Pages

Sunday, July 6, 2008

Hiruk Pikuk Kehidupan

-Bagian pertama-

Beginilah kiranya hiruk pikuk kehidupan yang sebenarnya. Sejatinya hari ini tidak ingin kemana-mana, terlebih lagi karena beberapa waktu yang lalu, hati ini sudah ber-azzam untuk tidak pergi ke tengah-tengah keramaian yang orang-orang biasa menyebutnya dengan pusat perbelanjaan.

Penat, ya hati dan pikiran ini, hari ini penat sangat. Habis kena semprot oleh seorang dosen wanita yang tidak akan saya sebutkan namanya, wanita yang cerdas, mengagumkan di mata saya. Saya kategorikan dia cerdas dalam hal ilmu yang didalaminya, itu saja, tidak lebih, karena memang setiap kecerdasan memiliki parameter tersendiri bagi yang memahaminya.

Kamu bingung dengan apa yang saya tuliskan? Itu bagus, dan semakin banyak kamu membaca, saya harap semakin bingunglah kamu jadinya.

Pagi ini, di awali dengan senyum terindah yang saya berikan pada sang mentari pagi yang masih bersedia menyinari bumi yang semakin panas ini. Memenuhi permintaan Mbak Elia untuk menemaninya pergi mencari komponen elektronik untuk keperluan tugas akhirnya.

Agak malas pada awalnya, bukan saja karena harus menemani selepas ashar, tapi terlebih karena suasana hati sedang penat akibat semprotan hujan asam (berlebihan agaknya-hiperbolik-) dari seorang wanita paruh baya yang sudah ditetapkan sebagai salah satu dosen Fisika untuk beberapa tahun lamanya. Tapi janji tetap harus ditepati, semprotan yang bertengger dan mewarnai hati yang pada awalnya cerah kemudian berubah menjadi buram, remang, lalu menghitam, haruslah dilupakan atau paling tidak dikesampingkan.

Akhirnya saya dan Mbak Elia berangkat juga, mencari apa yang memang harus dicari untuk keperluan Tugas Akhirnya. Toko-toko elektronik yang kami datangi sudah tutup agaknya, pintu-pintu gerbangnya sudah dipasang kunci pengaman ganda, ”Yah, sudah tutup de” begitu ujar Mbak Elia pada saya.

Hari semakin sore, lalu lintas jalan raya semakin ramai saja jadinya. Sebagian orang ingin pulang untuk melepas lelah setelah bekerja seharian, ingin bertemu keluarga dengan segera nampaknya, agar dapat bercengkrama dan bercanda. Mungkin itu salah satu harapan yang mereka ingin dapatkan, selepas menjalankan rutinitas demi apa yang namanya penghidupan, yang kadang membuat lelah dan penat pikiran. Kami berdua masih terus berjalan, mencari toko-toko elektronik yang masih mau membuka pintunya untuk para pembelinya, pilihan jatuh pada sebuah toko berpapan nama ”LIMAN”. Entah apa artinya, saya pun tidak sempat bertanya pada si empunya...

Agak sulit menemukan toko itu pada awalnya, sedikit tersembunyi dari toko-toko yang ada di sekitarnya.

Toko ini tidak begitu besar, tidak ada pelayan pria di dalamnya, semuanya wanita, tak terkecuali si empunya. Mbak elia mulai membuka catatan kecilnya, barang-barang yang ia butuhkan Alhamdulillah sudah ia tuliskan, sehingga tidak menyulitkan si pelayan untuk melayani pelanggannya.

Saya tidak bisa diam, bosan hanya memperhatikan si pelayan yang mondar-mandir mencari apa yang Mbak Elia cari. Akhirnya otak dan seluruh jajarannya, mengajak bibir dan lidah saya bekerja sama, hingga terlahirlah beberapa kalimat tanya ke dunia, yang saya tujukan pada pelayan yang melayani Mbak Elia. ”Sudah lama kerja di sini mbak?” begitu bunyi pertanyaan pertama, ”Enggak, saya baru kok mbak di sini” begitu katanya, ”Oo, pantesan masih bingung” begitu tambah saya, ”Iya mbak” jawabnya sembari tersenyum.....

Barang-barang sudah didapat, saya hanya menunggu sembari melayangkan pandangan kemana saja saya suka dan akhirnya sampailah mata ini pada seperangkat obeng hingga membuat saya berkata ”Mbak saya beli obeng itu”. Pelayan yang ramah, obeng diambilkan. Uang Rp. 6.000 rupiah pun saya bayarkan. Tiba-tiba, hidung ini mulai merasa terganggu dengan apa yang ia cium sejak beberapa waktu yang lalu.

”Hmm, bau apa ini ya mbak? Seperti gak asing” begitu ucap saya sekenanya. Si pelayan berkata ”Sssttttt” begitu jawabnya, ”Oohhh saya tau mbak, ini bau dupa ya?” begitu jawab saya sembari berbisik. Saya terka begitu, karena kebetulan si empunya toko adalah orang keturunan.

Tapi, ternyata bau itu bukan bau dupa, melainkan bau menyan, begitu kata si pelayan. ’Gdubbrakkk ternyata si empunya, sedang melakukan ritual di dalam tokonya, pantas saja baunya sampai kemana-mana’. Zaman sudah modern, orang Eropa sudah sampai ke bulan, orang Indonesia masih berkutat dengan ’kemenyan’.

Selesai membayarkan apa yang dibeli, kami pun beranjak pergi ”Makasih ya mbak”.

--to be continued--