Pages

Monday, October 27, 2008

Kenapa harus ada sunnah, nyusah-nyusahin aja

Kalimat ini terlontar begitu saja dari seorang wanita. Agak panas berasa di dalam dada, lalu kemudian teredam dengan sendirinya karena saya bukan makhluk yang mulia melainkan sebaliknya.


Entah bagaimana awal mula pernyataan itu keluar meluncur dengan cepatnya dari alat bicaranya. Seingat saya, saat itu, saya, dia yang berkata, dan seorang teman sekamarnya. Sedang membahas tentang sholat tarawih yang 11 rakaat dan 23 rakaat setelah ditambahkan witir.


Menurut sebuah hadist ’Aisyah RA ”Rasullah tidak pernah menambah tarawih lebih dari 11 rakaat pada bulan ramadhan dan yang lainnya” (H.R Al Bukhari I/385 dan Muslim I/509).


Nah, saat itu saya sampaikan hadist ini padanya. Lalu dengan serta merta dia berkata ”itu sunnahkan? Kenapa harus ada sunnah, nyusah-nyusahin aja”. Waw, masya Allah luar biasa, ’tenang-tenang, jangan keburu emosi’. Akhirnya saya katakan begini padanya, ”mbak tau ndak kenapa Allah menetapkana ada yang sunnah ada yang wajib?”, dia diam mendengarkan atau entahlah. Lalu ”biar ketahuan, mana hamba-hamba pilihan, yang menurut sebagian orang mengerjakan amalan-amalan yang kurang kerjaan”.


saya pun menambahkan ”kalau dipikir-pikir, ngapain sholat sunnah sebelum dan sesudah sholat wajib, ngapain pula ada sholat malam. Kenapa gak diwajibkan saja? Karena kalau wajib, semua manusia pasti menjalankannya dengan sukarela atau terpaksa, tapi kalau sunnah, cuma orang-orang tertentu saja yang mau menjalankannya, cuma hamba-hamba pilihan Nya saja”.


Hening, lalu ”habis di tempat gua itu, jadi saling hina antara muhammadiah dengan NU, Cuma karena ada yang 11 rakaat dan 23 rakaat” begitu tambahnya, mulai melunakkan argumennya.


Saya hanya menjawab sekenanya, saya katakan padanya ”Perbedaan itu sunnatullah, perbedaan itu Al Ghurabah (tulisannya bener gak ya?), perbedaan itu indah, sekarang bagaimana manusianya menyingkapi perbedaan yang ada. Cuma di Indonesia aja yang begitu ngeributin yang 11 rakaat sama yang 23 rakaat”.

Akhirnya, hhhh hidup beginilah hidup, manusia lebih memfokuskan diri dan hati pada perbedaan yang ada bukan pada kesamaan yang ada padanya, kesamaan bahwa pada dasarnya sama-sama manusia, bahwa pada dasarnya sama-sama muslim adanya.


Dan alhamdulillah kiranya tahun ini hari raya sama antara pemerintah Indonesia dengan muhammadiah sebagai salah satu organisasi massa terbesar yang ada di Indonesia. Setidaknya mbak tina yang biasa berjualan sayuran, tidak perlu pusing dengan bertanya ”mbak septa kita ini lebarannya besok atau bukan sih, aku bingung ini, mau jualan takut mahasiswa sudah pada pulang”.


Setidaknya mbak ida pun tidak perlu lagi berkeluh kesah dengan berkata ”yu’ ngah, kita ini lebarannya kapan ya, aku bingung ini mau buka warung atau enggak, nanti sudah masak banyak-banyak taunya mahasiswa sudah pada pulang”.


Kembali, beginilah salah satu potret negeri ini.