Pages

Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Friday, June 1, 2012

Dunia benar panggung sandiwara

Mari berbual-bual tentang kehidupan. Malam semakin larut, adzan isya baru saja selesai dikumandangkan, dan itu berarti tak berapa lama lagi orang-orang kampung akan datang ke rumah ini, untuk memulai tahlilan. Tahlilan yang sudah berlangsung sejak hari minggu yang lalu dan malam ini memasuki malam ke 6.

Di dusun ini, apabila ada yang meninggal, terkadang ada keluarga yang memutuskan untuk -mentahlilkan- anggota keluarganya tersebut sampai 7 malam berturut-turut. Bahkan, memberikan bingkisan tanda terima kasih pada tamu undangan yang datang, bayangkan kalau ada 1000 orang yang datang, sementara si keluarga yang ditinggalkan notabenenya adalah keluarga yang tidak mampu. Kalau begitu, setiap keluarga akan berdoa supaya anggota keluarganya tidak pernah meninggal, karena meninggal itu ternyata -mahal- harganya.

Setiap yang hidup akan merasai mati, hal yang pasti. Ketika kita berpikir, berangan-angan tentang yang tak pasti, merencanakan yang belum pasti, tetapi seringkali terlupa tentang yang pasti, MATI.

Dunia ini panggung sandiwara, benar-benar panggung sandiwara. Menjadi -familiar- ketika gelar sandiwara itu berubah nama menjad -drama, sinetron- dan sebagainya. Lingkungan sekitar kita tak ubahnya seperti cerita dalam sebuah sinetron kejar tayang, yang setiap hari tayang di televisi, dari hari ke hari. Tayangan yang menjadi konsumsi ibu-ibu, ibunya ibu, sebagai pengganti drama telenovela beberapa tahun yang lalu, yang dulu.

Aku bercerita tentang lingkungan tempat dimana aku tinggal, suasana yang begitu asing, atmosfer yang aku hindari, sejatinya benar-benar aku hindari, tetapi pada kenyataannya Allah menginginkan aku berada di lingkungan itu, berada di sini.

Para lelaki sudah berada tepat di bawah kamar ku, mereka sebentar lagi akan memulai membaca doa-doa, yang sebenarnya kalau diartikan dalam bahasa indonesia, doa itu untuk diri sendiri dan keluarga si pembaca doa, bukan untuk yang meninggal, karena 'doa anak yang sholeh dan sholehah' yang sebenarnya akan cepat sampai ke Almarhum, sebut saja namanya Pak Imam. Dan almarhum adalah seorang lelaki yang sudah beranak dan bercucu.

Sepeninggalnya, cucunya menangis tersedu-sedu, begitu juga ketiga anaknya, yang dua orang lelaki dan seorang perempuan. Tetapi, kepada salah seorang cucunya aku berpikir "tangismu akan terhenti ketika matamu dihadapkan pada uang -sumbangan- para pelayat itu" lalu "sedihmu pun tak akan lama, begitu diberikan mobil dari orang tuamu" begitu pikirku saat itu, dan -wallahhh- hari kedua sang cucu sudah tertawa terbahak-bahak, memerintah neneknya yang sudah tua, berkata kasar, menyanyi seperti seseorang yang gagal rencana keartisannya. Pikirku "tebakkanku sungguh jitu"

Dan untuk anak lelaki si almarhum, sebut saja namanya Ridwan yang lebih banyak diam, tenggelam dalam alam pikirannya. Bersyukurnya almarhum, karena dari ketiga anaknya, hanya dialah yang menunaikan sholat wajibnya. Harapanku saat itu, semoga anak tak lupa mendoakan bapaknya, yang sudah berada di alam sana.

Anak perempuannya sebut saja namanya Nindi, yang hanya terlihat di hari kematiannya, sisanya? dia tidak pernah nampak, karena memang sudah berpindah agama, menjadi seorang nashara/nasrani. Tetangga kiri dan kanan bergumam "sungguh berat beban almarhum, karena anak perempuannya berpindah agama". Dan pada suatu ketika, anak lelaki almarhum yang lain berkata, "dia (anak perempuan) bilang, tidak menemukan ketenangan ketika sholat, tetapi menemukan ketenangan di dalam agama barunya" begitu ceritanya.

Dan anak lelakinya yang lain, kita sebut dia dengan nama Rio, menurut cerita tetangga kiri dan kanannya, menurut cerita si nenek yang adalah ibunya si anak lelaki ini (*sebut saja namanya Yati). Katanya, tabiatnya yang buruk, tidak dapat diandalkan, melulu hanya berpikir, berbicara tentang uang. Bahkan ketika si almarhum sudah tak ada, anak lelaki ini berkata "biar saya yang urus pensiun bapak". Ibunya hanya diam, tak ingin semakin membuat kusam situasi yang memang sudah runyam.

Dunia ini seperti panggung sandiwara, benar-benar panggung sandiwara, dan keluarga ini tak ubahnya seperti cerita di dalam sebuah sinetron kejar tayang. Ketika si ibu bercerai secara agama dengan almarhum, kemudian ketika si ibu yang sudah renta itu melulu membanggakan anak perempuannya yang sudah berpindah agama, melulu menegatifkan anak lelakinya yang terakhir itu, dan begitu mengelu-elukan, membanggakan cucunya, anak dari anak perempuannya.

Seperti kisah sinetron, ketika pada awalnya si ibu dan suaminya yang kini sudah almarhum, adalah pada mulanya sebuah keluarga yang kaya raya. Kemudian sampai ibu dan bapak bercerai, kemudian anak perempuan dan anak lelakinya yang berfoya-foya, ke tempat hiburan malam, sampai ketika cucu perempuan si ibu, (*sebut saja nama cucu itu Riri) mendapati Nindi (ibunya) dan Rio (pamannya) sedang menghisap narkotika bersama-sama.

Pak imam dan ibu Yati memiliki 2 orang putera dan 1 orang puteri. Cerita dimulai ketika Ibu Yati dan Pak Imam memutuskan untuk berpisah Pada saat itu tak berapa lama, Nindi melahirkan anaknya yang kemudian diberi nama Riri. Nindi adalah seorang wanita karir yang kemudian bekerja di Ibukota, kecintaannya pada pekerjaan membuat dia meninggalkan bayinya pada ibunya, ibu Yati. Sampai suatu ketika, Nindi bercerai dengan suaminya. Singkat kata singkat cerita, nindi mengikuti jejak kedua orang tuanya -bercerai-. 

Aku temukan perceraian menjadi hal yang biasa, ketika tetangga kiri dan kanan, termasuk ibu yati bercerita tentang -si anu, si itu- dan masih banyak lagi yang lainnya -bercerai-, dengan anak satu, dua, atau tiga.

Lambat laun Riri menjadi dewasa, kemudian menjadi terpukul ketika dia dihadapkan pada 'ibunya, nindi, pindah agama'. Riri semakin menelan pil pahit ketika dihadapkan pada fakta yang tak kunjung berujung mengenai siapa ayah kandungnya. Setelah bercerai, nindi menikah lagi dengan Wijaya, orang-orang berkata -wijaya adalah ayah biologis riri', sementara suami pertama Nindi, bukan ayah biologis Riri, "cuma formalitas" begitu ujar tetangga.

Keadaan yang rumit, membuat Riri tumbuh menjadi anak perempuan yang keras. Dan semakin rumit ketika Ibu yati mendidik Riri dengan manja. Riri tumbuh menjadi gadis yang melulu berpikir tentang uang, tak peduli neneknya memiliki uang atau tidak. Bahkan, Riri pun bisa dengan mudah meneriaki neneknya, berkata kasar pada nenek yang sudah membesarkan dia, yang memasakkan air mandi untuknya setiap pagi, yang memijitinya ketika kelelahan, bahkan yang menyuapinya sampai umurnya sudah menginjak 17 tahun. Pendek kata, neneknya tak ubahnya seperti "kacung, pembantu" baginya. Persis seperti 'sinetron Hidayah yang ditayangkan di sebuah stasiun televisi swasta beberapa tahun yang lalu'.

Sampai saat ini, aku tetap tak habis pikir, kejadian seperti ini benar-benar ada di dunia. Kejadian tentang orang tua yang bercerai, kemudian anaknya pun bercerai. Tentang anak lelakinya yang menghambur-hamburkan uang orang tuanya, bahkan kesimpang-siuran cerita antara sang ibu, Yati, dengan sang anak, Rio. Semua nampak begitu membingungkan.

Tentang bagaimana Riri bisa dengan beraninya memanggil ibunya hanya dengan "Si Nindi itu sudah kasih uang belum?" atau suatu ketika "kamu yang goblok" begitu dia membentak neneknya. Atau ketika dia tertawa-tawa ketika melihat uang, ketika dijanjikan untuk dibelikan mobil oleh Wijaya, suami kedua ibunya. Meskipun pada kenyataannya, para tetangga berkata "ibu yati hutangnya banyak, bahkan meskipun rumah itu dijual, hutangnya tak tertutup". Beberapa orang bilang, "hutang itu karena Rio" ada juga yang bilang "hutang itu karena Nindi". Semua begitu simpang siur, tak jelas. Dan entah dimana letak hubungan kekeluargaan mereka, antara anak, ibu, saudara, menantu.

Karena ketika Ibu Yati mengadakan acara tahlilan di rumahnya, dua anak menantunya yang perempuan, tidak lagi nampak, kecuali di hari pertama dan kedua. Sisanya? keponakan ibu Yati dan beberapa orang tetangg membantu ibu Yati mempersiapkan segalanya. Bahkan Riri pun hanya sibuk dengan telepon genggam dan kegiatan bersoleknya.

Semua begitu membingungkan, bukan karena begitu inginnya aku untuk ikut campur ke dalam sebuah sandiwara drama. Tetapi aku tak ubahnya seperti manusia naif yang termelongo berkata "ada ya kejadian seperti ini di dunia nyata". Melulu begitu isi kepalaku berkata, bahkan sampai saat ini aku masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi pada atmosfer tempat aku berteduh kini. 

All i can do, berdoa semoga apa yang terjadi di sekelilingku saat ini, tidak terjadi pada keluarga dan orang-orang terdekatku. 

Seperti ini yang nampak ketika manusia tidak mengenal Tuhannya, tidak mendekatkan diri pada Allah ta'ala. Melainkan menjadikan dunia sebagai tujuan, menjadikan harta sebagai idaman, sebagai idola di dalam hidupnya. Dan begitu menyedihkan ketika menjadikan agamanya sebagai permainan. 

Naudzubillah, semoga Allah menjauhkan aku, keluargaku, orang-orang terdekatku dan kamu dari siksa kubur, siksa api neraka, dan tipu daya dunia. Amin

Wednesday, May 9, 2012

tentang Irshad Manji dan orang kota vs orang udik, sebuah filosofi

Saya tidak mengerti tentang 'ada apa denganmu' situs blogger.com yang sudah menemani saya sejak beberapa tahun yang lalu. Tapi, baiklah, kita kesampingkan hal itu, mungkin bukan kesalahan 'blogger.com' nya, melainkan sesuatu terjadi pada jaringan serta provider yang saya gunakan.

Lama tak berjumpa, mengotak-atik isi kepala, melampiaskan apa yang hati saya tanyakan kepada kepala saya tentang seperti apa manusia, alam, tentang kehidupan, bahkan terkadang tentang cuaca.

'tak tik tuk tek tok' seandainya seperti itu suara yang dihasilkan dari interaksi yang terjadi antara jari-jemari saya dengan tuts-tuts keyboard netbook yang kecil tapi tak mungil ini. Tentunya, akan lucu terdengar di telinga saya dan bisa jadi akan terpecah konsentrasi saya. Karena terlalu terpesona dengan suara 'tak tik tuk tek tok' itu.

Saya akan berhenti memulai selayang pandang yang sebenarnya merupakan sebuah pengalihan karena apa terkadang, apa yang ingin saya tuliskan, belum mampu untuk saya tuangkan. Maka, mari berlebih-lebihan dalam membuat sebuah metafora, perumpaan, hiperbolik, yang terkadang terlampau berlebihan.

Siang ini, di dalam sebuah kamar petak, lantai dua, menikmati remangnya cuaca dari siang menjelang senja di kota Bandung. Tepatnya, taman sari, pelesiran nomor sekian (*no saya samarkan demi keselamatan penulis). Hahahahaha, saya mulai bergurau tentang keselamatan yang lebih kepada mengada-ada.

Saya menulis, sebuah cerita, sebuah pandangan tentang seorang anak manusia bernama Irshad Manji. Sejatinya saya tidak mengenalnya, diapun sudah lebih kepastiannya 'tidak mengenal' saya pula. Pemberitaan beberapa hari terakhir ini membuat saya 'sedikit' atau memang 'tertarik' untuk sekedar mencari tahu tentang sosok yang lumayan membuat masalah di negeri ini semakin bertambah *hehehehe.


Singkat tentang Irshad Manji, dari namanya saya pikir dia lelaki, ternyata dia wanita, berusia 44 tahun, berkebangsaan Kanada, seorang muslim. Selebihnya mengenai sosok Irshad Mandi dapat dibaca di situs berita kompas.com. Saya bukanlah seseorang yang bisa dengan mudah 'fans' dengan seorang anak manusia, karena menurut saya, semua manusia sama kedudukannya. Hanya beberapa orang saja yang mampu membuat saya tertegun, kemudian serta merta saya akan berkata 'saya mengidolakannya'.

Sosok irshad manji ini cukup membuat situs berita online kebanjiran berita mengenai sepak terjangnya di Indonesia pada tahun 2012, ya setidaknya terhitung sejak kedatangannya ke Indonesia, sampai dengan ketika dia diboikot oleh ormas tertentu pada saat akan melakukan diskusi di Teater Salihara. Menurut beberapa situs berita online yang saya baca, Irshad Manji dituding menyebarkan hal-hal tentang 'transgender, homoseksual, dan lesbian' melalui bukunya yang berjudul 'Allah Liberty and Love'. Tetapi, menurut si penulis (irshadmanji red) dia tidak menyebarkan paham-paham, pemikiran-pemikiran tersebut di dalam buku yang dia karang.

Waallahualam, karena saya belum membaca bukunya. Tetapi, menurut teman saya *masih menurut pendapat orang lain, isi buku dari Irshad manji tersebut 'memprovokasi'. Tentu saya akan provokatif apabila yang membaca, sekedar membaca tanpa menganalisa, kemudian terbawa dengan alur pikiran si penulis, atau bertentangan tetapi bertentangan tersebut sifatnya merusak. Seperti memaki-maki penulis, atau menghina, menghujat salah satu pihak, seperti yang saya baca  melalui komentar-komentar pembaca berita tentang Irshad Manji di situs-situs berita online *menyedihkan.

Hal yang menjadi pertanyaan di dalam benak saya adalah bagaimana Irshad Manji bisa sampai ke Indonesia, sementara pada tahun 2008 *dia sempat menerbitkan buku juga*, tetapi tidak terkenal. Siapa yang mengenalnya? saya tidak, bahkan tidak ada pemboikotan atas kedatangannya. Lalu, tahun ini, 2012, siapa yang mengundangnya, siapa juga yang mempersiapkan, mengatur agenda diskusi Irshad Manji dengan Universitas-universitas, siapa pula yang memfasilitasinya? Yang menjadi fasilitatornya, yang menghubungkan dia pihak-pihak yang sekarang ini telah, sedang, dan akan berdiskusi dengan Irshad mengenai bukunya 'Allah, Liberty, and Love'.

Sedikit aneh menurut saya, ketika dia katakan bahwa Tuhan itu sama dengan cinta. Tetapi, bila dia perempuan, dia muslim, dia mencintai Tuhannya, dan dia paham sekali dengan konsep ketuhanan, cinta, yang saat ini dia anggap benar. Seharusnya, setiap pencinta akan melakukan segala sesuatu untuk kekasih yang dicintainya, seperti Allah perintahkan TUTUP AURAT, maka bila memang benar dia memahami konsep 'cinta', memahami Tuhannya, maka dia *irshad manji* akan menutup auratnya. Tetapi, pada kenyataannya, dia tidak.

Buku yang dia karang, pernyataan yang dia keluarkan, pemikiran yang dia tuangkan ke dalam bukunya, menurut saya kontradiktif dan Irshad Manji lebih kepada sosok yang Inkonsisten.

Dan yang saya heran, mengapa orang Indonesia sebegitu inginnya berdiskusi dengan dia? Secara gamblang, singkat, sekilas, dan dangkal, saya melihat sosok Irshad Manji adalah tipe manusia yang mencari pembenaran, bukan kebenaran. Dia lebih nampak sebagai seseorang yang mencari hal-hal yang mendukung pemikirannya, mengambil ayat sebagian lalu mengesampingkan ayat yang lain.

Lantas, hal apa yang ingin didiskusikan orang Indonesia dengan dia *Irshad Manji*?

Orang Indonesia, penyakit latahnya tidak pernah hilang. Asalkan seseorang itu berasal dari luar negeri, entah itu Amerika, Kanda, eropa atau barat sebelah ujung berungpun. Asalkan berasal dari barat, diketahui muslim, berpikiran 'terbuka' menurut mereka, maka akan berbondong-bondong tertarik. Menganggap kata-kata orang 'Barat, muslim' itu -petuah, emas, bijak-, menganggap cara pikir mereka luar biasa. Meskipun sebenarnya biasa saja.

Kemudian secara kurang ajarnya saya membuat sebuah perumpamaan. Dimana Orang Indonesia tak ubahnya seperti orang Udik, orang kampung yang dari kampung sekali. Tak mengenal listrik, tak mengenal televisi, tak mengenal alas kaki. Sehingga, ketika melihat orang kota (*orang asing, barat) datang ke kampungnya yang udik, dengan memakai mobil *meskipun butut*, yang wanita memakai rok pendek dengan konde seberat 1kg, yang lelaki dengan pakaian perlente dengan pantat tertungging-tunggi ke belakang, sembari menyunggingkan senyumnya yang memperlihatkan barisan gigi-gigi emasnya. Maka serta merta orang udik itu mengikuti orang kota ke balai desa. Menonton pertunjukan 'orang kota masuk desa'.
Sesampainya di balai desa, termelongo-melongo-lah orang-orang udik itu ketika melihat orang kota yang berbeda dengan mereka. Orang kota yang putih-putih, yang giginya terpasang emas, perak. Sampai ketika orang kota itu berbual-bual "gajah itu lebar sodara-sodara" begitu ujar orang kota.

Maka orang desa yang udik itu akan saling berbisik satu sama lain "oooooo, ternyata gajah itu lebar. Pak kades kemarin bilangnya gajah itu besar" ujar salah satu orang udik, orang udik lain menimpali "pak kades salah, orang kota pasti benar" begitu ujar udik yang satunya, udik yang lebih udik lagi tak mau kalah "mungkin gajahnya pak kades dengan gajahnya orang kota beda" begitu ujar udik paling udik dengan mimik meyakinkan. Lalu ketiga orang udik itu secara bersamaan berkata "oooooo, ya ya, mungkin gajahnya beda".

Dan kedua orang kota laki perempuan itu serta merta mendelik satu sama lain, saling melirik, memberi kode kepada sesamanya yang artinya 'orang udik mudah dibohongi'. Di lain waktu, mereka akan berkata 'orang udik mudah diadu domba', karena keesokan harinya, mengenai gajah yang besar, gajah yang lebar itu menjadi permasalahan besar. Udik yang satu dengan udik yang lain masing-masing bersikukuh dia yang paling benar, sampai perkelahian pun terjadi, antara sesama orang udik.

Dan, kampung udik yang semula damai itu menjadi rusuh, ribut, kelahi sana-sini, karena kedatangan orang kota ke kampung udik di suatu ketika.
Apa istimewanya buku itu? entahlah

Menurut Irshad buku itu tentang kebebasan, kebebasan bertanya, berpendapat. Yaaaa dari artikel yang saya baca, dia pernah diultimatum untuk menerima tanpa diberi kebebasan untuk bertanya *ketika dia berada di Madrasah.

Siapa yang bilang bahwa Islam itu konservatif? tidak menerima keterbukaan? tidak boleh kritis? tidak boleh bertanya? Hal yang salah kalau ada yang menganggap Islam itu seperti itu. Irshad hanyalah satu dari beberapa gelintir orang Muslim yang kedapatan "apes", karena bertemu dengan guru yang tipikalnya "saya guru, apa yang saya bilang kamu ikut, tak perlu banyak bertanya". Lalu apakah yang salah islam? Islam secara keseluruhan? muslim dan ulama secara keseluruhan?

Tidak, Islam tidak ada yang salah dengannya. Irshad hanya kedapatan apes karena bertemu dengan guru yang seperti itu karakternya, sifatnya. Dan guru juga manusia, lalu, apakah semua guru di madrasah seperti itu? siapa bilang? ckckckckck, sangat disayangkan ketika Irshad secara dangkal men-generalisir bahwa islam yang saat ini (*padahal yang dia temui saja) adalah konservatif). Sebuah analisa dangkal dan hebatnya lagi dengan analisanya sendiri tersebut dia menghasilkan sebuah buku, yang dijual, diterjemahkan, kemudian orang Indonesia berbondong-bondong ingin berdiskusi dengan dia tentang bukunya.

Menyedihkan, ya bagi saya menyedihkan. Hal yang menyedihkan ketika orang-orang muslim yang tidak mengenal agamanya sendiri, kemudian serta merta tertarik dengan Irshad kemudian beranggapan bahwa Irshad mewakili kegundahan hatinya tentang agama Islamnya yang menurut dia telah mengekangnya. Dan yang lebih aneh lagi adalah, ketika dengan jelas Lesbi dikategorikan sebagai gangguan psikologi yang berimbas pada disorientasi seksual. Dan seorang Lesbian, Irshad Manji, justru dijadikan bahan rujukan, contoh, panutan oleh akademisi-akademisi, sungguh memprihatinkan.

Sama memprihatinkannya ketika seorang teman saya, lebih memilih menggunakan kutipan seorang tokoh spiritual Dalai Lama, ketimbang kutipan Al quran, hadist, Rasulullah dan para sahabat nabi, orang -orang sholeh, sholihah. Kiamat semakin dekat kawan, ketika manusia muslim zaman kini semakin menutupi identitas ke-Islamanannya, semakin menganggap aneh ke-Islamannya, dan saya pun termasuk di dalamnya.

Friday, January 27, 2012

sebentar-sebentar

sebentar-sebentar senang
sebentar-sebentar sedih
sebentar-sebentar tertawa
sebentar-sebentar menangis

semua serba sebentar

Malam semakin larut dan selama beberapa hari ini sebentar-sebentar merasakan sakit di pergelangan tangan sebelah kanan. Entah apa sebab? tak taulah awak. Ada nampak bahwa pergelangan tangan awak menunjukkan rasa solidaritas yang tinggi kepada buruh yang sedang berdemo, menuntut keadilan demi iming-iming "kehidupan yang layak".

Dan bahkan, pergelangan tangan awak lebih manusiawi, lebih cepat bereaksi, daripada diri awak sendiri. Hebat-hebat...........,

"plok plok plok" awak lakukan ritual tepuk tangan itu demi menghargai aksi solidaritas pergelangan tangan awak yang ikut mogok kepada awak.

Tak sedang senang hati awak untuk bercakap-cakap dengan angin sepoi-sepoi yang sedari pagi hari tadi hilir mudik di depan jendela kamar awak.

"Membuat tulang-tulang dan kulit awak menggigil saja, kau angin" awak kata pada angin

Tak sedang bernafsu pula awak, untuk duduk diam bersama bulan sabit yang sejak malam kemarin menunggu awak untuk sekedar berdiskusi tentang malam bersama bintang.

"Lain kali saja lah bulan, awak sedang tak ingin banyak cakap kali ini" 

Kedua sejawat itu, bulan dan bintang pun pergi meninggalkan awak, sendirian. Awak anak melayu yang tak tahu budaya, yang tak dapat bicara logat ibu dan bapak, hanya dapat mendengarkan sembari melongo, seperti kerbau yang dicucuk hidung oleh si empunya nya.

Awak sedang tak senang
bayang-bayang masa lalu awak, mengenangkan kawan yang dulu masih ada, sekarang sudah tiada. Mengingatkan betapa berbedanya awak yang dulu dengan awak yang sekarang.

Awak mengguncang-guncang
anak melayu udik macam awak, terdampar di pulau seberang. Terperangah dengan gedung-gedung tinggi, bingung macam mana itu gedung bisa sampai setinggi itu. Terbengong-bengong awak dengan banyaknya mobil-mobil mahal mondar-mandir. Bingung, orang-orang dari dalam televisi kata, di negeri awak banyak orang miskin, ya macam awak ini lah. Tapi, melihat mobil-mobil itu, tak lama awak nampak rumah-rumah mewah itu, luar biasa. Negeri awak kaya, orang televisi bohongi orang desa macam awak.

Berhari-hari awak mengumpat-umpat televisi yang awak katakan
"kapitalis kau tipi, barang kotak macam kau ini, berani bohongi awak yang lebih besar, lebih tinggi dari pada kau" umpatku

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, teman awak tetap sama, angin, bulan dan bintang. Tapi awak sudah berubah, awak bukan lagi orang kampung suku melayu yang udik macam dulu. Awak sudah tau itu beda kornet dengan internet, awak juga tau kalau taksi dengan angkot itu tak sama, awak pun bukan lagi kutu buku yang tebal berkacamata, dengan celana macam pelawak jojon. Awak sudah berubah, tak lagi awak bercakap dengan sebutan "Awak". Sekarang zamannya "lo dan gue", begitu cakap teman-teman baru awak. 

Tak lagi awak menjadi udik seperti dulu, setidaknya begitu awak pikir beberapa bulan yang lalu.

sampai, teori sebentar-sebentar awak muncul kembali. Ceritanya awak mulai rindu dengan buku-buku, inilah teori sebentar-sebentar yang awal kali keluar ke permukaan. Awak terkena teori "sebentar-sebentar bosan", ya awak bosan dengan keluar masuk mall, cafe. Otak awak berasa kosong.

Ceritanya, awak bertanya pada angin dimana bisa awak dapat buku-buku untuk hilangkan dahaga otak awak, yang sudah hampir terkena dehidrasi ilmu pengetahuan.
Angin kata "dekat dengan tempat menuntut ilmu, bersebelahan dengan tempat mengisi perut, berhadapan dengan tempat teknologi dipamerkan, berselisih dengan tempat wanita suka habiskan waktunya"

Awak melangkah, mengikuti kemana petunjuk angin mengarah

awak berhenti
awak terdiam
awak serta merta kembali menjadi orang udik yang lebih udik daripada orang udik kebanyakan.

awak menghitung
"satu, dua, tiga,.........................., 10, 11" 
awak berjalan
awak bersyukur 
tetapi, kemudian awak kembali terdiam
".....12, 13" 

awak terkena teori sebentar-sebentar, sebentar-sebentar lega, sebentar kemudian awak kembali terbengong-bengong dibuatnya.

bayi, balita, anak-anak, remaja, orang dewasa, orang tua. Duduk, berjalan, berlari kesana dan kemari, 13 orang manusia dari segala generasi. Dengan mangkuk kecil yang biasa awak pakai untuk makan mie, mereka jalan ke sana kemari, meminta-minta.

sebentar kemudian, awak kembali teringat dengan televisi awak, yang awak umpat karena awak sangka berbohong. Televisi awak jujur, dia katakan negeri awak banyak orang miskin. Hari ini awak begitu banyak nampak orang miskin, tepat di depan mata awak.

Semua terasa semakin kabur, awak tak dapat lagi mengingat untuk apa awak berada di jalan ini. Awak pun sudah lupa dengan siapa diri awak, awak pun sudah tak ingat lagi tentang apa yang harus awak ingat. 

Samar-samar awak mendengar

"besok, sodara saya mau dateng dari kampung. Mau ikut ngemis -ceunah-, dari pada di kampung gak ada kerjaan.........." begitu cakap salah seorang pengemis kepada pengemis lainnya, kawan sebayanya, rekannya, relasi mengemisnya.

"brukkk.........." awak jatuh

Pikiran awak melayang bersama kesadaran awak, awak tinggalkan sebentar alam sadar, awak pergi bersama angin petang, membumbung tinggi menghadiri undangan bulan sabit dan bintang. Undangan menonton televisi bersama, sembari minum kopi di atas awan. 

judulnya "orang udik dan sangkaannya tentang negerinya"

Samar awak membuka mata, terkekeh-kekeh ketiga kawan awak. Angin, bulan dan bintang, mereka menonton film orang udik dan sangkaannya. Dan sebentar kemudian, awak kembali tak sadarkan diri, awak memilih tak sadarkan diri. Mengetahui pemeran utama di dalam film orang udik itu, adalah awak sendiri.

"hahahahahaha" tawa ketiga kawan awak, angin, bulan dan bintang, terdengar nyaring, kemudian hilang. 

Awak memilih tak sadarkan diri sampai film "orang udik dan sangkaannya tentang negerinya" itu selesai diputarkan.

Monday, October 10, 2011

cerita tentang manusia, cerita yang tua

Lihat bagaimana rasa kenyang bisa mematikan hati, akal dan pikiran.
Saya terjebak dengan bertumpuk-tumpuk makanan siap makan. Dengan beberapa bungkus makanan yang tidak lagi bisa dimakan untuk beberapa hari ke depan. Lihat, lihat lah bagaimana rasa kenyang itu bisa membuat manusia seperti aku, terjebak dalam rasa malas yang terkadang membebaniku dengan bujuk rayunya, dengan tarian-tarian erotisnya yang mengingatkan aku tentang betapa "nikmatnya bergulat dengan kasur empuk itu"

Sial, kenapa harus pula keluar kata "sial" itu, ah anggap saja sebagai bentuk aktualisasi diri. Sebagai ujud dari keinginan untuk dianggap -wah-, meskipun tidak jelas dengan benar, -wah- dari segi apa. Mungkin saja sisi kegelapan yang sedang ingin muncul, yang kemudian diwakilkan dengan kata -sial-.
Baiklah para pembaca dunia maya sekalian, mari hentikan omong kosong tentang aku, yang merupakan manusia sebagian, manusia yang belum juga lengkap otaknya secara implisit. 
Ingin sedikit bercerita tentang profesi memalukan yang semakin lama semakin marak di Indonesia. Profesi ini menjadi sebuah keniscayaan, lahir dari apa yang kita sebut dengan -KEMALASAN-. Muncul ke permukaan sebagai akibat dari hilangnya rasa malu, putusnya urat syaraf malu dari manusia-manusia yang katanya -penghuni- asli bumi ini, penguasa dunia, yah setidaknya begitulah asumsi saya saat ini. 

Profesi ini menjadi bisnis, bisnis yang menguntungkan. Semakin marak karena tingkat pertumbuhan ekonomi yang kian menjanjikan. Bisnis dan profesi ini memiliki target dan segmen pasar tersendiri. Dengan menyerang rasa iba manusia, dengan mengandalkan rasa belas kasih yang tertanam sejak lahir pada setiap diri anak adam dan hawa. Dengan memposisikan diri seolah-olah sebagai manusia paling menderita dari pada pelanggannya, maka bisnis ini semakin berkembang pesat saja di bumi Indonesia.

This boy, hiding his cellphone from me using his right hand. He is a beggar
MENGEMIS - PENGEMIS - beggar

Dengan omset luar biasa, mari kita asumsikan si -acep- beroperasi dari pkl 7 pagi sampai pkl 9 malam. Di wilayah padat merayap dengan tingkat populasi pejalan kaki, pengendara kendaraan roda dua dan empat yang apabila dikalkulasikan bisa mencapai 1 juta orang setiap harinya. Berasumsi lagi yang beriba memberikan dia uang sekitar 300 - 500 orang setiap harinya. Dengan kisaran -receh- yang didapatkan Rp 300 - Rp 1000 / harinya. Silahkan menghitung berapa omset yang -acep- dapatkan setiap harinya, minimal acep bisa mendapatkan Rp 90.000/hari dan maksimal Rp. 500.000/ hari. Lalu asumsikan dia beroperasi setiap hari selama 1 bulan, jadi jumlah penghasilan si acep, maksimal adalah Rp @#$%^&&& (silahkan hitung sendiri).

Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Bayangkan atau tak perlu bayangkan, karena bahkan pengemis pun memiliki ponsel genggam di tangannya. Bahkan pengemis pun memiliki strategi di dalam usahanya. Bahka secara tidak sadar, mengaplikasikan operasi managemen di dalam waktu efektif kerjanya. 

Ada banyak kisah yang menginspirasi mata, akal, pikiran dan hati saya. Merangsang setiap titik-titik syaraf  untuk berpikir tentang apa, mengapa, kenapa. Beberapa kisah, sungguh membuat geli hati karenanya, beberapa meninggalkan luka pedih karenanya. 

Kisah seorang bapak berambut -gondrong-, dia duduk di sudut sebuah pertokoan. Dengan pakaian lusuhnya, menghadapi dinginnya cuaca bumi parahiyangan di malam hari. Tak ada aktifitas bermakna yang dia kerjakan, selain hanya sesekali melihat kantung plastik bawaannya. Sekilas saya pikir dia -pengemis-, tidak jauh berbeda seperti yang lainnya. Tetapi, lelaki paruh baya yang satu ini berbeda, dia bukan pengemis sepertinya. Lebih tepatnya dia manusia yang mengais rezeki dari tempat-tempat pembuangan sisa makanan -tempat sampah-. Mengambil gelas dan botol plastik bekas, sepertinya akan dijual.

Malam yang dingin, rasa sedih, rasa kesal akibat sopir angkutan umum jurusan kalapa-ledeng yang asal. Rasa marah akibat tersasar hingga harus berjalan lumayan jauh, membuat aku kembali menjadi manusia yang lebih banyak pikir -tentang hal tak berguna-, dari pada mengimplementasikannya.

Saat itu, ada rasa ingin menghampiri lelaki paruh baya, sekedar bercakap-cakap sekenanya. Atau mungkin membelikannya sesuatu untuk ia kunyah, telan, kemudian disalurkan menuju sistem pencernaan. Tetapi, yang ada aku hanya diam, berlalu pergi, meninggalkan lelaki paruh baya dengan tumpukan sampah plastiknya. 

Malam semakin larut, dingin semakin menusuk, bersyukur tubuh ku yang kurus dan terlihat ringkih ini terlindungi oleh tebalnya jaket kumal berwarna merah menyala, yang terkadang membuat lelaki itu -tersulut rasa kelelakiannya-. 

Menyusuri jalan raya, dengan kaki yang sudah mulai memberontak, ia melaporkan perbuatanku kepada otak yang berada di dalam kepalaku "hentikan, aku sudah cukup lelah wahai manusia serakah". Aku abaikan pemberontakan kecil itu, sebagai ujud otorisasi kediktatoranku atas tubuh kurusku. "Tap, tap, tap" begitu derap langkah kaki ku, dan sejenak terhenti bersamaan dengan tertegunnya kedua buah bola mataku. Tertumpu pada seorang wanita, seorang ibu dengan seorang bayi berusia beberapa bulan di pangkuannya.

Kisah tentang seorang ibu, apakah mungkin dia ibunya? atau hanya sekedar ibu sementara saja? entahlah. Tapi, benarkah begitu tega seorang ibu membaringkan bayinya dipinggil jalan, di atas trotoar, tepat bersandar pada tiang lampu merah. Drama semakin memilukan ketika plot kejadian diletakkan pada suasana malam hari yang dingin, dengan tiupan angin yang menusuk. Aku terus memaksakan kaki ku untuk berjalan, sembari isi kepala ku mengisyaratkan jari-jemari untuk segera mengambil Hp blackberry dengan sinyal edge itu. 

Ingin meng-capture apa yang dilihat oleh mata, membawanya ke dunia maya, mencoba membuka mata manusia yang lainnya, bahwa inilah wajah indonesia, wajah kota bandung, wajah bumi parahiyangan, dibalik sisi glamor dan borjuisnya. 

Hampir saja saya mengambil gambar anak beranak itu, kalau bukan karena si ibu melihat saya sejenak, kemudian memalingkan wajahnya. Dia duduk bersandar sembari bersenandung untuk bayi kecil yang berada tepat di sampingnya. "yah, mungkin itu anaknya" saya kembali berjalan, sembari berpikir si ibu begitu bertolak belakang dengan lelaki paruh baya yang aku lalui beberapa menit yang lalu. "tapi tunggu" atau mungkin mereka suami istri? siapa yang tahu. Tapi, seperti inilah kehidupan, rasa malas, kebutuhan perut akan makan, menjadi sebuah keniscayaan.

Entahlah, aku sempat terdiam, termangu sesaat, tergugu, hanya tenggelam dalam pikiran, untuk kemudian melangkah pergi, setengah berlari, bersembunyi dari pahitnya sisi muram dari kehidupan. 

Malam yang kelam, rembulan menutup kedua matanya, menangis ia, melihat banyak anak manusia seperti si ibu beserta anaknya. Mencari serpihan-serpihan 'rupiah' di tengah-tengah keramaian hilir mudik kendaraan. Mengabaikan serangan timbal asap kendaraan, demi apa yang kita sebut dengan 'uang'. 

Derap langkah kaki semakin jauh, meninggalkan pemandangan pahit seorang ibu dengan anak bayinya yang berada di tepi jalan. Meninggalkan lelaki paruh baya dengan tumpukan gelas-gelas plastiknya. Rasa lapar yang mulai perlahan menyerang sisi sensitif dari syaraf yang berada di kepala. "Aku sakit" begitu ujar kepala kepada kumpulan syaraf yang berada di sana, "ya kita sakit" begitu sahut yang lainnya. Derap langkah kemudian terhenti, di sebuah warung tenda di pinggir jalan, mencari kenikmatan sesaat bagi lidah, mencoba memenuhi hasrat, mengobat rasa sakit di dalam kepala akibat rasa lapar yang mendera.

Tentang dua orang waria yang pria
"Krincing, krincing" dua orang manusia bernyanyi dengan suara seadanya. Dengan tampilan khas wanita, wanita jalanan yang beroperasi dengan alat musik seadanya. Melahirkan gelak tawa dari aku dan beberapa pengunjung warung yang lainnya. Sedang si penjual martabak asyik masyuk dengan alat penggorengannya, aku beserta jiwa dan ragaku berjibaku mengamati tingkah laku kedua anak manusia yang bernyanyi dengan suara pas-pasan itu.
He is a man, but to earn money he dressed like a girl, he talk like a girl and his act like a girl
"Permisi teh" begitu ujarnya, "walau malam gelap, tiada berbintang. Asalkan lagu ku ....." yah sepenggal lirik yang masih benar, kemudian secara serampangan, silang lintang, jumpalitan. Kacau tidak keruan, tidak beraturan, hingga aku sampai pada kesimpulan, anak manusia berdua ini tidak hapal dengan lirik lagu yang mereka nanyikan.

"Waria", mereka bukanlah wanita, melainkan pria yang berpakaian wanita. Seorang dipanggil dengan sebutan "saya ule' teh, tinggal di kopo, caringin", oh ya, saya tahu caringin, tapi tidak dengan kopo. Interview, sombongnya saya seperti seorang pimpinan perusahaan yang sedang menginterview calon karyawan. Bertanya tentang berapa usia, hingga tentang apakah mereka wanita atau pria sejati mulai dari fisik dan mentalnya. Lalu bertanya tentang sebab dan musabab mengapa meraka bisa menjadi seperti itu rupanya.

his name ule'
"Uang" semua karena uang pada akhirnya, dengan alasan tidak ingin meminta uang dari orang tua, mereka bekerja sekenanya. Pekerjaan yang ringan, hanya 'cring cring' dapat uang. Tidak perlu tenaga, hanya cukup membuang rasa malu jauh-jauh ke tempat yang paling jauh. Seorang berusia 26 tahun, lahir pada tahun 1985, dan kalau tidak salah dengan sekolah menengah pertama pun tidak selesai. Sedang yang seorang yang pemalu berusia 19 tahun. Dengan berkata "main ke tempat teman" seperti itulah cara mereka mengelabuhi kedua orang tuanya. "Tapi, kita gak jual diri teh" begitu selanya, "kalau pagi kita norma" begitu tambahnya, demi membuktikan kesejatian dari gelar lelakinya.

Mengapa dengan wanita, mengapa berdandan sepreti wanita? beberapa survey mengatakan pria percaya bahwa lebih mudah mendapatkan uang bila manusia tersebut adalah wanita. Benar begitu? belum tentu, karena pada kenyataannya ke-perempuan-an ku merasa tersulut api, ketika beberapa profesi meletakkan pria sebagai kriteria utamanya.

Apapun itu, banyak kisah, banyak cerita, cerita tentang anak manusia. Aku pun seorang anak manusia, meng-capture potret-potret kehidupan, pagi, siang, sore dan malam. Mengeksploitasi dari sisi lain kehidupan, aku terjebak dalam alam pikiran tanpa pernah bisa melakukan sesuatu atas potret yang aku ambil dengan kedua indera penglihatanku.

Pun terjebak pada rasa inginku, pada rasa laparku, hingga membuat aku membuang apa yang sebenarnya lebih berguna bila orang lain yang memanfaatkannya.
Rembulan, berpikir apakah dia melihat bulan yang sama dengan yang aku lihat setiap harinya? Apakah begitu wahai rembulan?. Pastinya begitu, mungkin begitu, dan rembulan pun tersenyum dalam diam sembari menatap lekat wajahku.
"Begitu nampak jelas kah wajah kusut ku di hadapanmu, sahabat karib ku" begitu aku bertanya pada rembulan di separuh malam yang kelam. "ya, setidaknya begitu lah yang nampak oleh ku" begitu jawabnya. "Lama rasanya engkau tidak menyapaku, anak manusia yang lupa"

"Ya, aku terlalu sibuk dengan ke-aku-an ku. Terlalu diperbudak oleh mimpi dan angan-anganku tentang dunia yang semua" tak berani aku menengadahkan wajah, menatap wajahnya yang nampak indah dari kejauhan, namun kelam, dingin, pekat bila aku menatapnya dalam dan lekat.

"Nampak semakin rapuh dan angkuh, itulah kamu yang sekarang ini. Senang itu membuat mu lupa akan aku yang dahulu sejatinya menemani malam-malam sendu mu itu" begitu ujar rembulan padaku.


"Entah lah, tapi aku tahu itu, aku tahu. Senang dan sedih, rasa bersalah dan lepas, antara jatuhnya air mata dan bahagia, mereka berlari-lari di dalam hatiku. Di dalam akal dan pikiranku, membuat aku bingung untuk memetakan perasaanku".

Malam semakin larut, bintang-bintang tak nampak dalam jarak beberapa juta kilometer dari rembulan berada. Aku terjebak dengan alam pikiran ku, setidaknya semakin hari aku semakin menyadari itu. Semakin aku pikirkan, semakin aku tidak tahu tentang untuk apa aku berpikir tentang banyak sesuatu itu.

"Manusia, kalian memang selalu begitu. Tidak kah kamu tahu, aku melihat setiap gerak-gerikmu. Aku tatap lekat, aku mengingat setiap tingkah laku dan polahmu. Dan aku malu, aku menangis akan hal itu" ia tutupkan wajahnya, bersembunyi sejenak di balik awan kelabu yang bertebaran di luasnya malam yang gelap gulita. Sedu sedannya sesekali terdengar, terasa menusuk hati, menghujam seluruh tubuh ini. Dan rembulan pun terluka, dan rembulan pun menangis, di tengah malam yang gelap, yang gulita.

"Aku pergi" begitu ujarnya, "Pikirkan tentang apa dan seperti apa kini, kamu wahai anak manusia. Pikirkan dalam dan lekat, kenyataan bahwa saat ini kamu benar-benar terjebak, terjerembab, jatuh ke dalam palung kehidupan yang gelap, kelam, dingin dan lembab. Tak ada sesuatu yang dapat membawa mu kembali ke permukaan, kecuali rasa inginmu untuk itu, kecual rasa belas kasih Nya padamu" begitu rembulan berkata. "Setiap bait kata yang aku sampaikan padamu, bukan sekedar untaian-untaian bait yang tidak bermakna. Dan pikirkan bahwa hidup kalian, manusia tidak akan lama, tak pernah lama kecuali hanya 1 hari saja" 

Dia pergi, menghilang di gelapnya malam. Meninggalkan aku berjalan sendirian, menapaki jalan setapak, berusaha mengingat-ingat setiap kejadian. Serpihan-serpihan memori yang tersimpan hampir usang, dan menjadi sebuah pengingat yang lembut namun menyakitkan.

Helaan nafas itu aku hembuskan, rasa sakit mulai aku rasakan. Tumor ini seperti mulai menunjukkan ke-aku-an nya atas aku yang menjadi inang baginya. "Apa yang harus aku lakukan, tak pernah aku sebuntu ini", begitu kemudian aku berbicara pada layar putih yang berada di hadapanku kini. Namun ia hanya terdiam, tanpa ada sepatah dua patah kata keluar dari dirinya.

Sore semakin menjelang, begitu padat cerita tentang kehidupan. Kembali menelaah dari 1 hari 1 malam yang sekejap, namun meninggalkan bekas, meninggalkan ribuan bahkan jutaan kata yang tak mampu aku sampaikan. Setiap kata, setiap bait, setiap kalimat yang ada, sebagai pengingat untuk ku beberapa hari, minggu, bulan, tahun berikutnya. Dan rembulan tetap tak bergeming, diam, belum ingin, atau memang ia sedang tak berkenan untuk berbicara padaku, sahabat lamanya

Saturday, October 1, 2011

Berbelanja di supermarket, customer review

Saya kurang bisa membedakan apa itu hypermarket dan supermarket, departement store dengan super store. Tapi, saya memiliki beberapa gambar yang saya ambil menggunakan handphone saya. Gambar ini saya ambil hampir 1 bulan yang lalu, saat mendekati hari raya.

Sedikit pembuka wacana, membuka wawasan dan mengingatkan kembali pada anda semua tentang mengapa beberapa dari kita memilih untuk berbelanja di tempat dengan konsep swalayan, supermarket, hypermart atau katakanlah konsep modern.

Mungkin karena beberapa alasan berikut, diantaranya

  1. Nyaman, dalam hal ini mengenai kebersihan saya katakan termasuk kedalam kategori -kenyamanan-
  2. Mudah mencari barang yang kita perlukan, benar begitu? ya setidaknya begitu, karena seingat saya swalayan memiliki aturan tersendiri dalam meletakkan, memposisikan barang-barang, produk-produk bazar yang mereka pasarkan
  3. Rapih, dalam artian penyusunan barang-barang yang berada di dalam swalayan
  4. Ketersediaan barang dan masih banyak lagi alasan lainnya
Tapi dari gambar berikut ini, saya mengajak anda sekalian untuk menganalisa tentang kondisi sebuah swalayan yang berada di tempat saya tinggal. Dimana beberapa rak dibiarkan kosong dan nampak tidak rapih sekali bukan?


Atau lihat gambar berikut ini, 


Kardus-kardus yang dibiarkan bertumpuk, berserakan, kesan tidak rapih alias berantakan begitu nampak.

Gambar di samping mengapa saya beri tanda dengan 'tanda panah', karena memang susunan barang yang ada di sana tidak rapih, berantakan.

Melihatnya saya langsung risih dan bisa dipastikan dengan keadaan yang tidak tertata seperti pada gambar, akan menyulitkan pelanggan untuk mencari produk yang mereka perlukan




Gambar di sebelah kanan, entahlah, tapi gantungan-gantungan itu seharunya penuh dengan makanan yang sejenis. Atau paling tidak, kalau memang stok sedang habis setidaknya susunan produk bisa dirapihkan. 
  1. Beberapa bagian rak yang kosong
  2. Tumpukan kardus yang dibiarkan begitu saja
  3. Ruang yang tersisa cukup besar, sementara produk yang dijual tidak sampai memenuhi separuh dari lebar rak yang ada, seharusnya disusun, dirapihkan kembali 








Masih tetap sama, opini saya mengenai beberapa gambar di atas adalah, berantakan, kardus dibiarkan menumpuk tepat di sebelah rak produk bazar. Selama saya berkeliling mengambil photo dari beberapa sudut supermarket ini, tidak satu pun saya lihat pegawai supermarket tersebut yang nampak membenahi.


 

Dari gambar di atas,
  1. lantai kotor, 
  2. sterofoam pembungkus buah segar dibiarkan tergeletak begitu saja,
  3. dan kembali, rak-rak yang berantakan
  4. kardus berisi tumpukan produk retail-bazar yang bertumpuk-tumpuk tak tersusun rapi 
Dan gambar yang berada di samping, berikut dengan tanda panah berwarna kuningnya. Tidak jauh berbeda dengan gambar-gambar sebelumnya. Kondisi pun tidak jauh berbeda, hanya tempatnya saya yang berbeda. Sisanya? sama, berantakan, tidak tersusun rapi, hanya sekenanya saja.







Sedangkan gambar terakhir ini, diambil ketika saya sudah mulai beranjak dari supermarket tersebut. Saya sudah dapatkan apa yang saya cari. Dan ketika saya hendak keluar dari supermarket tersebut, saya melewati tumpukan baju kok.

Dan seperti apa kondisinya? dapat kita lihat pada gambar. Selain tidak rapi, menumpuk, dan kardus pembungkus pakaian tersebut tergeletak begitu saja di lantai tanpa ada satu orang pun pegawai yang membenahinya. Meskipun tidak jauh dari situ, nampak oleh saya beberapa SPG, tapi tetap saja.

Kesimpulan, apakah anda akan tetap berbelanja di tempat yang menerangkan kondisi seperti pada beberapa gambar di atas? entahlah, karena anda berhak memilih dimana tempat anda berbelanja. Tetapi bagi saya, apabila ada supermarket atau hypermarket lain, maka saya lebih memilih ke tempat yang lain. 

Dari sisi experiental marketing, supermarket ini sudah tidak memenuhi kriteria. Dari sisi kenyamanan, bagi saya, saya sudah merasa tidak nyaman dengan -berantakan-, dengan -kotor- dan sebagainya. Tapi opini anda? anda sendiri yang membangunnya, anda sendiri pula yang menentukan apakah anda akan kembali berbelanja di tempat yang sama, atau tidak.

Friday, September 30, 2011

Merasakan bagaimana menjadi hampir -victim- dari sebuah peristiwa yang biasanya hanya saya lihat dari layar kaca.

Awal september mendekati tengah malam, masih berada dekat dengan pelabuhan. Ketika kapal yang saya tumpang bersenggolan dengan bagian tubuh kapal yang lain, yang saat itu sedang mengisi muatan. Kapal sempat kehilangan keseimbangan dan rasa ingin tahu orang Indonesia, semakin memperparah keadaan. Kapal -miring- ke satu sisi, ke sebelah kanan tepatnya. 


Sontak, semua yang berada di dalam kapal merasakan panik yang luar biasa. Para lelaki sibuk pergi menyelamatkan keluarganya, yang single sibuk pergi meninggalkan lawan bicara yang baru saja dikenalnya. Wanita dan anak-anak mulai berteriak, histeris, tangis mereka bercampur baur dengan hilir mudik manusia yang lari berebutan, demi mendapatkan pelampung yang disediakan pihak kapal.

"jadi beginilah rasanya" setidaknya itu yang ada di dalam pikiran saya saat itu. Saya tidak tahu apakah saat itu saya merasa panik atau tidak, yang pasti saya hanya berjalan ringan. Menuju tempat pelampung penyelamat berada, mengenakannya lalu berusaha keluar, "setidaknya saya tidak berada di dalam ruangan ini" begitu pikir saya saat itu.

"jadi seperti inilah rasanya, mereka yang kapalnya mengalami masalah", yang karam, yang kapalnya terbakar, yang kapalnya tenggelam. Saya bersyukur, kapal yang saya tumpangi bisa tiba dengan selamat di pelabuhan merak. Saya bersyukur, kepanikan tidak berlangsung lama dan saya bersyukur meskipun saya tidak dapat berenang, saya memiliki pelampung sempat memakainya untuk beberapa lama, kemudian saya kembalikan.

Tahukah kamu apa yang ada di dalam pikiran saya saat itu? saya bingung tentang ekspresi apa yang harus saya perlihatkan. Lihat lah, bahkan untuk disaat genting pun saya masih saja banyak berpikir. Saya membayangkan bila keadaan semakin buruk, kapal tenggelam dan saya hanya tinggal nama yang tertera di layar televisi. 


Lelaki-lelaki yang beristri, yang ber-anak, sibuk mencari-cari pelampung demi anak dan istrinya. Ada yang memarahi petugas kapal, karena tak dapat menemukan pelampung untuk anggota keluarganya. Beberapa wanita yang berteriak mulai menangis, anak-anak yang ketakutan mulai berteriak, menambah riuh ramai suasana kapal. Dan saya masih tidak tahu, saya harus memposisikan diri saya seperti apa. Berteriak? ah tak mungkin, menangis? buat apa. Saya hanya diam, berjalan, mencari tempat dimana setidaknya saya bisa berpikir bahwa "saya aman".

Saya ketakutan? ya, tentu. Cerita dahulu bahwa saya tidak takut mati, omong kosong semua itu. Keringat dingin mulai mengucur, rasa panik itu sebenarnya sudah menyeruak, memenuhi kepala hingga mempengaruhi pola pikir ku saat itu. Aku belum ingin mati benarkan begitu? atau aku takut mati? ya sepertinya begitu. Jadi seperti inilah rasanya yang mereka rasakan ketika mereka tahu bahwa mereka akan mati? mungkin iya, mungkin juga tidak.
Manusia itu pun berlari, tertawa-tawa menyadari kebodohannya. Sembari berteriak seperti orang hilang akalnya "aku takut mati" lalu tertawa terbahak-bahak ia. "Aku takut mati, Tuhan ku" kembali tertawa terbahak-bahak ia. Dan manusia itu adalah aku, aku yang berada di sini, yang duduk yang katanya terlalu banyak berpikir, yang berpikir bahwa tidak ada lagi langit selain langit yang aku punya. Manusia itu adalah aku, seberapa hinanya aku? Allah Maha Tahu, seberapa buruknya aku? Allah, hanya Allah Yang Maha Tahu. Aku? hanya satu yang aku tahu kenyataan pahit bahwa aku takut pada apa yang namanya -kematian- itu. BODOH 

Tuesday, August 30, 2011

Edisi Lebaran 1 syawal 2011

Catatan hari ini edisi lebaran, seperti majalah saja.

Panasnya masih tetap terasa, meskipun sekuat apa pun saya berusaha mensugesti diri saya bahwa hari ini tidak lah panas. Tetapi tetap saja, tubuh ini tidak bisa dibohongi.

Edisi lebaran, edisi hari raya, masak memasak pekerjaan wanita katanya. Menghabiskan waktu bersama ibu tercinta (Hahahahaha), tertawa terpingkal-pingkal dalam acara masak memasak bersama beliau. Ada kekonyolan ketika kantung yang breisi terigu yang sempat beliau letakkan di atas -serok sampah-, beliau letakkan di dalam mangkuk besar berisi sagu. Terpingkal-pingkal saya tertawa dibuatnya, 'ibu jorok' dan ibu tertawa sembari berdalih 'ibu lupa' wkwkwkwk. Dan prosesi pembuatan pempek tetap berjalan, dengan ke-jorok-an yang sempat terjadi.

Kami berdua pura-pura lupa dan berjanji untuk menyembunyikan kejadian hari ini dari ayah saya. Karena ayah saya -penjijik- ahahahaha.

Menjelang tengah malam 11 PM, aktifitas bermain-main dengan keyboard netbook sempat terhenti, karena keponakan saya yang sudah memasuki waktu tidurnya.

Kembali menenggelamkan diri sejenak ke dalam dunia kata-kata. Menyenangkan karena saya tidak perlu takut tersedak karenanya, mengingat tidak ada unsur air di dalam permainan -menenggelamkan- diri di dalam lautan kata-kata yang Allah ciptakan indah dan tak terhingga.

Blackberry saya mulai menunjukkan rasa ke-aku-annya, terasa hangat, sesekali ia lamban dalam bereaksi. Kenapa? usut punya usut ternyata aktifitas komunikasi GRUP BB di BB saya, yang menjadi penyebabnya. Entah mengapa mereka betah menghabiskan waktu berlama-lama saling mengomentari satu sama lain. Kenapa tidak membuat -conversation- sendiri, yang memang layanannya disediakan oleh BB itu sendiri. Sehingga mereka tidak perlu membuat BB anggota yang lainnya, menjadi -NGADAT- dalam hal operasinya.

Tapi itulah manusia

Tidak dapat eksis di dunia nyata, maka dunia maya dirambahnya. Atau merasa kurang puas dengan bercakap-cakap di dunia nyata, mereka melakukan expansi ke dunia maya. Apa tidak ada kesibukan yang lain? Sepertinya ada, kesibukan dengan pacarnya, bagi yang memiliki pacar. Kesibukan dengan keluarganya atau karena -single- jadi mencari kesibukan diluaran seperti berkomunikasi tanpa batas melalui BB yang mereka punya.

Aaaaaaaaaahhhh
Whatever, at least jangan terlalu sering lakukan komunikasi -ngalor-ngidul- di grup bb tempat saya menjadi anggota, kegiatan yang mereka lakukan sungguh merugikan anggota yang lainnya. Kalau tidak diatur sedemikian rupa sehingga, maka sudah bisa dipastikan BB bisa lekas kekurangan daya dari -battery- nya. Menghela nafas panjang, begitulah anak-anak muda atau seperti itulah manusia-manusia zaman sekarang.

Kembali bercerita tentang -me and mom-, happy ied mobaraq. Meskipun ada yang merayakan hari ini, ada pula yang esok hari. Semua kembali kepada keyakinan dan kemantapan hati masing-masing pihak. Jangan seperti anak kecil yang adu argumentasi dengan alasan diskusi. Seperti yang terjadi di GRUP BB hari ini. Kesannya memang berdiskusi, tapi sebenarnya kedua orang itu saling serang dalam hal peryataan. Yang seorang serta merta menyalahkan pemerintah, yang seorang lagi serta merta menyalahkan si pemberi informasi.

Keduanya sama bodohnya, sama-sama menciptakan isu yang bisa jadi beberapa dari anggota grup, menjadi ragu karenanya. Yang satu begitu nampak menggunakan emosinya, yang satu lagi -seolah-olah tak berdosa- tetapi karena penggunaan kata yang tidak tepat, ia berhasil menyulut emosi lawan bicaranya.

Manusia dewasa dalam usianya, tetapi kurang bijak dalam tindakannya. Kasihan kasihan kasihan, saya juga kasihan, karena saya semakin bertambah dalam hal usia, tetapi kematangan berpikir ummm sepertinya -segini-segini aja- wkwkwkwkwk.

Baiklah, kepada semua pembaca BLOG saya, kapan pun kalian memutuskan tgl 1 syawal, pada intinya semua tetap muslim. Harapan saya, perbedaan penetapan dimulainya syawa, tidak menjadi alasan untuk meributkan hal-hal yang sebenarnya tidak -urgent- untuk diperdebatkan. Biasa saja dalam menyikapi, mau ikut pemerintah -monggo-, mau ikut yang lain -monggo-. Jangan dibuat -lebay-, karena Allah tidak suka segala sesuatu yang sifatnya -lebay- apalagi -berlebay-lebay-an- ria hahahahah. 

Selamat datang di 1 syawal
Selamat merayakannya dengan istilah -ied- atau -idul fitri-

Mohon maaf lahir dan batin
Ucapan ini bukan sekedar cara saya beretika, tetapi dari hati yang paling dalam. 
Mencoba meminta kemurahan hati saudara sekalian dalam hal memaafkan.

Sampai jumpa di Ramadhan dan Ied tahun depan

Saturday, August 27, 2011

Jangan jadi orang kaya

Orang kaya, beberapa merasa senang karenanya. Beberapa merasa iri melihat orang kaya melenggang dengan harta yang melekat atau dengan harta yang mereka bawa kemana-mana. Ada orang kaya yang biasa-biasa saja dengan kekayaannya, ada yang mengakui kekayaannya dengan memanfaatkannya sedemikian rupa sehingga, ada yang sombongnya tidak -ketulungan- sampai -muak- dibuatnya.

orang miskin, yang sadar bahwa miskin hanya tugas semata di dunia, ia menjalani miskinnya dengan biasa saja. Ada miskin yang tidak tahu dimana posisinya, pasak lebih besar dari pada tiang, dimana-mana dia berhutang, ada juga yang menjual dirinya, demi terlihat kaya meskipun sebenarnya semakin miskin ia. Ada juga miskin yang keterlaluan, mengeluh kemana-mana tentang kemiskinannya. Sampai berkata -saya mau pindah agama asalkan diberi uang bla bla bla-. Non sense itu semua.

Focus on being rich........

Sunday, March 20, 2011

Indonesia will get impact cos of Fukushima, Japan nuclear radiation ??

When my friend ask me about whether indonesia will get impact because of Fukushima, Japan nuclear radiation or not. Being honestly, i don't know, but then i told him 'no , fukushima nuclear radiation can not reach Indonesia'. 

And then i go to sleep, close my eyes, leaving all behind, stop answering his question, but still in my head thinking about his question. I am trying to collect anything about fact, i am trying to think anything about the thing that can influence Fukushima nuclear radiation to reach Indonesia


Inside Fukushima Reactor
I am physics graduated, yes i am learn about nuclear reaction about fusion and fision, but just such away, not really concern about that thing. 

So when i woke up in early morning, i reply his text message. By collecting fact which i get while i sleep. me my self, can not even imagine how can my brain collect fact when physicsly i am sleep. But this is it, this is some information that i send  to him, so that i hope can reduce his worried about Fukushima Nuclear radiation, whether can reach Indonesia or not.

Fukushima reactors
To say that that radiation can reach Indonesia or not, we have to consider about few things below :

  1. The blowing wind speed at the time need to be considered as well, whether in a constant wind speed or not.
  2. Have to consider about direction of the wind such as north, south, west, east . Because the wind is not blowing into the four corners in the same time. Furthermorewhether blowing in one direction for a long time, constant so that can arrive in Indonesia? or  the distribution of radiation precisely away from Indonesia, because of a sudden the wind blew toward the other
  3. How big capacity of Fukushima nuclear reactor, because it affect how much radiation will be released into the air.
  4. How big the explosive power that can be generated by each nuclear station
  5. During the process in the air, the radiation particles exposed to rain or notdecays or not?
  6. In addition, the amount of radiation when it was first released by the Fukushima reactors, still the same when it came to Indonesia or not? and it could be yes or may not.

Here are some scale of nuclear radiation according to publication of the Institute of United States Enviromental Protection 
  • 50 - 100 mSv cause changes in blood chemistry
  • 500 mSv cause nausea within hours after radiation exposure
  • 700 mSv cause throw up
  • 750 mSv cause hair loss within 2 -3 weeks 
  • 900 mSv cause diarrhea
  • 1000 mSv causebleeding
  • 4000 mSv cause die within 2 month if no treatment
  • 10.000 mSv cause damage the intestinal lining, bleeding, and can be die within 1 -2 weeks
  • 20.000 mSv cause central nervous system damate and lost consciousness, possible to died within in hours or days 

Hope this drama will end soon with happy ending