Pages

Monday, July 28, 2008

The Old Man and The Umbrella

Part Five--- Awalnya saya malu, karena yang keluar pria, bukan ibu imran yang tadi berbicara dengan saya. Tak lama, ibu imran pun keluar. Saya titipkan si kakek pada mereka, sebelumnya, ketika saya akan beranjak pergi, kakek bertanya ”anak namanya siapa?”, ”sefta” jawab saya, lalu ”semoga amal....” saya tidak dengar kakek ucapkan apa selanjutnya.

Saya katakan pada ibu imran, ”ibu, saya titip kakek ini ya. Dia lupa-lupa ingat sama jalan” saya pun berpamitan. Tadinya si kakek mau pulang dengan menggunakan jasa tukang ojek. Tapi, tidak ada ojek yang mangkal di sekitar daerah ini, melainkan di depan jalan kopi. Dan akhirnya, si kakek memutuskan akan naik ojek bila nantinya bertemu di jalan.

Kakek pernah bertanya, dari mana asal saya dan dimana saya menempuh pendidikan SMA. Saya katakan, bahwa saya berasal dari baturaja, entah ia tahu atau tidak dengan daerah itu. Lalu ”saya SMA di lampung utara pak” begitu jawab saya, ”oh, berarti sudah merantau jauh ya” begitu kata kakek pada saya.

Saya pun beranjak pergi. Kembali kakek katakan terima kasih, sayup-sayup terdengar kakek yang bertanya ”kapan meninggalnya?”, ”tanggal 25 maret .......” begitu jawab ibu imran dan tidak terdengar lagi kelanjutannya.

Saya segera langkahkan kaki, sholat maghrib menanti. Perjumpaan dengan Sang Pencipta sudah tertunda beberapa lamanya.

Hari semakin gelap, saya susuri kembali jalan yang saya lalui bersama kakek ketika pergi. Di tengah-tengah perjalanan, saya berjumpa dengan orang tua dari murid TPA saya beberapa waktu yang lalu. Saya menyapanya, lalu si bapak bertanya ”itu tadi pak kadir ya?” , ”iya mungkin pak, saya kurang tau. Bapak itu cari rumah haji imran. Mari pak” saya pun pergi meninggalkannya, bapak itu mau menunaikan sholat maghrib di masjid nampaknya.

Hmmh, perjalanan hari ini. Tiba di asrama pkl 18.15, saya bergegas membersihkan diri dari keringat yang melekat untuk kemudian menegakkan sholat.

Balada persahabatan antara dua orang lelaki tua. Haji imran sudah pergi lebih dahulu, mendahuli si kakek yang sudah semakin tua.

Apa kakek merasa kesepian? Apa ia merasa kehilanan seorang teman? Entahlah, saya tak mampu menggambarkannya meskipun hanya dengan kata-kata.

Apa yang kakek lakukan menggugah rasa. Ia mencari temannya yang sejatinya sudah pergi mendahuluinya, nampak si kakek tidak mempedulikan dirinya sendiri.

Bepergian sendirian, di bawah guyuran hujan, berjalan dengan hanya bermodalkan ingatan yang bisa saja hilang dengan seketika. Dan bila saat itu datang dengan tiba-tiba, maka bisa jadi tersasarlah ia dan dapat saja ia tidak kembali ke tengah-tengah keluarganya.

’Sesungguhnya mencintailah kamu hanya karena Allah. Membencilah kamu karena Nya pula’. Apa seperti itu persabahatan yang mereka jalani sepanjang kehidupan ini? Entahlah dan tak tahu kenapa air itu ingin jatuh kembali dari kedua buah mata ini.

Allah kabulkan doa saya di pagi hari, ketika saya meminta agar ada sebuah pelajaran yang dapat saya ambil di hari ini.

end