Pages

Sunday, July 6, 2008

Mbah Melati

-- Wanita perkasa yang pertama --

Mbah-mbah itu, mengapa saya katakan mbah-mbah itu? Ya karena mereka lebih dari satu, sederhana bukan.

Mbah-mbah itu, saya tidak begitu mengenal mereka berdua. Mereka bukan kakak beradik, bukan pula satu keluarga, pun nampaknya mereka tidak saling mengenal antara satu dan lainnya.

Perjumpaan saya dengan mbah yang satu itu, sebut saja mbah mawar. Pada suatu hari, saat saya sedang lari pagi menyusuri jalan di kampus hijau yang saya cintai. Saya biasa keluar dari asrama sekitar pkl. 05.15 pagi.

Jalan ini masih cukup lengang, ketika sebagian manusia yang lainnya lebih memilih mendengarkan ceramah dari balik selimut mereka, pria-pria yang disebut ikhwan itu, lebih memilih asyik di masjid mengikuti kuliah tujuh menit dengan khusyuk bahkan mungkin ada yang terkantuk-kantuk, ’subhanallah’.

Saya mencoba membelah kabut, mengabaikan dingin yang menusuk, menghilangkan rasa takut, menyebrangi jalan perempatan dan kepala ini kembali teringat manakala melihat warung padang yang ada di ujung gang ’dimana ada perempatan, di situ ada warung padang’ entah dari mana pepatah itu dilahirkan, tapi memang ada benarnya apa yang pepatah itu katakan.

Saya pun menyusuri jalan di kampus hijau yang kini semakin lama semakin terkikis kehijauannya. Mencoba berlari tanpa henti, mencoba mengelilingi, menjelajahi kampus hijau yang tak seberapa ini.

Matahari masih belum mau menampakkan diri, masih begitu enggan untuk menyapa diri ini, masih begitu malas untuk membuka selimut malam yang menutupinya meskipun hanya sekedar mengintip saja.

Saya pikir, saat itu sudah pkl 05.30 pagi, akhirnya saya putuskan untuk menyudahi lari pagi saya hari ini, sudah cukup membakar kalori. Saya pun memutuskan untuk kembali ke asrama.

Jalan ini masih nampak sepi, sedikit gelap karena lampu-lampu jalan ini sudah dipadamkan untuk menyapa sang mentari pagi yang sampai saat ini masih juga enggan untuk datang.

Tidak seperti hari-hari kerja, hari ini tidak ada satu pun petugas kebersihan yang menyapu di sepanjang jalan kampus ini.

Dari kejauhan, saya melihatnya. Ia ’ah saya lupa apakah saat itu saya searah atau berlawanan arah dengannya. Ia membawa bakul yang ia gendong di pinggangnya, dengan tutup kepala khas ibu-ibu yang sudah lanjut usia, sekedar menutup rambutnya saja. Ia mengenakan kain jarik dan sepasang sendal jepit yang entah apa warnanya, saya sudah lupa atau karena saat itu masih gelap adanya? Entahlah.

Saat itu, saya berpikir ’apa yang ia lakukan pada jam-jam seperti ini’ lalu saya pun berlari mendahuluinya karena matahari sudah mulai unjuk gigi.

Tak lama berselang, beberapa hari kemudian saya bertemu kembali dengan mbah mawar yang saya temui beberapa hari yang lalu. Saat berpapasan dengannya, ia mencoba menawarkan buah nangka yang ia bawa pada saya, tetapi saya menolaknya ’ah ternyata ia berjualan’ begitu pikiran saya kala itu yang terkonsentrasi, hingga bersinergi dengan hati dan menghasilkan reaksi.

Beberapa hari kemudian, saya melihatnya sedang mencoba menjualkan kacang tanah, yang secara tidak sengaja saya mendengarnya berkata bahwa itu kacang tanah diambil dari kebunnya ’tunggu dulu, saya mendengar atau menguping pembicaraannya dengan calon pembelinya? Ah saya sudah lupa’.

Saya sering bertemu dengannya, karena saya sering pergi ke kampus dengan berjalan kaki. Mbah mawar itu masih gagah, ya setidaknya itulah yang nampak di mata saya. Tidak ada raut lelah yang tergambar di wajahnya, tak pernah saya melihat ia duduk sekedar beristirahat dari perjalanan jauhnya.

Tapi, mbah mawar sudah tua malah lebih tepatnya renta, lalu dimanakah anak-anaknya? Seorang teman saya berkata pada saya manakala saya menceritakan mbah mawar padanya, katanya ”mbah itu jualan kue sama nasi uduk cep”.

’ah luar biasa’ begitu kata isi kepala saat itu, ia tidak lagi muda, sehari-harinya saat ini ia menggunakan jarik kecokelatan dengan bakul yang diikatkan di pinggang, menutup kepala dengan penutup kepala khas orang tua dan tak lupa sendal jepit berwarna kuning tua yang semakin lama semakin terkikis alasnya.

Ia masih kuat berdiri, mengalahkan matahari yang masih tertidur malu berselimutkan malam yang kelam, berjalan di tengah panas terik matahari tak ia hiraukan.

Sekali waktu saya pernah bercakap dengannya, barang sebentar saja. Saya hanya sempat bertanya di mana ia tinggal ’ibu tinggal di kampung baru’, begitu jawabnya singkat.

Salah satu potret kehidupan, di saat manusia-manusia seusianya yang saya jumpai memanfaatkan kerentaan mereka untuk mendapatkan belas kasihan yang dihargai dengan uang, meletakkan tangan mereka di bawah, merendah, duduk memelas, mbah mawar di usianya yang senja, masih berjuang mencari penghidupan entah sampai kapan.