Pages

Wednesday, May 9, 2012

tentang Irshad Manji dan orang kota vs orang udik, sebuah filosofi

Saya tidak mengerti tentang 'ada apa denganmu' situs blogger.com yang sudah menemani saya sejak beberapa tahun yang lalu. Tapi, baiklah, kita kesampingkan hal itu, mungkin bukan kesalahan 'blogger.com' nya, melainkan sesuatu terjadi pada jaringan serta provider yang saya gunakan.

Lama tak berjumpa, mengotak-atik isi kepala, melampiaskan apa yang hati saya tanyakan kepada kepala saya tentang seperti apa manusia, alam, tentang kehidupan, bahkan terkadang tentang cuaca.

'tak tik tuk tek tok' seandainya seperti itu suara yang dihasilkan dari interaksi yang terjadi antara jari-jemari saya dengan tuts-tuts keyboard netbook yang kecil tapi tak mungil ini. Tentunya, akan lucu terdengar di telinga saya dan bisa jadi akan terpecah konsentrasi saya. Karena terlalu terpesona dengan suara 'tak tik tuk tek tok' itu.

Saya akan berhenti memulai selayang pandang yang sebenarnya merupakan sebuah pengalihan karena apa terkadang, apa yang ingin saya tuliskan, belum mampu untuk saya tuangkan. Maka, mari berlebih-lebihan dalam membuat sebuah metafora, perumpaan, hiperbolik, yang terkadang terlampau berlebihan.

Siang ini, di dalam sebuah kamar petak, lantai dua, menikmati remangnya cuaca dari siang menjelang senja di kota Bandung. Tepatnya, taman sari, pelesiran nomor sekian (*no saya samarkan demi keselamatan penulis). Hahahahaha, saya mulai bergurau tentang keselamatan yang lebih kepada mengada-ada.

Saya menulis, sebuah cerita, sebuah pandangan tentang seorang anak manusia bernama Irshad Manji. Sejatinya saya tidak mengenalnya, diapun sudah lebih kepastiannya 'tidak mengenal' saya pula. Pemberitaan beberapa hari terakhir ini membuat saya 'sedikit' atau memang 'tertarik' untuk sekedar mencari tahu tentang sosok yang lumayan membuat masalah di negeri ini semakin bertambah *hehehehe.


Singkat tentang Irshad Manji, dari namanya saya pikir dia lelaki, ternyata dia wanita, berusia 44 tahun, berkebangsaan Kanada, seorang muslim. Selebihnya mengenai sosok Irshad Mandi dapat dibaca di situs berita kompas.com. Saya bukanlah seseorang yang bisa dengan mudah 'fans' dengan seorang anak manusia, karena menurut saya, semua manusia sama kedudukannya. Hanya beberapa orang saja yang mampu membuat saya tertegun, kemudian serta merta saya akan berkata 'saya mengidolakannya'.

Sosok irshad manji ini cukup membuat situs berita online kebanjiran berita mengenai sepak terjangnya di Indonesia pada tahun 2012, ya setidaknya terhitung sejak kedatangannya ke Indonesia, sampai dengan ketika dia diboikot oleh ormas tertentu pada saat akan melakukan diskusi di Teater Salihara. Menurut beberapa situs berita online yang saya baca, Irshad Manji dituding menyebarkan hal-hal tentang 'transgender, homoseksual, dan lesbian' melalui bukunya yang berjudul 'Allah Liberty and Love'. Tetapi, menurut si penulis (irshadmanji red) dia tidak menyebarkan paham-paham, pemikiran-pemikiran tersebut di dalam buku yang dia karang.

Waallahualam, karena saya belum membaca bukunya. Tetapi, menurut teman saya *masih menurut pendapat orang lain, isi buku dari Irshad manji tersebut 'memprovokasi'. Tentu saya akan provokatif apabila yang membaca, sekedar membaca tanpa menganalisa, kemudian terbawa dengan alur pikiran si penulis, atau bertentangan tetapi bertentangan tersebut sifatnya merusak. Seperti memaki-maki penulis, atau menghina, menghujat salah satu pihak, seperti yang saya baca  melalui komentar-komentar pembaca berita tentang Irshad Manji di situs-situs berita online *menyedihkan.

Hal yang menjadi pertanyaan di dalam benak saya adalah bagaimana Irshad Manji bisa sampai ke Indonesia, sementara pada tahun 2008 *dia sempat menerbitkan buku juga*, tetapi tidak terkenal. Siapa yang mengenalnya? saya tidak, bahkan tidak ada pemboikotan atas kedatangannya. Lalu, tahun ini, 2012, siapa yang mengundangnya, siapa juga yang mempersiapkan, mengatur agenda diskusi Irshad Manji dengan Universitas-universitas, siapa pula yang memfasilitasinya? Yang menjadi fasilitatornya, yang menghubungkan dia pihak-pihak yang sekarang ini telah, sedang, dan akan berdiskusi dengan Irshad mengenai bukunya 'Allah, Liberty, and Love'.

Sedikit aneh menurut saya, ketika dia katakan bahwa Tuhan itu sama dengan cinta. Tetapi, bila dia perempuan, dia muslim, dia mencintai Tuhannya, dan dia paham sekali dengan konsep ketuhanan, cinta, yang saat ini dia anggap benar. Seharusnya, setiap pencinta akan melakukan segala sesuatu untuk kekasih yang dicintainya, seperti Allah perintahkan TUTUP AURAT, maka bila memang benar dia memahami konsep 'cinta', memahami Tuhannya, maka dia *irshad manji* akan menutup auratnya. Tetapi, pada kenyataannya, dia tidak.

Buku yang dia karang, pernyataan yang dia keluarkan, pemikiran yang dia tuangkan ke dalam bukunya, menurut saya kontradiktif dan Irshad Manji lebih kepada sosok yang Inkonsisten.

Dan yang saya heran, mengapa orang Indonesia sebegitu inginnya berdiskusi dengan dia? Secara gamblang, singkat, sekilas, dan dangkal, saya melihat sosok Irshad Manji adalah tipe manusia yang mencari pembenaran, bukan kebenaran. Dia lebih nampak sebagai seseorang yang mencari hal-hal yang mendukung pemikirannya, mengambil ayat sebagian lalu mengesampingkan ayat yang lain.

Lantas, hal apa yang ingin didiskusikan orang Indonesia dengan dia *Irshad Manji*?

Orang Indonesia, penyakit latahnya tidak pernah hilang. Asalkan seseorang itu berasal dari luar negeri, entah itu Amerika, Kanda, eropa atau barat sebelah ujung berungpun. Asalkan berasal dari barat, diketahui muslim, berpikiran 'terbuka' menurut mereka, maka akan berbondong-bondong tertarik. Menganggap kata-kata orang 'Barat, muslim' itu -petuah, emas, bijak-, menganggap cara pikir mereka luar biasa. Meskipun sebenarnya biasa saja.

Kemudian secara kurang ajarnya saya membuat sebuah perumpamaan. Dimana Orang Indonesia tak ubahnya seperti orang Udik, orang kampung yang dari kampung sekali. Tak mengenal listrik, tak mengenal televisi, tak mengenal alas kaki. Sehingga, ketika melihat orang kota (*orang asing, barat) datang ke kampungnya yang udik, dengan memakai mobil *meskipun butut*, yang wanita memakai rok pendek dengan konde seberat 1kg, yang lelaki dengan pakaian perlente dengan pantat tertungging-tunggi ke belakang, sembari menyunggingkan senyumnya yang memperlihatkan barisan gigi-gigi emasnya. Maka serta merta orang udik itu mengikuti orang kota ke balai desa. Menonton pertunjukan 'orang kota masuk desa'.
Sesampainya di balai desa, termelongo-melongo-lah orang-orang udik itu ketika melihat orang kota yang berbeda dengan mereka. Orang kota yang putih-putih, yang giginya terpasang emas, perak. Sampai ketika orang kota itu berbual-bual "gajah itu lebar sodara-sodara" begitu ujar orang kota.

Maka orang desa yang udik itu akan saling berbisik satu sama lain "oooooo, ternyata gajah itu lebar. Pak kades kemarin bilangnya gajah itu besar" ujar salah satu orang udik, orang udik lain menimpali "pak kades salah, orang kota pasti benar" begitu ujar udik yang satunya, udik yang lebih udik lagi tak mau kalah "mungkin gajahnya pak kades dengan gajahnya orang kota beda" begitu ujar udik paling udik dengan mimik meyakinkan. Lalu ketiga orang udik itu secara bersamaan berkata "oooooo, ya ya, mungkin gajahnya beda".

Dan kedua orang kota laki perempuan itu serta merta mendelik satu sama lain, saling melirik, memberi kode kepada sesamanya yang artinya 'orang udik mudah dibohongi'. Di lain waktu, mereka akan berkata 'orang udik mudah diadu domba', karena keesokan harinya, mengenai gajah yang besar, gajah yang lebar itu menjadi permasalahan besar. Udik yang satu dengan udik yang lain masing-masing bersikukuh dia yang paling benar, sampai perkelahian pun terjadi, antara sesama orang udik.

Dan, kampung udik yang semula damai itu menjadi rusuh, ribut, kelahi sana-sini, karena kedatangan orang kota ke kampung udik di suatu ketika.
Apa istimewanya buku itu? entahlah

Menurut Irshad buku itu tentang kebebasan, kebebasan bertanya, berpendapat. Yaaaa dari artikel yang saya baca, dia pernah diultimatum untuk menerima tanpa diberi kebebasan untuk bertanya *ketika dia berada di Madrasah.

Siapa yang bilang bahwa Islam itu konservatif? tidak menerima keterbukaan? tidak boleh kritis? tidak boleh bertanya? Hal yang salah kalau ada yang menganggap Islam itu seperti itu. Irshad hanyalah satu dari beberapa gelintir orang Muslim yang kedapatan "apes", karena bertemu dengan guru yang tipikalnya "saya guru, apa yang saya bilang kamu ikut, tak perlu banyak bertanya". Lalu apakah yang salah islam? Islam secara keseluruhan? muslim dan ulama secara keseluruhan?

Tidak, Islam tidak ada yang salah dengannya. Irshad hanya kedapatan apes karena bertemu dengan guru yang seperti itu karakternya, sifatnya. Dan guru juga manusia, lalu, apakah semua guru di madrasah seperti itu? siapa bilang? ckckckckck, sangat disayangkan ketika Irshad secara dangkal men-generalisir bahwa islam yang saat ini (*padahal yang dia temui saja) adalah konservatif). Sebuah analisa dangkal dan hebatnya lagi dengan analisanya sendiri tersebut dia menghasilkan sebuah buku, yang dijual, diterjemahkan, kemudian orang Indonesia berbondong-bondong ingin berdiskusi dengan dia tentang bukunya.

Menyedihkan, ya bagi saya menyedihkan. Hal yang menyedihkan ketika orang-orang muslim yang tidak mengenal agamanya sendiri, kemudian serta merta tertarik dengan Irshad kemudian beranggapan bahwa Irshad mewakili kegundahan hatinya tentang agama Islamnya yang menurut dia telah mengekangnya. Dan yang lebih aneh lagi adalah, ketika dengan jelas Lesbi dikategorikan sebagai gangguan psikologi yang berimbas pada disorientasi seksual. Dan seorang Lesbian, Irshad Manji, justru dijadikan bahan rujukan, contoh, panutan oleh akademisi-akademisi, sungguh memprihatinkan.

Sama memprihatinkannya ketika seorang teman saya, lebih memilih menggunakan kutipan seorang tokoh spiritual Dalai Lama, ketimbang kutipan Al quran, hadist, Rasulullah dan para sahabat nabi, orang -orang sholeh, sholihah. Kiamat semakin dekat kawan, ketika manusia muslim zaman kini semakin menutupi identitas ke-Islamanannya, semakin menganggap aneh ke-Islamannya, dan saya pun termasuk di dalamnya.