Pages

Tuesday, June 23, 2009

ibu yang bernyanyi untuk saya, putrinya

"de jadi kamu pulang jumat" -Aslm, belum bisa pulang bu- "hari apa?" -tau bu, alatnya belum selesai bu-
Lama, pesan terkirim tetapi belum ada laporan berita terkirim, hingga handphone berkelap-kelip, dari "my mother ternyata". Kolonial sekali bukan?! menggunakan bahasa asing sebagai ID, bukan bahasa indonesia atau paling tidak bahasa ibu yang biasa digunakan oleh kedua orang tua saya. Tapi, mari lupakan itu, mari bercerita sedikit tentang "sadness and sorrow" yang sedang bersemayam di dalam kepala ini, di dalam hati ini.
"Hallo Assalammua'alaikum" aku
"alaikumsalam, gak pulang de?"
"enggak bu, alatnya belum selesai"
"minggu depan pulang?"
"belum tau bu"
"ya sudah kalau gitu, nggak usah dipaksakan, nanti ade pusing"
-terdiam-
"kenapa? belum selesai juga ya?!, ya sudah nggak usah pulang dulu. Ibu insya Allah pulang hari minggu, jadi adek yudhanya bisa sama de selvanya"
-masih terdiam- -lalu-
"bu, ibu nyanyi" "nyanyi apa?!" ibu tertawa "lagu apa aja bu, terserah, yang penting jangan lagu dangdut, pokoknya nyanyi"
Ibu masih tertawa, lalu lagu melayu itu pun didendangkan, suara ibu dirasa begitu merdu, mengalahkan semua suara merdu yang ada di dunia. Mengalahkan indahnya harmoni pagi, harmoni malam ini yang sudah riuh ramai terdengar semenjak senja datang menjelang.
"hidup di bui bagaikan burung"
titik itu jatuh, semakin deras-semakin deras, "ah ibu, betapa aku benar-benar merindukanmu, betapa aku benar-benar ingin luruh di pangkuanmu.
"bangun pagi makan nasi jagung" "hidup di bui pikiran bingung" "apa daya badan ku terkurung"
Ibu terus bernyanyi, sembari sesekali tertawa renyah, sampai nyanyian itu terhenti tiba-tiba dan berganti dengan suara tut...tut...tut...tut...., telepon terputus begitu saja. Satu menit, dua menit, lalu "de, pulsa abis", begitu bunyi pesan dari ibu. Tertawa, saya hanya bisa tertawa, sembari mengusap-usap kedua kelopak mata yang sudah basah bersimbah titik-titik air mata.
"kenapa bu?" "pulsa ibu habis de, sisa Rp 641,00" "kalau memang ade nggak bisa pulang, ya sudah ndak apa, diselesaikan dulu, jangan terlalu dipikirkan, nanti ade stress" begitu ujar ibu pada saya, anaknya, anak gadisnya yang nomor dua, yang menghubunginya hari ini, malam ini.
Lama bercerita, hingga akhirnya tersedu-sedu ia berkisah pada saya anaknya. "uang SPP itu urusan ayah sama ibu" begitu katanya dalam derai air mata, "Ade nggak usah pikirkan itu, itu masih tanggung jawab orang tua", hhhh maksud hati ingin sekedar bercerita, tetapi derai air mata juga hasilnya. Ibu ada-ada saja, padahal saya hanya berkata "uang SPP dan SP saya insya Allah bisa membayarnya, dengan apa yang ada di dalam tabungan saya".

Sedu-sedan itu semakin bertambah, kisah-kisah, cerita-cerita pilu masa lalu, kembali terkuak, kembali terangkat ke permukaan, seakan tidak ada habisnya ia rasakan. Entahlah, mungkin harapnya, pedih, perih, lelah, sakit di dalam dada yang ia rasa selama bertahun-tahun, bahkan sejak masa kecilnya, ia harap dapat berakhir mana kala anak-anaknya beranjak dewasa. Tetapi, sedu sedan itu selalu seperti itu, begitu pilu, rasa lelahnya begitu terasa di dalam dada saya, anaknya.

Ia bercerita tentang bagaimana manusia lain beranggapan tentangnya, tentang bagaimana.... saya tak pernah kuasa untuk menceritakan kisahnya. Saya, hanya terdiam, menangis dalam teredam agar ia tidak semakin bersusah hati karenanya, karena isak tangis saya dalam diam. Hingga akhirnya, tangis itu pecah, saya tak tahan.

Teman-teman saya berkata, bertanya "kenapa saya tidak menulis sebuah novel saja? mengapa saya tidak menulis sebuah buku". Maka kali ini saya menjawabnya, saya ingin, ingin, demi Allah saya ingin sekali dapat menulis sebuah novel, menulis sebuah buku, dan novel itu, buku itu, bercerita, berkisah tentang ibu saya, tentang ayah saya, tentang adik lelaki saya, tentang saudara-saudara perempuan saya.

Tentang ibu yang bangun pagi, tidur pada malam hari, bekerja tak kenal henti, sampai akhirnya, sekujur tubuhnya terkadang sakit di sana-sini. Bercerita tentang ayah yang harus bekerja kadang sampai tidak pulang bahkan hingga keesokan harinya, mengejar buronan katanya, mengejar perampok sampai masuk ke dalam hutan belantara, sampai akhirnya suatu hari beliau mengalami celaka, Alhamdulillah Allah masih berkenan memanjangkan usianya.

Ibuku oh ibu
Ayah engkaulah guruku
dan kakak serta adik perempuanku
dan untuk adik lelakiku yang Allah anugerahkan ketidaksempurnaan padamu hingga menjadi ujian kesabaran bagi ibu, ayah, dan kami keluargamu.

Tahukah kamu
betapa saya bangga terlahir dan berada di tengah-tengah mereka.
berharap kiranya Allah berkenan memberi saya kesempatan untuk menuliskan kisah mereka semua, sebelum Dia menjemput ibu, ayah, saudara-saudara perempuan saya, adik lelaki saya dan saya untuk kembali ke haribaan Nya.

Berharap kiranya, ketika novel itu ada, ketika buku itu diterbitkan di negeri ini, Ayah dan ibu saya akan tersenyum bahagia, bahagia, bahagia, hingga bukan tangis derita lagi yang ada, bukan tangis letih yang tersisa, tetapi tangis bahagia, ya tangis bahagia.