Pages

Monday, April 20, 2009

Induk semang kembali ke sarang

Induk semang kembali ke sarang

chapter 1


Malam ini pikirku, mengapa bulan itu begitu kelabu, dalam diam, bersembunyi di balik awan yang kelam, terasa begitu abu-abu. Berjalan dalam diam, sembari sesekali menatap wajah bulan separuh yang nampak begitu mulus dari jauh, sejauh mata memandang.


Induk semang sudah kembali ke sarang, dalam kelelahan dan kepayahan nampaknya. Dengan wajah pucat pasi, dengan rambut kusut masai, dengan tubuh kurus seperti habis dimakan pikiran. Induk semang sudah pulang, pulang dalam kekalahan, seperti menelan kekalahan yang pahit dan menyakitkan, bukan pulang dengan wajah senang penuh kemenangan.

Tak nampak ia keluar dari kamarnya selama beberapa hari semenjak kepulangannya, selain hanya berdiam diri di kamar. Entah apa yang ia kerjakan, tidak itu membersihkan lingkungan asrama yang sudah nampak berdebu di mana-mana, tidak juga nampak bercengkrama dengan anak-anak penghuni asrama annisa. Ia hanya diam, entah karena apa, dan ketika salah seorang anak asrama bertanya perihal kepergiannya yang entah kemana, induk semang hanya berkata ‘pulang kampung mbak’, ya ia hanya menjawab singkat dengan senyum sekenanya, pulang kampung katanya.

Aku menjabat tangannya, tidak ingin terlalu banyak membebaninya dengan tanya selain

‘apa kabarnya mbak?’

‘baik’ begitu katanya

Kemudian beranjak pergi, sudah cukup lelah tubuh ini dengan aktivitas sehari, melangkah pergi, di sisi lain dari tempat induk semang berdiri. Sang suami, sedang asyik dengan aktivitas yang berkutat dengan alat tulis dan secarik kertas, entah apa yang ia tuliskan di atasnya. Ingin aku berkata ‘mbak yeni sudah pulang mas’

Tapi ku urungkan niat tidak berguna itu, hanya akan menambah beban pikiran dan rasa malu di dalam dada dan kepala. Alih-alih, kalimat tidak penting itu keluar juga dari bibir ku ‘mas, anak yang di sebelah kamar saya, kemarin sudah pindah, mengeluarkan barang-barangnya’

‘iya mbak, sebenarnya dia itu sudah habis masa mukimnya, tapi belum keluar-keluar juga’ begitu ujar mas suami itu padaku.

‘mari mas, saya naik dulu’ begitu tambahku

‘o iya mbak, baru pulang ya?’ begitu jawabnya

‘iya mas’ balasku

Induk semangku sudah kembali ke sarang, nampak genderang penyambutan itu sudah ditabuh, bertalu-talu. Hampir seluruh penghuni asrama jadi tahu, tetangga kiri-kanan, yang merasa mengenal induk semangku itu, berlomba-lomba menjadi orang yang sok tahu, perihal kepergian dan kembalinya induk semangku itu.

Genderang itu terus saja berbunyi, bertalu-talu, entah siapa pula yang menabuhnya, perlahan berita kembalinya sang induk semang, menjadi sesuatu yang nampak seperti layak untuk diperbincangkan, menjadi konsumsi publik, menjadi berita-berita picisan, menjadi makanan lezat dan nikmat bagi wanita-wanita penggila gossip kelas asrama maupun kelas ibu-ibu yang berada di sekitar asrama.

Induk semang ku itu, sudah layaknya selebritis kelas ibu-ibu penjaga asrama. Masih berjalan dalam diam, meninggalkan perkara kembalinya sang induk semang ke sarang, ke dalam lingkungan asrama.

-bersambung-

Sunday, April 19, 2009

27 februari 2009

Ingin tertawa, tapi hati tidak izinkan aku tertawa

Ada pelajaran yang harusnya aku simpan di dalam dada.

Sehari yang lalu, kemarin, tertawa itu dirasa menyenangkan, sampai hari ini, Allah berkenan memberikan sebuah pelajaran.

Hujan kembali mengguyur bumi ini, berkah dan rahmat Nya kembali ia turunkan, ia curahkan kepada manusia yang penuh salah dan alpa, namun terkadang begitu sombongnya, seolah-olah ia mampu kokoh seperti gunung, begitu angkuh, seakan-akan ia seperti langit yang dapat tegak tergantung.

Hujan kembali mengguyur bumi ini, masjid Al wasi’I, shaf puteri, atap masjid ini semakin lama semaki tua, dimakan usia, titik-titik hujan membasahi lantai masjid Al wasi’I, semakin lama semakin menggenang.

Deras, berharap sederas itu pula Allah curahkan rahmat Nya ke dunia. Deras, hingga seekor kucing berwarna kuning bergaris-garis, berlindung di dalam, keluar untuk kemudian masuk kembali, selalu begitu, sedari tadi aku perhatikan ia hanya bertingkah laku seperti itu.

Waktu ashar sudah berlalu, hujan masih saja dengan setia mentaati perintah Tuhannya, tidak seperti halnya manusia. Tak lama, kilauan cahaya berkelebat, ialah kilat, mereka yang ada beristighfar menyebut nama Tuhannya. Dan begitulah kiranya ketika hujan tiba, Allah sertakan kilat di dalamnya, hingga menimbulkan ketakutan dan harapan, dan sesungguhnya terdapat perlajaran di sana, kiranya manusia seperti halnya aku, mau memahaminya.

Genangan air itu, semakin lama semakin banyak saja. Hanya memandang dari kejauhan, sedikit tersenyum ketika wanita-wanita berkaos kaki itu, menginjak, terperanjat, basahlah akhirnya alas kakinya, kaos kakinya, ada pula yang hampir tergelincir karenanya.

Semakin lama, semakin jahiliyah saja, dan aku tahu Allah pastilah tidak menyukainya.

Menanti, sembari menatap lekat, bersama seorang kawan, untuk kemudian tersenyum tertahan ketika ada lagi yang menginjak genangan yang membentuk kubangan. Berkali-kali aku lakukan itu, hanya menatap, menanti, sembari sesekali tersenyum, tertawa, terkekeh, dan tidak juga berniat mengeluarkan secarik kertas untuk kemudian menuliskan ‘awas basah’, tidak ada, tidak ada, bahkan hingga aku melangkahkan kaki, meninggalkan masjid Al wasi’i.

Hari ini, 27 februari. Allah kembali turunkan hujan ke bumi ini. Melangkahkan kaki, menjemput dzuhur di masjid Al wasi’i, meniti satu demi satu anak tangga yang ada, lalu ‘ooopsss’, aku hanya dapat

Thursday, April 16, 2009

Abi dan umi yang mengajarkan

‘mari kita tutup pengajian kali ini dengan membaca alhamdulillah’ begitu ujar mbak asni menutup liqa hari ini. Kemudian ‘umm, Alhamdulillah karena sedang ada rezeki, saya mau traktir temen-temen makan, tapi Cuma ke PH’ begitu tambahnya
‘PH? Derajat keasaman dong mbak’ begitu kelakar saya

Singkat kata, kami berdelapan termasuk murabbi yang kami cintai berpisah, ada yang mengendarai motor, ada yang naik angkutan umum, poinnya yang penting sampai di PH itu sendiri.
Sesampainya di sana, ramai ada gadis-gadis SPG yang membuat mata saya terpana karena subhanallah Allah menciptakan manusia, wanita, ‘cantik-cantik’ begitu yang ada di kepala saya.

PH, pitza hat, yup kami ditraktir makan di pitza hat. Singkat kata, kami sudah berada di dalam, si pentraktir memesan, kami-kami yang ditraktir hanya duduk dalam diam, ada yang melamun, ada yang berbicara, ada yang membaca buku menu dari pH. Dan saya termasuk ke dalam kategori yang melamun, mengamati, kemudian berdialog dengan alam pikiran sendiri.

Tempat ini ramai, mungkin karena memang di plaza ini sedang mengadakan acara pencarian grup band berbakat, yah atau mungkin produk rokok itu bekerja sama dengan pihak plaza untuk izin menggunakan tempatnya. Sore ini, pertama kalinya saya duduk di tempat ini, menyantap makanan yang orang-orang menyebutkan dengan istilah pitza hat. Mengenal rasa dari pitza hat itu sendiri, belum lama, kira-kira bebera tahun yang lalu. Itu pun bukan beli karena keinginan sendiri, melainkan ‘dibelikan, gratisan’ dan akhirnya makanan ‘gratisan’ itu terbuang, karena rasa mual yang mendera dan meronta-ronta mulai dari indra pembau, indra perasa sampai kepada system pencernaan saya.

Duduk dalam diam, mengamati setiap pengunjung yang datang, ada yang merupakan warga keturunan, ada juga yang memang merupakan anak asli dari negeri ini. Ada yang datang bersama keluarga, ada yang datang bersama teman-temannya, ada pula yang datang bersama kekasih hati, belahan jiwanya, meskipun itu belum tentu akan menjadi suami atau istrinya. Lama mengamati, ada yang menarik perhatian, ketika tiba-tiba seorang wanita dengan rambut terikat ekor kuda, menghampiri temannya, kemudian cium pipi kanannya, dan temannya itu seorang pria. ‘wushhhh’ saya sedikit terkejut, hanya sedikit saja, karena semakin lama-semakin terbiasa melihatnya.

Pesanan datang, mbak-mbak yang lain pun sudah datang. Acara makan-makan dimulai, acara makan-makan dipenuhi bincang-bincang. Kalau boleh memilih, saya lebih suka menelan tiwul, gatot, atau jagung grontol ketimbang memakan pitza yang rasanya entah seperti apa lidah saya menggambarkannya. Entah dimana letak enaknya barang yang satu ini, aroma makanan yang menyeruak di tengah-tengah manusia yang berada di tempat ini, tiba-tiba melecutkan suatu rasa ‘ngingggg’ di kepala saya, rasa sakit yang berada pada satu titik.

Entah itu disebabkan karena aroma makanan yang berada di hadapan saya yang ada di tempat ini, atau karena cuaca panas yang sepanjang hari ini melanda kota ini, entahlah. Sebenarnya agak enggan memakannya, tapi karena ini dibelikan oleh mbak yang lagi dilimpahkan rezekinya oleh Allah SWT, mau ndak mau, itu makanan saya masukkan juga ke dalam kerongkongan untuk kemudian harapan saya, system pencernaan saya dengan sukarela mau mencernakannya untuk saya.

Tadinya begitu enggan, tetapi kalau tidak dihabiskan maka mubazir jatuhnya. Saya hanya memakan dalam diam, mau mengumpat, tapi tidak boleh mengumpat makanan, jadilah menahan rasa pgusing di kepala sembari memaksakannya masuk ke dalam perut saya. Kalau saja bukan karena saos sambal yang pedas, belum tentu saya bisa menelan itu pitza.

Lama, pelan-pelan menghabiskan makanan yang sudah dipesan. Ada sesuatu yang menarik perhatian, tidak menyalahkan, tidak juga ingin menghakimi.

Arah pukul 11 sebuah keluarga, keluarga muda menurut saya, mereka sedang menyantap hidangan pitza hut dengan seorang bayi yang berada di tempat duduk yang memang disediakan oleh si pelayan restoran, saya pikir usia bayi itu belum ada satu tahun.

Dahulu agak sulit menerka umur bayi-bayi apakah mereka masih terhitung dalam bulan atau sudah berusia dalam hitungan tahun, tetapi lama di Kalimantan timur tepatnya di camp petrosea bontang, terbiasa menjaga anak abi dan umi zaid pada hari sabtu dan minggu, membuat saya tahu.

Ada yang menarik dari keluarga ini, entahlah, saya katakan saya tidak bermaksud menghakimi bukan. Hanya ingin menuliskan sebuah kisah pendek di suatu petang.

Abi dan umi yang mengajarkan, bukan abi dan umi zaid, tapi abi dan umi yang saya temui di restoran pitza hut sore ini.

‘aku tidak pernah tahu seperti apa tiwul itu’
‘yang aku tahu pitza dengan isi keju’

Saya pikir anak kecil itu belum tentu tahu seperti apa itu bentuk tiwul, seperti apa itu bentuk gatot, seperti apa itu bentuk kelanting, seperti apa itu bentuk kue putu, seperti apa rasanya, seperti apa bentuk orang-orang yang menjualnya.

Saya pikir, anak sekecil itu, balita, abi dan uminya sudah memperkenalkannya dengan lingkungan yang sebenarnya tidak perlu diperkenalkan sejak kecil pun, ia akan tahu dengan sendirinya.

Dimana letak enaknya, atau mungkin karena lidah kita berbeda. Beberapa orang katakan enak, apa itu berasal dari hati yang paling dalam, atau sekedar ikut-ikutan kemudian memaksakan diri dengan mensugesti bahwa makanan PH itu enak, hingga kemudian menstimulus syaraf-syaraf terutama syaraf pembau dan perasa yang tadinya menolak, sampai enggan, sampai mual dan ingin mengeluarkan, menjadi menerima hingga tanpa sadar mencuci otak untuk berkata ‘makanan PH itu enak’.

Orang luar katakan junk food, orang Indonesia katakan itu ‘modern, makanan orang kota’ ujung-ujungnya saya katakan makanan yang saya makan sore ini hanya sekedar ‘life style’ belaka, tak ubahnya seperti blackberry yang setiap orang ‘keranjingan’ membeli padahal sejatinya hanya berfungsi sebagai penerima dan pengirim pesan atau bagian terpentingnya hanya sebagai alat untuk menelepon atau menerima telepon saja, sisanya? Tidak ada, tidak jauh berbeda fungsinya dengan handphone standar yang lainnya.

Abi dan umi yang mengajarkan, bagian dari modernisasi. Abi dan umi juga manusia, tidak salah menyantap PH bersama keluarga tercinta, sama sekali tidak apa-apa. Hanya saja, saya agak terpana karena yang berada di sana, di meja yang berada pada arah pukul 11 itu adalah abi dan umi, bukan ayah dan ibu, bukan papa dan mama, tapi abi dan umi, abi dan umi.
Dan sampai malam ini, rasa sakit di kepala ini belum juga mau pergi.

Wednesday, April 15, 2009

Pelajaran pertama

‘bu boleh ya manjat genteng?’

‘ya manjat sana, awas jatuh’

‘ngapain de? Nanti jatuh’ begitu kata ayah

Kesal, sudah sebesar ini masih dilarang

‘tu kan bu’ gak boleh sama ayah’

Meleng sedikit, hap hap hap, saya sudah sampai di atap garasi, menanti matahari pagi, memanjat ke atas sedikit untuk kemudian duduk diam mendekap lutut. Duduk dalam diam, berhati-hati agar rok hitam saya tidak kotor terkena lumut-lumut yang mendiami ata genteng rumah ayah dan ibu saya ini.

‘de ke pasar yuk?’ begitu kata ibu dari bawah

‘ayuk, tapi ade di atap sebentar ya bu, sebentar saja’ begitu ujarku

Tidak tahu pukul berapa saat itu, tapi sepertinya sudah menginjak pkl 06.00 pagi, suara anak-anak yang bermain, suara burung-burung, suara kokok ayam, suara bising kendaraan, semakin meramaikan pagi.

‘kukku ru yuuuuuukkkkkk’ ayam itu berkokok

Ada sedikit yang membuat ingin tertawa, ketika melihat seekor ayam berkokok. Kenapa saya harus tertawa, pastinya kalian menganggap saya terlalu berlebihan, karena kerjanya ayam saat pagi menjelang, memang berkokok bukan? Ya itu saya tahu, tapi ketika saya mengamati dalam-dalam, ternyata yang berkokok itu bukan ayam jantan, tetapi ayam betina. Diam beberapa saat, menanti kalau-kalau ayam betina itu akan berkokok lagi, tetapi nyatanya tidak, ia melompat, kemudian menggiring anak-anaknya mencari makan, mungkin.

Memandang dari kejauhan, senang akhirnya saya bisa kembali berada di sini, di atas atap ini, menanti sang mentari, sudah bertahun-tahun lamanya tidak berjumpa dengannya dari sudut yang satu ini, atap rumah, dari atas genteng tepatnya.

Tidak begitu banyak berubah, memandang kejauhan dari atas atap, memang menyenangkan, segala sesuatu yang tidak dapat dilihat dari bawah dapat terlihat jelas dari sudut yang satu ini.

Beberapa tahun yang lalu, saat saya masih menginjak bangku SMA, bisa dihitung rumah yang berdiri di sana, yang ada hanya semak belukar. Sekarang, sudah sedikit berbeda, daerah itu sudah semakin ramai. Ada yang masih nampak sama, lapangan sepak bola, saya pikir lapangan itu sudah tidak ada lagi, ternyata masih tetap berada di sana, tidak menjadi korban penggusuran dari masyarakat, yang mengutamakan pembangunan untuk kediaman dia dan keluarganya agar dapat terlindungi dari panas terik matahari dan hujan

Kabut sedikit menutupi areal lapangan sepak bola dan sekitarnya, saya merasa nyaman, tenang, sembari menanti sang mentari datang.

Bukannya tidak pernah berjumpa dengannya, hanya saja saya sudah sejak lama tidak menatapnya, tidak mengamatinya dari sudut yang satu ini.

Lama, satu menit, 5 menit ibu kembali bersuara

‘ayuk de, sudah tambah siang ini’

‘iya bu, bentar lagi, bentar lagi mataharinya keluar’

Tak lama seorang tetangga saya berteriak dari bawah, dari rumahnya. Dalam bahasa daerah, bahasa melayu yang artinya kira-kira begini

‘ngapain di sana?’ begitu tanya ibu itu pada saya

‘nggak ada tante, Cuma duduk saja’ jawab saya sekenanya

Iya pun tersenyum untuk kemudian masuk ke rumahnya, entahlah mungkin meneruskan aktifitasnya.

Sudah 10 menit berlalu, kemudian, cahaya keemasan berpendar, memancar, menyirami awan-awan putih dengan warna keemasan.

‘selamat datang pagi, indah, matahari itu indah, cantik, dan terima kasih pada Nya yang memberikan mata untuk melihatnya, terima kasih pada Nya yang memberikan akal dan pikiran untuk mengagumi keindahannya, dan terima kasih untuk kesadaran dan iman untuk menyadari keagungan Nya, karunia Nya, anugerah Nya, dan terima kasih padanya yang membuat electron-elektron sedemikian rupa, sehingga dapat mengenali objek-objek ciptaan Nya melalui mata, hati, akal pikiran ini’.

Tak lama

‘ayuk de, sudah siang’ begitu kata ibu dari bawah

Hap hap hap, kemudian melompat, saya sudah berada di bawah. Seorang sepupu saya yang melihat kemudian berkata ‘lho ayuk ini ada di atas, gak takut jatuh tah?’ begitu katanya

Sembari tersenyum saya kemudian berkata ‘don try this at home, alias jangan ditiru yak’.

Singkat kata singkat cerita saya sudah berada di pasar bersama ibu tentunya. Tidak lama, karena ibu hanya membeli kebutuhan yang memang dirasa diperlukan dan sedang habis stoknya di dalam lemari pendinginnya.

Lapar, kue tradisional yang dibelikan ibu untuk saya, saya lahap saja di atas motor. Pasar tentu saja ramai, apalagi hari minggu, pagi pula. Pelajaran yang saya dapati pagi itu adalah bahwa, jangan mau ‘dibonceng’ bila keadaan pasar sedang ramai-ramainya. Pasalnya saat ibu sedang mengendarai motornya dengan perlahan, dan saya sedang asik dengan makanan tradisional yang berada di genggaman dan yang sedang berada dalam proses ‘pengkunyahan’ . tiba-tiba, gdubbbrakkkkk, lutut saya menabrak plat motor lain yang juga sedang bergerak di jalan pasar yang padat dan sesak.

‘sakit de?’ begitu tanya ibu

‘ya sakit lah bu, udah bu gak papa, jalan aja’ begitu ujar saya, sembari terus mengunyah apa yang sedang berada di dalam mulut saya.

Saya pikir pasti terluka di luar atau mengalami pendarahan di dalam, lalu berimbas pada tato kebiru-biruan. Lama, sampai sore saya lupa dengan insiden yang terjadi tadi pagi, sampai ketika saya tanpa sengaja menengok lutut saya yang mengalami memar, kebiru-biruan yang cukup lebar dan ternyata dugaan saya benar.

Pelajaran pertama di pagi itu adalah jangan makan sembari duduk di atas motor yang berjalan di tengah-tengah keramaian pasar.

Monday, April 13, 2009

"kamu itu konyol" begitu katanya

-chapter 6-


Kereta ini memperlambat lajunya, kecepatan berkurang begitu pula percepatan yang dihasilkan. Sudah sampai di stasiun Kota bumi, pemuda itu dan teman-teman seperjuangannya berpamitan pada saya ”kita duluan ya mbak” saya tersenyum sembari berkata ”iya, hati-hati, sampai jumpa lagi ya”, lalu ”kalau naik kereta lagi, cari kita aja ya mbak” begitu kata salah satu dari mereka.

Saya kembali tersenyum ”iya” jawab saya. Mereka pun turun, kereta kembali bergerak. Kecepatan kembali ditambahkan hingga yang saya rasakan konstan, kembali tubuh ini diombang-ambing, masih duduk di samping pintu gerbong kereta api, mencoba menghindari asap rokok dari penumpang yang begitu egoisnya menurut saya, karena tidak memikirkan kemaslahatan penumpang yang lainnya.

Bosan, saya pun masuk ke dalam gerbong, duduk kembali bersama adik saya. Tak lama, seorang penumpang tersenyum, saya merasa aneh, lalu bertanya apa arti senyumannya, lalu dia berkata ”kamu itu konyol, nggak malu, nggak bisa mengendalikan diri”.... saya pun bertanya alasannya, katanya ”ya, itukan mempermalukan diri sendiri bla...bla...bla” tidak saya dengarkan lagi apa yang dikatakannya, sekilas saya mendengar dia berkata bahwa bila dia diminta melakukan itu dia tidak akan mau, tidak punya harga diri, begitu menurut pendapatnya.

’Masya Allah’ saya tidak ingin mendebatnya. Saya pun berdiri lalu pergi, kembali duduk di pinggir pintu gerbong kereta api menikmati angin yang bertiup sembari mencium aroma khas WC umum kelas ekonomi yang semakin lama semakin akrab bersahabat dengan indra pembauan yang Allah berikan pada saya.

Saya heran dengan pernyataan yang ia keluarkan, tapi biarlah saya tidak mau ambil pusing, setidaknya hari ini ada pelajaran yang bisa saya dapatkan. Sejatinya mencari uang memang tidak gampang, berjualan saja membutuhkan keberanian.

Pikiran saya melayang, menerawang entah kemana. Kereta ini terus berjalan, sesekali teori relativitas Einstein menggoda isi kepala saya untuk berdiskusi dengannya, penumpang-penumpang kereta api ini masih tetap berkutat dengan alam pikiran mereka, pedagang-pedagang asongan khas jalur perkeretaapian masih tetap memperjuangkan hidupnya dengan mengesampingkan rasa malu yang ada dan saya masih duduk di sini membiarkan indra pembauan saya semakin bersahabat dekat dengan bau WC umum yang tepat berada di sebelah saya, romantis, sejatinya beginilah kehidupan harus berjalan.

--end--