Pages

Friday, October 17, 2008

Ramadhan Terdahulu

bagian ketiga

Partner sejati


Saya sudah katakan bahwa ibu dan ayah begitu ketat dalam mendidik anak, bukan ? termasuk dalam hal sholat tarawih? Tahukah kamu, dahulu setiap kali masa ramadhan tiba, maka musim buah pun tiba pada waktunya. Mulai dari rambutan, duku, salak semua buah dirasa musim pada bulan itu, bulan penuh berkah bukan.


Maka ketika adzan isya dirasa akan berkumandang, saya dan teman-teman sudah mulai mengemasi barang-barang, membawa botol minum beserta makanan yang kami punya. Sampai di masjid, adzan isya belumlah akan tiba, maka acara makan-makan dimulai, masing-masing membuka bekal yang dibawa untuk kemudian saling menukarkannya.


Menyenangkan, karena saat ini hari ini saya masih dapat menuliskannya kembali.


Saya sudah katakan bahwa ibu dan ayah saya ketat bukan? Maka ketika ayah dan ibu tiba di masjid, untuk sholat tarawih juga bersama, ibu sudah mulai mengeluarkan jurus jitunya, memandang tajam sembari berkata ”ade, sholatnya di depan”, ’oh tidak’, di depan di sini, maksudnya tepat di samping ibu, atau di depan ibu, atau dimana saja yang bisa diawasi oleh ibu.


Kalau sudah begini, saya tidak dapat berkutik, diam, duduk manis mendengarkan pak ustadz berceramah, ceramah yang dahulu saya rasa begitu membosankan. Bila kedapatan membuat gaduh sedikit saja, maka jari-jari lentik ibu akan melancarkan aksi, atau tatapan mata yang tajam mulai menyoroti dan di rumah ibu akan mulai berceramah panjang kali lebar kali tinggi.


Pernah suatu kali merasa aman karena ibu tidak dapat ikut sholat meskipun hanya sesekali, merasa bebas tapi ternyata saya salah kaprah, ayah saya yang berada di shaf depan, nyatanya tetap mengawasi, ya ayah dan ibu benar-benar partner sejati, bahkan hingga saat ini.


-bersambung-