Pages

Wednesday, June 17, 2009

Permintaan yang aneh - KM 34

Set 4

Sudah hampir 3 tahun aku bekerja di tempat ini, di daerah ini, KM 34, benar apa yang dikatakan sri, daerah ini, merupakan daerah lokalisasi. Setiap hari, setiap waktu, hilir mudik lelaki-lelaki, wanita-wanita, berdua, berpasang-pasangan, dan aku tahu mereka bukanlah pasangan yang sah, karena sebagian dari mereka, aku mengenalnya.

Entah apa yang terjadi dengan dunia ini, aku tidak begitu mengerti. Kalau saja hari itu aku dan parni tidak bertemu dengan wanita itu. Tentu sudah tidak jauh berbeda nasibku dengan nasib teman-temanku yang berada di sini, di daerah lokalisasi ini.

“ini sri, tempat usaha kita yang baru, gimana? Kamu setuju? Lho kok diam, kamu setuju ndak?”

Tercengang pada awalnya, darimana kiranya parni memiliki ide gila macam ini, setau ku, guru agama di sekolahku pernah berkata bahwa bila suatu urusan diserahkan pada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Tapi, lama parni mencoba meyakinkan, akhirnya hatiku luluh juga.

Usaha itu naik turun pada akhirnya, selepas menghabiskan uang tabungan aku dan parni untuk membuka usaha ini, kami berdua memutuskan untuk keluar dari rumah kontrakan lek par, saudara parni. Lambat laun, usaha yang kami rintis berdua, mulai menunjukkan kemajuannnya, banyak pelanggan yang hilir mudik, mereka bilang tidak merugi membayar dengan harga mahal, karena memang layanan yang kami berikan memuaskan.

Satu tahun berlalu, kami pun membutuhkan karyawan. Bukan hal yang sulit mencari karyawan, tetapi menjadi sulit bila karyawan tersebut harus memiliki kriteria jujur dan dapat di percaya. Lama mencari, tak juga mendapatinya, hingga sampailah kami pada saat dimana, siapa saja yang mau menjadi karyawan akan diterima.

Sampai suatu ketika datanglah seorang wanita, pertama kali melihatnya, dalam pandangan aku dan parni, perempuan itu aneh, ia mengenakan kain penutup untuk menutupi kepalanya. Awalnya aku agak keberatan untuk menerimanya, sampai parni membujukku dengan berkata “ya kita coba saja, kalau tidak bisa dipercaya, kalau pekerjaannya ndak benar, ya kita cari penggantinya”. Akhirnya dengan berat hari, perempuan bernama sutinah itu kami terima juga dan jadilah penghuni kios usaha itu kami bertiga, wanita semua.

Awal dia bekerja, hari pertama, begitu cekatan, tidak kenal lelah sepertinya. Pagi-pagi buta dia sudah membuka hari dengan membaca tulisan-tulisan arab dari sebuah kitab yang kata pak ustadz di desa itu Al Qur’an namanya. Agak sedikit khawatir bila mana dia melalaikan pekerjaannya karena rutinitasnya setiap paginya.

Ia bukan pegawai yang banyak menuntut, pertama kali ketika aku dan parni berkata “di sini gajinya kecil ‘nah, tapi kalau sedang untung banyak, ya kita kasih bonus lebih ke kamu” begitu kata parni.

Aku pikir dia akan memprotes atau sedikit menanggapi tentang perihal gaji nya, ternyata “ndak apa mbak parni, yang penting saya cuma minta waktu 10 menit untuk enam waktu”, “oh bukan masalah ‘nah, 10 menit untuk enam waktu kan, berarti kalau ditotal hanya butuh 60 menit, yah lebih pun tidak apa, asalkan pekerjaan kamu tidak terbengkalai” begitu ujar parni. sutinah pun mengangguk “insya Allah ndak mbak”, perempuan berusia setidaknya sebaya dengan usiaku itu hanya tersenyum senang.

Aneh, permintaan yang aneh, 60 menit? Aku hanya menatap parni penuh tanda tanya dan kawanku itu hanya tersenyum saja, sembari berkata “dia cuma minta waktu ‘jeng, dan kita punya banyak waktu”. Awalnya, aku bertanya-tanya, untuk apa 10 menit setiap enam waktu itu. Hingga suatu aku mencoba mengamati sutinah untuk satu hari penuh sampai pkl 20.00 menjelang.

Pagi membuka, 10 menit pertama, pkl 08.00 pagi, ternyata 10 menit yang ia maksudnya adalah sholat, “sholat apa pada jam-jam segini” begitu aku bertanya pada parni, “sholat dhuha ‘jeng, kamu ini gimana tho, katanya muslim, tapi kok ndak tau”, aku hanya diam, tidak begitu menanggapi apa yang parni sampaikan.

Menjelang pkl 12.00, 10 menit kedua, seperti halnya pagi hari, sutinah sholat kembali, kali ini agak sedikit lama, karena ia sembari mengaji. Menjelang pkl 15.30, 10 menit ketiga, sutinah menghilang kembali dari pandangan mata, dn seperti biasa, ia tengah sibuk dengan sholat dan mengajinya. Begitu seterusnya sampai habislah 10 menit itu dalam enam waktu. Ternyata yang sutinah maksud dengan 10 menit untuk enam waktu itu adalah sholat lima waktu dengan yang keenam adalah sholat pada pagi hari.

-bersambung-