Pages

Tuesday, January 20, 2009

Abi-Umi

Ada saja rezeki yang Allah sampaikan pada saya melalui mereka, terkadang ummi mengajak saya ke kamarnya, ‘main sini mbak, daripada sendiri’ begitu kata ummi, dan begitu tiba di sana, beliau memaksa saya untuk makan malam kadang makan siang, dan yang lebih membuat malu hati adalah terkadang menjelang pulang pun, ummi masih membekali dengan makanan ringan, ‘buat ngemil mbak’, Alhamdulillah, begitu kata hati kala itu, Allah jauhkan saya dari rasa lapar.

Lama, hati ini malu juga dibuatnya, tapi bila menolak, ummi akan memulai dengan dalil-dalilnya, walhasil penolakan saya tidak berarti apa-apa.

Beginilah kiranya Allah mempertemukan saya, dengan hamba-Nya, karena begitu baiknya, terkadang saya tidak dapat menolak bilamana ummi dan keluarga mengajak saya pergi bersama mereka, dan yang membuat saya terpana adalah setiap kali bertemu dengan teman-teman ummi yang kemudian bertanya, dalam bahasa jawa ‘siapa mbak?’, ‘adik saya’, begitu jawab ummi pada mereka, ‘baru datang dari jawa’ begitu tambahnya. Saya hanya diam saja, tidak menolak tidak juga mengiyakan, hanya bisa tersenyum, semua serasa tercekat di tenggorokan. Apa yang ummi katakan, mengingatkan saya pada seorang bapak yang pernah berkata ‘ini anak saya, anak pertama saya’.

Begitu sekelumit kisah tentang keluarga ummi dan abi zaid, yang begitu baiknya bahkan hingga untuk keperluan membuat laporan pun, abi berupaya menyediakan untuk saya, ‘pakai saja printernya sef, ndak apa kok’ dan yang lebih mengejutkan adalah ketika abi tiba-tiba datang menghampiri sembari berkata ‘ini tinta printernya sef’, ya Allah entah bagaimana saya bisa membalas kebaikan mereka pada saya.

Saudara sesama muslim yang Allah dekatkan pada saya, di camp petrosea, tempat saya berada selama 2 bulan lamanya.

Malam semakin larut, hujan sudah berhenti membasahi bumi sejak sore tadi, hari minggu di 9 November 2008. Sudah mulai lelah agaknya jari-jemari ini menyentuh keyboard ditemani alunan musik kitaro caravansary, menghela nafas panjang, pertolongan Allah itu selalu datang, darimana saja, dari arah yang tidak pernah saya duga sebelumnya.

Lelap menjadi sebuah keharusan, esok pagi memulai kembali aktivitas pagi memasuki pabrik yang sarat dengan asap dan bau urea yang menyengat……

-bersambung-