Pages

Saturday, September 13, 2008

Sang Dewi - 8


Masih ingat dengan kisah Sang dewi? Pernah membacanya? kalau belum klik link di bawah ini,


Sang Dewi 1

Sang Dewi 2

Sang Dewi 3

Sang Dewi 4

Sang Dewi 5

Sang Dewi 6

Sang Dewi 7


Terakhir kali saya berjumpa dengannya.


Lama tak melihatnya, akhirnya dari kejauhan, nampak saya begitu mengenal dia yang berjalan. Seorang wanita muda berkerudung putih, 'ah dia nampak masih bertahan dengan pakaian takwanya' begitu kata hati kala itu.


Sebelumnya, beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan dua orang lelaki yang sangka saya suami dan anaknya. Anak lelaki tanggung itu mengenali saya, lalu tersenyum sekenanya. Senyumnya membuat saya menghampirinya unutuk sekedar bertanya dimana dewi berada.


Ya, dewi masihlah menarik bagi saya. Menurutnya, dewi sudah tidak lagi berada di seputar kampus unila, semenjak peristiwa pengusiran itu, ia tidak lagi nampak oleh mata. ”Dewi sekarang di teluk mbak” begitu ujar anak lelaki itu. ”Terima kasih ” dalam senyum saya meninggalkan dia dan lelaki tua, dia suami Dewi.


Entah hari itu, entah beberapa lama kemudian, saya bertemu dengan Dewi di pusat keramaian kota, pasar. Tepatnya di dalam sebuah warung bakso dan mie ayam saya bertemu dengannya dan seperti biasa, dia mencoba menjual suaranya, suara yang tidak seberapa.


Si empunya warung berusaha mengusirnya, ”Dewi !!!”, begitu saya memanggilnya dengan setengah berteriak. Ia melihat saya, lalu ”Eh embak, ngapain mbak di sini?” saya masih diam terpana ”Dewi sudah makan?” dia menggeleng. ”Ikutan makan ya” begitu kata saya, lalu ”Mas satu mangkok lagi” saya pesan kan dia. ”Mie ayam aja mbak, saya gak suka daging” begitu kata Dewi.


Masih dalam diam ”Dewi sekarang dimana?” saya bertanya, dia duduk tepat di depan saya. ”Di teluk mbak” lalu dia mulai bercerita, hal ikhwal mengapa sekarang dia tidak lagi mau berada di seputar kampus UNILA.


Ia nampak gelisah, menyadari banyak pasang mata yang tertuju pada kami bertiga, Dewi pun beranjak lalu mondar-mandir di warung yang sempit ini. Saya tidak begitu mengamati, hingga ia menghampiri si pedagang bakso dan mie ayam yang sedang membuatkan pesanan.


Saya hanya menatap, mendengarkan percakapan Dewi dan ibu penjaga meja kasir yang berada di depan. ”Dia dibayarin sama mbak itu” begitu ujar si abang pelayan pada si ibu yang berada di meja kasir.


Pesanan Dewi selesai, ia luput dari pandangan kemudian menghilang. ’Ah wi, padahal saya masih ingin bercakap-cakap. Mendengarkan kamu bercerita, kita sudah lama tidak berjumpa’.


Saya tahu, ia tidak merasa nyaman dengan orang-orang yang berada di sekitarnya, yang memandangnya. ’memang kenapa? Apa yang salah dengan dia? Saya pikir tidak ada’. Hanya saja, pandangan mata manusia-manusia yang berada di warung bakso dan mie ayam ini, mungkin serasa menghujam di dadanya ’ah wi’.


Setelah kejadian itu, saya tidak lagi berjumpa dengannya untuk beberapa bulan lamanya.


-to be continued-