Pages

Saturday, October 11, 2008

catatan Ramadhan 14

bagian kedua

Sholat tarawih tinggal angan-angan


Kamu tahu, benar-benar menyenangkan, melankolie hati berkata ’betapa romantisme tercipta hari ini’ dan ’seandainya saya berada di rumah, sudah pasti takkan saya lewatkan kesempatan untuk bersenang-senang di bawah guyuran hujan, tanpa payung, tanpa alas kaki. Tapi, saya hanya bisa berangan-angan.


Hampir sampai di asrama, saya lupa bahwasannya hujan turun dengan derasnya, dan itu berarti jalanan yang berada di depan asrama, sudah pasti kebanjiran, air kecokelatan sudah memenuhi pelataran depan jalan asrama.


Terdiam, benar-benar kotor, terlebih lagi tepat di seberang asrama, terdapat selokan. Mau tidak mau, dalam tawa tertahan, dalam senyum simpul melangkahkan kaki, menembus genangan-genangan air yang tingginya hingga melampaui mata kaki.


Begini lah asrama annisa bila musim hujan tiba, tak luput bagian dalam halaman asrama, tergenangi air yang tingginya kurang lebih sama dengan jalanan yang berada di depannya. Kotor? Ya tentu saja, jorok? Yah itu sudah pasti pula, tapi menyenangkan, ya bagi saya sungguh menyenangkan, mencoba memanjakan sisi kekanak-kanakan yang sudah lama terpendam, hampir tenggelam dalam sisi kedewasaan yang kadang menjemukan lagi melelahkan.


Hari semakin lama semakin bertambah gelap, mendung yang disertai awan hitam semakin melengkapi kegelapan yang langit tawarkan. Katak-katak mulai bernyanyi riang mungkin karena hari ini ia dapat berjumpa kembali dengan seorang kawan lama, Sang hujan. Binatang-binatang malam, mulai keluar dari sarang, seolah tak ingin melewatkan pesta perjumpaan antara Sang katak dengan Sang hujan.


Tidak ada tanda-tanda pesta hujan akan berhenti bahkan hingga adzan isya menjelang. Rencana menunaikan sholat tarawih di masjid tetangga sebelah, hanya tinggal angan-angan.


-bersambung-