Pages

Friday, October 24, 2008

Hidup itu butuh perjuangan

Hari pertama, malu-malu pada awalnya

'Jualan itu gak gampang, hidup itu memang butuh perjuangan, rezeki itu sudah ada yang atur, dan yang terakhir, Allah itu bersama orang yang sabar'


Begini ceritanya, alkisah suatu malam sepulang dari sholat tarawih di masjid tetangga sebelah. Seorang wanita yang satu asrama dengan saya bertanya, "cep sibuk gak bulan ramadhan ini?", yah saya bilang saya nggak, wong memang sedang tidak sibuk. Lama muter-muter gak keruan, akhirnya si mbak bertanya "mau ikutan jualan gak?". Nah lho, si mbak akhirnya mengutarakan maksud dan tujuannya. Yah tanpa pikir panjang, saya langsung aja bilang iya, sampai akhirnya saya lupa untuk berkata "insya Allah".

Entah kenapa tiba-tiba saja saya bilang iya, sampai akhirnya di pagi hari yang indah saya mengirimkan pesan padanya "mbak, cep lupa, insya Allah ya". Yah bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. sehari berlalu, akhirnya saya dan mbak wik, ya nama wanita itu wiwik jadi saya memanggilnya mbak wik, karena dia lebih tua 4 tahun dari saya.

Akhirnya, kemarin, tanggal 4 september, saya dan mbak wik mulai berjualan, jualan es sama puding yah bisa dibilang puding abal-abal coz lebih menyerupai agar-agar. Hmmh, malu? oh tentu saja, meskipun ini kali kedua saya berjualan. Kapan yang pertama? oh itu ada cerita tersendiri yang belum sempat saya postingkan di blog ini.

Dari asrama, bawa-bawa meja, bawa es batu, puding, gelas plastik, sampai ember buat wadah es buah. Menit-menit pertama, hiks...3x malu, malu sekali, tapi dengan gayanya di dalam hati berkata "toh rasullullah pun berdagang", rasa malu sedikit demi sedikit berkurang. Hari semakin sore, hampir pkl 17.00 WIB, sudah hampir satu jam, belum juga ada yang datang. Kembali "hiks..hiks.." harapan mulai pudar, mau sembunyi rasanya di bawah kolong meja.

Handphone pun jadi sasaran, photo-photo bareng mbak wik hanya sekedar menghilangkan rasa malu yang mulai meradang. Sampai tiba-tiba, seorang wanita muda kuliah S2 di Unila begitu terangnya, menjadi pembeli untuk pertama kalinya 'Duh senangnya bukan main, Alhamdulillah'. Ada juga yang mau membeli, agak was-was sebenarnya, habis meskipun sudah sering membuat makanan yang begituan, tapi berbeda pada tujuan, biasanya untuk buka puasa angkatan, nah ini untuk dijual, 'gimana kalau ada yang sakit perut? gimana kalau kemanisan? gimana juga kalau ternyata kurang manis?' Haduh, itu praduga terus bertengger di kepala.

Hingga matahari semakin berlari, menuju peraduannya, pembeli semakin ramai saja. Rasa was-was yang lain yang berpikir bahwasannya dagangan ini tidak akan laku terjual, pupus terbang bersama angin-angin petang. Benar kiranya, rezeki sudah ada yang mengatur, benar kiranya bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar.

Lama, hari semakin sore saja, ada yang datang ada juga yang pergi. Dan ada kejadian lucu di sore itu, bagaimana tidak, kerja saya dan mbak wiwik, berphoto-photo ria dengan handphone yang saya bawa.

Pengguna jalan raya, tukang sate yang berada tak jauh dari tempat kami saat itu, hanya senyam-senyum saja melihat tingkah polah kami berdua. Beberapa pembeli yang datang, dengan malu-malu lalu segera pergi setelah membayarkan apa yang ia pesankan. Dan mereka lelaki, mengapa mereka? yah karena memang bukan hanya satu pembeli yang bertingkah seperti itu.

Jadi sedikit ingin mengamati, hingga berani mengambil kesimpulan dini bahwasannya ada beberapa kriteria mengapa mereka membeli. Pertama, karena memang ingin membeli, mengingat tenggorokan kering kerontang meradang karena berpuasa selama seharian (Whuaahhh hiperbolik). Alasan kedua, karena rasa kasihan melihat kami berdua berjualan.

Ah, pada akhirnya saya dan mbak wik hanya tertawa saja mendengar asumsi yang saya keluarkan. Jadi beginilah rasanya berjualan, beginilah rasanya mencari uang, dan beginilah kiranya rasanya menawarkan. Malu, jujur saya benar-benar malu, bahkan mbak wiwik pun malu. Tapi demi apa yang namanya sebuah pengalaman dan pelajaran, malu bukanlah jadi penghalang.

Adzan maghrib berkumandang, es buah tersisa beberapa gelas, yah daripada mubazir, akhirnya saya dan mbak wik memutuskan untuk membagi-bagikan pada pedagang yang berada di sekitar kami berjualan. Selepas menitipkan meja, pada si abang penjual sate, kami pun pergi pulang.

Hasil hari ini, Rp 61.500 ternyata memang mencari uang tidaklah gampang.

Terbakar

Sampai di asrama, malam menjelang, kembali meneruskan usaha yang dirintis seperti main-main saja. Membuat puding untuk dijual keesokan harinya, mengaduk-ngaduk, mendidih, selesai. Kompor pun harus dimatikan, kompor minyak tanah, hmmh dasar anak kostan, kompor pun seadanya saja, yang penting hidup, tapi belakangan ternyata mematikan apinya harus dengan ditiup.

"Fuh...fuh....fuh" itu kompor belum juga mau mati, padahal di awal, begitu mudahnya. Saya pun mencoba berdiri, mematikan dari atas, lalu "Fuh...whuaaaaaahhh, mbak wik, kompornya meleduk, alis cep kebakar mbak" apinya meninggi, terbakar, ya terbakar, saya terbakar, tapi masih Alhamdulillah bukan wajah. Hmmh, mbak wiwik dan mbak vivit, hanya tertawa mendengarkan saya berteriak hhhhh......

'memang hidup itu benar-benar butuh perjuangan'

-bersambung-