Pages

Thursday, September 18, 2008

fiksi -Sang Dewi-

Bismillahirrahmanirrahim


Sebuah fiksi sebagai pengantar kisah dewi kali ini….

‘tidurlah ‘Wi, tidak banyak yang bisa kuberikan hari ini, seperti hari-hari sebelumnya. Aku sudah tua, hampir sebaya dengan umur orang tua yang melahirkanmu’. Wahai dewi istri ku, entah untuk alasan apa aku memintamu menemaniku menghabiskan sisa-sisa hidup ku, entahlah aku tak tahu.

Hmmh maafkan aku, tidak ada emas dan seperangkat alat sholat sebagai mas kawin untuk mu, maafkan tidak ada gaun pengantin, tidak pula pesta yang meriah, yang mampu membuat sinar matamu berbinar seperti sinar mata wanita-wanita yang dipersunting oleh lelaki pujaan hatinya.

Aku sudah tua, tepatnya renta. Tidak menyesalkah kau menikah dengan ku wi?’ menjadi istriku akan sengsara dirimu, aku hanya seorang yang bekerja serabutan” begitu ucapku padamu beberapa tahun yang lalu.

Engkau hanya tersipu malu, aku semakin ‘ah menikahi mu bukan karena cinta seperti pemuda-pemuda itu, yang menikahi gadisnya karena cinta yang membuncah di dalam dada. Aku menikahimu karena sayang ku padamu. Apa memang begitu? Entahlah, aku tak tahu


Aku melamarmu pada orang tua mu, mereka katakana engkau gila, aku tak peduli ‘wi, aku cinta, tapi bukan cinta yang seperti mereka punya. Malam semakin larut, angina-angin dingin menusuk itu, masuk menelusup. Sudah lelap engkau rupanya, masih dapat tertidur nyenyak engkau istriku, kekasihku yang lugu.


Kita tidak pernah berbicara melalui kata, karena tak pernah ku mengerti ketika kau bicara. Kita, kau dan aku hanya berbicara melalui isyarat mata, begitulah kita berkata-kata, begitulah kita berbicara, bahasa yang hanya kau dan aku saja yang tahu dan mengerti akan maknanya.

Pikiran ini menerawang, bersyukur aku memiliki mu istriku. Angin malam semakin menusuk, menembus sampai ke tulang, ku dekap erat engkau dewi, istriku sayang. Engkau semakin gemuk saja wi, berisi, perut mu semakin membuncit, mungkin bila suatu hari nanti aku ada rezeki, ku bawa kau ke dokter yang mahal itu wi, harapan ku pak dokter akan berkata bahwa engkau sedang mengandung anak ku, atau mungkin bapak dokter yang mahal itu akan berkata ”istri bapak cacingan....” hmmh mungkin menurut sebagian orang itu penyakit kampungan.


Malam semakin larut, angin malam yang dingin semakin menusuk, tak ada selimut. Dalam gelap ku kenali wajahmu dengan lekat, dekat, istriku, aroma tubuhmu, tak pernah dapat ku belikan minyak wangi yang mahal itu, tak pernah. Tapi engkau adalah wanita yang paling wangi di indera penciumanku.


Maafkan aku sayang, tak ada uang untuk membiarkan mu memanjakan diri untuk sekedar berdandan, bersolek, merias diri. Tapi, kau tetaplah wanita yang paling cantik dan menawan di mata ku.


Aku mengantuk,. Ku belai rambut mu wahai dewi istriku, ku pejamkan mata mencoba melelapkan diri dan pikiran ini, mendekapmu erat, tak akubiarkan angin malam itu mengganggu tidurmu. Selamat malam istriku, tidurlah, mimpikanlah hal-hal yang indah, karena bisa jadi sampai ajal menjemput nanti, mimpi-mimpi mu takkan pernah dapat ku wujudkan, meskipun barang sebentar, meskipun hanya sekejap mata memandang.


Dalam diam, riang suara jangkrik-jangkrik, harmoni manakala malam menjelang. Suara hilir mudik kendaraan, semakin meramaikan orkestra yang alam ciptakan.


langkah-langkah kaki dirasa begitu berat menjejak bumi, mereka sedang menuju kemari, ke arah gubug ini. Istriku terbangun, ia mulai berbicara entah tentang apa. Kami yang berada di dalam hanya saling memandang dalam diam.


Mereka meminta kami keluar, ”keluar !!!” dengan paksa, semberi memukul tiang penyangga gubug yang hanya terbuat dari bambu yang tak seberapa kokohnya.


Aku pun keluar, matahari sudah mulai menyapa hari, ”kalian semua harus pergi dari sini”, salah seorang dari mereka bertubuh besar, berkumis bampang, dengan seragam bertuliskan ”SATPAM UNILA” angkat bicara.

Darahku mendidih, tidak sopan. Ia berkata dengan begitu angkuh, tanpa permisi, tidak juga dengan mengetuk pintu, karena memang gubug ini tidak memiliki pintu selain kain yang alih fungsi sebagai pengganti pintu dari kayu. Beberapa anak buahnya mengayun-ayunkan tongkat sembari memandang liar ke sana ke mari, sinis, dari pancaran sorot matanya menyiratkan ”kalian tidak pergi dengan cara halus, kami pakai kekerasan’


Aku mencoba bicara, ”kami salah apa pak? Kami Cuma numpang tidur”. Istriku, dua orang wanita tua yang beberapa hari ini bersama kami, berdiri di belakang ku ”istri bapak mencuri handphone milik warga sini, jadi kalian harus pergi pagi ini juga. Kalau tidak juga mau pergi, kami panggilkan polisi, biar istri bapak di penjara” begitu ujar lelaki itu.


Kupandangi wajah istri ku, ia kembali bergumam. Ku perintahkan dua orang wanita tua dan anak ku, untuk mengemasi barang-barang yang ada. Tak banyak, karena memang kami tak punya apa-apa.


Satpam-satpam itu mengawasi kami, seolah-olah kami memang benar-benar mencuri. Istri ku tidak mencuri, ia bukan pencuri dan aku tahu pasti. Mereka gunakan itu hanya sebagai alasan agar kami angkat kaki dari sini. Burung-burung itu berkicau, indah, di pagi hari ini. Dan di pagi ini pula aku harus membaca keluargaku untuk segera angkat kaki dari tempat ini. Sebelum beranjak pergi, kupandangi mereka satu persatu, lalu ”istri saya bukan pencuri pak” dengan penuh amarah ku katakan itu.


Mereka, satpam-satpam itu tetap berdiri tegak dalam diam. Kami pun berjalan beriringan, meninggalkan gubug yang sudah kami dirikan, diami seperti halnya rumah kami sendiri.


Dari kejauhan nampak satpam-satpam itu menarik paksa, mencabut paksa tonggak-tonggak gubug yang terpancang. Mereka menghancurkan, merusak, gubug yang kami dirikan beberapa waktu yang lalu. Bukan tak mau membelamu wahai istri ku, bukan tak mau mempertahankan gubug itu.


Aku tahu, menuduh mu mencuri hanya sebagai alasan agar kita angkat kaki. Mereka ingin kita pergi dan bila aku bertahan mereka mengancam dengan kata-kata ”POLISI”, aku terpaksa, maafkan aku ’Wi, maafkan aku istriku. Kami terus berjalan, sesekali aku menoleh ke belakang. Gubug itu kini tinggal tumpukan-tumpukan bambu. Dinding-dindingnya koyak dan hancurlah sama sekali istana yang aku bangunkan untuk mu istriku, hancur dalam sekejap.


Tak lama, dua orang wanita paruh baya yang selama ini ikut menumpangi aku dan dewi pamit untuk pulang ke kotabumi. Niat semula untuk pulang ke kampung halaman menjelang lebaran, diurungkan. Mereka akan pulang hari ini, pagi ini juga.


Dalam bahasa ibu mereka berkata ”terima kasih banyak” begitu ujar ibu parni. Aku hanya tersenyum menggigit, malu, tak dapat memuliakan tamu. Mereka bertiga saling menatap dalam haru, istri ku dan dua orang wanita paruh baya itu. Hanya bisa memandang mereka berdua yang semakin lama semakin menghilang dari pandangan.


Tak tahu lagi harus tinggal dimana, kampus hijau yang ridang ini, tidak lagi menerima kami sebagai penghuni. Mau menggelandang? ’ah tidak’ tak kan ku biarkan istri ku menggelandang bersama ku. Pada akhirnya, dengan menahan malu, aku dan istriku kembali menumpang di rumah mertuaku. Maafkan aku istriku


Kembali, cerita di atas sekedar cerita fiksi berasal dari alam mimpi. Entah bagaimana kebenaran ceritanya, namun secara garis besar, apa yang terjadi dalam kisah fiksi Sang Dewi, ada yang mendekati kebenaran, berdasarkan kenyataan