Pages

Saturday, July 5, 2008

beginilah pasar

-bagian kedua-

Tidak ingin segera pulang, saya rasakan ingin berbuka puasa di jalan, di tengah-tengah keramaian. Akhirnya, mbak elia mengikut saja, ’Hmm senangnya ada yang mau menemani menetralisir hati agar menjadi sejuk kembali’. Kami pun terus menapaki jalan raya yang penuh dengan polusi kendaraan. Memutuskan untuk melangkahkan kaki ke salah satu pusat perbelanjaan yang lebih banyak jumlah wanitanya dari pada jumlah prianya, yah karena tempat yang kami tuju adalah pasar yang menjual ragam barang wanita, dari atas sampai bawah, dari yang luar hingga yang dalam.

Sebenarnya, saya bukan tipikal orang yang suka berbelanja atau pun sekedar cuci mata. Hanya sedang ingin berjalan mengelilingi pasar sembari menunggu waktu maghrib tiba.

Pasar ini masih saja ramai, meskipun beberapa toko mulai mengemasi barang-barang dagangannya. Saya menjadi salah satu pengamat hiruk pikuk yang ada.

Mengelilingi pusat perbelanjaan ini, jumlah wanita yang saya temui lebih banyak dari pada jumlah pria, entah itu penjualnya, entah itu pembelinya, semuanya hampir dapat dipastikan wanita. Entah mengapa wanita begitu senangnya berbelanja? Pertanyaan yang menurut sebagian orang adalah sebuah retorika, tapi bagi saya tetap saja tidak ada jawabannya.

Beginilah kiranya kehidupan ini, pasar ini bisa dikatakan sebagai miniatur kecil dari kehidupan yang sesungguhnya. Ada penjual, ada pembeli, ada peminta-minta yang memang kentara meminta-mintanya, ada pula yang memakai songkok sembari membawa kotak amal, begitu bunyi tulisan yang saya baca di muka kotak yang ia bawa. Mencari penghidupan dengan segala cara.

Entah apa yang saya cari, saya tidak sedang mencari apa pun di pasar ini. Selain dari pada menenangkan hati dengan berjalan kaki di sore hari di tengah-tengah keramaian dan hiruk pikuk manusia-manusia yang mencari penghidupan.

Lelah berjalan, kami pun berhenti sejenak. Tidak duduk, karena memang tidak ada bangku yang dapat dijadikan tempat untuk duduk. Hanya berdiri, ya kami berdua hanya berdiri, sembari melihat-lihat ke sana- ke mari, mengamati penjual dan pembeli yang melakukan transaksi di tengah-tengah ketergesaan karena penjual ingin segera mengemasi barang dagangan, menutup toko lalu angkat kaki kemudian pulang. Sementara itu, pembeli memanfaatkan situasi agar si pedagang kehilangan konsentrasi hingga membuat si pedagang rela melepas barang dagangan dengan harga yang murah lagi meriah.

Yah beginilah pasar, Rasulullah sarankan, ”Pergilah ke pasar paling akhir dan pulanglah paling awal”, banyak kemudharatan yang ditawarkan oleh sebuah tempat yang orang Indonesia sebut dengan nama ”pasar”. Bagi wanita, bila tidak mampu menahan nafsunya, maka berjam-jam bisa ia habiskan hanya untuk berputar-putar di sebuah tempat yang bernama pasar, menyedihkan bukan?

Kisah perjalanan kali ini dirasa begitu panjang, semakin lama, kisah yang saya tuliskan semakin panjang saja agaknya.

Kisah pun berlanjut.