Pages

Tuesday, February 24, 2026

Bukan sekedar di atas kertas, sebuah ilustrasi

Hujan turun, deras, aku bercerita tentang seorang anak manusia yang sudah cukup lama aku kenal, amat lama. Beberapa berkeluh-kesah pada datangnya hujan, tetapi anak-anak pembawa payung-payung besar itu, begitu riang ketika hujan datang, karena berarti 'profesi mereka sebagai pengojek payung' sudah pasti menuai rezeki.

Suara titik-titik hujan itu begitu terdengar keras, membasahi setiap mili dari atap rumah tempat anak manusia itu berada kini. Sekedar ingin bercerita tentang bahwa kualitas seorang anak manusia bukan sekedar apa yang tertera di atas kertas.

Suatu ketika, ketika aku tidak tahu harus memulai darimana, suatu ketika dimana aku merasa tidak bebas dengan kamu, tempat dimana aku terbiasa bercerita, berceloteh tentang tingkah laku manusia, penghuni bumi ini, penghuni bumi nusantara, Indonesia.

Dan anak SD yang jujur itu pun sudah beranjak dewasa

Dan tangis itu pecahlah, sesenggukan ia, sore menjelang sholat maghrib itu, ketika dia mengetahui bahwa dia satu-satunya orang yang mendapatkan nilai mutu terendah dari teman-teman satu kelasnya. Sebenarnya nilainya bukan menandakan bahwa dia tidak lulus untuk mata kuliah itu, dia lulus, tetapi dengan semua apa yang dia usahakan, dia merasa keadaan sudah berlaku tidak adil padanya.

Temannya berkata, "Bill gates berkata, orang sukses itu adalah orang yang tau bagaimana dunia bekerja". Hatinya berkecamuk, dia marah entah pada siapa, marah pada dirinya karena tidak bisa bekerja seperti dunia bekerja, dia mampu, dia tidak mampu, dia tidak mau. 

"Apakah aku harus berbuat curang pula seperti mereka, untuk sukses di dunia?" begitu dia berkata pada temannya yang berada disaluran telepon selulernya

"Ya, supaya kamu bisa mendapatkan hasil seperti apa yang teman-teman kamu dapatkan, jika memang itu perlu menurut kamu" begitu jawab temannya

"aku tidak bisa" begitu jawabnya

"Kenapa kamu tidak bisa?" tanya temannya
"Bekerja seperti apa dunia bekerja, kalau kamu merasa bahwa kamu diperlakukan tidak adil, kalau kamu merasa bahwa perlu agar orang lain tau, kamu tidak sebodoh itu. Maka kamu temui dosenmu, tanyakan mengapa nilai kamu paling rendah diantara yang lainnya. Daripada kamu berkeluh kesah yang tidak menghasilkan apa-apa" begitu ujar temannya pula

Sejenak perempuan itu terus menarik nafas panjang, kepala dan hatinya terus berpikir, kemudian
"menemui dosen? untuk apa? bertanya mengapa nilaiku bisa seperti ini? kalau pun aku diberikan lembaran-lembaran hasil ujianku, aku percaya memang aku pantas dengan nilai itu. Lalu? aku harus berkata apa lagi? mengatakan bahwa hampir 100 % peserta ujian berlaku curang? bekerja sama? menyamakan jawaban setiap kali ujian?"

"ya kalau memang perlu" begitu jawab temannya

"Tidak, aku tidak mau begitu, aku tidak ingin begitu. Berlaku jujur, sudah menjadi keputusanku, meskipun dari dulu aku sudah tahu akan seperti ini konsekwensinya, tetapi tetap saja kali ini begitu mengecewakan aku. Mereka yang sama sekali tidak tahu menahu, yang kadang hanya bermain-main ketika dosen-dosen itu menyampaikan materi di depan kelas. Dan masih banyak lagi hal-hal lain yang membuat aku kecewa. Rasa kesal itu selalu ada, begitu setiap kali ujian diadakan, kejadian sama berulang. Persaingan ini tidak sehat, kompetisi ini tidak menguntungkan aku." ujar anak perempuan itu

lalu tambahnya

"yang semakin membuat aku merasa malu, ketika bagian administrasi tempat dimana aku menuntut ilmu, memperlakukan aku seperti berbeda dengan teman-teman aku yang lainnya. Mereka tidak menatap wajahku ketika aku bertanya tentang subjek yang harus aku ulang di semester depan. Mungkin hanya perasaanku saja, tetapi pada saat itu aku ingin berkata -aku tidak bodoh, pada saat ujian itu diadakan, aku sedang dalam keadaan sakit-, semakin tidak berpihak kepadaku ketika banyak yang berlaku curang pada saat ujian. Itu selalu terjadi, meskipun dosen pengawas melihat, meskipun pengawas ujian berada di sana, seperti tidak terjadi apa-apa. Mereka yang mengawas turut berperan dalam prilaku curang yang dilakukan oleh teman-temanku" begitu ujar anak perempuan itu sembari terus sesenggukan menahankan tangisnya

"Dengar,........." temannya mengomentari celoteh panjangnya
"keluh kesahmu tidak akan menghasilkan apapun itu, temui dosenmu, katakan apa yang terjadi, supaya berhenti tangismu, supaya berhenti keluh kesahmu. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kalau kaum itu sendiri tidak berusaha untuk mengubahnya" tambahnya

Anak perempuan itu terdiam, dia teringat ketika beberapa tahun yang lalu, ketika dia duduk di bangku sekolah dasar, bagaimana dia dikucilkan karena diminta untuk membocorkan jawaban ujiannya kepada teman-teman satu kelasnya. Hal yang menyakitkan, dan lebih terasa menyakitkan ketika dia masuk ke perguruan tinggi, dimana dia berpikir bahwa masa lalu pada saat SD itu sudah berlalu, ternyata itu hanya bayang dan harapan semu. 

Semakin kejam ketika orang-orang dewasa lebih percaya dengan apa yang tertera di atas kertas, daripada apa yang ada di dalam kepala manusia yang memiliki kertas. 

"Sekarang kamu mau apa?" tanya temannya
"Menyerah? perjuangan kamu belum selesai, dunia luar lebih kejam daripada ini, lebih absurd, lebih aneh, sampai saling membunuh. Apa yang terjadi pada mu, dihadapkan pada keadaan dimana orang-orang disekelilingmu berbuat curang massal pada saat ujian? itu masih hal yang kecil, dan memang seperti itulah dunia bekerja. Kalau kamu tidak bisa menerima, bersabar, berlaku curanglah, karena memang seperti itulah dunia bekerja saat ini." begitu ujar temannya saat itu

"Tidak, aku tidak mau. Ibu bilang -nak, yang penting ilmunya, bukan nilainya, biarkan orang berpikir bahwa kita bodoh, yang penting kita tidak bodoh-. Dulu, ibu juga pernah bilang -kita tidak perlu berkata kita pintar untuk membuat orang lain berpikir bahwa kita pintar-. Dan aku tahu, aku tidak ingin berlaku curang seperti itu, aku merasa Allah melihatku, -........,dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan, bukan sebaliknya.....-" ujar anak perempuan itu

"Kalau begitu, tegakkan kepalamu. Memiliki nilai B itu bukanlah aib karena kamu berusaha dengan dirimu sendiri, bukan dengan bantuan orang lain. Tidak perlu merasa malu, tidak perlu merasa iri, menjadi jujur itu adalah pilihanmu. Negara ini memang seperti ini dan kamu sudah tau itu, kalau kamu tidak bisa bertahan, maka kamu harus pindah ke luar dari negeri ini. Negeri ini sudah sampai dimana orang-orang yang berlaku jujur itu dianggap aneh" begitu ujar temannya

Anak perempuan itu masih terdiam, dia membenarkan apa yang disampaikan oleh temannya pada saat itu, malam itu, hari itu. Dan semakin membenarkan ketika dia berpikir, ketika hatinya berkata bahwa orang-orang yang tidak berlaku curang, dianggap aneh, semakin lama semakin menjadi minoritas. Sama seperti agama Islam, agama yang dianutnya, yang datang dalam keadaan aneh, dan akan kembali dianggap aneh, bahkan saat ini pun sudah dianggap aneh.

Anak perempuan itu menghentikan tangisnya, dan aku bersyukur dia sepertinya mulai mengerti jalan hidup yang dia jalani saat ini. Anak perempuan itu semakin menyadari bahwa apa yang dia katakan dahulu bahwa -hidup itu pilihan- seperti inilah nyatanya. Dia yang memilih untuk menjadi berbeda, maka dia harus berusaha lebih karena jalan hidup yang dia pilih. Dunia belum berakhir dengan anggapan miring orang-orang tentangnya, dunia belum berakhir dengan nilai B di lembar kertas miliknya.

"Makasih ya kak" begitu ujar anak perempuan itu kepada kakaknya yang sudah seperti teman baginya

Malam pun semakin larut, anak perempuan itu mencoba berdamai dengan hati dan akal pikirannya. Memberikan semuanya kepada Allah yang menentukan takdirnya, menerima semuanya sebagai rezeki, sebagai nikmat yang harus dia syukuri.

---------------------------------------------

"Jadi gitu cep ceritanya" begitu ujar temanku itu kepadaku

Pagi, ketika lelaki itu datang, duduk kemudian bercerita tentang adik perempuannya yang berkeluh kesah kepada kakak lelakinya, dia. Tentang apa yang terjadi di lingkungan tempat adik perempuannya bersekolah, di sebuah Institut teknologi ternama. 

Aku hanya mengangguk, sesekali tersenyum, mengiyakan, menggelengkan kepala, lalu ujarku
"seperti inilah dunia tempat dimana kita berada"

Angin semilir bertiup, sejuk, membawa matahari berjalan semakin jauh, semakin membumbung tinggi kemudian tertutup awan. Aku dan temanku itu kembali duduk dalam diam, seperti tenggelam dalam alam pikiran kami masing-masing tentang bumi nusantara dan manusianya yang semakin bertambah tua, semakin menjadi tingkah lakunya, semakin menyedihkan, tetapi memang beginilah 'dunia bekerja saat ini', memang seperti inilah dunia yang diterima oleh manusia zaman kini.

Sebuah ilustrasi tentang manusia zaman kini
cerita tentang anak SD yang dikucilkan karena tidak membagi jawaban ujian kepada teman satu kelasnya, cerita setahun yang lalu, membuahkan inspirasi untuk menuliskan cerita ini


Tentang Dia, saya, kita dan bahagia

Bagaimana saya mencintai Nya? Hanya Dia yang tahu, Dia Yang Maha Tahu.

Saya bukan tipikal pribadi yang mudah terkesan dengan makhluk yang sama manusianya dengan saya.

Karena setiap kemampuan yang dimiliki oleh manusia, Allah yang memberikan, Allah yang menggerakkan hati mereka, yang memberikan hidayah kepada hamba Nya.

Tak ada sedikit pun andil manusia di dalamnya, karena semua yang kita miliki, adalah miliknya.

Mereka yang pintar, semua Allah yang membukakan akal pikiran mereka, untuk dengan mudahnya menangkap, menerima, mencerna, ilmu Nya, kalam Nya.

Mereka yang cantik, tampan rupawan, bersuara merdu, semua Allah Yang berikan.

Mereka yang baik hatinya, dermawan, Allah yang menggerakkan mereka agar berlaku demikian.

Seorang kawan saya pernah berkata, kenapa tak ada photo anak-anak mu, suami mu? Karena saya tidak mau penyakit 'ain menjangkiti mereka yang melihat dan menjangkiti keluarga kecil ku. Karena saya tidak ingin menyakiti, melukai perasaan mereka yang belum bertemu dengan jodohnya, yang belum mendapatkan buah hati di dalam kehidupan pernikahannya.

Seorang teman saya pernah bertanya, tak inginkah kamu berjalan-jalan keliling dunia?

50:50  karena saya bisa berimajinasi mengunjungi belahan bumi Nya yang lain dengan memejamkan mata, membayangkan, berimajinasi berada di sana, menghirup udaranya, berlarian di atas rerumputan sembari menikmati air sungai yang mengalir, dengan menutup mata, membayangkan, Alhamdulillah bahagia bagi saya. Karena bahagia kita yang hadirkan bukan?

Tidak ingin kah kamu bekerja? Berusaha? Memiliki banyak harta?

Saya tertawa

Untuk setiap manusia, saya percaya antara yang satu dengan yang lainnya Allah sudah menentukan menetapkan takdir mereka. Apa yang saya butuhkan, tidak sama dengan apa yang orang lain butuhkan. Rezeki bukan sebatas mobil, rumah, jalan-jalan ke luar kota, ke luar negeri saja. Memiliki jodoh yang mengerti, anak-anak yang sehat wal afiat, tetangga yang bersahabat, pun rezeki yang tak terkira bagi saya. Lebih berharga dari sekedar jalan-jalan, makanan minuman lezat, atau barang-barang mewah & mahal yang mungkin dimiliki oleh rekan-rekan saya yang lainnya. Ini menurut saya

Ada banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk mengaktualisasi dirimu, sayang ijazahmu, sayang kemampuanmu.

He he he he

Tetapi, karakter manusia yang satu, dengan yang lain tak sama. Ada dari mereka yang mampu melakukan banyak hal dengan santai, sembari mereka menjaga atau menitipkan anak-anak mereka. Tapi, saya tidak mampu begitu, hati saya merasa tidak nyaman bila saya melakukan itu. Itulah sebabnya saya memilih di rumah, menghabiskan waktu dari pagi hingga pagi dengan titipan yang Allah berikan ini.

Ini pilihan hidup, setiap pilihan yang kita ambil ada cabang di dalamnya. Baik buruknya, menyenangkan atau tidaknya, tergantung bagaimana kita menghadapinya, menjalaninya.

Kesuksesan kita, hanya kita yang rasa, pribadi lain di luar kita, di luar lingkaran keluarga kita, menjadi penonton setia, komentator setia. Berbahagia lah dengan standar sukses mu, dengan standar bahagiamu. Hidup berdasarkan dirimu & keluargamu, bukan berdasarkan penilaian, pendapat, penghargaan orang lain.

Mendengarkan saran itu perlu, melihat bagaimana kehidupan orang lain itu bagus. Tapi sekedar untuk mengambil ibrahnya meninggalkan mudharatnya, bukan untuk menyalinnya, dan berusaha mengaplikasikannya dalam kehidupan berbangsa & bernegara di dalam keluarga kecil kita.

Sampai saat ini, pribadi tanpa cela yang membuat saya terkesan adalah kekasih Nya. Saya pikir, muslim yang lain pun memiliki penilaian yang sama. Sehingga, apabila menemui manusia lain yang pintar, terkenal, memiliki banyak kolega, memiliki paras tampan/cantik, keluarga yg nampak bahagia dari photo keluarga yang dimunculkannya di media sosialnya. Atau manusia lain yang dengan segudang pencapaiannya, prestasinya, segudang pujian untuknya, perjalanan ke luar negerinya.

Mari kita berbahagia untuk rezeki yang Allah titipkan kepada mereka. Mari kita bersyukur, atas kelebihan yang Allah percayakan, amanahkan kepada mereka, semoga mereka juga menjadi amanah atas apa yang Allah titipkan kepada mereka, begitu juga dengan kita.

Karena sombong adalah pakaian Nya

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)

Karena kesalahan terbesar iblis adalah berlaku sombong

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblisia enggan dan takabur (sombong) dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir“ (QS. Al Baqarah:34)


Mendatangkan Bahagia

Bahagia itu tidak pernah pergi ke mana-mana. Sejatinya, dia berada selalu bersama kita. Hanya saja, pengharapan kita sebagai manusia membuat bahagia itu kadang tak nampak, terasa jauh, ada mungkin mustahil dirasa

Bahagia itu, kita yang hadirkan, sedih, takut, bahagia, gelisah, semua datangnya dari diri kita. 

Belajar mengikhlaskan, Insya Allah bahagia akan kelihatan, ia akan segera menampakkan batang hidungnya. Kedatangannya kadang membuatmu meremang

Waktu

Angin itu bertiup, lembut, ia membawa sejuk. Jari jemari ini nampak begitu lelah menekan tuts-tuts keyboard yang semakin usang di makan usia dari waktu ke waktu, ia menjadi salah satu saksi dari aku seorang manusia yang bergelut dengan masa.

mendung itu kembali terlihat, akan turun hujan, ya aku bermimpi hujan akan datang kemudian membawa titik-titik air yang akan membasahi setiap sudut pucuk pohon mangga yang berada di depan rumah.

Sunday, August 5, 2018

Lelaki paruh baya

Musik


Beberapa mengharamkan, ada yang membolehkan dengan catatan, ada pula yang santai, ada yang memuja, terlena, diperbudak, ada yang seperti menghamba.

Aku mungkin seperti mereka yang terlena, setiap petikan dawai, alunan lembut anak kecil yang bersenandung, atau suara sopran lelaki paruh baya dari belahan bumi yang lainnya, mampu membuatku terlena.

Mengenangkan masa lalu, masa-masa menanti itu. Tentang kelanjutan dari kisah kasih antara dua hati anak manusia. Apakah ia akan bertepuk sebelah tangan, memperpanjang malam-malam penantian.

Ataukah ia akan terjawab, anak perawan manusia itu mendapatkan apa yang hatinya harapkan. Cinta dapat membuat kita tiba-tiba menjadi melankolis, sentimentil, cengeng, berderai air mata. Membebani hati dan pikiran, menyiksa jiwa. Itulah yang aku rasakan, anak perawan yang merantau jauh ke pulau seberang. Dalam setiap derap langkah kaki, aku berharap untuk dapat melupakannya.

Tapi, hati memang tak dapat membohongi dirinya sendiri. Aku terlalu mencintai pemuda itu.

Dalam setiap penokohan, adalah biasa ketika para jejaka digambarkan gagah perkasa, cakap, baik budi dan bahasa. Mereka seperti makhluk sempurna yang tanpa cela. Mereka digambarkan sedemikian rupa, dengan semua kelebihannya sehingga mampu memikat setiap gadis yang mendengar ceritanya.

Tapi, lelaki ku ini, jauh dari penggambaran tokoh cerita, tidak seperti pandai bertarung sepertinya arjuna, tidak berotot kawat dan bertulang besi seperti gatot kaca. ia lelaki biasa seperti yang lainnya yang membuat aku jatuh cinta, dia istimewa.

Terpisah selama 7 tahun membuatnya meneguhkan hati untuk menemui atasannya dan meminta, agar ke depannya dia hanya bertugas di daerah ini saja. Kenapa? Agar dekat dengan putra dan putrinya.

Dia biasa, tapi bagi setiap anak wanita lelaki yg dipanggil dengan sebutan ayah itu adalah cinta pertama mereka. Guratan lelah semakin memenuhi wajahnya, di setiap guratan itu pula seperti merekam setiap peristiwa yang terjadi di dalam hidupnya.

Berat masa kecilnya, dia bukan berada dari kalangan orang kaya. Ayah dan ibunya petani yang kemudian menjual hasil ladang berikut ladangnya untuk kemudian mengirim anak pertamanya menempuh pendidikan kepolisian di ibu kota tempat dia tinggal.

Ia tak banyak mengeluh, sekali pun terkadang separuh jiwanya nampak begitu keras padanya. Kadang sedih dirasa, mengapa wanitanya bisa begitu keras. Tapi, belakangan aku mengerti apa yg melatarbelakanginya untuk berlaku begitu. Mereka adalah anak pertama di dalam keluarganya. Dan keduanya menjalani hari-hari yang berat di dalam hidup mereka, masa kecil, masa remaja mereka.

Lelaki paruh baya, yang saya ingat beliau selalu membawa buah tangan begitu datang setelah dinas meninggalkan kami selama berbulan-bulan. Sepanjang waktu sampai akhir masa jabatannya, dia tidak pernah meninggalkan tugasnya untuk waktu yang lama, kewajiban katanya.

Menjelang pensiunnya, di akhir masa tuanya, ia ingin mengunjungi saya katanya. Tapi, apa hendak dikata adik lelaki saya adalah tidak mungkin meninggalkan ibu seorang diri dengan adik lelaki saya itu.

Ah Yang menentukan jalan hidup manusia

Tanpa menuliskan ini pun, aku tau Engkau mendengar keluh kesah kami, manusia-manusia ciptaan Mu

Setiap manusia memiliki jalan terjal dalam hidupnya. Mungkin inilah jalan terjal di dalam kehidupan lelaki dan wanita paruh baya itu.

Sebagai bagian dari mereka, aku memohon belas kasih Mu agar kau jaga selalu kedua manusia paruh baya itu. Mereka begitu jauh dari jangkauan tanganku, jari jemariku. Tak ada se ujung kuku pun sholehnya aku, tentunya belumlah pantas aku banyak meminta kepada Mu.

Lelaki gagah itu, beranjak menua semakin lemah ia. Kadang dari kejauhan aku mendengar suaranya terbatuk-batuk, masih enggan ia berhenti dari kebiasaan merokoknya. Ia yang bisa dikatakan nyaris tidak pernah marah pada wanitanya. Ada sekali dua saya melihat wanitanya menangis dan lelaki paruh baya hanya diam menanggapi dalam diam

Waktu menjelaskan bahwa bentuk dan bahasa cinta manusia, tidak selalu sama

Mereka nampak tak serasi, namun seringkali terlihat harmoni. Keadaan membuat bahasa cinta dan kasih mereka seperti itu, begitu. Keras, kaku, dibalut canda, dan mereka bisa bertahun-tahun bersama

Kini, salah satu dari mereka lebih dulu pergi. Lelaki paruh baya itu lebih dulu menjawab panggilan Ilahi

Masih 1000 tahun lagi katanya, harapnya. Aku tak takut mati, kalau memang harus pergi, kenapa harus ditakuti. Karena semua akan mati. Begitu katanya

Pagi ini, dia menghampiri. Katanya, mimpi itu bunga tidur. Kini, aku mau itu benar-benar dirinya, bukan sekadar alam bawah sadarku yang rindu pada lelaki yang kupanggil ayah

Dengan sarung putihnya, dia bercakap pada istrinya, mencari MBK. Lalu menoleh padaku sembari berkata "eh ada anak ayah", dia mengecup dahiku

Dalam lelap aku tersedu, kencang. Lambat laun tangisan dalam mimpi membangunkanku, sedu sedanku hilang. Ia berlalu, pergi, tinggal di dalam alam bawah sadarku

Saturday, June 23, 2018

Bagai dua sisi mata uang

Apakah kita berbahagia dengan jalan hidup yang kita pilih?

Bahagia itu kita yang rasa, kita yang mengusahkannya, kita menemukannya, kita yang menghadirkannya.

Berbagi kebahagiaan tetapi bukan memamerkan kebahagiaan. Karena memamerkan itu sejatinya semu, kadang memunculkan riak-riak energi negatif yang baru. Apa yang didapatkan manusia dari memamerkan setiap perjalanan hidupnya? Apa yang didapatkan dari kita yang menampilkan semua sisi kehidupan kita? Likes di kanal media sosial kita? Puluhan, ratusan orang mengagumi kita? Pujian semu yang menyanjung ini anu itu?
Kita mencari apa? Pengakuan dari sesama manusia? Semu, semuanya semu.

Apakah kita berbahagia? Tidak perlu menunjukkannya, berbagilah dengan menebarkan energi positif kepada sesama. Terpusatlah pada mereka yang menyayangi kita, yang membutuhkan uluran tangan & kasih sayang dari kita. Bukan memusatkan pada masa lalu, pada mereka yang membuat kita kecewa. Karena sejatinya, hal-hal yang kita anggap sakit itu, yang membuat kita kecewa dan marah itu, berperan jua dalam perjalanan pendewasaan diri kita. Berperan jua dalam membentuk jati diri kita, menajamkan naluri, menguatkan nyali menapaki hidup ini di kemudian hari.

Ironi

Waktu terus berlalu, hari berganti, yang pergi telah pergi, tahun berganti. Tetapi hati tetap sulit memaafkan masa lalu, begitu benci menerima kekurangan manusia yang lainnya. Ada banyak hal yang bisa saja berjalan tidak seperti apa yang kita inginkan, apakah kita berhenti berjalan, memutuskan untuk tidak berbahagia dengan apa yang telah Allah berikan, amanahkan, percayakan pada kita saat ini? Ironi bukan, menggelikan sekaligus menyedihkan.

Ketika banyak manusia lainnya berjalan, menengadahkan kepala, menarik nafas, menghembuskannya dengan ikhlas, menengok sesekali ke belakang, melongok pada masa lalu. Yang putih, biru, abu-abu, yang hitam, kemudian berjalan dengan tenang, bahagia, memaafkan, sesekali mengingat untuk menertawai kemudian tersenyum pergi.

Di sini, kita masih tergopoh-gopoh, terengah-engah, sulit bernafas, begitu mengingat masa lalu yang kelabu. Perasaan kecewa, merasa dihianati oleh sesama manusia, manusia yang kita anggap sempurna, padahal sejatinya mereka, aku, kamu, kita ditetapkan sebagai hamba yang berkeluh kesah, pelupa dan penuh alpa.

Di titik ini, kita terus menerus tenggelam dalam marah, kecewa yang tak berkesudahan selama bertahun-tahun lamanya. Menghabiskan waktu yang Allah berikan pada kita untuk terus kecewa pada manusia. Menaruh simpati pada manusia, maka bersiaplah untuk kecewa.

Belajarlah memaafkan masa lalu, berjalanlah dengan riang, langkah kan kaki mu dengan ringan. Bahagia itu kita yang hadirkan, kita yang rasakan. Bersyukurlah pada takdir yang Allah tetapkan. Karena setiap jalan hidup manusia tidak pernah sama. Karena jodoh kita, itulah yang insya Allah terbaik untuk kita, yang bisa menerima kita apa adanya.

Aku berbahagia insya Allah, atas izin Nya, atas takdir Nya, atas masa lalu, masa kini dan masa depan yang digariskan oleh Nya.

Terima kasih untuk masa lalu, bukan untuk disesali, tetapi jadi pelajaran untuk diri. Apa yang sudah terjadi, waktu tidak dapat diputar kembali, Allah Yang Maha Mengetahui betapa diri ini mencintai Nya berpasrah diri terhadap ketentuannya.

Memaafkan

Semoga Allah melapangkan hati memudahkan jalan hidayah Nya untuk menyentuh hati

Sunday, June 3, 2018

Tremble, Rumble, past & future bukan cerita dongeng belaka

Lemahnya manusia, bagaimana sekelilingnya bisa dengan mudah mempengaruhi suasana hatinya.

Bagaimana memaafkan manusia, bagaimana memaafkan masa lalu, bagaimana memaafkan diri sendiri. Bila saja waktu dapat diputar kembali, apa yang terjadi saat ini, adalah apa yang ditanam di masa lalu. Apa yang berlaku hari ini, mungkin saja manifestasi dari ucapan tanpa sengaja, dengan sengaja, di masa lalu.

Apakah aku berjalan di masa yang salah, di waktu yang salah. Apakah yang terjadi buah dari apa yang ditanam dahulu.

Rumble, perut kosong keroncong, kecamuk di dalam kepala mengabaikan suara kecamuk yang bersahut-sahutan di dalam perut. Kita hidup untuk Allah Yang Menghidupkan dan mematikan kita. Ada saat di mana terasa begitu berat meninggalkan dunia, Allah terlupa. Ada saat di mana terasa begitu berat melangkahkan kaki di dunia, setiap tapaknya terasa perih, menyakitkan. Setiap helaan nafas yang diambil, kemudian dihembuskan terasa berat. Beginikah yang namanya berdua, genap? Ada yang dikorbankan, terkorbankan, ditinggalkan, berdamai dengan masa kini, mengakui bahwa kita tinggal kenangan, masa lalu yang jaya sudah berlalu.

Wrinkles

Menandakan semakin tua dunia, semakin tua manusia, bangunan bertambah tua. Tak ada sesiapa yang mampu menghentikan waktu, berdamai dengan perubahan, daun-daun yang berguguran. Memaafkan, karena Allah Maha Pengasih & Maha Penyayang, Maha Mengampuni. Segala apa yang ada pada diri kita, adalah milik Nya. Kemampuan memanipulasi, menyembuhkan, mengatasi, ada pada Nya. Manusia? Hanya meminta, memohon bantuan Nya, menyembuhkan luka yang ada.

Tambal sulam

Dunia bukan cerita dalam buku yang bisa kita tentukan akhirnya, riak-riak di dalamnya tentang jalan cerita tokohnya. Dunia ciptaan Nya, yang berjalan sesuai kehendak Nya, perubahan cuaca, arah angin, suasana hati manusia, semuanya berada dalam kendali & kuasa Nya.

Foolish love

Menaruh simpati, harapan pada manusia berbuah kecewa, karena manusia memiliki kelemahan, kekurangan. Menggantungkan harapan pada Nya, hanya pada Nya, sehingga cinta mu tidak menjadi cinta yang bodoh, harapan mu bukan harapan yang bodoh, simpatimu bukan simpati yang bodoh dan membabi buta. Karena Dia tidak pernah membuat hamba Nya kecewa, terluka, sendiri & sepi.

Daun-daun mulai tua, perlahan menguning, kemudian terbang terbawa angin.

Kadang aku bertanya, Allah apakah Engkau benar-benar ada? Tapi meninggalkan agama ini? Yang sempurna ini, tidak tidak tidak ada yang sempurna selain ajaran nabi Muhammad ini. Terlalu sulit untuk menolak bahwa ada kekuatan besar yang mengawasj jagat raya ini. Terlalu sulit mengabaikan bahwa ada zat yang Maha kuasa atas segala sesuatunya. Tapi benar kah jalan yang ditempuh ini, menyandarkan diri pada Mu. Nothing to lose, berbuat baik karena Nya meskipun Dia ada atau tidak di kemudian hari ketika nafas terhenti.

Tremble in fear

Foolish love

It must be foolish love

I tremble in fear

Do you love me
Do you care about me
O moon
Long time no see

Am i happy
With the hope
With the dream
A thousand dream & hope
Seems to be come true

Or i am suffering
In silent
Pretend to be happy
Because the fact a cannot escaping

O moon
Not to leave me
O Allah please help me
To stand still
Accept the reality

The time goes by
The wrinkles added by the time changed

O Allah
Hold me still
This foolish love
Torturing me

O Allah
I tremble in fear
Of death
Of lonely

Monday, May 7, 2018

Membagi kebahagiaan atau memamerkan kebahagiaan

[8:28] Dan ketahuilah, bahwa *hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai ujian* dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

[21:35] Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. *Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian (yang sebenar-benarnya)*. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.

[29:2] *Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?*

[29:3] Dan sesungguhnya *kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka*, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

[2:155] Dan sungguh akan *Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan*. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 155)

[2:214] *Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?* Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

[3:186] *Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu*. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.

[5:48] Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi *Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu*, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

Sunday, April 29, 2018

Anak-anak itu mengagumkan

Saya penggemar anak-anak, atau sepertinya saya penggemar manusia, tapi setelah dipikir-pikir saya menggemari semua yang bisa saya amati.

Dalam keadaan lapang, dapat berpikir dengan jernih, apa yang ada di sekitar kita, akan terlihat mengagumkan, mengesankan.

Pagi ini, pintu unit saya diketuk dengan keras, saya pikir penagih hutang. Ah tapi saya tidak punya hutang, ya tertunggak tidak, cicilan ada sampai beberapa tahun ke depan "riba oh riba".

Saya melihat dari balik pintu, yang mengetuk anak kecil, perempuan, tetangga beberapa langkah dari rumah. Tampak malu-malu dia bertanya, anak perempuan pertama saya dimana, tapi sayang anak pertama saya yang perempuan, sedang bermain air dengan suami saya. Saya tawarkan untuk bermain dengan anak lelaki saya yang no dua, usianya terpaut kurang dari 2 tahun.

Anak perempuan itu mengangguk, berangkatlah ia dengan anak lelaki saya.

Di pertengahan waktu bermain mereka, saya mendengar lamat-lamat suara anak lelaki saya bersitegang dengan temannya "ini punya aku, ini mainan aku". Saya ingat pasti, anak lelaki saya tidak membawa satu pun dari mainannya. Jadi, mainan siapa yang dia klaim sebagai miliknya.

Tak lama, pintu unit saya diketuk. Anak lelaki usia 9 tahunan berkata "aaric ambil mainannya apin", ya ya ya, saya sudah menduga. Saya minta dia mengembalikannya, meminta maaf pada temannya. Anak lelaki saya pun berlalu pergi, dengan mainan mobil kecil berwarna hitam. Anak lelaki saya yang ini, mendominasi, selalu mengupayakan negosiasi dengan kedua orangtuanya, kadang terlihat jelas belum ada rasa sungkan, segan, bahkan meskipun itu dengan orang dewasa yang bukan anggota keluarganya, dengan orang asing sekali pun, ketika merasa ego nya diusik, dia bisa dengan mudah mengangkat tangannya, berlaku di luar dugaan.

Kadang mengesalkan ha ha ha ha, bayangkan saja, dia seperti tidak merasa bersalah, meminjam mainan tetapi ketika tidak didapatkan, dia memaksa. Dipinjamkan yang berukuran kecil, dia menawar meminta yang berukuran besar. Tidak diberi? Tangannya akan naik, mengancam akan memukul. Apakah saya bangga? Tentu tidak, memberikan pemahaman padanya bahwa apa yang dia lakukan adalah hal yang sangat keliru, merupakan pekerjaan rumah untuk saya.

Jadi, mobil kecil hitam tersebut kembali kepada pemiliknya.

Lalu, tak lama dia kembali pulang, mencari mobil kecil yang lain, bergambarkan kartun karakter mobil Disney, Lightning Macqueen. Ya, mobil sedan merah berukuran dua ruas jari itu, didapatkan dari temannya. Dibungkus dengan kertas, bertuliskan namanya "untuk aaric". Kado ceritanya.

Tetapi, ternyata, si pemilik asli dari mobil mainan itu, tidak merasa memberikannya. Melainkan dua adik perempuannya yang begitu murah hati, membagikan mainan termasuk mainannya kepada teman-temannya. Hahahaha, bersyukur belum saya buang ke tempat sampah, mengingat mainan itu teronggok begitu saja di lantai, dengan dua buah roda yang entah sudah di mana rimbanya.

"bilang maaf ya sama a at" begitu pesan adik perempuan si pemilik mobil. Padahal, yang memberi mobil itu adalah dia dan kakak perempuannya hahahahaha lucunya anak-anak.

"Maaf ya", begitu saya mendengar suara anak lelaki saya.

"Aaric, lain kali, kalau kakak pipi kasih mainan ke Aaric, mainan mobil-mobilan, jangan mau ya. Itu punya kakak farhad"

Demikian, pagi, berawan, tiba-tiba senyap dan entah kemana anak-anak itu pergi bermain. Saya pikir, anak lelaki saya sudah bertandang ke rumah orang lain. Semoga tidak tertegun sembari menonton televisi, semoga jari dan mulutnya tidak sibuk bersinergi menyantap kudapan, cemilan, yang diberikan oleh orang lain he he he he.

Saturday, April 28, 2018

Melahirkan operasi caesar yang pertama

Bismillah, mau sedikit berbagi tentang pengalaman melahirkan dengan cara operasi. Rasanya? Luar biasa he he he he.

Baiklah, awal mula kenapa anak pertama saya harus dilahirkan dengan cara operasi. Sebagai ibu-ibu muda, jauh dari orangtua dan mertua, e do do e, luar biasa ya dengan kehamilan pertama. Daku tak kuasa jauh dari kasur, jalan agak jauh sedikit, yaaaaaaaaaaa gak sampai 50 meter deh kayaknya, sudah lemas, letih, lesu, lunglai. Itu berlangsung sampai usia kehamilan 7 bulan.

Ih, lemah banget sih kamu say. Heu heu heu, bukan manja ya cintah, tapi bawaan hormonal pada saat hamil, setiap calon emak pasti gak sama. Kalau saja diriku tinggal bersama mamak ku di kampung sana, sudah pasti nasihat panjang kali lebar kali tinggi akan keluar he he he he "Ibu juga dulu hamil, jangan dibawa maunya badan untuk males-malesan, banyak gerak, blah blah blah". Heu', ya harap maklum.

Lanjut cerita, dahulu awal hamil, karena bersamaan dengan kuliah, periksalah diriku ke RS Borromeus bandung, deket kan sama kampus, tinggal nyebrang he he he. Sempat minta saran perlu bawa oksigen gak, hahahahaha, karena sulit bernafas itu deh, sering ngos-ngosan, tapi Mbah dokter berkata "gak usah, ibu gak apa-apa", ya udah deh gak jadi.

Ingat-ingat lagi, hm hm hm awal kehamilan pernah juga diresepkan penguat, karena dari swalayan bawa 3 kg buah-buahan, belum termasuk belanja keperluan harian he he he, ya maklum pas hamil anak pertama, jadi anak kosan, sendirian pula, suami tercintah nan mempesonah ada di Jekardah.

Wokeh, akhirnya tiba masanya ikut suami pindahan, kuliah tinggal sisa-sisa plus proyek tesis aja. Di Jekardah, periksalah daku dan bayi ke RS Hermina Jatinegara, dengan dr Irsyad Bustaman, ini pak dokter ramah, no Hp nya dibagikan ke pasiennya. Bahkan meskipun daku sudah tak jadi pasien beliau lagi, tetap juga dibalas pesannya.

Dan, hasil diagnosa, bayi sungsang, kurang ketuban, heu heu heu, jadilah daku sujud semakin lama, makan telur tiap harinya. Pesan pak dokter sih begitu, supaya air ketubannya banyak, daku mengikuti saja. Dan, sampai mendekati bulan lahir, bayi sholehah ini tetap setia pada posisi sungsangnya.

Menjelang lahir, diminta pulang ke kampung cyiiiiiiin sama orangtua. Daku periksa ke dr Mahmud yang praktik di RS Handayani. Bayinya tetap sungsang booooook ha ha ha. Diwanti-wanti deh, operasi gleg gleg gleg, di keluarga daku belum ada yang pernah melalui operasi untuk proses lahir bayi. Jadilah orangtua eike wanti-wanti, jangan sampai operasi. Suami sampe keluarga suami pun sama, jangan sampai operasi.

Tepat tgl 3 Juni 2013, shubuh, mules, sampai jam 11 malam dibawa ke RS Handayani, bukaan gak jalan-jalan. Sementara, panggul daku diperiksa, sempit katanya ditambah ada tulang yang menonjol. Gak tau lah diriku tulang yang mana, bentuknya gimana. Yang pasti, gak mungkin itu tulang ikan atau tulang ayam kan say.

Sambil menunggu pak suami yang tampan nan mempesona yang membuat daku tergila-gila, tiba dari Jekardah, pak dokter memberikan pilihan operasi, demi keselamatan bayi, agar tak tersangkut kepalanya di tulang panggul ibunya, heu' menelan ludah.

Pak suami pun tiba di rumah sakit, deuuuuuuh meuni kasian, pulang dari kantor, langsung cus ke kotabumi lampung utara, dan tetap tampan tentunya hahahahaha. Tand tangan lah beliau, operasi pun dilakukan jam 23.00 WIB ya sekitar itu. Dan, lahirnya Zidni Ilmi Cantabile itu, dengan berat 3.4kg panjang 49cm, pada tanggal 3 Juni 2013 di ruang operasi RS Handayani, alhamdulillah.

Selepas operasi? Karena bius seluruh badan, jadilah daku baru sadar beberapa jam kemudian. Sakit ya cyiiiiiiin habis operasi ha ha ha ha. Belum boleh minum, kalau belum kentut, gitu deh kata perawatnya. Deuuuuuuh baru kali ini deh, kentut dicari-cari, ditungguin, dinanti-nanti ahahahaha, masya Allah memang ya. Plus 1 x 24 jam, dipaksakan untuk bergerak, berjalan ke sana ke mari, meskipun nyeri membayangi perut ini.

Menurut keterangan kakek ane, yang mantri zaman baheula, kentut menandakan sistem di dalam tubuh khususon pencernaan pasca operasi, sudah berangsur normal, alias gak ada masalah, aman sentosa jaya. Habis kentut, buang air besar lah yang dinanti-nanti, semakin berangsur membaik tandanya. Alhamdulillah 3 hari kemudian, kami pun pulang. Satu minggu kemudian, daku sudah bisa jalan-jalan wara-wiri belanja ahahahaha

Okeh lah kalau begitu, pengalaman melahirkan operasi pertama kali, selesai dibagikan. Pengalaman yang kedua? Insya Allah menyusul kemudian,

Saturday, October 7, 2017

Bagaimana ketika anak balita meniru dan mem-bully

Saya punya dua anak, salah satunya seorang perempuan. Berbeda dengan adiknya yang lebih terlihat tidak peduli dengan bagaimana orang lain berpijak, anak perempuan saya seperti mencari siapa idolanya, selain ibu & ayahnya.

Anak lelaki saya bisa dengan santai, pulang ke rumah, ketika teman-temannya sedang sibuk bermain. Alasannya "capek ibu, mau main sama ibu, aku lapar". Tidak tampak terpengaruh, pecah konsentrasi yang begitu berarti, ketika tiba waktu makan dan suara teman-temannya berlarian di depan unitnya.

Anak perempuan saya?

Berbeda, setiap perbedaan adalah keindahan, perbendaharaan pengalaman. Di tempat saya tinggal, ada beberapa anak yang se-umuran dengannya, ada juga yang usianya lebih tua tapi tidak terpaut terlalu jauh. Tetapi, cukup bisa memberi pengaruh pada putri saya yang sedang mencari siapakah idola terbarunya.

Beberapa kali, ketika pulang dia berkata "mau beli ini ibu, mau itu, aku mau seperti princess elsa, princess ana". Lalu saya bertanya "princess elsa itu apa, princess ana itu apa, siapa?". Saya meminta dia menjelaskan, menggambarkan apa yang dia dapatkan dari teman-temannya. Sedikit pengetahuannya tentang itu, karena memang saya meminimalisir segala sesuatu tentang hal-hal yang berujung pada penokohan karakter imajinasi, khususnya putri putri an ini.

Awalnya, tidak begitu mengkhawatirkan, tapi lambat laun, putri saya mulai merengek, meminta dibelikan, bertanya kenapa dia tidak punya seperti apa yang temannya punya, hal putri itu. Dia mulai berpura-pura memiliki rambut yang panjang, bertanya mengapa tokoh kartun itu pakaiannya terbuka dan lain sebagainya.

Akhirnya, saya menunjukkan pada putri saya, seperti apa putri di dunia nyata. Bahwa, dalam imajinasi, siapa pun bisa menggambarkan karakter putri sesuai dengan keinginannya. Berambut panjang kah, pendek kah, atau tanpa rambut sekali pun. Dan bahwa cantik itu bukan dari pakaian, atau rambutnya, tapi dari hatinya, tingkah lakunya, begitu seterusnya. Dan dia bisa menggambar princess sesuai dengan imajinasinya sendiri.

Lalu, drkegiatan meng-imitasi kartun karakter ini pun mereda.

Tapi, hal lain tiba. Ketika suatu kali putri saya pulang, dalam wajah kelabu, tak, dia tak menangis. Tapi saya dapat menangkap sedih di wajahnya.

Kenapa?

"Dia, gak mau temenan sama aku. Karena aku bajunya gak seperti dia" begitu jelas putri saya. Dan saya memang melihatnya, ketika dua orang temannya dengan baju serupa, bergandengan tangan, menjauhi putri saya. Dengan yang seorang, yang usianya lebih tua beberapa bulan dari putri saya berkata "jangan main sama dia, dia kan bajunya gak princess seperti kita". What??? This is wrong, dan yang saya sayangkan, teman saya yang juga merupakan ibu dari putri kecil itu, hanya terdiam, tidak meluruskan putrinya.

Di dalam rumah, saya peluk putri kecil saya. Saya kembali ingatkan dia, kalau temanmu belum mau bermain dengan kamu, biarkan. Saya kembali mengingatkan dia, tentang bagaimana rupa putri di dunia nyata. Saya jelaskan padanya tentang cantik itu seperti apa, tentang pentingnya menjadi dirinya sendiri, membangun hatinya, menanamkan di dalam kepalanya tentang jati dirinya. Dia adalah dia, ayah & ibunya bangga padanya dengan semua yang ada pada dirinya.

Sorry to say, saya jelaskan pada putri saya tentang tujuan para produsen yang menjadikan orang tua dan anak-anak sebagai sasaran marketing mereka. Yang menjejalkan hal princess dan super hero yang tidak ada di dunia nyata, untuk tujuan komersil, penokohan fiktif yang menurut saya sedikit demi sedikit mem-brainwashed pikiran anak-anak yang polos ini, untuk membentuk mereka bukan menjadi diri mereka sendiri.

Ini, alhamdulillah terlewati. Apapun pakaian yang temannya pakai, bagaimana pun temannya mempengaruhi tentang betapa cantiknya pakaian princess itu, putri saya tidak lagi terpengaruh.

Lain hari, lain pula cerita.

Ada alasan kuat kenapa anak-anak sebaiknya tidak bersekolah di bawah usia seharusnya. Menurut atasan seorang teman saya, bersekolah lebih dulu dari teman-teman sebayanya, membuatnya kini menjadi 'anak bawang' di kantornya, terdominasi, kurang diperhitungkan, itu salah satu alasannya.

Putri saya, sedang mencari idola lain di luar keluarga intinya.

Dia bertemu dengan teman yang salah satunya terpaut usia hampir 1 tahun lebih tua dari usianya. Dan yang terjadi adalah temannya berusaha mendominasinya, memaksakan kehendaknya pada putri saya, memprovokasi anak-anak yang lainnya untuk tidak berteman dengan A, B, atau C, bila tidak sesuai dengan mau & inginnya. Putri saya pernah berada pada situasi itu.

Ketika dia tiba-tiba pulang, dengan sepatu yang baru saja dipakainya. Temannya tidak mau bermain dengannya, lantaran sepatu yang dipakai oleh putri saya tidak memilki 'heels' seperti sepatunya. Temannya, tidak mau bermain dengan putri saya, lantaran putri saya menolak memakai sepatu heels milik temannya. Karena memang saya melarangnya, dan yang terjadi putri saya dijauhi, gadis kecil itu memprovokasi anak-anak lainnya untuk tidak bermain dengan putri saya, karena tidak mengikuti keinginannya.

Dengan wajah lesu, dia melepas sepatunya, sambil memeluk, saya berkata "kalau temanmu, belum mau bermain dengan kamu, tak apa, biarkan, mungkin dia sedang butuh waktu".

Lalu, mulailah putri saya bertanya tentang alasan mengapa saya tidak merekomendasikan dia untuk menggunakan sepatu dengan 'heels' itu. Pertama, itu bukan sepatu miliknya, kedua sepatu dengan 'heels' tidak sehat untuk pertumbuhan tulang kakinya, ketika " did you comfortable with that shoes?" dia menggeleng, dia merasa tidak nyaman. Jadi? Kalau kamu merasa tidak nyaman, tinggalkan, jangan dipakai, buatlah dirimu nyaman, jadilah dirimu sendiri. Kalau temanmu, belum mau bermain bersamamu karena sepatumu berbeda, bajumu berbeda, atau karena kamu tidak menuruti kemauannya, tinggalkan, jangan rusak hari mu, kamu masih bisa bermain dengan ibu, kita bisa memasak bersama, atau kamu bisa membuka-buka bukumu. Karena putri saya belum dapat membaca.

Apa yang saya dapatkan adalah bahwa tidak pernah ada kata terlalu kecil untuk mem-bully.

Saya tekankan, pesankan pada putri saya, kalau dia tidak merasa nyaman ketika temannya tidak mau bermain dengannya, maka jangan perlakukan anak-anak lain seperti apa yang pernah dilakukan temannya padanya.

Mengawasi setiap kali dia bermain, karena ada saat dimana, putri saya mem-bully anak lain yang lebih inferior darinya. Dan tugas saya meluruskannya.

Kegiatan meng-imitasi terlihat lucu, tapi menurut saya menjadi masalah ketika anak-anak kehilangan jati dirinya. Terlalai kan untuk berkembang, tumbuh menjadi dirinya sendiri, dan lebih merasa nyaman untuk berpura-pura menjadi tokoh kartun idolanya. Saya pikir mungkun itulah salah satu alasan kenapa make-up menjadi semakin laris penjualannya, operasi plastik semakin marak, keinginan kita untuk memenuhi lemari dengan jilbab & pakaian semakin tinggi, karena kita menjadikan trend sebagai kiblat kita, kita menjadikan si anu sebagai role model kita.

Wallahualam, ini cerita saya. Setiap dapur memiliki resep yang berbeda, setiap orangtua memiliki caranya, dan inilah cara saya. Yang terutama bagi saya adalah, rasulullah tauladan yang baik, tokoh yang baik. Biarkan anak-anak kita, biasakan anak-anak kita menjadikan beliau sebagai idola, meng-imitasi jalan hidupnya, mengikuti jejak beliau, para istri, para sahabat & orang-orang sholeh-sholehah lainnya.

Bila anak-anak mu di-bully, bangun semangatnya. Dan jangan lelah meluruskannya, bila dia tanpa sepengetahuannya mem-bully temannya.

Semoga Allah meridhai jalan kita semua, aamiin.

Saturday, September 30, 2017

Petunjuk Allah itu ada dimana-mana

George Winston, mengulang-ulang tentang bagaimana cara menuangnya, tentang harus dimulai darimana. Saya mahu berbagi tentang apa yang saya pikirkan pagi ini, ketika mendengarkan seorang anak manusia menyanyikan lagu somewhere over the rainbow, bukan lagunya yang istimewa tapi dia yang menyanyikannya yang membuat saya berpikir bahwa petunjuk Allah apakah tidak ada yang sampai kepadanya, pada dia.

Mengingat akhir hidupnya, ketika ajal sudah menjemputnya, api menyelimuti tubuhnya, jadi abu. Keluarga, teman, penggemarnya sembari bernyanyi, bergembira, tertawa, bahagia, membawa abunya ke tengah laut pasifik, karena dia pasti menginginkannya, karena cintanya pada lautan, begitu pikir mereka semua yang membawa abunya.

Tapi, apa benar begitu? Menurut keyakinan mereka, apa yang mereka percaya, iya begitu.

Tapi, apa yang saya yakini berbeda, tentang bagaimana sakitnya malaikat maut menjemputnya. Tentang bagaimana kuat keinginannya untuk kembali ke dunia dan memohon kepada keluarga dan orang-orang terdekatnya untuk tidak membakar jasadnya. Kenapa? Karena belum lagi hilang rasa sakit akibat tarikan malaikat maut akan ruhnya, dan bertambahlah sakitnya ketika api itu menjilat kulitnya, raganya, lalu seluruhnya menyelimuti tubuhnya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Kepulauan samudra pasifik

Tempat yang saya baru tahu keberadaannya, mungkin seperti mereka yang juga tidak tahu keberadaan negeri saya, sedemikian sama seperti itu agaknya. Tapi, apakah petunjuk Allah itu tentang Tauhid, bahwa Tuhan itu satu, bahwa ada satu kekuatan, bahwa ini yang baik dan itu yang buruk, tidak pernah sampai kepadanya? Apakah hati nuraninya tidak pernah sekali pun mengetuk hati pemiliknya barang sekali dua kali, bahwa ada yang salah, tidak tepat dengan jalan hidup yang dijalaninya? Saya menolak percaya, karena Allah selalu menurunkan, mengirimkan petunjuk kepada mereka yang mau mencarinya. Allah mengutus hamba-hamba Nya untuk menyampaikan risalah tentang keberadaan Nya, bahkan sampai ke ujung dunia, dalam beragam cara, rupa. Pertanyaannya, seberapa ingin kita mencarinya, berpikir tentang keberadaan Nya.

Dan tidaklah kita akan dihisab atas apa yang kita kerjakan terdahulu, sebelum islam itu datang. Dan Dia telah mengirimkan tanda-tanda kekuasaan Nya ke seluruh negeri, pelosok negeri. Tapi, agama ini hanya untuk orang-orang yang mau berpikir. Jangan jadi manusia yang menyesal di kemudian hari kerana melewatkan tanda-tanda yang diberikan oleh Nya.

Karena mati itu pasti
Neraka itu abadi

Thursday, September 29, 2016

Mbok suketi sebuah fiksi

Anak lelaki bertubuh tambun itu berlari, tergesa-gesa, tergopoh-gopoh iya. "mbok, itu mbok, danu mbok, danu" terengah-engah iya. Sembari membungkuk menumpukan tubuhnya pada kedua tangannya yang memegang kedua lututnya.

"Danu kenapa, ada apa dengan danu"

Nenek tua dengan kain lusuh berwarna cokelat tua yang semakin pudar warnanya. guratan-guratan garis tua semakin nampak di wajahnya. Mbok suketi, begitu orang-orang desa sukasari memanggilnya. Kapan lahirnya? entahlah, ibu bilang mbok suketi lahir pada saat belanda masih menjajah Indonesia. Mbok suki memang tua tetapi, fisiknya? jangan remehkan ia.

"Anu mbok, danu kelahi mbok, habis main bola tadi dia ditusuk sama anak kampung sebelah mbok. Sekarang sedang di bawa ke puskesmas desa"  ujar prio sembari terengah-engah

Priambodo atau prio, begitulah teman-temannya memanggil dia. Prio adalah teman dekat danu, teman sepermainan danu. Anak lelaki berkulit gelap, bertumbuh tambun, padat, dengan rambut ikal itu nampak begitu kelelahan. Tertatih-tatih iya menahankan rasa lelah, menggapai-gapai dalam meraih oksigen untuk memenuhi paru-parunya. Untuk memperlancar sebaran darah di dalam tubuhnya, bersusah payah ia menormalkan kembali denyut jantungnya.

Mbok suki terdiam sejenak, tubuhnya lunglai, sembari memegang daun pintu, mbok suki mencoba menggapai-gapai prio yang berada tepat di depan pintu. 

"Ayo ngger, antarkan mbok ke puskesmas yo" ujar mbok suki

singkat mbok suki berkata, prio segera bangkit dari rasa lelahnya. Ia lupakan sejenak rasa lelahnya karena harus berlari sejauh kurang lebih 500 meter dari lapangan sepakbola menuju rumah danu prakoso, temannya.

"Mari mbok, lekas. Alon-alon wae yo mbok jalannya" ujar prio
"Yo" sambut mbok suki
"Pintune ndak dikunci mbok, nanti ono maling mbok" tambah prio

Mbok suki memberikan senyumnya pada prio

"Ora ono maling le, rumah mbok yang jelek dari dinding bambu, ora ono isi. Arep maling opo di rumah mbok yang jelek"jawab mbok suki

Anak lelaki itu mengiyakan, memang tidak ada yang dapat diambil dari rumah kecil milik mbok suki. Rumah yang dibuat dari tiang-tiang kayu, ditembok dengan dinding bambu. Rumah yang hanya menggunakan lampu -teplok, lampu dari kaleng susu dengan sumbu sebagai pelita, dengan minyak tanah sebagai bahan bakarnya. Rumah kecil yang hanya terdiri dari dua kamar, dengan ranjang kayu tua yang sudah dimakan rayap, yang hanya menunggu hitungan jari untuk waktu ketumbangannya. Dipan kayu tua beralaskan tikar yang sudah tidak jelas lagi bentuknya.

Daun pintunya pun sudah harus ditopang dengan  kayu agar tidak jatuh ke bumi bila diterpa hujan dan angin yang kencang.

Tidak ada satupun bangunan mbok suki yangn terbuat dari dinding batu, semua hanya terbuat dari bambu dan anyaman bambu. Rumah kecil yang nyaman menurut mbok suki, tempat dia menjalankan hidupnya selama puluhan tahun bersama cucu semata wayangnya Danu prakoso.

Di sebelah selatan rumah mbok suki terdapat jalan setapak menuju hutan desa, Di sebelah utara terbentang jalan berbatu menuju desa, puskesmas desa, sedangkan di sebelah barat yang nampak  tanaman-tanaman perdu, semak belukar dan timur sejauh mata memandang yang nampak melulu tanaman-tanaman yang ditanam oleh mbok suki. Ada umbi-umbian sampai pohon-pohon bambu yang mbok suki jual sebagai salah satu mata pencahariannya

Tertatih-tatih mbok suki berjalan, ditemani prio yang menuntun mbok suki yang sudah renta dan buta pada sebelah wajahnya. Entah bagaimana ceritanya hingga mbok suki bisa kehilangan salah satu indera penglihatannya. Ada yang bilang karena dahulu mbok suki pernah tertangkap Belanda, dan karena tidak mau memberi tahu dimana markas pejuang, Belanda mencungkil salah satu bola matanya. Ada juga yang bilang, memang mbok suki sudah sejak lahir buta sebelah. Dan ketika suatu kali ada yang bertanya 

"percaya mbok ngger, kamu ndak akan mau tau seperti apa ceritanya" begitu jawab mbok suki suatu waktu

Berjalan beriringan, prio memastikan mbok suki tidak akan menambrak atau tersandung sesuatu. Kiri kanan jalan dipenuhi tanaman perdu, yang kata orang-orang kampung, mbok suki dan suaminya mbah truno yang menanam tanaman perdu itu. Tak berapa lama 

"nengdi mbok?" tiba-tiba dari arah belakang seorang penggembala sapi menegur aku dan si mbok
"sopo le?" ujar mbo suki
"iku mbok, le' tukimin. Arep neng puskesmas Le', Danu ditusuk piso le', abis maen bola tadi" ujarku
"Masya Allah, kok iso tho? yo wes naik gerobak pak le' ae, ben gak kesuwen, kesian mbok suki jalan kaki capek. Ayo le bantu mbok suki naik" ujar Le tukimin

Gerobak sapi milik le' tukimin, lelaki bertubuh pendek, berkulit sawo matang, dan kulitnya semakin nampak legam akibat terpanggang matahari setiap menggembala sapi.

"Habis nggoleki rumput Le'" begitu ujar prio sembari membantu mbok suki naik gerobak sapi Le' tukimin
"Ati-ati mbok" ujar Le tukimin
"alon mbok alon" ujar prio

"ho oh le, ini si ireng mau makan rumput di desa seberang" begitu ujar le' tukimin.
Pak le' tukimin sehari-harinya bekerja sebagai petani, menggarap sawah miliknya sendiri. Sesekali pak le' membawa sapi-sapinya seperti Ireng untuk pergi mencari rumput sembari melepaskan sapi miliknya ke tengah-tengah padang rumput.

Prio duduk di depan, di sebelah Le' tukimin sedangkan mbok suki duduk di belakang, bersama rumput-rumput yang Le' tukimin dapatkan hari ini. Sembari berbisik, le' tukimin bertanya pada prio tentang hal ihwal mengapa Danu bisa sampai ditusuk oleh anak kampung sebelah.

"iku le, kan desa kita menang, trus yang anak kampung sebelah gak terima Le. Gak tau gimana, tiba-tiba ada yang nusuk danu Le'. Padahal mainnya wes rampung le', untungnya Le', pak kades nonton tanding kita Le', jadi Danu langsung dibawa sama Pak kades ke puskesmas desa" cerita prio

"Lukane piye pri, lebar ndak? dalem ndak? darahnya okeh ora' le?"
begitu cecar Le' tukimin

"Seingatku sih" sembari memelankan suaranya karena khawatir mbok suki mendengar, prio mendekatkan bibirnya ke telinga Le' Tukimin
"darahnya okeh Le', aku wae gemeter le. Aduh le, semoga danu gak ngopo-ngopo, kasian mbok suki Le'"

"ya berdoa wae pada Gusti Allah le, semoga temenmu itu gak ngopo-ngopo yo" harap Le tukimin
"iyo Le', pasti, amin" ujar prio

Percakapan pun terhenti, semua diam tenggelam dalam alam pikiran masing-masing. Prio memikirkan betapa mengerikan ketika pertama kali di dalam hidupnya dia melihat darah keluar, mengalir dari tubuh seorang manusia. Pak Le' tukimin sibuk dengan angan-angannya tentang keinginannya untuk dapat membeli sapi lagi. Sedang mbok suki, iya hanya bisa menahankan rasa sedihnya, menahankan air mata kepedihan. Menutupi rasa takut kehilangan akan cucu semata wayangnya yang sudah yatim piatu sejak dalam buaian.

"Kalau kamu ndak ada, mbok sama siapa Le'" begitu mbok suki menggumam di dalam hati

*bersambung mak.... 



Wednesday, September 21, 2016

Sarapan

"mak" suara bocah lelaki itu dari jauh, dari dapur, sembari melongok ke atas tungku dapur yang hitam, legam sampai menutupi tingkap dapur, penuh dengan jelaga.
"iyo, ngapo", jawab mak yang mulai menua. "lapar mak, aku nak makan" begitu jawab suara dari bocah lelaki itu. Emak masuk ke dapur, menyingkap tirai gorden yang kusut, masai, ikut renta seiring sejalan dengan si empunya. Jari-jari yang keras, kering, sudah lama kapal-kapal itu hinggap di jari-jemari emak tua. Wanita mendekati paruh baya itu melongokkan kepalanya ke dalam panci pengukus nasi, uap mengepul-ngepul dari dalam kukusan. Panci tua, tambal di sana-sini, dasar luar panci yang menghitam legam, akibat bergumul dengan merahnya api dari kayu bakar yang kadang basah, namun berserah pada si tuan yang mempunyai kuasa, terpaksa, namun berjasa.
Jari mak tua mengambil sejumput nasi dari dalam penanak, memasukkannya ke dalam mulut, mengunyahnya. Dengan wajah datar mak tua berkata "lah masak, ambik lah pinggan aman kau nak masak".
Dengan cekatan bocah tanggung berkulit sawo matang itu melompat mengambil piring seng yang ada pada rak piring. Piring seng berwarna putih, berlapiskan enamel yang sudah mulai mengelupas. Piring seng bergambarkan bunga berwarna merah. Dia berikan pada mak tua, untuk diisikan nasi yang sedari tadi baunya sudah memenuhi ruangan dapur.
Ciduk nasi dari batok kelapa membantu mak tua menyendokkan nasi dari wadah kukusan. "tak ado apo-apo di, ado nasi bae, makanlah yang kenyang, baru bantu mak di kebun", begitu ujar mak tua sembari menyodorkan sepiring nasi putih yang asapnya mengepul ke udara memenuhi dapur, menampakkan asap putih yang membawa uap air. "iyo mak, makaseh", ujar yadi, mulutnya nampak sibuk komat-kamit mengucap doa, "bismillah", lalu suap demi suap masuk memenuhi sistem pencernaannya.
"kalau hari ini dak hujan, dapat lah kito nyadap karet di" ujar mak tua. Yadi mulai sibuk menyiapkan keranjang dari bambu, meletakkan tali keranjang di atas kepalanya. Lalu, mulai beranjak pergi berdua, bersama ibunya.
Satu-satunya harta yang mak tua punya adalah putra semata wayangnya, hari-hari dimana yadi tak pergi belajar di sekolah, dihabiskannya pergi ke kebun, membantu mak tua menyadap karet milik mereka.
Bak, ayah yadi sudah lama meninggal ketika yadi menginjak usia 3 tahun. Sejak saat itu yadi hanya hidup berdua dengan mak tua yang semakin renta. Usia mak tua sudah lebih dari setengah abad. Mak tua menikah sudah lama, namun baru dikaruniai anak ketika mak tua berkepala 4. Kini 12 tahun usia yadi, sudah hendak masuk sekolah menengah pertama. Banyak uang untuk beli seragam, buku tulis, sebelum yadi masuk sekolah lagi.
Tak ada tas baru, yadi pergi sekolah dengan sap anyam dari bumbu. Tak perlu dengan sepatu, cukup berjalan bertelanjangkaki, alhamdulillah bapak dan ibu guru mau menerima yadi. "yang penting, yadi rajin belajar" begitu ujar pak dadang, guru SMP yadi nanti.
Yadi hanya tinggal berdua, tak punya saudara. Seperti halnya emak yang menganggap yadi harta paling berharga baginya. Begitu juga sebaliknya, emak adalah satu-satunya harta bagi yadi. Itu pun baru yadi mengerti, ketika pembagian raport walikelas meminta setiap murid membuat sebuah tulisan, tentang apa itu harta.
Tulisan, yang membuat yadi tak dapat tidur, yang membuat yadi bolak-balik bertanya pada bu yuni, guru kelas 6 tempat yadi sekolah. "aku dak katek harto bu, mak mano nak nulis tentang harto", ujar yadi kebingungan.
"yadi, harta itu dak harus uang, kerito, rumah besak. Harto pacak pulo sesuatu, orang, yang yadi sayang" ujar bu guru yuni di suatu senja.
Yadi pun bergegas lari, pergi, "makaseh bu, assalammualaikum". Setibanya di rumah, yadi mengambil alat tulis dan selembar kertas. Meluncurlah setiap huruf yang ada di kepalanya, menjadi kata, dirangkainya menjadi kalimat, lalu selesailah tulisan singkat yang berkata bahwa "harto ku iyolah mak ku".
"ayo di, lah nak tinggi matahari" panggil mak tua. Ambikkan sap di balik dinding dapur. Ado wadah banyu minum, isikan banyu. Batak nasi, njuk sedikit garam" sambung mak tua. "iyo mak" jawab yadi, sembari mempercepat sarapan paginya. Mak tua tak pernah sarapan, sudah terbiasa sedari kecil katanya. Kesulitan ekonomi membuat mak tua dan orangtuanya terbiasa tak sarapan di pagi hari, bekal yang ada untuk dimakan di siang harinya, selepas bekerja penuh di kebun. Kebiasaan itu menurun pada yadi, namun mulai berubah ketika yadi masuk sekolah. Pak guru dan bu guru mengingatkan yadi bahwa sarapan itu penting untuk otaknya, "supaya yadi bisa memperhatikan pelajaran dengan baik" begitu ujar bu yuni. Dan sejak saat itu, yadi selalu sarapan pagi, sekalipun itu hanya dengan sepotong ubi kayu yang direbus dengan garam. Mak tua pun tak banyak bicara, tak juga bertanya ketika yadi berkata "mak, aku nak makan tiap pagi. Kato bu yuni, makan pagi tu bagus untuk otak ku mak". Mak tua hanya diam mendengarkan sembari mengenyam sap bambu, pesanan warga dusun bandar seberang sungai. Bagi mak tua guru di sekolah adalah manusia-manusia pintar. Dan keesokan harinya, mak tua mulai memasak makanan untuk yadi dan setelah nya selalu ada sesuatu sebagai pengganjal perut yang mak tua masak untuk putra semata wayangnya.

*bersambung mak..... 

Saturday, September 10, 2016

Sayup-sayup

Lama, menjelang idul adha esok di tanggal 12 September 2016. Duduk sembari mendengarkan sayup-sayup suara lantunan ayat suci Al quran dari masjid-masjid nun jauh di seberang.

Aku termasuk ke dalam manusia yang beruntung, ketika Allah menjaga raga dari menutup mata ketika menjelang waktu biologis bagi tubuh untuk beristirahat, Dia pula yang membuat mata dan raga terjaga se ketika di sepertiga malamnya.

Malas? Iya, tentu saja. Sebagai manusia kekinian, alih-alih segera beranjak menyapa air, jari-jemarj saya malah sibuk melihat timeline dari sebuah aplikasi ternama, karya seorang anak manusia fesbuk namanya.

Ada bagian dari diri yang menolak untuk taat, untuk apa, sesuatu yang tidak bisa dilihat, tetapi bisa dirasa, atau memaksakan untuk mengakui "aku bisa merasakannya". Allah itu dimana? Ataukah ketaatan ini sebagai bentuk ketakutan? Akan alam kubur? Yang gelap, lembab, dingin, sendiri? Karena pada kenyataannya saya yang sekeping ini penakut sekali.

Apapun itu, aku harus bangun, beranjak pergi, menyapa air pagi. Sebelum sesal itu datang, kemudian pergi dan tidak dapat diganti. Karena sesuatu yang sudah pergi, tak dapat kembali. Apakah itu? Waktu yang kita lewatkan dan kematian.

Ada bagian dari diri yang selalu merasa menyesal ketika setiap waktu itu pergi begitu saja, karena menurut ku, kepergiannya itu tak bermakna, sia-sia.

Merasakan angin dingin, sejuk, khas menjelang shubuh tiba. Entah darimana hembusan angin itu datangnya. Sayup-sayup, perasaan ini entah disebut apa. Meletup-letup, bahagia, aku berhasil mengalahkanmu egoku.

Tunggu, aku ini bicara apa? Tentang apa? Tentang enggannya meminta, bersujud dan menghamba, setelah apa yang diharapkan, setelah apa yang tak disangka, tak diminta, ternyata dikabulkan.

Menghela nafas panjang

Aku ingin berjumpa, tapi perjumpaan itu bolehkah aku menangguhkannya? Meskipun hak atas panjang atau singkatnya usia seorang anak manusia, Dia yang menentukan.

Thursday, April 28, 2016

Japanese cotton cheese cake

Japanese cotton cheese cake, lagi. Kali ini, alhamdulillah tidak pakai gagal, resepnya bisa dilihat di cookpad.
Berikut Versi saya
Cream cheese 250gr
Butter 60gr
Tepung terigu 90gr
Tepung maizena 30
Telur 7 butir
Parutan kulit jeruk lemon dari 1bh lemon
Garam ¼ sdt
Icing sugar 125gr
Air perasan dari 1bh lemon
Oreo 1 bks beratnya 137gr
3 keping biskuit marrie regal
Kacang almond iris untuk bagian atas kue

Banyak versinya Japanese cotton cheese cake, ada yang versi 4bh telur di blog JTT milik mbak endang.

Beda merk bahan yang dipakai, beda rasa.

Cream cheese
Untuk cream cheese, kali ini saya pakai royal victory per 2kg 170ribu rasa kejunya ada, tapi ringan. Sebelumnya saya menggunakan cream cheese merk calf, lumayan berat rasa kejunya, bagi saya lebih suka yang calf 1kgnya 88ribu. Untuk yummy cream cheese, sebelum dipakai, disaring terlebih dahulu air yang terdapat di dalam kemasan, rasa kejunya juga ringan, tapi lebih ringan dari royal victory, cocok untuk yang tidak begitu menyukai keju per 250gr harganya di bawah 40ribu, lupa.

Butter
Saya pakai anchor, jadi agak rapuh. Aroma butter gak begitu kuat ya, kalah dengan aroma lemon perasnya. Sebelumnya pernah menggunakan royal palmia, aroma royal palmianya kental, semerbak, tapi untuk rasa, kembali pada cream cheese merk apa yang digunakan.

Telur
Saya pakai telur ukuran besar & sedang, hasilnya? bisa untuk 2 loyang bulat ukuran 22cm

Alas cake
Oreo Strawberry dan marrie regal
Saya hancurkan menggunakan ulekan yang dibungkus plastik, lalu saya beri minyak 2 sdm, ditekan-tekan ke alas dan dinding loyang, dinginkan di dalam lemari es selama ± 30 menit

Panggang dengan metode au bain marie suhu 150 - 170 tergantung jenis oven, dan jenis cetakan yang dipakai. Tinggi suhu oven, bisa membuat cake retak. Terlalu rendah suhu, cake jadi tidak naik dan lama matang. Untuk mencegah bagian atas cake gosong, setelah bagian atas berwarna kuning, tetapi cake bagian dalam belum matang, tutup bagian atas dengan aluminium foil.

Kalau hanya ada keju cheddar, susu SKM, dan telur, jangan khawatir, masih bisa bereksperimen membuat cheese cake, ada banyak resep cheese cake modifikasi di Internet.

Wednesday, April 27, 2016

Memori

Siang suara deru mesin pendingin udara, sayup terdengar alunan lagu 'memori' vina panduwinata. Saya lupa apa judul tepatnya, yang benar-benar terpatri di kepala saya hanya kata memori. Menghela nafas panjang, berat, mengingatkan saya pada gambaran seorang wanita tua, ibu dari seorang lelaki yang saya panggil ayah.

Mengingatkan kembali sembari menahan titik air dari sudut kedua mata saya. Nenek, embai kalau orang dusun kami menyebutnya. Saya tidak begitu dekat, atau karena luka yang ibu saya derita, membuat saya tidak bisa mendekatkan diri pada embai saya itu.

Lalu lalangnya aktifitas manusia-manusia di jejaring sosial, menampakkan gambar pempek keriting, panganan khas palembang, setidaknya salah satunya. Setiap ulir-ulirnya mengingatkan saya pada sosoknya, yang berdiri di samping meja panjang, dengan tinggi sedikit lebih panjang dari pinggangnya. Saya masih ingat, ketika mengunjunginya, beliau sedang sibuk bekerja, menjemur kerupuk yang baru habis dicetak, kerupuk keriting berwarna kuning. Saya masih ingat, sering memakan adonan yang baru jadi, baru hendak dijemur, belumlah digoreng, masih setengah jadi.

Rasa sedih itu muncul, rasa sesal itu muncul, saya merindukan sosoknya, kenapa saya tidak banyak berbicara dengannya? Waktu yang ada saat itu, ketika beliau tinggal bersama kami, selepas kepergian pasangan hidupnya, kakek, saya tetap tidak banyak bicara, hanya sesekali bertegur sapa, sedih, sakit, saya merasakan sedih itu sekarang, sedih yang tak berdaya, selain titik air mata, karena embai sudah tak ada, sudah tiada.

Tinggal berjauhan, semakin membuat jarak yang jauh antara saya dengannya. Konflik yang ada antara ibu dan beliau, membuat kami jauh secara emosional dengan beliau. Saya masih ingat, ketika duduk di bangku SMP, saya ingin mengajak bakas dan embai untuk tinggal bersama saya ketika dewasa. Tapi bakas meninggal di tahun 2000, ketika saya duduk di bangku SMA kelas 1. Ketika menikah, saya kembali berkata, akan membawa embai pulang ke baturaja, membuatkannya rumah sederhana, daripada dia jauh di sana, Batam riau. Tapi, kembali, tahun 2016 di awal tahun, beliau pergi dalam tidurnya. Dengan penyakit katarak yang diidapnya, yang ia tidak ingin siapapun mengoperasinya.

Menyesal, saya menyedal, satu-satunya yang bisa saya berikan, sebuah mukena hasil saya berdagang, doa saya untuk embai, nenek, ibu dari ayah, semoga Allah melapangkan kuburmu, menghilangkan siksa kubur dan neraka dari kulitmu

Wednesday, October 24, 2012

Ketika seorang teman bertanya

Hari ini masih dengan sukarela bed rest di kamar. Mengikuti saran pak dokter dan permintaan suami bahwa saya harus bed rest.

Menjelang sore hari, mendekat pukul 14.15 sebuah pesan singkat dari seorang teman lama, yang berkata bahwa saya sombong *dengan nada bercanda tentunya. Menurutnya, setelah menikah, saya jadi sombong. Lalu dia bertanya tentang bagaimana rasanya menjadi seorang istri. Dengan santai saya menjawab, tidak ada yang berbeda, karena saya dan suami bertemu tidak setiap hari.

Teman saya terus bertanya, dan dalam kebingungan saya masih tidak mengenali siapa dia. Karena, no simcardnya tidak ada di Hp saya. Tetapi, saya tetap meladeninya, karena dia sepertinya benar-benar seorang teman lama. Kenapa? Karena dia memanggil nama saya dengan sebutan yang begitu familiar di mata dan telinga saya.

Saya masih terus berbalas pesan dengan teman tanpa nama, sampai ketika dia bertanya "sudah sukses belum?", tadinya saya ingin menjawab "sukses dalam hal apa? Materi? Kekayaan?". Tapi saya urungkan, saya kemudian menggantinya dengan "sukses? Maksudnya?". Saya ingin mengetahui terminologi sukses menurut cara pandangnya. Lalu, dia menjawab "sukses tuk punya jundi?".

Sejenak, saya terdiam, sedang memikirkan jawaban yang tepat. Sebenarnya saya bisa dengan mudah menjawab "iya" atau "belum". Tetapi, tidak menarik bila membuat ini begitu mudah. Jadi, saya jawab dengan sebuah kalimat panjang, tentang siklus pertanyaan yang akan selalu dihadapi oleh manusia.

"Jundi itu keturunan ya maksudnya?

-Ada pattern orang indonesia yang saya pelajari pas S1 dulu. Pada saat kuliah orang akan bertanya -kapan lulusnya?-, setelah lulus kembali ditanya -kapan kerja, kerja dimana?-, setelah bekerja kembali ada lagi yang bertanya -kapan nikahnya-, setelah menikah -kapan punya anaknya?-, setelah punya anak -anaknya sudah bisa apa?-, begitu seterusnya....."

Dst dst dst lalu ranking berapa, anaknya sekolah dimana?, anaknya kuliah dimana?, dan anak kita pun akan menghadapi pertanyaan yang sama seperti orang tuanya dahulu.

Tetapi, tidak pernah ada yang bertanya kepada orang yang sudah begitu lanjut usia, yang sudah ditinggalkan meninggal lebih dulu oleh rekan-rekannya. Orang tua itu tidak pernah akan menghadapi pertanyaan "kapan matinya?".

Lucu
Ada kesulitan bagi saya untuk membedakan antara rasa peduli dengan rasa ingin tahu yang berlebihan. Ada kesulitan juga membedakan antara patut dan tak patut, sopan dan tidak sopan mengenai bertanya tentang kehidupan pribadi seseorang. Menurut saya, sudah sewajarnya, sebagai manusia kita membatasi tentang apa apa yang kita bisa bertanya tentangnya, tentang apa yang kita harus menahan lisan, diri kita untuk bertanya.

Dan begitu saya membalas pesan teman lama dengan siklus pertanyaan yang menjadi pattern orang Indonesia kebanyakan tersebut, dia tidak membalas pesan saya. Entahlah, tapi semoga dia tidak berkecil hati dengan pesan singkat yang saya kirimkan saat itu.

Lesson learn

Kadang kita lebih baik tidak bertanya tentang hal yang kita tidak ingin mendengar jawabannya. Kadang, lebih bijak bagi kita untuk diam, daripada membiarkan lisan kita bertanya tentang kehidupan pribadi seseorang. Kenapa? Karena kita tidak pernah tahu keadaan psikologi seseorang itu saat itu. Bisa jadi seseorang itu terganggu, merasa tersinggung, atau mungkin senang, entahlah. Dan untuk sesuatu yang entahlah itu, diam memang benar-benar bernilai emas.."

Wednesday, October 17, 2012

Means a lot of thing

Today is Oct 17, heavy rain makes me want to spend my day by sleeping in a beauty way even it is not, seems not.

About 7:04 PM when i heard adzan isya from the mosque near my boarding house.

My heart, my mind, my soul seems wanna go back to the first time i met him, my husband, on 2007. Right when i heard Al matsurat, canon in d in ellegance and classic guitar version. I still bearly can remember in a beautiful day, me and him not talk to each other, not even seeing each other. And at that time, i never thought that i am gonna be his wife.

Things that makes me always falling in love with the past, when he gave me lots of version of canon in d. Seems life be more colourfull than before. I still remembered the way i spend my day by watching the sunset, waiting the sunrises in Annisa my boarding house when i was in university of lampung for my bachelor. And at that time, sometimes i remembered him, you, the man whom i met only few times in silently. And everytime i heard that song, i do remembered how destiny connected us, even for almost 5 years we never met each other.

I do in love

Thanks to Allah, i met my husband. Thanks to my husband for lots of precious moment in the past, now, and in the future.
Thanks to life, all part of my life including you who read this story, my fame, friends, and even thanks to all people who hates me.
And thanks for a new life