Pages

Thursday, October 16, 2008

Ramadhan Terdahulu

bagian kedua

Konyol


Saya bukan berasal dari keluarga yang agamis, dalam artian, benar-benar mengerti agama. Ayah sama ibu hanya benar-benar ketat dalam hal sholat lima waktu dan mengaji terlebih lagi bila bulan ramadhan tiba.


Tadarus, tarawih, berpuasa sudah diajarkan sejak kecil, kecil sekali. Hingga saya terkena penyakit maagh sejak kelas 4 SD, karena paksaan ibu pada saya untuk berpuasa. Sewajarnya anak kecil, oh tunggu saya belum katakan bahwa masa kecil itu menyenangkan, meskipun dahulunya menurut saya mengenaskan.


Kenapa? Pada saat bulan ramadhan tiba, untuk berpuasa, ayah embel-embelkan uang Rp 1.000 rupiah untuk tiap puasa yang dijalankan hingga adzan mahgrib tiba. Tapi dasarnya anak-anak, kadang saya suka melipir-melipir, menghilang, pergi ke sumur, ke kamar mandi, untuk sekedar cuci muka, berkumur, lalu ke dapur.


Menelan air sedikit-sedikit, mencicipi makanan walau pun seiprit, saya lupa saat itu saya kelas berapa. Tapi, saya juga dahulu lupa bahwa Allah tahu, meskipun ibu tidak tahu apa yang saya kerjakan di dapur, apa yang saya kerjakan di sumur.

Konyol ya konyol, dan saat ini hal itu menjadi hal yang menimbulkan tawa bila mengingatnya dalam sepi, dalam sendiri.


-bersambung-