Pages

Thursday, September 11, 2008

Pagi di Kampus Hijau Tercinta

Pagi itu, 26 Agustus 2008

Terima kasih pada-Nya, terima kasih untuk semuanya. Terima
kasih telah memberi kesempatan untuk kembali menikmati iman dan islam di pagi ini.

Berjalan menyusuri papping-papping trotoar, pagi yang indah, apa yang tidak ada dikampus mu, ada di kampus ku... ah entahlah ini sekedar asumsi dari seorang anak manusia yang begitu mengagumi
keindahan alam kampus hijau yang Allah ciptakan ini.

Mengapa dada ini dirasa begitu lapang, mencoba mengintip Sang mentari dari sela-sela dedaunan. Memperhatikan dinamika kehidupan, menatap langit sembari terbenam dalam senyuman yang kadang membuat mereka yang melihat bertanya ’ada apa dengan dia? Apa dia gila?’. Hari ini indah, ya setiap hari dirasa begitu indah.

Menyenangkan berada di sini, di kampus ini. Saya mencintai setiap pepohonan yang ada di dalamnya. Saya mencintai setiap kicauan burung yang dengan setia menemani dari pagi hingga petang menjelang. Saya mencintai suara serangga-serangga yang mengerik di siang hari menciptakan harmoni. Seperti berada jauh di dalam hutan, tenang.


Saya mencintai keindahan yang Dia berikan pada tiap kali saya memandang matahari yang setiap pagi merangkak, meninggi, hingga membuat saya membasahi diri dengan peluh keringat di pagi hari karena berjalan kaki.


Saya mencintai setiap manusia yang saya temui di kampus ini, hingga Dia beri saya kesempatan untuk belajar, untuk mengerti akan hiruk pikik kehidupan ini. Banyak hal manis dan pahit yang berawal dari kampus ini. Entahlah, betapa Ia penuh dengan segala. Betapa begitu sulit bagi saya untuk sekedar melukiskannya ke dalam kata-kata.


Mengapa berada di sini

Seorang kawan pernah bertanya, mengapa dahulu saya tidak memilih
untuk belajar di institusi tempat dimanadia belajar saat ini. Tidak ada jawaban pasti saat itu, karena memang saya tidak tahu mengapa saya memilih berada di kampus hijau sampai saat ini. Lama, hingga akhirnya saya berkata pada diri saya.

Bahwasannya saya mulai memahami mengapa Allah tempatkan saya di sini. Ini memang salah satu dari sekian banyak skenario yang harus saya jalani, dari kampus ini saya belajar tentang apa itu kehidupan, saya belajar tentang bagaimana mengamati manusia dan hiruk pikuk yang ada di dalamnya.

Hhhh mencoba menghela nafas panjang, entahlah. Hati ini dirasa begitu berat, dirasa titik-titik air itu mulai ingin membasahi.

Rasa begitu enggan untuk meninggalkan, tak terasa sudah 4 tahun, banyak hal yang sudah saya
pelajari di sini, yang mungkin belum tentu akan saya jumpai bila saya berada di kampus lain yang ada di negeri ini.



Setiap manusia lahir ke dunia dengan mengemban tugas yang Allah berikan padanya. Tak sama, antara tugas yang Allah berikan padamu dan tugas yang Allah berikan pada saya. Dan pada kenyataannya, Allah memberikan pada saya amanah untuk berada di kampus hijau UNILA.

Dan mentari senja mulai menyapa disela-sela daun pohon kelapa