yang cantik pula. Tetapi, mendekat masa uzurnya? Ia akan sama seperti neneknya, keriput dan tua------

“hahahaha” aku kembali tertawa di dalam hati

“payah, baru mau sholat ashar. Sudah dipanggil sama ibu kos hadduh, kenapa ya? Jangan-jangan mau ngomong kalau aku terlalalu berisik di lantai atas” begitu firasat ku kira-kira saat itu, karena kamar ibu kos tepat berada di bawah kamar ku.

Bunyi derit yang terjadi sebagai akibat dari gesekan roda pintu dengan besi yang menjadi lintasannya. Karena pintu kamar nenek bukan menerapkan sistem buka dan menutup dengan gagang pintu. Melainkan dengan cara digeser ke kiri dan ke kanan.

Seorang wanita berusia 60 tahun, kurus, keriput, layu, kusam. Maafkan aku nek, aku menjadi terlalu kurang ajar dalam mendeskripsikan kecantikan mu.

Wanita yang sudah tua itu duduk di atas kasurnya, dengan selimut yang menyelimuti kakinya.

Beberapa waktu yang lalu, nenek masih gemuk, padat, berisi, putih, ah gagahnya si nenek. Berjalan beberapa kilometer masih sanggup dia, hebat, begitu yang berputar-putar di kepalaku, beberapa waktu yang lalu. Tapi kini? Nenek tak lagi sepeti dulu, berat badannya menghilang, kekuatannya yang dahulu pergi entah kemana. Meninggalkan nenek seorang diri, menjadi wanita yang kurus. Nampak seperti menahun sudah penyakit itu bersarang di dalam tubuh nenek.

Bukan penyakit yang elit, tidak pula berbahaya kalau menurut orang-orang lulusan kedokteran yang didatanginya.

“kata dokter, nenek cuma sakit batuk biasa” begitu ceritanya beberapa waktu yang lalu padaku.

Dengan potongan rambut yang pendeknya kira-kira lebih kurang 5 cm, nenek terlihat kurus. Aku berandai-andai bilamana nenek berambut panjang, tentu lebih nampak garis-garis tirus di wajahnya, dan kesan kurus itu, pasti semakin kentara.

“kenapa nek?” begitu aku bertanya

Beliau duduk sembari sesekali memperbaiki letak selimut yang membalut dari pinggang sampai ke ujung kakinya.

Sembari mengusap-usap wajahnya, membelai sendiri rambut pendeknya. Nenek memulai ceritanya

“............ uang listrik bulan ini 600 ribu neng, paling lambat tanggal 28..........”

“....nenek gak punya uang, uang laundry diambil semua sama anak lelaki nenek....”

“..........nenek pinjam uang....., anak sholeh seperti neng ini sebenarnya gak perlu bayar kostan. .........., dulu kan nenek punya hutang 500 ribu, kalau ada nenek pinjam 600 ribu....”

Ceritanya, nenek meminta aku untuk membayar uang kostan yang harusnya aku bayarkan di bulan Juli, untuk dibayarkan sekarang. Setidaknya 600 ribu, untuk membayar listrik bulan ini.

Aduh, mulailah bingung aku dibuatnya. Wajah mengiba si nenek, ya baiklah dia tidak mengiba. Tetapi, aku, hey aku ini perempuan, namaku dian sekarwangi. Kamu tau kan, dari awal aku katakan, aku ceritakan, aku ini keras. Ya dan kamu tau kalau aku ini dari lahir sudah berwatak keras. 

Ibu bilang
“cah wedok gak oleh koyo cah lanang” sembari mengetuk-ngetuk kepala ku, sembari mengusap-usap ubun-ubunku, kemudian
“fyuhh fyuuuhh” ibu meniup ubun-ubun kepalaku
Ketika aku bersikeras membenci tetanggaku yang usianya tak jauh berbeda dari bapak ku. Kenapa? Karena menyebabkan gagang sapu milik ibu mendarat telak dikedua kaki ku.

“bapak gak mau tau, kamu gak boleh manjat-manjat atap genteng lagi. Nek tibo, jadi urusan, cah wedok kok koyo ngono........” begitu ujar bapak saat itu, hampir 10 tahun yang lalu

Baiklah, aku keras, tapi aku perempuan keras yang mewarisi sekeranjang penuh sifat empati, simpati ibu. Dan kalau sudah tersentuh, air mata ku bisa tak henti mengalir, mungkin seperti mata air zamzam yang ada nun jauh di tempat kabah berada.

Aku juga sudah ceritakan pada kamu, bahwa aku memiliki sifat melankolis dengan kadar yang tinggi. Maka ketika melihat nenek dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Ditambah lagi dengan efek suara yang sesekali disertai dengan batuknya. Kemudian semakin dipercantik dengan suara gemeretuk giginya, yang menghasilkan suara sama persis seperti ketika mbah kakung ku mengunyah makanan di giginya yang sudah tua.

Hati ku berlonjak-lonjak, tak tahan aku dibuatnya. 

Lalu “nanti ya nek, tanya sama orang rumah dulu” begitu ujar ku.

Aku tak dapat langsung mengiyakan, 600 ribu buat pengangguran sepertiku, oh itu jumlah yang besar

“ya, nenek juga bingung mau pinjam kemana. Semalam nenek gak bisa tidur,..........” begitu tambahnya

Sisanya? Aku tak lagi mendengarkan secara seksama apa yang nenek katakan. 

“berdoa aja nek, siapa tau nanti malem saya ketemu uang di bawah kasur” begitu selorohku
 Candaan yang sama sekali tidak lucu, sungguh tidak lucu. 

Aku beranjak pergi, mohon diri, karena waktu ashar sudah lewat lebih dari setengah jam yang lalu.

“neng sudah makan?” begitu tanya nenek

Entah nenek serius bertanya atau sekedar basa-basi karena merasa tidak enak dengan maksud dan tujuannya memanggilku demi uang 600 ribu itu.

“sudah nek, yang belum makan malam” jawab ku
Aku beranjak pergi, melangkahkan kaki menuju kamar mandi.

Baiklah, aku mulai berbicara dengan hati dan kepalaku. Bertiga kami merumuskan bahwa sekarang saatnya untuk meratapi nasib, kemalangan diri sendiri. Atau sebenarnya aku tidak lah malang.

Dengan hilangnya netbook ku, disusul kemudian jam tangan ku dan baru aku sadari sekembalinya aku dari libur semester pertamaku. Lalu, beberapa waktu yang lalu, tanggal 24 januari, tepat ketika warga keturunan tiong hoa merayakan tahun baru, tahun naga, aku si dian sekarwangi, secara bodohnya kehilangan telepon genggam qwerty-ku, yang aku beli beberapa bulan yang lalu.

Hati dan kepala ku semakin bersitegang ketika kepala ku mengingatkan aku, bahwa minggu depan aku harus melakukan medical check up terhadap penyakit tumor ku.

“gdebuk............?#$%#&%$&$” seperti itu yang ada di dalam kepala ku.

Semua berujung pada uang
Susah payah aku bertahan belum mengganti Hp ku yang hilang, dengan alasan aku masih bisa bertahan dengan hp tua yang menjadi sarang kartu IM-three-ku. Dan untuk kartu sim-pati ku? Aku istirahatkan dia, karena kepalaku masih mengukur seberapa penting hp qwerty pengganti itu. 

Nenek tau itu, nenek tau kemalangan yang menimpaku itu, heran aku dibuatnya, apa nenek tidak ada rasa kasihan kepada ku? Atas kemalangan yang menimpaku.

Aku bisa mengeluarkan 600 ribu itu, sekarang, saat ini juga. Tapi? Medical check up ku? Bagaimana pula dengan rencanaku untuk mengganti handphone yang hilang? Lalu bagaimana pula dengan netbook ku yang diambil orang, pada saat aku sedang tidak berada di kostan. Lalu dengan jam tangan ku? Oh Masya Allah semua berawal dari kata –bagaimana- 

Aku katakan pada hatiku, untuk apa menyimpan uang di dalam bank kalau tidak digunakan.

Ya kalau ada yang disimpan, tapi aku?

“hahahaha” aku tertawa, menertawai diri sendiri

Aku berbangga diri dengan berpikir tentang betapa malangnya diri. Tapi, sebenarnya aku tidak semalang itu.
“Dan kamu tau? Sepertinya aku akan keluarkan uang 600 ribu itu dari genggaman tanganku” ujarku

Aku segera beranjak, meninggalkan angin yang bertiup sepoi-sepoi menyejukkan.
“apapun keputusanmu, aku ucapkan selamat untuk itu” begitu ujar angin dari kejauhan.

Aku berjalan, tersenyum, sesekali mengeluarkan gigiku yang menurut bapak dan ibu
“bagus nduk, lumayan rapi” 

Sebagai akibat dari pengekangan selama hampir dua tahun, pengekangan yang dilakukan oleh kawat-kawat yang dipasangkan oleh seorang dokter gigi muda, beberapa waktu yang lalu.

“......ya, terima kasih untuk ucapan selamat mu itu” begitu balasku dari kejauhan.

Aku berlari, semakin lama, aku semakin menjauh dari sejuknya tiupan angin petang yang menemaniku merenungkan tentang lembar 600ribu itu.

Sunday, August 28, 2011

did i lose my sense of humor???

count on me, my friend

beberapa kali saya ingin menyampaikan itu pada teman saya, tapi siapakah teman saya.

Angin semilir di luar sana nampak berbisik-bisik, menjadi berisik? atau kah saya yang membuat -sense- berisik itu. Dan mengganggu tidur lelapnya gorila pink yang berada di kamar kecil saya. Malam semakin larut kawan, malam semakin larut wahai wanita seperempat abad, yang masih mengira bahwa ia masih berusia tak jauh seperti anak SMA hahahahaha, saya tertawa dan entah untuk menertawakan apa.

Menyediakan lahan hijau bagi nyamuk-nyamuk yang berdomisili satu wilayah dengan saya. Tapi, heiiii ini daerah teritorial saya. Ini kamar saya, ya setidaknya itu yang ibu saya selalu sebut -kamar ade' sefta- dan saya bangga dengan itu semua -Yesss- saya memiliki daerah teritori. Dan kisah saya kali ini semakin -ngalor ngidul- tidak keruan kemana arah dan tujuannya.

Lets go girl hohohoho

Tuesday, August 16, 2011

Nyonya Tua, sebuah cerita, analogi

Dia lah nyonya tua, rekan kerja yang lain menyebutnya dengan gelar "macan betina". Ketika rezim nyonya tua dimulai, terbesit rasa ragu di dalam hati ku. Bagi mahasiswa lama seperti aku, nyonya tua itu tentu akan menyusahkan langkah ku. "Aaahh" tarikan nafas panjang itu ku hembuskan, ku tatap langit biru pagi ini. Sedikit gerakan ringan yang ku sebut dengan pemanasan "satu, dua, satu, dua".

Jam dinding kamar menunjukkan pukul 8 pagi, "woi bos, katanya mau ketemu dosen pembimbing pagi-pagi, hari gini masih belum mandi" suara Andri membuyarkan lamunanku, menghentikan olah raga ringan ku. "Iya 'ndri, ini juga baru mau mandi. Lo mau mandi? mandi duluan aja, tar kalau lo sudah selesai, lo tereak aja ya". "Gak kok, gua ke kampus masih agak siangan, lo aja noh, buruan mumpung kamar mandi kagak ada yang pakai" begitu ujar andri pada ku. Tanpa babibu, buru-buru ku sambar handuk yang tersampir di pintu kamar ku. Aku dan andri kost di tempat yang sama, dengan kamar yang bersebelahan. Perkenalanku dengan andri dimulai ketika kami sama-sama menjadi mahasiswa di jurusan yang sama, jurusan Fisika.

Resah dan gelisah, entah mengapa rasa itu tidak ada di dalam hati ku. Tidak seperti rekan-rekan ku yang mulai mengkhawatirkan lamanya masa studi S1 ku. Tidak juga seperti kekhawatiran ibuku yang setiap kali ada kesempatan berbicara kepada ku, beliau selalu berkata "Tegar tegar, kamu itu kapan lulusnya nak? atau jangan-jangan kamu mau di DO

Friday, March 25, 2011

Inilah aku di suatu hari, 25 Maret, Jumat di tahun ini, 2011

Jumat, 25 maret 2011

Pagi, menjelang, seperti biasa aktifitas sehari-hari saya lakukan. Menyibukkan diri, menguras sedikit energi, demi menghilangkan rasa sepi, penat, akan sesuatu yang terlepas. Burung-burung pagi itu bernyanyi 'cuit cuit' seperti itu setiap hari. Alhamdulillah masih ada sedikit tempat untuk mereka bertengger, menegakkan sarang sebagai tempat berlindung dari panasnya matahari dan dinginnya hujan.

Meretas asa, menembus bayang-bayang gelap yang remang. Sudah ku coba menghidupkan pelita, pelita asa yang temaram, yang hampir saja padam. Tetapi angin pilu itu sungguh kuat menusuk sumsum tulang jiwa, sungguh menyayat sanubari, membuat hati tersengal-sengal, terengah-engah menjaga asa yang hampir padam.

Entah mengapa hari ini terasa begitu pilu wahai awan pagi, entah mengapa hati ini terasa begitu melankoli, titik-titik air itu hampir membasahi bumi ini, sedih. Aku ingin pergi, melangkahkan kaki, kemana? entahlah aku tak tau, menembus angin pagi, memburu nafas yang serasa ingin pergi meninggalkan diri ini. Aku pergi, ku cium tangan wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan aku, dia lah ibuku. Wanita yang menatap dunia lebih dari separuh abad. Wanita yang menghabiskan sisa-sisa harinya di atas lantai yang dingin, wanita yang mempersingkat waktu tidurnya, demi berkutat dengan dinginnya angin malam, demi berkawan dengan terik matahari dan dinginnya angin dikala hujan datang.

Dia ibu ku, aku sayang, meski terkadang lidah yang tak bertulang milik ku, yang ia lahirkan, tanpa sengaja menghujam hatinya, jauh masuk hingga mungkin terasa sakit ia ketika mendengarnya. Dia ibuku, tak lagi muda, kerut keriput mulai menghiasi wajahnya. Aku pergi, begitu kata ku, dan ketika dia bertanya kemana arah dan tujuan ku, ku katakan 'aku tak tahu' ya aku memang tak tahu. Dalam kebingungan, kekhawatiran, ia menatapku dari kejauhan. Sembari kembali mengulang 'ade, mau kemana?', aku katakan suatu tempat yang ibu memang sudah tau itu. "hati-hati" begitu kata-kata itu meluncur dari bibirnya yang tak lagi muda, mengikuti seluruh tubuhnya. Ya Allah aku menyayanginya, menyayanginya, sungguh.

Dan titik-titik air ini menggenang di kelopak mata, hangat, sedih dan rasa bersalah itu menyeruak, aku menyayangimu, wahai wanita tua, separuh abad, yang mencari nafkah siang dan malam itu, untuk aku dan ketiga saudaraku.

Bus Ekonomi, tujuan terminal raja basa,

Ia melaju kencang, ia datang setelah hampir setengah jam aku menunggu, dan menunggu hingga menjadi perhatian segelintir orang. TIdak ada teman, pembunuh rasa sepi hanya sebuah alat komunikasi, aku berbicara melalui kata dengannya, ibuku yang jauhnya beberapa ratus meter dari tempatku berdiri. Ia mencoba menghubungiku berkali-kali, membujukku untuk tidak jadi pergi, menemani ia berseloroh, bercengkrama, menghabiskan hari-hari membantu meringankan sedikit pekerjaannya. Tapi, 'maaf ibu, aku harus pergi, untuk hari ini, sore hari aku akan pulang kembali'. "Tapi, mau kemana de?" begitu tanya nya."sekedar melangkahkan kaki, menenangkan diri", demi membunuh rasa jenuh akibat -menganggur, tanpa aktifitas otak'.

Hilir mudik orang-orang, manusia yang berada di kota ini, dari desa yang satu, desa yang lainnya. Dengan berbagai macam rupa, warna, corak, bahasa, kulit mereka. Dengan berbagai macam pikiran yang silang lintang di dalam kepala mereka. Bus ekonomi ini penuh sesak, semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Asap rokok yang mengepul, menambah kadar carbon di bumi yang hijau ini, semakin tinggi. Menyedihkan, kesadaran manusia akan betapa berharganya -bumi- yang Allah berikan, masih amat kurang.

Manusia Indonesia, mungkin manusia-manusia lain yang berada di belahan bumi lain, -no idea- bahwa ada manusia seperti kami ini, bagian dari bumi ini, bagian dari bangsa ini, di sini.

Tenggelam dalam pikiran, lelah, lelap selama perjalanan. Entah seperti apa rupa, entah seperti apa bentuk ketika mata terpejam, ketika jiwa jauh berada di dalam alam bawah sadar, aku tertidur kemudian. Entah sudah berapa kali mobil ini menaik dan menurunkan penumpang, entah sudah berapa kali pula ia berhenti dan berjalan, aku tak tahu, aku tak sadar akan hal itu

"19.23, adza isya pun berkumandang, rasa sakit dari salah satu titik syaraf dirasa mulai mengganggu. Bodohnya aku, sebentuk butiran di wajahku yang ku rasa mengganggu, sudah ku usik keberadaannya dengan menekannya sekuat tenaga. -Jerawat- itu mulai memprotes tindakannya, ia meradang, hingga rasa sakit itu muncul ke permukaan. Mari kita rehat sejenak, sholat, karena kita tidak pernah tahu, kapan Dia akan meminta malaikat mautnya menjemput kita untuk selamanya

Terminal raja basa

Kota ini penuh sesak, menghabiskan waktu bersama ibu angkatku. Ibu dari seorang lelaki yang hampir saja menikahiku. Lelaki itu kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dalam sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawanya, ia pergi untuk selama-lamanya. Lebih menyedihkan ketika, karena kecelakaan itu terjadi setelah ia pulang dari rumah kedua orang tua ku. Hancur, aku, kedua orang tuanya, keluarganya, teman-temanku dan semua orang yang mengenalnya, ketika lelaki bernama Dyan Isworo itu pergi, meninggalkan dunia ini dan tidak akan kembali.

Bayang-bayang masa lalu, melambai-lambai menghantui setiap jejak yang aku langkahkan di bumi ini. Seperti apa pun berusaha mencoba untuk menegakkan kepala, menatap dunia, tetap saja, rasa pilu itu diam-diam merayap, merambat, mencabik-cabik jiwa, hati dan rasa. Sesak, tersengal-sengal, hingga terisak-isak, sedih itu tak tertahankan.

Aku, sefta marisa dwipasari jn, -jobless, unemployed, pengangguran-, ya itu kini yang tersematkan.

Hari mulai menjelang petang, wanita yang usianya lebih dari separuh abad itu, sedikit lebih tua dari usia ibu kandungku. Ia sudah bagai ibu bagi ku, ibu dari Dyan Isworo Fisika Instrumentasi 2004. Menghabiskan separuh dari hari ku bersamanya, mendengarkan ia bercerita, berkisah tentang kedua anaknya, anak lelaki yang tersisa, yang masih menjadi tumpuan harapannya. Kakak-kakak dari Dyan isworo, mereka lah yang membuat wanita paruh baya itu, mempertahankan, memperjuangkan senyumnya, walau rasa kehilangan seorang anak bungsu, anak kesayangan, benar-benar memukulnya jatuh, telak jauh ke dalam palung jiwanya.

Aku pulang, ku cium tangan wanita itu, ibu angkatku. Ku cium pipinya, aku pamit, 'hati-hati de' begitu katanya. Aku menyayanginya, begitu pun ia, akulah pengganti anak bungsunya, Dyan Isworo yang sudah meninggalkan kami semua. 

BUS DAMRI jurusan Tanjung karang - terminal Rajabasa

Penuh sesak dengan manusia, beragam usia, beragam bau, peluh keringat bercampur di dalamnya. AC yang menyejukkan sedikit menurunkan tingkat emosi manusia, akibat dari cuaca panas yang menghembuskan nafasnya.

Sudah hampir 2 bulan, murni aku tidak bekerja. Sudah hampir 5 bulan, hal bernama -gaji- itu tidak aku terima. Ibu angkat ku menyadarkan aku akan hal itu, senyum miris aku sunggingkan, menyembunyikan rasa kekhawatiran akan sesuatu yang bernama -uang-. 

Bus ini terus melaju, kencang, semua ingin segera mengakhiri penderitaan dari duduk, berdiri berdesakan, dan dari bau keringat manusia yang beragam macam, yang sudah bercampur baur dengan bau matahari dan asap kendaraan.

ketika Supir bus DAMRI berteriak ANJING!!!

-Anjing- begitu teriak supir bus DAMRI, beberapa saat setelah sesuatu menyebabkan ia menginjak pedal rem secara tiba-tiba, hingga membuat beberapa penumpang wanita berteriak terkejut karenanya. Apa gerangan, emosi pak supir terpancing tiba-tiba. -Ooo- begitu ujar beberapa penumpang, mengetahui bahwa yang menyebabkan pak supir tersulut emosinya adalah ketika seorang wanita bersama seorang bocah lelaki di belakangnya, mengendarai motor dengan tidak hati-hati, membahayakan nyawa orang lain dan diri sendiri.

Di sini lah aku, kembali, terminal Raja Basa

-Aku pulang-,

di dalam bus, terlena dalam setiap lantunan lagu yang membangkitkan memori, yang menstimulus setiap ujung-ujung syaraf yang berada di kepala. Mereka bersinkronisasi dengan hati, rasa pilu itu kembali menyeruak, masa lalu itu kembali lagi. Helaan nafas panjang, berat, sesak, itu yang aku rasa, itu yang aku rasa.

Pabrik itu masih seperti dulu, hanya pagar biru itu membuat ia seperti sesuatu yang baru, karena dahulunya pagar itu lusuh, begitu menampakkan ketuaannya. Aku melongokkan sedikit kepala ku, melihat dari dalam bus Penantian Utama jurusan kotabumi, yang melaju kencang. Beberapa detik, aku menatap, tumpukan-tumpukan karet itu sudah mulai meramaikan. -Ya, pabrik itu sebentar lagi akan beroperasi, sebentar lagi akan berjalan, seperti dahulu, ketika pertama kali aku bekerja di situ-.

Titik-titik air hangat itu menggenang, ada setitik rasa yang ingin menimbulkan, memunculkan kata, rasa -penyesalan-. Seandainya dahulu aku tidak menerima tawaran kerja di Perusahaan Otoparts itu, tentunya aku masih bisa berada di situ, di pabrik itu. Mengasah otak, menghibur alam pikiran ku, dengan ilmu pengetahuan yang selalu baru dari waktu ke waktu. Tapi, itu sudah berlalu, pabrik karet itu tinggal masa lalu, aku bukan lagi bagian dari mereka, aku hanya mantan -Kepala Laboratorium- yang dulu pernah berada di sana.

Berpikir, sedih, pilu itu, sesal itu menghantui, tapi apakah perlu? Keputusan sudah diambil, penyesalan tidak akan berujung pada sesuatu yang membawa matahari di dalam hati ini cerah kembali. Aku, saya, bukan tipikal manusia yang senang menyesali sesuatu yang sudah terlepas dari tangan. Mengundurkan diri, mungkin memang itu jalan yang harus saya lakukan. Memang saat ini aku tidak berpenghasilan, -tidak apa-, sesuatu itu memang sedang Dia sembunyikan, sebagai pengganti dari apa, dari pekerjaan yang sudah aku lepaskan.

Mengingat sebuah perusahaan Otoparts yang membatalkan pekerjaanku, karena Jilbabku, karena pakaianku. Menyesal? tidak, aku tidak mau itu, percaya, aku percaya, sinar matahari itu akan menyinari setiap pori-pori hidup ku. Aku percaya, angin kehidupan itu akan kembali menghembuskan sejuknya, di setiap bulu roma jiwaku. Penyesalan akan waktu yang terbuang, beberapa bulan (sebagai akibat dari gelar PENGANGGURAN) yang nampaknya menyebabkan otakku, kepalaku, pikiranku, membeku, membisu, kaku? Tidak, tidak perlu itu, ilmu itu akan aku dapatkan, sudah aku dapatkan, ilmu itu tentang kehidupan, ilmu itu tentang bagaimana mengikhlaskan setiap apa-apa yang terlepas dari tangan.

Ilmu tentang dunia, tentang kalkulasi matematis, tentang analisis, ya memang belum aku dapatkan, karena aku masihlah seorang pengangguran. Tapi, ilmu tentang kehidupan, ilmu tentang keikhlasan, ilmu tentang kesabaran, itu yang saat ini sedang dalam genggaman. Dia mengajariku banyak hal, Allah memberitahu semua hal itu, ilmu pengetahuan itu, Dia mengosongkan pikiran ku dari ilmu dunia yang silang lintang membutakan mata hati yang aku punya.

Ini memang jalannya

Dan pilu itu, sedih itu, tusukan rasa yang menghujam jiwa itu bukan karena -Gelar pengangguran itu-, bukan hanya karena -tidak ada aktifitas otak tentang ilmu analisis dunia itu-, tetapi karena sesuatu, sesuatu yang meninggalkan ku, yang selalu meninggalkan ku, orang-orang yang penting di dalam hidup ku, yang menjadi penghuni di dalam hati ku, yang berkata -mencintai ku- untuk kemudian pergi, melangkah, meninggalkan aku dengan serpihan hati yang tercecer, tertiup angin di suatu hari yang kelabu, pekat, dan menyayat.

Aku tidak ingin menyesal, aku tidak ingin menyesal, aku ingin melepaskan, aku ingin mengikhlaskan setiap anak manusia yang datang, kemudian pergi meninggalkan. Sisakan harapan, secuil harapan, sisakan cahaya, walaupun temaram. Bila ia datang, biarkan temaram itu menjadi terang benderang. Bila ia sudah melupakan, biarkan temaram itu tetap temaram atau relakan ia untuk padam. Mari membuka jendela jiwa, mari kembali menata cahaya hati agar ia hidup kembali, agar ia mampu kembali menerangi setiap sudut yang ada di dalam jiwa ini

itu memang jalannya, itu memang jalan Nya 

Thursday, March 10, 2011

Jejak langkah kajut Rosidah

Pernah mendengar namanya? belum? ya tentu saja, saya pun sangat jarang mendengar nama Rosidah di telinga saya. Seorang wanita tua, nenek tua, atau dalam bahasa daerah sumatera, kata nenek sama dengan kajut dalam bahasa keseharian mereka.

Kajut rosidah sudah tidak lagi muda, tapak kakinya sudah tidak lagi gagah, setiap kali ia akan beranjak dari tempat duduknya, lutut kanan selalu ia gunakan sebagai penopang. Menengok sedikit kisah tentang seorang anak manusia, yang lahir pada era tahun 1930-an, zaman pendudukan Belanda dan Jepang. Memang bukan sosok yang terkenal, tidak juga dikenal, tapi akan saya buat menjadi dikenal, setidaknya melalui tulisan.

Siapa beliau? mengapa saya mengangkat kisahnya sebagai bahan acuan kontemplasi, renungan bagi diri saya pribadi. Apa istimewanya beliau? artiskah? seorang tokoh kah? atau apa? Kajut rosidah bukan siapa-siapa, setidaknya menurut saya.

Friday, August 27, 2010

Ini tentang jaman Dulu, saya belum kalah

Dulu, pikir-pikir puasa itu ya menahan lapar dan dahaga. Tahapan paling berat menahan lidah, mata, hati dan telinga dari mengomentari orang-orang yang agak-agak aneh. Hingga akhirnya itu manusia-manusia ciptaan Allah, menjadi bahan berita layaknya selebrita.


Tahapan lain adalah sabar dan menahan amarah. Ketika memang ada sudut-sudut kosong yang dimanfaatkan oleh si setan untuk memancing titik kesabaran untuk sampai di ambang batas. Lalu berusaha menggeser-geser paradigma, agar akal pikiran saya berkata bahwa 'kesabaran ada batasnya', hingga rasa amarah itu tiba dan muncul ke muka. Tapi, nampaknya masih bisa lulus, meskipun tersendat-sendat, tergopoh-gopoh sembari terengah-engah


Tahun ini

Semakin bertambah usia, bahan uji mengenai apa dan seperti apa inti dari berpuasa, semakin berat dirasa

Mungkin saya tidak lulus untuk ujian tahun ini, dan harus mengulang di tahun depan

Tapi, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah saya diberikan untuk mengulang ujian tahun depan????

Belum tentu, definetly not sure


Seorang teman

tahun lalu, dia masih bersama dengan saya dan rekan-rekan yang lainnya

merasakan buka puasa bersama, di rumahnya

tapi tahun ini, dia sudah mendahului kami semua


kita memang tidak pernah tahu akan usia

bisa jadi, puasa tahun ini menjadi yang terakhir bagi saya atau kamu atau kalian atau manusia yang lainnya

bahan uji tahun ini memang luar biasa, semua dirasa menyerang dari segala sudut kosong yang ada


Setan-setan itu nampak berpesta pora ketika saya sedang berusaha

tidak dengan terengah-engah, tetapi saya mulai merangkak, saya merasa kewalahan, saya hampir kalah

Dulu saya berada pada kursi penonton, hanya memperhatikan, menjadi komentator yang berlagak bijak dengan bahasa-bahasa tidak jelas dan seolah-olah saya mengerti tentang panggung kehidupan yang saya tonton


Sekarang, beberapa bulan terakhir ini

saya menjadi pemainnya

saya merasakan cemoohan penonton akan peran yang saya lakoni

mencoba memperbaiki, saya hampir tenggelam dalam gelap


Tahun ini

Puasa yang sesungguhnya


Harusnya saya bisa bertahan di tengah terjangan setan-setan yang berusaha mendobrak dinding-dinding keimanan saya

Tahun ini saya baru tahu puasa yang sebenarnya itu seperti apa, tepat ketika semua bahan uji itu dihadapkan pada saya

Inilah ujian yang sesungguhnya bagi saya

Inilah tentang menahan nafsu yang sebenarnya

Mungkin inilah hakikat yang sebenarnya dari menahan nafsu itu


Saya tidak mau kalah

Tapi, bila memang saya kalah, biarkan saya kalah dengan terhormat

Biarkan saya kalah setelah saya berusaha dengan semua energi dari keimanan yang tersisa

Tapi saya belum kalah


Setidaknya ya Rabb

Berikan saya kesempatan untuk kembali

Sebelum malaikat maut Mu menjemput saya suatu hari nanti

Thursday, October 22, 2009

aku-kontemplasi-berdamai dengan diri

Diary itu sudah lama ditinggalkan, hanya sesekali menjumpainya untuk mencatat sesuatu, untuk merekamnya sebagai sebuah kebanggaan kemudian menjadi sombong diri merasa itu sebagai sebuah prestasi.

Kadang mereka tak ubahnya menjadi sebuah koleksi pribadi di dalam diary, kadang menjadi alat penghibur ketika hati memang benar-benar butuh untuk dihibur meskipun diary itu sendiri mati, tak bernyawa tak juga dapat berkata-kata.

Ada yang katakan hebat, entah darimana letak hebatnya, aku tak tahu. Mungkinkah karena permainan kata-kata itu? Aku pun tak tahu. Aku manusia semua tahu akan hal itu, tidak lebih hebat dari manusia yang lainnya, tidak juga mulia karena memang aku bukan manusia yang pantas dimuliakan oleh manusia yang lainnya. Pada dasarnya, aku hanya manusia biasa dengan sekelumit kisah, dengan segunung atau mungkin lebih, aib yang Dia simpankan, yang Dia sembunyikan dari manusia yang lainnya. Tetapi inilah aku, maka jangan sekali-sekali menganggap lebih tentang aku.

Dahulu, sebelumnya mari kenali diriku, aku adalah wanita. Sebut saja aku begitu, karena memang begitu jarang aku meminta manusia yang lainnya untuk menyebut aku dengan sebutan “Wanita”.

Wanita biasa, memahami cita-cita dahulu. Dengan seabrek aktifitas, sempat aku berpikir bahwasannya aku akan menjadi orang besar, berpengaruh yang kemudian dengan pengaruh itu aku bisa mengubah apa-apa yang ada di sekelilingku. Bisa membuat sesuatu yang biasa menjadi nampak berbeda, bisa membuat sesuatu yang bukan apa-apa menjadi sesuatu yang bermakna. Dan pada puncaknya, aku ingin menjadi manusia yang hebat di mata manusia yang lainnya, bodohnya, sombongnya.

Beberapa tahun berlalu, ada beberapa hal yang semula kaku, seperti beku, mulai memuai, mencair, mulai mengalir seiring dengan perjalanan waktu, seiring dengan perubahan yang terjadi di dalam diri dan aku menyebutnya dengan “proses pendewasaan diri”. Idealisme-idealisme yang kadang membuat buntu, falsafah-falsafah yang kadang kaku hingga membuat diri sendiri terganggu, hingga membuat bagian terdalam di dalam diri berteriak “AArrrgghhh aku tak tahan lagi dengan segala ke-perfeksionis-an yang kamu pertahankan itu”.

Meledak, hampir meledak, perlu waktu untuk berdamai kemudian meredamnya hingga memunculkan berbagai resolusi-resolusi bahwa diri tidak bisa terus begini. Berputar-putar, berpikir, berkutat di dalam ruang berpikir untuk mendapatkan hasil dari pemikiran yang mendekati kematangan sebagai akibat dari sebuah kontemplasi yang panjang. Hingga akhirnya, semua berubah ketika niat untuk merubah itu berubah dari yang besar menjadi mendasar. Dari yang fenomenal menjadi fundamental.

Aku pikir, saat ini aku dan wanita itu berpikir. Mungkin aku tidak bisa menjadi manusia yang hebat di mata manusia yang lainnya. Mungkin juga aku tidak bisa menjadi wanita yang hebat di mata wanita yang lainnya.

Baiklah, mari berdamai dengan sisi ego yang bersemayam di dalam diri. Mari mengubah sudut pandang hingga yang negative dapat berubah menjadi positif, hingga yang nampak tak bermakna bisa berubah menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat bagi semua. Mungkin aku bukanlah apa-apa di mata manusia yang lainnya, tapi aku akan menjadi apa-apa di mata keluarga. Mungkin aku wanita biasa di mata wanita dan manusia yang lainnya, tapi aku akan menjadi wanita luar biasa di hadapan dia yang Dia tunjukkan, yang Dia tuliskan bahwa dia yang akan menjadi teman hidupku nantinya.

Mungkin aku adalah wanita-wanita pada umumnya, tapi aku akan menjadi wanita yang penuh dengan sesuatu yang bermakna ketika berjumpa dengannya teman hidup yang Allah berikan padaku nantinya. Mungkin aku bukan wanita hebat di mata mereka, tapi aku akan berusaha menjadi wanita yang hebat di mata suami dan anak-anaknya.

Kadang, berpikir, akan kubuat dia yang Dia berikan padaku menjadi manusia, hamba Allah yang paling beruntung di dunia karena bisa menjadi teman hidupku, karena dia yang Dia pilihkan untukku, sudah mencintaiku karena besarnya cintanya pada Nya.


ha...ha...ha.. aku tertawa, terpaksa, seperti inilah aku kiranya.

Wednesday, September 2, 2009

Rasanya saya mau berlari

"rasa-rasanya saya ingin berlari", begitu kata wanita itu.
"berlari? maksudnya?" saya tak mengerti.
"ya berlari, berlari menghindar" katanya "saya mau ganti nomor Handphone cep, ini nomor saya" dan dia pun menunjukkan barisan-barisan angka sebanyak 12 digit pada saya.

"Kenapa harus ganti nomor? Apa ada yang ingin kamu sampaikan pada saya? sampaikan saja, insya Allah saya akan mendengarkan". Ia tersenyum sinis, ia tersenyum pahit lalu "mendengarkan? bercerita? saya sudah lupa bagaimana caranya bercerita. Saya sudah terlalu sering mendengarkan keluhan manusia, saya bosan cep. Dan karena itu semua, saya lupa bagaimana caranya bercerita" Ia menundukkan wajahnya, menatap barisan-barisan ubin yang tertata rapi. Entah apa yang dilihatnya, yang saya tahu, dia mencoba mengalihkan pandangannya dari saya.

"Mungkin kamu bisa mulai dengan apa yang sedang terjadi padamu saat ini. Misalnya tentang kenapa kamu harus berlari atau lebih tepatnya menghindari masalah"

"Ummm" dia diam agak lama, menekuri lantai untuk kemudian "ada yang menghubungi saya cep, tadinya saya pikir dia kakek saya. Ternyata bukan cep humphhh" dia menghela nafas panjang, sedikit berat menceritakan dan saya hanya duduk diam, mendengarkan.

"Kamu ingat, saya pernah bercerita tentang mereka yang melamar saya cep?" saya mengangguk. "Beberapa dari mereka mulai menghubungi saya lagi cep. Dulu saya punya alasan menolak mereka dengan berkata -saya masih sekolah-, sekarang alasan itu sudah tidak ada lagi cep. Saya bingung cep, semua cara sudah saya coba, semuanya cep, semuanya dan kamu tahu itu semua. Tapi, tetap saja cep, saya tidak bisa berbuat apa-apa cep. Mungkin kamu anggap saya berlebihan, tapi buat saya ini menyiksa cep, ini benar-benar mengganggu kehidupan saya" ia kemudian terdiam, menundukkan wajahnya, matanya mulai berkaca-kaca.

Seberapa berat yang ia rasakan sebenarnya?

"Bagaimana dengan temanmu yang pernah kamu ceritakan dulu, yang pernah berkata -misalkan- itu"
"Dia? Humphh, belajarlah dari pengalaman orang lain cep, jangan pernah berharap pada manusia" dia menghela nafas panjang, "Dia punya kehidupan sendiri cep, saya tidak pernah akan bisa masuk. Kalimat yang dulu dia sampaikan pada saya, nampak seperti gurauan cep, sepertinya kalimat itu begitu sepele baginya. Sepertinya kalimat itu dianggapnya hanya angin lalu".

"Saya sudah lelah cep, saya sudah menyerah padanya, saya sudah bosan menunggu. Biar dia lakukan apa yang dia mau lakukan, Hasbunallah wa ni'malwakil cep. Karena kebodohan saya beberapa waktu yang lalu, akhirnya ia berhasil masuk ke dalam kehidupan saya. Dia hanya menimbulkan luka cep, dia tidak pernah berniat menyembuhkannya" wanita itu kembali terdiam. "Lagi pula, dia orang baik cep, dan orang baik akan bertemu dengan orang yang baik pula. Saya masih jauh dari baik cep, makanya tidak bisa bertemu di satu titik". "Dan kamu tau cep, saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Pintu hati saya hanya untuk Nya, kembali hanya untuk Nya, tidak ada lagi benda asing yang boleh masuk" begitu tambahnya.

Matahari pagi semakin meninggi, alunan lagu silk road serasa menyayat hati. Saya tidak bisa merasa kasihan pada wanita itu, karena pada dasarnya ia memang tidak memerlukan belas kasihan itu.

"Kamu tau cep, wanita itu mau menikah bukan karena nafsunya, tapi karena fitnah yang selalu membuntutinya"

Ia kemudian berdiri, lalu beranjak pergi. "Tunggu dulu, apa maksud dari kalimatmu itu?"

"Sudah sampai jumpa, terima kasih sudah mendengarkan, terima kasih sudah membuat saya kembali merasakan seperti apa rasanya bercerita, Assalammu'alaikum" begitu katanya dari kejauhan.

Wanita itu berlalu pergi, semakin lama semakin hilang dari pandangan. Ia berlalu pergi tanpa menjawab pertanyaan yang saya ajukan. Ia berlalu pergi meninggalkan saya dalam kebingungan.

Tuesday, September 1, 2009

Jangan Salah Obat untuk Hati

Saya bukan penyembuh bagi luka hati manusia. Luka yang disebabkan oleh manusia yang lainnya. Saya hanya teman, teman yang bersedia mendengarkan bila diminta, teman yang bersedia memberikan solusi bila “ditanya”. Saya bukan obat, saya bukan antibiotic, saya tidak punya kuasa untuk menyembuhkan penyakit hati akut yang menyerang kalian-kalian yang bercerita.

Tidaklah bijak bila saya menempatkan diri saya sebagai obat, dan ketika mereka sudah merasa ketergantungan dengan saya, dan ketika saya terpaksa meninggalkan mereka, yang ada saya hanya membuat luka baru, bisa jadi lebih dalam dari sebelumnya.Saya tidak ingin masuk, kecuali hanya berdiri di depan pagar, untuk sekedar bertanya “apa kabar mu, keluarga mu, pekerjaan mu, dan mungkin sebagai bonus kamu boleh bercerita tentang luka hatimu akibat wanita-wanita itu. Tapi, menempatkan posisi untuk menggantikan wanita-wanita itu untuk menyembuhkan luka, maaf, saya rasa, saya pikir, saya bukan orang yang tepat.

Banyak yang main hati ketika ada sesosok anak manusia yang masuk ketika penyakit hati melanda, yang kemudian salah satu diantaranya atau bahkan keduanya merasakan “jatuh hati”. Dan ketika hanya salah satu pihak yang merasakan, maka yang timbul adalah pengharapan. Karena si sosok manusia itu mampu menghiburnya ketika rasa sakit itu dirasa.

Obat yang salah, manusia yang tadinya terluka, mungkin merasa ada pengganti yang bisa menghiburnya. Tetapi, pada dasarnya ia hanya membuka luka baru karena ternyata ia kembali mengharap cinta, kasih sayang pada manusia.

Saya bukan obat, saya hanya manusia, manusia pendengar. Saya tidak bisa, tidak akan pernah bisa menggantikan posisi wanita yang pernah menyakiti hati mereka, karena hanya Sang Pemilik hati yang bisa menyembukannya, hanya Dia yang mampu menentramkannya. Tapi, beberapa dari mereka kembali membuka luka lamanya dengan orang yang sama. Entah apa yang ada dipikirannya, karena “keledai sekalipun tidak akan jatuh ke lubang yang sama”. Ada pula yang menggantungkan harapannya pada wanita, pria lainnya.

“helaan nafas berat saya hembuskan”

Saya sudah berbuat semampu yang saya bisa, sisanya, kalian yang teruskan kawan. Karena itu jalan hidup kalian, kalian yang memilih, kalian pula yang menentukan pada apa dan siapa cinta itu kalian labuhkan.

Monday, August 31, 2009

Pada dasarnya, Pria dan Wanita

Pada dasarnya, peraturan itu ada untuk dilanggar. Seakan tidak percaya, tentang bagaimana beberapa orang bisa menerapkan peraturan, kedisiplinan, sedemikian rupa, sehingga manusia-manusia di dalamnya, tunduk dan turut serta menjalankannya. Ada yang pada awalnya dengan terpaksa, ada yang acuh-tak acuh tetapi tetap menjalankan juga, ada juga yang melanggar untuk kemudian dengan sendirinya mematuhinya.

Berdasarkan, penelitian orang-orang yang berada di wilayah barat sana. Bahwasannya pria hanya mengeluarkan 7000 kata dalam satu harinya, dan wanita 20.000 kata. Luar biasa beberapa kali lipatnya.

Bagaimana pria diminta begitu bersabar untuk mendengarkan si wanita yang bercerita, guna menghabiskan jatahnya yang ’20.000’ itu. Bahkan hingga waktu menjelang tidur tiba, si wanita tetap saja ‘keukeuh’ dengan ceritanya, sementara suaminya hanya menjawab sekenanya dengan berkata “ya, ooo, hmm” dan masih banyak kata-kata singkat lainnya. Hingga, pada akhirnya si wanita bercerita atau sebenarnya ia mendongeng untuk suaminya???

Buat sebagian wanita, adalah hal yang menjengkelkan ketika sedang asyik bercerita, tiba-tiba ketika sampai pada saat dimana si wanita memerlukan pendapat “menurut abi bagaimana? Menurut mas gimana? Menurut kakak gimana? Menurut Aa gimana?” dan yang terdengar hanya “ZZZzzzzzZZZ”, ternyata sang suami sudah terlelap terbawa ke alam bawah sadarnya.

Beberapa melengos, mengeluh kesal, beberapa mungkin ada yang tersenyum melihat polah suaminya, mengingat betapa lucunya, menyadari bahwasannya ternyata ia terlalu banyak bercerita, sehingga nampak sedang mendongeng saja. Beberapa merasa kasihan, menyadari betapa suaminya begitu kelelahan akibat aktivitas seharian demi ia dan anak-anaknya.

Terserah bagaimana mau menanggapinya.
Renungan sederhana, ia saya tuangkan karena rasa kesal yang muncul sebagai akibat dari mahasiswa-mahasiswa yang mengadakan buka puasa di asrama Annisa. Bukan masalah dengan buka puasanya, tetapi volume suara yang dihasilkan oleh peserta-peserta yang mengikutinya. Hingga menjelang adzan isya menggema, suara-suara itu masih terdengar keras dan sumbang di telinga.
Suara wanita yang tertawa-tawa, senang, riang. Suara baritone para lelakinya, yang diiringi gelak tawa. Suara mereka yang bersahut-sahutan, berlomba-lomba dengan suara adzan dari masjid yang berada tak jauh dari asrama saya, dan saya terganggu, mereka mengganggu. Tidak nampak terdengar akan mengecil volume-volume suara itu, hingga akhirnya saya keluar kamar dan berkata “maaf ini sudah masuk waktu sholat isya, tolong suaranya dikecilkan”. Tidak ada yang hening, teriakan, gelak tawa pria dan wanita, tetap saja keras terdengar.

Saya hanya diam, melihat dari kejauhan, beberapa menit agaknya, hingga akhirnya “sssttt, suaranya” begitu ujar beberapa di antara mereka. Pria dan wanita, mungkin itulah kenapa pria dan wanita harus ada batasannya. Saya heran, bagaimana rasanya tertawa, berteriak di saat adzan berkumandang. Berpikir, mencoba mengingat, seingat saya teman-teman saya tidak sampai sebegitunya, yang lelaki tidak akan betah berlama-lama karena mereka sadar, tempat tinggal saya isinya wanita semua, yang wanita pun tidak sampai sebegitunya dalam mengeluarkan suara, kecuali di kampus dan tempat-tempat dimana sekiranya tidak akan mengganggu manusia di sekelilingnya.

Beginilah dunia dengan banyak macamnya manusia yang berada di dalamnya. Saya ingin menjadi manusia individu bila menyadari bahwa nampaknya bagi mereka “peraturan itu ada untuk dilanggar”. Tapi hati saya tidak pernah mengizinkan begitu, ia tetap saja usil,ia tetap saja jahil, ia tetap saja ingin tampil, ia tetap saja ingin bersuara, menyuarakan kebenaran katanya.

Tapi kebenaran menurut hati yang saya punya, belum tentu benar di mata mereka karena setiap kita memiliki sudut pandang yang berbeda.

Wednesday, August 26, 2009

Mereka atau saya yang memasang???

Part Two

Tiba di dalam, saya menjadi tameng bagi teman-teman perempuan saya yang lain, pasang badan istilahnya, atau mereka yang memasang badan saya di depan???. Hingga akhirnya, si wanita pegawai pelayanan jasa rektorat berkata, dengan nada tinggi tentunya “saya kan sudah bilang, gak lihat saya lagi ada kerjaan”. Gdubbrakkkk, saya kaget mendengar si wanita marah-marah, ‘menyemprot’ saya dengan kata-katanya. Humph, kalau bukan karena Allah sudah saya balas dengan nada yang serupa, tapi yang keluar hanya “iya mbak, tapi ini mbak tadi bilang setengah jam, ini sudah setengah jam”. Tidak ada kata maaf, yang ada hanya “nanti, saya lagi sibuk” begitu kira-kira balasannya sembari marah-marah tentunya.

Saya dan teman-teman saya pun melangkah pergi, sembari menahan rasa kesal yang membuncah di dalam dada, saya berjalan lebih dulu dari teman-teman saya. Tak lama, seorang teman saya berkata dengan nada kesal tak percaya, karena ternyata si wanita mengatakan kata-kata yang tidak pantas menurut ukuran dia “cep, mbak tadi itu bilang –bla…bla…bla-“ begitu ujar teman saya saat itu.

Saya hanya bisa menarik nafas panjang, menahannya sekejap mencoba memberi waktu pada hati dan kepala agar tersinkronisasi hingga tidak terbawa emosi. “biarkan saja mbak, ini kan bulan ramadhan, biar saja si mbaknya bisa batal puasanya, capek sendiri dia nantinya karena sudah marah-marah”. Tiba-tiba, “iya de, biar batal puasanya. Sudah tunggu di luar aja ya, nanti masuk lagi. Biar aja mbaknya marah-marah” begitu kira-kira ujar dua orang bapak pegawai rektorat bagian akademik yang kebetulan berada di tempat itu. Tepat saat dimana kami berlima ‘dimarahi’ habis-habisan oleh wanita cantik itu.

Bersyukur saya tidak mendengar apa yang wanita cantik itu katakan. Bersyukur pada Nya, saya tidak perlu mendengar kata-kata tidak patut, yang bila saya mendengarnya, bisa jadi saya tidak jauh berbeda darinya, dari wanita cantik, petugas akademik. Bisa jadi saya berbalik memarahinya, karena kata-kata tidak patutnya.

Dia wanita yang cantik, ya menurut ukuran saya. Maka sudah seharusnya tindakannya, tingkah lakunya, kata-katanya, cantik pula sesuai dengan wajahnya. Terlebih lagi wanita cantik itu berada pada posisi dimana dia harus melayani manusia setiap harinya. Tapi, mari kita coba mencari beribu-ribu alasan untuk memaklumi ‘semprotan emosi’ yang ia arahkan pada kami siang ini.

Mungkin saja ia sedang ada masalah yang belum terselesaikan, hingga terbawa dan secara tidak sengaja ia tumpahkan pada kami siang ini. Mungkin saja ia sedang datang bulan, ya biasanya pada saat-saat itu emosi seorang wanita sedang berada dalam keadaan tidak stabil. Mungkin saja, ia sedang kelelahan karena tugas yang membebaninya selama beberapa hari ini, mengingat jadwal wisuda tinggal beberapa hari lagi.

Hmmmhhh, menarik nafas panjang, Form B sebagai salah satu syarat untuk wisuda sudah selesai kami kumpulkan. “terima kasih mbak, bu” begitu ujar saya pada wanita itu dan seorang ibu paruh baya yang berada tak jauh dari si wanita berada.

Saya pun melangkah pergi, diikuti beberapa orang teman saya lainnya. Dan setibanya di luar, dua orang teman saya bergumam kesal “mbak itu bla…bla..bla”. Lalu “bla..bla…bla”, humphhh beginilah wanita, dan saya wanita pula. Maka, saya katakan pada mereka berdua, teman-teman saya yang cantik dalam rupa dan akhlaqnya “yang sudah lewat, ya sudah. Yang penting urusan kita untuk wisuda sudah selesai. Kalau si mbaknya marah-marah, ya biar saja, kita ndak usah ikut-ikutan. Biar mbaknya sendiri yang rugi, sudah ndak usah diingat-ingat lagi, sudah lewat”.

Senyum sumringah, cengar-cengir ndak jelas, mereka tampakkan. Kami pun berlalu pergi, meninggalkan gedung rektorat kampus ini. beginilah wanita dengan dunianya, beginilah wanita dengan segala apa yang ada di dalamnya, termasuk wanita.

Jadikan sholat dan sabar sebagai penolongmu

"Setengah jam, tunggu di luar" begitu katanya

Part One

Saya pikir Alhamdulillah saya tidak marah-marah, saya pikir, Alhamdulillah saya tidak mendengarnya.

Ini bulan puasa, ini bulan ramadhan, ini bulan mulia, ini bulan penuh pengampunan bagi yang bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, dan nampaknya saya belumlah menjadi manusia yang mampu memanfaatkannya dengan sempurna. Beragam macam iklan bertebaran di media masa, untuk menarik simpati pemirsa Indonesia yang sebagian besar beragama muslim, terbanyak di dunia. Mulai dari iklan makanan, minuman berbuka, sampai iklan handphone dan kartu selular yang menawarkan content-content khas ramadhan, untuk memperlancar ibadah, begitu inti dari produk mereka.

Terserah, sah-sah saja sepertinya dan darimana sudut pandang saya hingga mengatakan bahwa tindakan mereka sah-sah saja? Entahlah, saya juga tidak tahu darimana asumsi saya bermula.

Hari ini, lampung panas, ya memang cuaca propinsi ini selalu panas. Hari ke hari, minggu ke minggu sama saja, yang ada rasa gerah, panas, hingga menyebabkan mereka yang baru pertama kali menginjakkan kaki di propinsi ini akan berkata “Lampung panas”, wajar begitu kata hati saya menimpali pendapat seorang kawan saya. Lampung panas, tapi, tidak menjadi landasan bahwa semua orang yang berada di dalamnya harus selalu berada dalam kondisi panas. Dalam keadaan yang tidak mampu mengontrol emosi, hingga sesukanya, semaunya melampiaskan kekesalan kepada sesiapa yang secara administrasi harus berurusan dengan mereka.
Kenapa administrasi????

Karena dari sinilah kisah itu bermula.
Gemuruh terdengar, awan hitam yang menggantung mulai menjatuhkan titik-titik airnya ke bumi, limpahan rahmat dan kasih sayang Allah datang lagi hari ini. Datang melalui air hujan yang ia turunkan, berjuta-juta rasa cemas dan harapan Dia munculkan melalui kilatan petir dan derasnya air hujan. Inilah buah dari rasa panas dan gerah selama seharian yang seakan-akan menjadi tanda awal dari akan turunnya hujan.
Wajah sumatera, garis-garis tegas melintas, tersirat, terbaca dari wajah-wajah masyarakat yang memilih untuk tinggal, diam dan menetap di dalamnya. Menetap hingga melahirkan keturunan, mulai dari anak, cucu hingga cicit mereka.
Administrasi, hari ini saya bertanya pada seorang pejabat akademik yang ada di kampus saya. “Pak, kenapa bagian keuangan dan bagian akademik selalu marah-marah?”, begitu pertanyaan saya saat itu. “Entahlah, mungkin karena mereka selalu bertemu dengan mahasiswa” begitu jawab singkat pejabat akademik yang ada di fakultas saya saat itu.

Bersyukur saya tidak mendengarnya, kata-kata pegawai rektorat yang sebenarnya, bila saya mendengarnya mungkin entah seperti apa jadinya emosi saya saat itu. Wanita cantik itu berkata dengan nada yang tidak menyenangkan menurut saya dan beberapa orang teman saya. Katanya “tunggu di luar, setengah jam lagi”, sudah, hanya itu yang ia katakan ketika saya dan beberapa orang teman saya menghampiri ia sembari berkata “permisi mbak, maaf mau mengumpulkan form B”.

Kami pun berlalu pergi, menunggu di luar ruangan akademik rektorat kampus ini, selama lebih dari setengah jam. Ya kami pikir sudah lebih dari tenggat waktu yang wanita itu inginkan.

Part One

Monday, August 17, 2009

Karena dunia itu -harta, tahta dan wanita-

Hujan deras membasahi bumi lampung yang katanya panas, memang panas karena letak geografisnya, panas pula masyarakat yang berada di dalamnya, tetapi pada dasarnya, semua manusia baik adanya.
Patah hati, lebih tepatnya itu yang dialami oleh seorang teman saya. Patah hatinya pula yang membangunkan saya dari lelapnya tidur menjelang siang sebagai pelengkap dari sebuah pembenaran akan munculnya alasan ‘malas’. Semakin mendukung dengan turunnya hujan yang disertai angin kencang, saya menyukainya, saya mencintai hujan yang Dia turunkan sebagai tanda kasih sayang Nya pada ummat manusia, yang terkadang berkhianat kepada Nya, yang terkadang menduakan cinta Nya.

Handphone tua itu berdering, sebuah pesan masuk. “Lagi apa cep” begitu bunyi pesannya. Saya terbangun, sembari sesekali menahan rasa kantuk yang mendera, yang menggoda kedua kelopak mata saya untuk segera mengatupkannya.

Masih patah hati dia rupanya, serpihan-serpihan perasaannya masih berserakan, hingga menyebabkan dia berkata “ya emang benar, tapi sulit pada kenyataannya. Pelajaran yang saya dapet, gak boleh mencitai wanita terlalu dalam. Karena cinta yang abadi cuma cinta pada Nya. Apa saya pantas mencintai wanita?” begitu isi pesan yang kesekian kalinya.

Whuaaahh ini yang saya tidak suka, manusia melankolie yang tidak pada tempatnya. Akhirnya saya katakan padanya, bahwa bersyukurlah ia karena Allah mau menunjukkan jalan yang terbaik baginya, bayangkan bila mereka sudah menikah kemudian si wanitanya meninggalkan ia hanya karenya “motor thunder merah”. Teman saya, dia masih muda, ya setidaknya saya masih lebih tua beberapa bulan dari dia.

Awalnya saya bertanya apa alasannya mengirimi saya pesan di tengah hujan deras yang sesekali diiringi petir yang menimbulkan ketakutan dan harapan. “BT (boring time.red)” begitu alasan awalnya, saya pikir ia merasa kebosanan karena kekasih hatinya, si wanita yang juga sama manusianya dengan saya, sudah tidak bisa lagi ber-sms-an ria dengannya.

Seperti biasa, reaksi yang biasa, teman saya itu menyangkalnya, sampai pada akhirnya “ia curhat juga”, arrgghhhhh gdUbbbRakkk, teman saya ini masih merasakan sakit agaknya. Maka ketika saya katakan “saya mau ke toko buku, gramedia”, dia mau ikut begitu katanya pada saya. Lalu “hujannya sudah berhenti, ke gramed yuk. Saya lagi butuh banget teman yang bisa nunjukin bahwa dunia gak kecil, hidup masih panjang dan masih banyak wanita di dunia ini”.

Boleh, baiklah insya Allah akan saya coba tunjukkan dunia yang saya lihat, pada dia teman saya yang sedang patah hatinya. Tapi, ketika teman saya itu berkata “naik motor”, ohhh maaf saya menolak ajakannya. Dia bilang “sekali-sekali naik motor cep, bla..bla…bla”, “ya ya ya saya juga sering naik motor, dengan ayah saya, dengan ibu saya” begitu jawab saya. Lalu “ya naik motor saja, saya jemput, kita lewat belakang” begitu balasnya.

Gdubbbrakkkkk, lewat belakang
? Memangnya penerimaan PNS, memangnya penerimaan POLISI, memangnya penerimaan Mahasiswa baru, memangnya penerimaan Bank BUMN, memangnya penerimaan siswa/i baru?. Ternyata teman saya ini tidak paham dengan apa yang saya khawatirkan. “bukan masalah lewat belakang atau depan, karena keduanya sama saja, Allah dapat melihat semuanya. Akhirnya teman saya itu menyerah juga, dia mengikuti gaya hidup saya yang kemana-mana via angkutan umum dan jalan kaki “sekali-sekali mengikuti bagaimana cara saya menikmati hidup”.

Deal, dia setuju, hanya demi apa yang dia sebut dengan “melihat dunia dari sisi yang berbeda”. Humph kasihan kau kawan, nasib mu sama seperti nasib beberapa orang teman lelaki satu angkatan yang lainnya, patah hati, ditinggalkan wanitanya.

Ada yang ditinggalkan karena ternyata lelaki yang lain lebih menjanjikan dari pada dirinya, teman saya. Lebih menjanjikan dengan mobilnya, dengan apartemennya. Ada yang ditinggalkan karena kesatria barunya membawa thunder merah sebagai kendaraan andalan. Ada pula yang ditinggalkan karena “katanya saya terlalu baik cep, jadi dianggap kakak angkat aja, biar gak ada putusnya”. Hhumphh, memutuskan hubungan dengan cara yang halus. Ada juga yang ditinggalkan karena gaya hidupnya yang bagaikan seniman, “tidur malam, bangun siang, wajah awut-awutan, mata masih merah meskipun matahari sudah berada di atas kepala”.

Begitulah bila melabuhkan cinta pada manusia, saya sudah pernah mencoba memberikan pengertian kepada mereka. Tetapi ternyata, pepatah lama memang ada benarnya bahwasannya “pengalaman adalah guru yang terbaik” bagi manusia. YUppp teman-teman saya baru mengetahui kebenarannya, baru menyadari kesalahannya ketika mereka sudah terkena batunya.

Humph, ya beginilah ketika sudah menyangkut rasa,

Beginilah rumitnya wanita, diberikan lelaki baik-baik, maka "Terlalu baik katanya". Beginilah dunia wanita, tidak akan cukup bila hanya dengan mengandalkan cinta, karena cinta tidak akan pernah dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan akan -sandang, pangan, papan-, kebutuhan akan yang -primer, sekunder, dan tersier-.

Tidak bisa menyalahkan mereka yang memutuskan teman-teman saya, karena seperti apa yang mbak tingkat saya katakan "hak mereka untuk mencari dan mendapatkan yang lebih baik". Begitulah, saya pada akhirnya hanya dapat menarik nafas panjang, harta, tahta, dan wanita memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan di dunia.

Itulah kenapa saya katakan "dunia itu semu, dunia itu sementara, dan manusia menyukai yang semu dan bersifat sementara itu".

Saturday, August 15, 2009

ME - Nunggu



Macam-macam yang manusia lakukan ketika menunggu. Contohnya ya saya ini, nungguin mbak-mbak dua orang, janjinya sie jam-jam 1.30 siang, ba'da zuhur. Khawatir telat, jadilah pas terima sms langsung aja meluncur. Lha sampai di sana, si mbak-mbaknya terlambat sampai ashar, masya Allah.

Tapi lumayan ada gambar-gambar yang bisa diambil, lumayan buat portofolio. Ngambil gambarnya kagak pakai izin pula.



Saya lupa urutannya seperti apa, yang jelas dari awal temannya si mbak ini sholat sampai selesai sholat, si mbak sibukk aja sama dandanannya. Agak terpana, takjub, and kaget waktu si mbak ini berdandan sedemikian sehingganya. He...3x lucu aja, bis saya sendiri ndak pernah sampai sebegitunya. Whuaaah jadi wanita sebenarnya ternyata ribet juga, jadi lebih baik jadi wanita sederhana saja sepertinya.



Nie dua muslimah ini lagi nungguin sholat ashar sepertinya.... Nah, kalo anak kecil ini lagi nungguin si mbaknya sholat dzuhur, kesian aja mpe melongo begitu. Daripada nganggur, ya udah aja ni anak saya ambil gambarnya.




Awalnya anak-anak ini cerita-cerita tentang kota jakarta, ehhh ujung-ujungnya tertidur juga di musholla.

Setidaknya inilah yang saya lakukan ketika saya harus menunggu selama hampir 2 jam, atau mungkin lebih. Awalnya agak membosankan, tetapi lama kelamaan menjadi hal yang menyenangkan. Ada yang saya amati, ada yang saya kerjakan, ada yang saya pelajari. Seorang teman saya menyarankan saya untuk berjalan-jalan. Ha..3x jalan-jalan bisa menjadi hal yang berbahaya bagi saya, yang seorang wanita.

Mengapa berbahaya?! karena saya wanita, berjalan-jalan di pusat kota, bisa menimbulkan lapar mata. Salah-salah yang ada di depan mata, malah dibeli semua, kan bisa berbahaya untuk psikologi, akidah, dan kantong saya tentunya.

TErima kasih untuk ME-nunggu.

Thursday, July 23, 2009

00:46 dini hari

Memanajemen sedih
menghisap semua energi yang ingin mengeluarkan air mata
tak banyak yang keluar, kecuali hanya beberapa titik saja
karena ia jatuh tertahan

Memanajemen sedih agar tidak berkepanjangan
Ya Rabbi, izinkanlah aku kembali pada Mu

Membuka lembaran layer Macromedia Flash 8
bereksperimen dengan layer-layer yang ada
membuat animasi-animasi picisan agar dapat bergerak menyegarkan mata yang melihatnya,
sedih itu lambat laun hilang, ia tergantikan

helaan nafas panjang
semua sudah Allah gariskan
semua ada hikmahnya meskipun bukan sekarang ini saya melihatnya
semua demi kebaikan saya juga pada akhirnya
maka, bersabarlah, lambat laun kamu akan berkata
Alhamdulillah semua itu terjadi pada saya

Lebih baik terzalimi daripada sebaliknya
terzalimi hati, berusaha sekuat tenaga, dengan segala daya upaya untuk memaafkan si manusia dengan berkata "dia hanya manusia, tak luput dari kesalahan seperti halnya manusia yang lainnya. Dari pada menzalimi, belumlah tentu si terzalimi mau dengan lapang hati memaafkan diri.

Angin malam berhembus, dingin menusuk.

Mencoba menembus batas dengan membuka mata hingga waktu sepertiga malam tiba. Nyamuk-nyamuk itu hilir mudik, sesekali hinggap, namun tak lama. Anggota tubuh ini dengan refleknya mengibas-ngibaskan diri agar nyamuk-nyamuk itu tak berlama-lama hinggap untuk kemudian menghisap.

Saya sedih
Aku sedih

Putus asa, inginnya, tapi Allah melarang hamba Nya yang beriman untuk berputus asa. Teori itu lebih mudah dari pada prakteknya. Mencoba menanamkan bahwa semua yang terjadi saat ini, belakangan ini, pasti ada hikmahnya, insya Allah akan berbuah manis pada akhirnya. Dan bila frasa-frasa itu diucapkan oleh hati, hingga menstimulus otak untuk bekerja, hingga diri dapat dengan tegarnya menegakkan kepala, dengan penuh semangat. Maka semua penat, sedih, sakit, marah, itu sirna dalam sekejap mata.

Tapi, ada kala dia datang lagi, putus asa itu melambai-lambaikan tangannya, hingga yang ada hanyalah air mata. Bodohnya saya, 'cengeng' sebagai seorang anak manusia. Baiklah blog, untuk kali ini izinkan saya berkata "saya juga manusia, tempatnya lupa dan alpa, pernah pula merasa putus asa, ingin pula rasanya berkeluh kesah. Meskipun hanya pada kamu, benda mati tak bernyawa. Tapi tak apa, melegakan rasanya, membuat beban yang menimpa terasa ringan meskipun tidak semuanya.

Beri saya kesabaran ya Allah, beri saya kemampuan untuk memaafkan, melupakan dan tidak mendendam. Beri saya kesabaran ya Rabb, karena hanya itu yang saya punya, karena hanya itu pula yang tersisa dari diri saya.

Tuesday, July 14, 2009

Mari menatap hari

Pagi tanggal 14 juli 2009, sedih itu sudah hilang, mencoba memaafkan sumber kesedihan, karena ia memang menyedihkan. Mencoba menelan pil pahit akibat janji-janji yang selalu diabaikan, yang kerap dibatalkan dengan kata-kata andalan melalui pesan "afwan", selalu begitu, selalu seperti itu.

Sehari yang lalu, kemarin tepatnya tanggal 13 juli 2009, ia sudah kerap kali berjanji untuk kemudian mengabari kembali melalui sebuah pesan singkat dengan berkata "afwan sefta". Aku manusia, mencoba menembus batas ke-manusiaan ku dari berkata, beranggapan bahwa "sabar ada batasnya". Mencoba mengenyahkan jauh-jauh dengan berkata "tidak apa, ya sudah", pada awalnya. Berkali-kali, kepala dan hati diliputi rasa bosan dengan janji yang sudah beberapa kali tidak pernah ditepati oleh nya, oleh dia. Dengan mengemukakan berbagai macam alasan, hingga menurut kepala saya lebih tepatnya dia mengajukan alasan sebagai pembenaran.

Kemarin, 13 juli 2009, satu pelajaran "jangan pernah berharap pada manusia", pada akhirnya kecewa itu muncul ke permukaan. Untuk kesekian kali, janjinya ia batalkan, rasa marah, sedih, kesal, bercampur baur di dalam hati saya. Enggan untuk segera beranjak angkat kaki dari masjid kampus Al wasi'i, ada rasa sedih di dalam hati yang harus aku obati, segera agar tidak berbuah penyakit hati suatu hari nanti.

Air mata itu hampir jatuh rasanya akibat rasa kesal dan kecewa yang sudah memuncak rasanya. Tapi, tarikan nafas panjang itu meredakan, mencoba merebahkan diri, sembari menata hati dan pikiran, menanamkan, menancapkan dengan sekuat tenaga di dalam hati dan pikiran bahwa "dia hanya manusia" serta sesekali mematri di dalam hati "coba posisikan dirimu pada posisinya". Sudah, selesai, sebuah pesan saya kirimkan, pesan yang terkirim karena saya memang sudah tidak dapat lagi berbuat apa-apa, bersama pesan itu saya katakan "terserah saja, saya sudah lelah, sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa".

Saat itu, ingin menangis keras rasanya, ingin mendengar suara ayah, suara ibu lalu berkata "ibu saya sedang sedih". Tapi itu hanya sebatas angan, keinginan itu saya batalkan, saya biarkan rasa sedih itu berlalu bersamaan dengan dentang jarum jam "tik tak, tik tak". Saat itu adalah saat itu, maka beberapa jam kemudian, di dalam gelap remang-remang dini hari, hari ini.

Di dalam diam, hening yang sesekali diselingi lolongan anjing tanpa henti sejak pkl 23.39 malam tadi, saya bercerita, saya tumpahkan semua, saya mengadukan apa yang saya rasakan, hingga helaan nafas itu membantu menjernihkan pikiran dengan berkata "maafkan saja", ya hanya itu yang saya punya, rasa memaafkan sembari berharap agar Dia memberikan kesabaran.

Beberapa jam berlalu, pagi ini, membukan hari dengan mengucap doa selepas bangun dan terjaga dari tidur yang tak sampai 3 jam rasanya. Semanga itu harus ada, harus tetap ada, senyum itu harus tetap disunggingkan, ditampakkan pada manusia yang lainnya, karena ada hak mereka atas diri saya. Pagi ini, yang kemarin ya itulah kemarin, sudah berlalu beberapa jam yang lalu, harus tetap melangkah, menatap hari dengan senang.


Menghirup udara pagi dalam-dalam, mendengarkan kicau burung-burung yang semakin lama semakin riuh terdengar. Sesungguhnya terdapat tanda-tanda kekuasaan Nya di balik pergantian siang dan malam, ada kuasa Nya pada burung-burung yang terbang hilir mudik mencari makan, membuat sarang, yang berkicau setiap harinya.

Cinta sebening embun, mari menatap hari dengan semangat tinggi, tidak terlampau berlebihan di dalam kurang, tidak pula terlampau berlebihan di dalam lebih. Tidak boleh kalah dengan matahari, tidak juga boleh mengalah pada burung-burung pagi, tidak juga mengalah pada hembusan angin di pagi hari, hari ini.