Pages

Tuesday, June 16, 2009

Numpang - KM 34

Set 3

Menumpang, ya satu-persatu dari kami turun dari mobil milik perusahaan pak par, ya pak par merupakan salah satu dari sekian banyak supir yang ada di perusahaan tempat dia bekerja.

Selesai sampai di situ, satu hari berlalu, dua hari berlalu, lik par mengantarkan kami berkeliling kota ini, mengenalkan kami daerah-daerah yang ada di kota ini, agar kiranya suatu saat nanti kami bisa bepergian sendiri dan tidak tersasar di kemudian hari.

Tidak terasa sebulan sudah berlalu, belum ada juga pekerjaan yang menyapa aku, parni dan beberapa orang temanku. Beberapa dari mereka mulai merasa bosan, hingga akhirnya memutuskan pulang tanpa membawa apa-apa ke kampung halaman, pulau jawa, kembali ke desa. Satu per satu, hingga yang tersisa hanya aku dan parni.

Dua bulan sudah masih tetap berusaha mengandalkan ijazah yang ada. Sesekali terbesit keinginan untuk pulang, tetapi parni selalu mengatakan “jangan pulang ‘jeng, malu, kita sudah jauh-jauh tapi pulang dengan ndak bawa apa-apa, mau ditaruh dimana muka kita ‘jeng. Tunggulah barang beberapa bulan lagi, tabungan mu masih ada kan? Aku masih ada sedikit, kita buka usaha aja ‘jeng. Gimana?”.

Ucapan parni ada benarnya, malu rasanya kalau tiba-tiba aku pulang begitu saja, malu aku pada ibu, pada sri adikku.

“tapi, ndak enak sama pak lek mu par, kita sudah numpang di kontrakannya, ndak bayar pula”

“insya Allah ndak apa ‘jeng, yang penting dirawat, gitu kata pak lek ku. Jadi gimana, setuju ndak kalau kita buka usaha saja, kalau kamu setuju, aku sudah punya gambaran kira-kira dimana tempat usaha kita itu mau didirikan.

Aku hanya mengangguk saja, tanda setuju, tanpa pikir panjang, tidak tahu bahwa ternyata anggukan kepalaku itu akan membuahkan penyesalan yang mendalam.

“mbak, mbak, mbak!!!!”

‘ya, ada apa sri” lamunanku buyar begitu saja, mengembalikan alam bawah sadar ke tempat di mana seharusnya pikiran itu aku tempatkan, di malam ini, di tempat ini, saat ini, bukan kembali mengulang ke beberapa tahun yang lalu, yang sudah berlalu.
“jadi piye mbak, pulang ya mbak”

“kabar mamak gimana sri, masih kerja di sawah pak kadi kah? Apa mamak ndak malu kalau tau pekerjaan anak pertamanya itu di tempat yang hina seperti tempat ini sri?, mbak memikirkan mamak sri. Ndak tega menambah beban mamak semakin berat, belum lagi omongan tetangga yang kadang bikin hati panas, ndak terima sri. Kalau mbak yang dikatakan hina, mbak ndak apa-apa sri, tapi jangan mamak. Itulah kenapa mbak begitu berat untuk pulang ke desa”.

“mbak, mamak waktu pertama kali dengar dimana mbak bekerja, mamak biasa-biasa saja mbak. Sampai suatu hari, mbak puji yang pernah tinggal di bontang, bilang ke mamak, katanya KM 34 itu lokalisasi. Aku sama mamak tu bingung mbak, lokalisasi itu apa, sampai mbak puji bilang begini. Lokalisasi itu tempat perempuan ndak bener bu mul, kalau diajeng sampai kerja di situ, ya maaf ini lho bu, yah ibu tau lah apa yang saya maksud. Begitu dengar itu, aku cuma bisa diam mbak, mamak tiba-tiba pergi, ndak lagi mendengarkan”.

“mamak ndak banyak bicara semenjak hari kedatangan mbak puji itu mbak, Cuma sesekali selepas sholat, aku sering dengar mamak menangis mbak, mamak tu selalu berdoa supaya apa yang dikatakan oleh mbak puji itu salah, mamak selalu bilang, semoga mbak mu selalu dijaga oleh gusti Allah ya nduk, begitu kata mamak”.

-bersambung-