Pages

Monday, July 27, 2009

Jangan lihat mobilnya, tapi lihat orangnya

Pagi, hujan mengguyur kota ini sejak dini hari, dingin, dalam rintik hujan dan kebasahan, dalam ketergesa-gesaan dan kekhawatiran akan 'kesiangan', saya berjalan setengah berlari. Berbekal uang seribu hasil 'meminta' pada seorang kawan untuk 'ongkos pulang' ha..ha...ha, mengingatkan saya pada lirik lagu mbah surip yang terkesan asal comot dan serampangan, tetapi cukup ringan dan mengibur untuk didengarkan.

Semalaman sudah merepotkan beberapa orang kawan, salah satunya bernama Dyan, hanya demi tugas akhir saya, temannya. Sepulang kantor pkl 21.00 malam ia langsung meluncur bersama sepeda motornya, untuk menghinggapkan diri di laboratorium pemodelan fisika kampus ini. Dengan alasan 'besok pagi, saya ada janji dengan pembimbing skripsi, mau memperlihatkan alat tugas akhir saya' begitu alasan saya padanya, hingga kesimpulan bersama dibuat, dan inilah dia, pagi-pagi saya sudah kembali berada di kampus ini, setelah sebelumnya bersama teman-teman mencoba menembus batas kemampuan tubuh untuk tetap terjaga. Teman saya yang satu ini, hampir serupa dengan seorang teman saya yang berada jauh beberapa ratus kilometer dari saya, khafidl namanya.

Pagi pun tiba, tak nampak hujan akan reda, hingga akhirnya saya putuskan untuk pulang, janji dengan pembimbing I, harus ditunaikan, menemui beliau pkl 7.30 pagi, atau bahkan lebih pagi karena beliau memang sudah punya janji dengan orang lain lagi.

Kampus ini masih sepi, tidak ada mahasiswa yang terlihat, mungkin masih setia bergumul dengan selimut mereka yang sudah nampak usang dan tua, karena sejak tahun 2004 hingga tahun 2009 selalu bersama atau masih betah berdiam diri di dalam sarungnya karena hujan yang masih belum juga mau reda, turut meramaikan suasana, hingga aksi bangun kesiangan mereka lakukan bersama-sama.

Lupakan, semua alur cerita bertele-tele yang saya sampaikan sebagai pembuka. Pagar pembatas antara fakultas dengan kantor POS unila pun dibuka. Suatu ketika saya sempat bertanya pada pak pos yang bertugas di kantor itu mungkin sejak beberapa tahun yang lalu, 'kenapa pintu gerbangnya ditutup pak?', 'satpamnya reseh, waktu itu pernah nggak ditutup, trus satpamnya marah-marah, katanya -kalau ada yang hilang gimana, bapak mau tanggung jawab-', begitu ujar si bapak pos pada saya.

'whuaaahh' bergaya juga itu satpam fakultas MIPA, padahal biasanya kerja mereka hanya duduk-duduk sambil menghisap racun nikotin dan menghembuskan asapnya ke udara. Atau, mencari mangsa dengan mengerjai mahasiswa-mahasiswi unila yang kedapatan duduk berduaan, dan sebagian mahasiswa/i UNILA tahu apa yang saya maksudkan.

Pintu pun dibuka, orang DEKANAT yang pertama kali saya temui adalah bapak sekretaris Dekan FMIPA yang merangkap sebagai sekretaris bagi pejabat-pejabat dekanat lantai 2 lainnya.
'pripun kabare?' bapak bertanya 'sae mawon jawab saya' lalu 'pak war nya ada ndak pak?', agak ragu si bapak menjawab, lalu 'belum datang sepertinya.

Duduk dalam diam, di dalam gedung dekanat FMIPA unila. Rasa dingin itu masih merayap saja, meskipun saya sudah memakai pakaian tebal sebagai pelindung bagi tubuh saya yang beratnya tidak seberapa. Tak lama, bayangan kaca itu menampakkan sesosok yang saya amat sangat mengenalnya, sejak tahun 2005, saya mengenali hentakan kakinya, cara berjalannya, meskipun saya tidak melihatnya melainkan hanya melalui pantulan kaca, dia lah pembimbing saya, rupanya dia benar-benar sudah datang sejak pagi-pagi buta (hiperbola).

Senyum simpul saya berkata 'bapak sudah datang ya?', lalu 'bapak sudah mau pergi ya?', ya tanpa beliau jawab pun saya sudah tahu dia akan segera pergi, meninggalkan gedung ini. 'Saya sudah dari tadi sefta' begitu katanya. 'Mobil bapak nggak ada di parkiran' hingga saya pikir beliau belum datang. Lalu beliau pun menjawab 'jangan liat mobilnya sefta, tapi liat orangnya', tak lama, bapak pun pergi melangkahkan kaki setelah sebelumnya bertanya apa yang ingin saya sampaikan padanya. 'Draftnya dititip sama sekretaris saja', kira-kira begitu instruksinya.

Bapak pun pergi meninggalkan saya dengan mobil dinasnya. Mau tertawa rasanya, benar-benar mau tertawa bila mengingat sehari sebelumnya saya sudah merepotkan teman-teman untuk menemani saya merampungkan alat tugas akhir sampai membuka mata hingga pagi tiba. Dan pada akhirnya, hasil dari perjuangan yang sampai sempat membuat saya lumpuh tidak dapat bergerak untuk beberapa saat itu, adalah bahwa pembimbing saya pergi meninggalkan saya ke rektorat UNILA untuk beberapa saat lamanya.

Beberapa jam untuk perjumpaan yang tidak sampai 5 menit rasanya. Ah, maaf, maaf sekali pada mereka-mereka yang sudah direpotkan untuk berada di laboratorium pemodelan malam ni. Mungkin lain kali, saya memang benar-benar harus "melihat orangnya, bukan sekedar mobilnya".