Pages

Tuesday, September 2, 2008

Warga Negara yang Baik

Assalammu'alaikum
Bismillahhirrahmanirrahim

Whuaahh, besok perhelatan akbar di propinsi Lampung diadakan. Mengapa menggunakan salam pada awal membuka sebuah tulisan? yah karena sedang ingin saja. Mengapa pula dengan tumbennya, tidak ada angin, tidak ada hujan, saya menggunakan 'Bismillah' pun pada awal membuka? kembali saya katakan, 'sedang ingin saja'

Tema atau judul, yah terserahlah. Kali ini, tentang warga negera yang baik. Mau jadi warga negara yang baik saya, susahnya bukan main. Mengapa? begini kisahnya bermula.....

Ceritanya, di propinsi saya, lampung, propinsi yang panasnya kadang sampai luar biasa, tapi tidak sampai sepanas cuaca di semarang. Duh jadi melantur, besok, tepatnya tanggal 3 september 2008, pemilihan kepala daerah tingkat Gubernur akan dilangsungkan.

Semua pada sibuk, ada yang sibuk pasang-pasang tanda 'tempat pemilihan suara', ada yang sibuk bertanya 'besok pilih siapa', ada juga yang sibuk seperti saya yang gak jelas sibuknya apa. Kepala Laboratorium saya bertanya "besok nyolok gak?", 'hah nyolok? nyolok apaan', lama kemudian si bapak melanjutkan "besok milih gak?" .....'oh ternyata itu yang beliau maksudkan'. saya jawab saja tidak, beliau pun bertanya "kenapa?", "habis, gak ada kartu hak pilih sih pak".... si bapak tersenyum, lalu "yah sudah, lagi pula gak ada yang bisa dipilih" begitu beliau menambahkan.

Bla..bla..bla.. beliau pun pergi karena suara adzan sudah terdengar dari kejauhan, dari masjid Al wasi'i.

Hmm, sudah lebih dari 4 tahun saya berada di propinsi ini, di pusat kota dari propinsi Lampung. Tapi, KTP pun saya tidak punya, ingin membuat, tapi banyak embel-embelnya, pakai surat keterangan pindah dari lurah lah, pakai kartu keluarga lah, dan masih banyak lagi yang lainnya. Kadang berpikir, 'kira-kira, di luar negeri seperti ini nggak ya?'. Padahal, saya mahasiswa di salah satu universitas yang ada di kota ini, harusnya dengan Kartu Tanda Mahasiswa yang saya punya, saya sudah bisa mengantongi Kartu Tanda Penduduk di daerah ini.

Imbas dari tidak adanya KTP berujung pada, yah saya tidak bisa memilih. Ujung-ujungnya, kepala saya yang cerdasnya luar biasa ini kembali berkata "mau jadi warga negara yang baik saya, bukan main susahnya". Lho kok? ya iya, salah satu kriteria warga negara yang baik itu, selain mentaati peraturan yang ada, adalah menggunakan hak pilihnya pada saat pemilihan berlangsung, entah itu pemilihan Presiden, Gubernur, bahkan Bupati sekalipun.

Mau jadi warga negara yang baik saja, begini susahnya. Memang, pak Presiden instruksikan 'gunakan hak pilih', tapi boro-boro mau digunakan, nama saja tidak terdata. Ada juga sih yang bilang, perkirakan, kebanyakan mahasiswa yang tidak terdata itu karena unsur yang disengaja. yah tapi sudahlah, jadi buruk sangka saja, apalagi sebagian sangkaan itu tidak baik ujung-ujungnya.

Pada akhirnya, besok, tanggal 3 september, saya tidak ikut memilih, sebenarnya sayang sih, habis lumayankan satu suara. Tapi, apa mau dikata, paling diam saja di dalam kamar asrama, otak-atik yang bisa diotak-atik, membaca apa yang bisa dibaca, dan menunggu hasil penghitungan suara sembari berdoa bahwasannya.......

'siapa pun yang menang pada perhitungan hasil akhir nantinya, semoga itu yang terbaik yang Allah pilihkan untuk memimpin Propinsi ini kedepannya'.