Pages

Tuesday, February 28, 2012

Remaja dengan biskuit di genggamannya

sore, bandung 2012 di bulan januari

saya baru tahu, kalau mengganti background colour di google akan berdampak pula pada background blogspot saya.

apa kabar ruang rindu?
semoga senantiasa positif saja dirimu, seperti beberapa waktu yang lalu, ketika pertama kali aku mengenalmu.

ketika seorang teman lama, berkata "saya tidak suka meng-update- status saya di jejaring sosial, karena saya tidak ingin mudah dibaca......". apakah berkisah kepada mu termasuk menjadi pribadi yang mudah terbaca? mungkin saja.

saya sedang berpikir untuk memberikan engkau sebuah nama, daripada hanya sekedar sekarw.blogspot.com, menganggapmu sebagai makhluk pendengar setia. Menempati posisi kesekian, setelah orang tua saya (betapa saya mencintai mereka, semoga mereka mengetahuinya).

Dear diary, what if i call you Dy', same with my diary.

apakah saya manusia? masihkah saya seorang manusia?

pertanyaan itu yang terbesit secara tiba-tiba ketika saya melihat seorang anak remaja, sedang duduk tak sempurna, yang saya maksud dengan tidak sempurna, karena dia tidak menjejakkan *maaf pantatnya serta merta ke tanah untuk menopang seluruh berat badannya.

Beberapa hari yang lalu, hmmhh.

agak sedikit sulit rasanya untuk memulai berbagi cerita. mengabarkan setiap detail dari apa yang aku lihat, dari apa yang aku dengar, dan dari apa yang aku rasakan saat itu. Biarkan kali ini aku berbicara dengan menggunakan ke-aku-an ku kepadamu Dy. Bukan sebagai bentuk egois-me ku kepada kamu, si pendengar setia dari masa ke masa.

anak remaja itu hanya tertunduk di dalam duduknya
dia mengunyah setiap potong biskuit kraker yang ada di genggamannya. Mengunyah perlahan, tidak sedang takut akan kehabisan dan tak pula khawatir ada rekannya yang meminta, atau bahkan adik kecilnya yang merengek-rengek berkata "semua untuk saya".

aku tertegun barang sejenak

langkah kaki ku terhenti, *sialnya, kebiasaan buruk ku akan mengamati sesuatu yang aneh menurut pandangan mata dan hati ku.

pakaiannya lusuh, tetapi masih layak pakai. tak nampak lubang disana-sini, tak ada pula tambal sulam yang nampak dari pakaian yang ia kenakan. Dengan kaus putih lengan panjang, dengan bercelana panjang ia nampak terduduk lesu sembari menikmati setiap gigitan dari rezeki yang ia dapatkan hari ini.

,.....rambutnya kusut masai, di sekelilingnya nampak beberapa bungkus makanan ringan. entah ia dapatkan dengan cara membelinya, melalui belas kasihan, atau melalui nalurinya yang kelaparan, yang kemudian membawa kakinya untuk melangkah, yang membimbing kedua tangannya untuk mengais-ngais di tempat sampah.

aku terdiam Dy
aku terdiam beberapa detik lamanya
melihatnya dalam diam
aku tertegun Dy
aku tersentak

aku tinggal di kalangan mahasiswa yang menjadi orang-orang penting di negerinya, Indonesia Dy. Aku berdiam di lingkungan mahasiswa yang hilir mudik dengan kendaraan roda duanya dy, dengan kendaraan roda empatnya. Dan saat itu aku berdiri tepat dua meter dari remaja itu Dy, dua meter pula dari gerobak bubur ayam dan bakso mie kocok yang menjual mienya dengan harga 10ribu rupiah, lebih mahal dari pada pedagang kaki lima lainnya.

aku tersentak ketika kepala ku bertanya
"apakah kamu manusia......"
di dalam diam, hatiku, bibirku, terdiam, aku sempat terpejam

kemudian membawa kedua kaki ku yang semula melangkah ringan, kemudian menjadi berat, tak tertahan, menahankan malu yang kembali meradang.

"aku pun tidak tahu, apakah aku manusia atau bukan" begitu ujar lidahku dy, lidahku berbicara mewakili hati nuraniku.

aku belum mampu berbuat apa-apa
sampai saat ini, aku belum dapat melakukan apa-apa

bahkan untuk seorang remaja berkaus putih lengan panjang
bahkan untuk seorang remaja yang lusuh dan kusut masai
bahkan untuk seorang remaja tanggung yang memakan makanan sisa dari mahasiswa seperti aku Dy

dan aku bahkan hanya bisa terdiam, tindakan terhebat ku adalah ketika aku bertanya pada diriku sendiri tentang "Apakah aku manusia".

dinginnya cuaca hari ini,
membuat aku membalut tubuh kecilku dengan sebuah sweater berwarna hitam seharga 50ribu. Betapa beberapa waktu yang lalu, nominal itu tidak berarti bagiku. tetapi bisa begitu sangat berarti untuk remaja tanggung itu.

hhhhhh, kembali hanya dapat menghela nafas panjang. ketika aku belum menjadi manusia yang apa-apa. Belum dapat seperti pengusaha lain yang memiliki banyak angka nol di dalam rekeningnya Dy. 

aku tinggalkan anak remaja itu, dalam diam
dalam keadaan kepala ku yang menjejali hatiku dengan pertanyaan "Apakah kamu manusia"
aku katakan "aku bukan manusia, aku belum menjadi manusia"

Remaja tanggung, dengan kusut masai, dengan celana lusuhnya, dengan kaos lengan panjang putihnya. yang terduduk, tertunduk malu, memakan (aku tak sanggup meneruskannya Dy). Ketika secara mengejutkan, titik-titik air mata itu jatuh dy. Aku masihlah manusia, manusia yang bersenjatakan air matanya. 

Tetapi, kemudian kepalaku berkata "air matamu tak mampu merubah apa-apa"

remaja itu masa depan Indonesia Dy
teriak ku kepada hati ku, ketika aku belum mampu berbuat apa-apa pada remaja lelaki tanggung itu. 

jangan menjadi gila wahai bujang, jangan menjadi gila. Gila karena dunia, gila karena rasa tidak puas terhadap takdir yang Allah timpakan kepadamu.

aku tutup catatan ini, di titik ini. Di titik dimana aku merasa menjadi manusia yang cacat jiwanya, yang hanya mampu berkata belum dapat berbuat apa-apa. Cacat menjadi manusia yang sombong, berbicara seolah aku banyak tahu tentang segala sesuatu, tetapi pada kenyataannya aku tidak tahu apa-apa.

Bandung, 17.04, di 28 Februari 2012.

bujang, maafkan aku

Wednesday, February 8, 2012

McKinsey & Company : Managing Knowledge and Learning

This case tell us about how McKinsey and Company applied Knowledge Management practices in their company. McKinsey started to applied the knowledge management to face four things
  1. the effect of economic turmoil of the oil crisis,
  2. the slowing of the divisionalization process that had fueled the European Expansion,
  3. the growing ot sophistication of client management, and
  4. the appearance of the new focused competitors like Boston Consulting Group 
here are some short explanation about

History of knowledge management practices
in the McKinsey & company

Daniel

Not only to serving its clients but also developing its consultant

In 1977

1. Assembled working groups to develop knowledge.
2. Asked fred gluck to
  • Doing 3 days meeting to share ideas
  • Develop agenda for strategy service
3. Asked bob waterman
Assemble a group that could articulate the firm’s existing knowledge in the organization

In 1980
Daniel asked gluck to join the small group to comprised the firm office and focus on the knowledge building agenda arena.

Fred Gluck

Wanted to bring an an equally stimulating intellectual environment to McKinsey
- Convert his partner held beliefs that “knowledge deveopment had to be core, not a peripheral firm activity”
- Trying to change internal status hierarchy based on size and importance of one’s client base.
- Created Client Impact committee

In 1987
- Gluck lunched knowledge management building.

After five month study, the team made three recomendation
1. Major commitment to build databaes of knowledge
2. Ensure data bases maintained and used
3. Expand its hiring practices and promotion policies

Bill matassoni and brook manville doing the task to Implementating the three recomendation
1. Focusing the firm practice information system (FPIS) computerized database of client.
2. Selected the documents that provided the critical mass, then launch PDNet

Clientele and Pofessional Development Committee (CPDC) held
The objective
-Replacing the leader driven knowledge creation and Dissemination process-
with a “stewardship model” of self governing practices focused on competence building

Conclusion

“...... professional make a career in McKinsey by emphasizing specialized knowledge development. Than based problem solving skillls and client development orientation”

Rajat Gupta

In 1994
Launched a four-pronged attack
first Capitalized on the firm’s long term investment supported by PDNet and FPIS
second Building on an experiment a grass roots Knowledge Development approached called practice olympics

In 1995

third Internal and external expertise develop “state of the art”
- Focused on the shape function of corporation
- Creating and managing strategy growth
- Capturing global opportunities

fourth Expand the model of McKinsey Global institute

Gupta challange

  1. Must ensure that knowledge sharing within the company takes place through a variety of mediums, including traditional face-to-face interactions such as the Practice Olympics and the practice development.
  2. Gupta should be su.re that his approach to moving the organization forward includes a comprehensive evaluation of all the stakeholders’ interests in the firm.
  3. To guarantee that his four-pronged plan brings success to his company, however, Gupta must be sure that information sharing is always accompanied by tangible benefits.

Friday, January 27, 2012

sebentar-sebentar

sebentar-sebentar senang
sebentar-sebentar sedih
sebentar-sebentar tertawa
sebentar-sebentar menangis

semua serba sebentar

Malam semakin larut dan selama beberapa hari ini sebentar-sebentar merasakan sakit di pergelangan tangan sebelah kanan. Entah apa sebab? tak taulah awak. Ada nampak bahwa pergelangan tangan awak menunjukkan rasa solidaritas yang tinggi kepada buruh yang sedang berdemo, menuntut keadilan demi iming-iming "kehidupan yang layak".

Dan bahkan, pergelangan tangan awak lebih manusiawi, lebih cepat bereaksi, daripada diri awak sendiri. Hebat-hebat...........,

"plok plok plok" awak lakukan ritual tepuk tangan itu demi menghargai aksi solidaritas pergelangan tangan awak yang ikut mogok kepada awak.

Tak sedang senang hati awak untuk bercakap-cakap dengan angin sepoi-sepoi yang sedari pagi hari tadi hilir mudik di depan jendela kamar awak.

"Membuat tulang-tulang dan kulit awak menggigil saja, kau angin" awak kata pada angin

Tak sedang bernafsu pula awak, untuk duduk diam bersama bulan sabit yang sejak malam kemarin menunggu awak untuk sekedar berdiskusi tentang malam bersama bintang.

"Lain kali saja lah bulan, awak sedang tak ingin banyak cakap kali ini" 

Kedua sejawat itu, bulan dan bintang pun pergi meninggalkan awak, sendirian. Awak anak melayu yang tak tahu budaya, yang tak dapat bicara logat ibu dan bapak, hanya dapat mendengarkan sembari melongo, seperti kerbau yang dicucuk hidung oleh si empunya nya.

Awak sedang tak senang
bayang-bayang masa lalu awak, mengenangkan kawan yang dulu masih ada, sekarang sudah tiada. Mengingatkan betapa berbedanya awak yang dulu dengan awak yang sekarang.

Awak mengguncang-guncang
anak melayu udik macam awak, terdampar di pulau seberang. Terperangah dengan gedung-gedung tinggi, bingung macam mana itu gedung bisa sampai setinggi itu. Terbengong-bengong awak dengan banyaknya mobil-mobil mahal mondar-mandir. Bingung, orang-orang dari dalam televisi kata, di negeri awak banyak orang miskin, ya macam awak ini lah. Tapi, melihat mobil-mobil itu, tak lama awak nampak rumah-rumah mewah itu, luar biasa. Negeri awak kaya, orang televisi bohongi orang desa macam awak.

Berhari-hari awak mengumpat-umpat televisi yang awak katakan
"kapitalis kau tipi, barang kotak macam kau ini, berani bohongi awak yang lebih besar, lebih tinggi dari pada kau" umpatku

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, teman awak tetap sama, angin, bulan dan bintang. Tapi awak sudah berubah, awak bukan lagi orang kampung suku melayu yang udik macam dulu. Awak sudah tau itu beda kornet dengan internet, awak juga tau kalau taksi dengan angkot itu tak sama, awak pun bukan lagi kutu buku yang tebal berkacamata, dengan celana macam pelawak jojon. Awak sudah berubah, tak lagi awak bercakap dengan sebutan "Awak". Sekarang zamannya "lo dan gue", begitu cakap teman-teman baru awak. 

Tak lagi awak menjadi udik seperti dulu, setidaknya begitu awak pikir beberapa bulan yang lalu.

sampai, teori sebentar-sebentar awak muncul kembali. Ceritanya awak mulai rindu dengan buku-buku, inilah teori sebentar-sebentar yang awal kali keluar ke permukaan. Awak terkena teori "sebentar-sebentar bosan", ya awak bosan dengan keluar masuk mall, cafe. Otak awak berasa kosong.

Ceritanya, awak bertanya pada angin dimana bisa awak dapat buku-buku untuk hilangkan dahaga otak awak, yang sudah hampir terkena dehidrasi ilmu pengetahuan.
Angin kata "dekat dengan tempat menuntut ilmu, bersebelahan dengan tempat mengisi perut, berhadapan dengan tempat teknologi dipamerkan, berselisih dengan tempat wanita suka habiskan waktunya"

Awak melangkah, mengikuti kemana petunjuk angin mengarah

awak berhenti
awak terdiam
awak serta merta kembali menjadi orang udik yang lebih udik daripada orang udik kebanyakan.

awak menghitung
"satu, dua, tiga,.........................., 10, 11" 
awak berjalan
awak bersyukur 
tetapi, kemudian awak kembali terdiam
".....12, 13" 

awak terkena teori sebentar-sebentar, sebentar-sebentar lega, sebentar kemudian awak kembali terbengong-bengong dibuatnya.

bayi, balita, anak-anak, remaja, orang dewasa, orang tua. Duduk, berjalan, berlari kesana dan kemari, 13 orang manusia dari segala generasi. Dengan mangkuk kecil yang biasa awak pakai untuk makan mie, mereka jalan ke sana kemari, meminta-minta.

sebentar kemudian, awak kembali teringat dengan televisi awak, yang awak umpat karena awak sangka berbohong. Televisi awak jujur, dia katakan negeri awak banyak orang miskin. Hari ini awak begitu banyak nampak orang miskin, tepat di depan mata awak.

Semua terasa semakin kabur, awak tak dapat lagi mengingat untuk apa awak berada di jalan ini. Awak pun sudah lupa dengan siapa diri awak, awak pun sudah tak ingat lagi tentang apa yang harus awak ingat. 

Samar-samar awak mendengar

"besok, sodara saya mau dateng dari kampung. Mau ikut ngemis -ceunah-, dari pada di kampung gak ada kerjaan.........." begitu cakap salah seorang pengemis kepada pengemis lainnya, kawan sebayanya, rekannya, relasi mengemisnya.

"brukkk.........." awak jatuh

Pikiran awak melayang bersama kesadaran awak, awak tinggalkan sebentar alam sadar, awak pergi bersama angin petang, membumbung tinggi menghadiri undangan bulan sabit dan bintang. Undangan menonton televisi bersama, sembari minum kopi di atas awan. 

judulnya "orang udik dan sangkaannya tentang negerinya"

Samar awak membuka mata, terkekeh-kekeh ketiga kawan awak. Angin, bulan dan bintang, mereka menonton film orang udik dan sangkaannya. Dan sebentar kemudian, awak kembali tak sadarkan diri, awak memilih tak sadarkan diri. Mengetahui pemeran utama di dalam film orang udik itu, adalah awak sendiri.

"hahahahahaha" tawa ketiga kawan awak, angin, bulan dan bintang, terdengar nyaring, kemudian hilang. 

Awak memilih tak sadarkan diri sampai film "orang udik dan sangkaannya tentang negerinya" itu selesai diputarkan.

lembar 600 ribu

“Authenticating”, melulu itu yang nampak di layar netbook yang berukuran tak lebih dari 10 inchi ini.

Menggeleng-gelengkan kepala, ke kiri dan ke kanan. Sesekali menggerakkan punggung yang kelelahan, lelah karena sepanjang hari duduk diam, memperhatikan layar putih yang berkelip-kelip. Bermain-main dengan radiasi dalam skala kecil yang lambat laun pasti mengakumulasi diri sendiri, sampai suatu saat menimbulkan dampak berupa mutasi gen, sebagian besar ke arah yang negatif. Tetapi, semoga saja itu tidak terjadi pada ku, kamu dan mereka semuanya. Lalu, pada siapa? Ya boleh jadi pada manusia yang tidak memiliki hati nurani, seorang pembunuh yang mendapati kesenangan dari aktifitas membunuhnya barangkali. Atau mutasi gen itu terjadi pada manusia yang paling jahat se dunia, dan semoga saja itu bukan aku, kamu, dan mereka.

Sore hari, angin sepoi-sepoi bertiup. Menggerak-gerakkan gorden kamar kosan ku yang berwarna kecokelatan. Cokelat karena memang berwarna cokelat, bukan karena berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun tidak menyentuh apa yang namanya air dan sabun, yang menurut iklan dapat membersihkan segala macam kotoran, termasuk yang tidak terlihat.

Bandung 27 januari....................

Ketika seorang anak manusia bernama dian sekarwangi, seorang anak manusia yang ketika akan lahir disangka jejaka. Tapi ternyata, ia seorang bayi perempuan mungil, yang orang tuanya tidak pernah tahu bahwasannya ia akan tumbuh menjadi anak perempuan yang nakal, keras, tetapi memiliki sekeranjang penuh rasa simpati, empati, dan melankolis dalam skala tinggi.

“kakak, dipanggil nenek” begitu ujar remaja tanggung itu. Dia berbicara sembari sibuk menekan tuts-tuts, tombol –keypad- Hp qwerty-nya.

Dengan perasaan agak masgul, antara ragu dan yakin akan asas praduga tak bersalahku terhadap firasat dan perasaan yang melintas di kepala dan di dalam dadaku.

“iya gitu? Kenapa?” Begitu balasku pada gadis remaja tanggung itu

Usianya masih belia, ya bila dibandingkan aku yang sudah berkepala dua, lebih tepatnya seperempat abad hampir plus satu. Karena beberapa bulan lagi aku genap berusia 26 tahun. Oh tuhan, tetangga kiri kanan sudah berlari bersama pasangan, sedangkan aku? Masih berleha-leha dengan kesendirian.
Tidak laku? Tidak ada yang mau? Belum ada yang cocok? Sampai jodohnya belum sampai, semua kata-kata itu memiliki makna yang serupa meskipun tak sama dalam susunan katanya.
Mari kembali menterjemahkan seperti apa gadis belia yang menjadi cucu dari ibu kost ku itu.

Cantik? Ya bila dibandingkan aku

“hahahaha” aku tertawa

Tingginya mungkin sekitar 155 cm dengan berat badan lebih kurang 45 kg. Wajahnya seperti pualam, meskipun aku tidak tahu seperti apa itu pualam. Tapi kesan mungil, bersih, disertai dengan rambutnya yang terjuntai se-bahu, dilengkapi dengan warna hitam pekat, lebat. Sungguh, Allah menciptakan manusia tidak pernah sama, meskipun satu keturunan dengan ayah dan ibunya. Dan gadis remaja tanggung ini, sedang berada pada titik-titik cantiknya ia.

“hahahhahaha” aku kembali tertawa, 

Pikiran nakalku mencoba mendeskripsikan gadis remaja itu, kemudian menyertai penggambaranku dengan sebuah kalimat pamungkas, agar tak iri aku dibuatnya

-----gadis itu cantik karena memang dia sedang berada pada usia yang cantik pula. Tetapi, mendekat masa uzurnya? Ia akan sama seperti neneknya, keriput dan tua------

“hahahaha” aku kembali tertawa di dalam hati

“payah, baru mau sholat ashar. Sudah dipanggil sama ibu kos hadduh, kenapa ya? Jangan-jangan mau ngomong kalau aku terlalalu berisik di lantai atas” begitu firasat ku kira-kira saat itu, karena kamar ibu kos tepat berada di bawah kamar ku.

Bunyi derit yang terjadi sebagai akibat dari gesekan roda pintu dengan besi yang menjadi lintasannya. Karena pintu kamar nenek bukan menerapkan sistem buka dan menutup dengan gagang pintu. Melainkan dengan cara digeser ke kiri dan ke kanan.

Seorang wanita berusia 60 tahun, kurus, keriput, layu, kusam. Maafkan aku nek, aku menjadi terlalu kurang ajar dalam mendeskripsikan kecantikan mu.

Wanita yang sudah tua itu duduk di atas kasurnya, dengan selimut yang menyelimuti kakinya.

Beberapa waktu yang lalu, nenek masih gemuk, padat, berisi, putih, ah gagahnya si nenek. Berjalan beberapa kilometer masih sanggup dia, hebat, begitu yang berputar-putar di kepalaku, beberapa waktu yang lalu. Tapi kini? Nenek tak lagi sepeti dulu, berat badannya menghilang, kekuatannya yang dahulu pergi entah kemana. Meninggalkan nenek seorang diri, menjadi wanita yang kurus. Nampak seperti menahun sudah penyakit itu bersarang di dalam tubuh nenek.

Bukan penyakit yang elit, tidak pula berbahaya kalau menurut orang-orang lulusan kedokteran yang didatanginya.

“kata dokter, nenek cuma sakit batuk biasa” begitu ceritanya beberapa waktu yang lalu padaku.

Dengan potongan rambut yang pendeknya kira-kira lebih kurang 5 cm, nenek terlihat kurus. Aku berandai-andai bilamana nenek berambut panjang, tentu lebih nampak garis-garis tirus di wajahnya, dan kesan kurus itu, pasti semakin kentara.

“kenapa nek?” begitu aku bertanya

Beliau duduk sembari sesekali memperbaiki letak selimut yang membalut dari pinggang sampai ke ujung kakinya.

Sembari mengusap-usap wajahnya, membelai sendiri rambut pendeknya. Nenek memulai ceritanya

“............ uang listrik bulan ini 600 ribu neng, paling lambat tanggal 28..........”

“....nenek gak punya uang, uang laundry diambil semua sama anak lelaki nenek....”

“..........nenek pinjam uang....., anak sholeh seperti neng ini sebenarnya gak perlu bayar kostan. .........., dulu kan nenek punya hutang 500 ribu, kalau ada nenek pinjam 600 ribu....”

Ceritanya, nenek meminta aku untuk membayar uang kostan yang harusnya aku bayarkan di bulan Juli, untuk dibayarkan sekarang. Setidaknya 600 ribu, untuk membayar listrik bulan ini.

Aduh, mulailah bingung aku dibuatnya. Wajah mengiba si nenek, ya baiklah dia tidak mengiba. Tetapi, aku, hey aku ini perempuan, namaku dian sekarwangi. Kamu tau kan, dari awal aku katakan, aku ceritakan, aku ini keras. Ya dan kamu tau kalau aku ini dari lahir sudah berwatak keras. 

Ibu bilang
“cah wedok gak oleh koyo cah lanang” sembari mengetuk-ngetuk kepala ku, sembari mengusap-usap ubun-ubunku, kemudian
“fyuhh fyuuuhh” ibu meniup ubun-ubun kepalaku
Ketika aku bersikeras membenci tetanggaku yang usianya tak jauh berbeda dari bapak ku. Kenapa? Karena menyebabkan gagang sapu milik ibu mendarat telak dikedua kaki ku.

“bapak gak mau tau, kamu gak boleh manjat-manjat atap genteng lagi. Nek tibo, jadi urusan, cah wedok kok koyo ngono........” begitu ujar bapak saat itu, hampir 10 tahun yang lalu

Baiklah, aku keras, tapi aku perempuan keras yang mewarisi sekeranjang penuh sifat empati, simpati ibu. Dan kalau sudah tersentuh, air mata ku bisa tak henti mengalir, mungkin seperti mata air zamzam yang ada nun jauh di tempat kabah berada.

Aku juga sudah ceritakan pada kamu, bahwa aku memiliki sifat melankolis dengan kadar yang tinggi. Maka ketika melihat nenek dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Ditambah lagi dengan efek suara yang sesekali disertai dengan batuknya. Kemudian semakin dipercantik dengan suara gemeretuk giginya, yang menghasilkan suara sama persis seperti ketika mbah kakung ku mengunyah makanan di giginya yang sudah tua.

Hati ku berlonjak-lonjak, tak tahan aku dibuatnya. 

Lalu “nanti ya nek, tanya sama orang rumah dulu” begitu ujar ku.

Aku tak dapat langsung mengiyakan, 600 ribu buat pengangguran sepertiku, oh itu jumlah yang besar

“ya, nenek juga bingung mau pinjam kemana. Semalam nenek gak bisa tidur,..........” begitu tambahnya

Sisanya? Aku tak lagi mendengarkan secara seksama apa yang nenek katakan. 

“berdoa aja nek, siapa tau nanti malem saya ketemu uang di bawah kasur” begitu selorohku
 Candaan yang sama sekali tidak lucu, sungguh tidak lucu. 

Aku beranjak pergi, mohon diri, karena waktu ashar sudah lewat lebih dari setengah jam yang lalu.

“neng sudah makan?” begitu tanya nenek

Entah nenek serius bertanya atau sekedar basa-basi karena merasa tidak enak dengan maksud dan tujuannya memanggilku demi uang 600 ribu itu.

“sudah nek, yang belum makan malam” jawab ku
Aku beranjak pergi, melangkahkan kaki menuju kamar mandi.

Baiklah, aku mulai berbicara dengan hati dan kepalaku. Bertiga kami merumuskan bahwa sekarang saatnya untuk meratapi nasib, kemalangan diri sendiri. Atau sebenarnya aku tidak lah malang.

Dengan hilangnya netbook ku, disusul kemudian jam tangan ku dan baru aku sadari sekembalinya aku dari libur semester pertamaku. Lalu, beberapa waktu yang lalu, tanggal 24 januari, tepat ketika warga keturunan tiong hoa merayakan tahun baru, tahun naga, aku si dian sekarwangi, secara bodohnya kehilangan telepon genggam qwerty-ku, yang aku beli beberapa bulan yang lalu.

Hati dan kepala ku semakin bersitegang ketika kepala ku mengingatkan aku, bahwa minggu depan aku harus melakukan medical check up terhadap penyakit tumor ku.

“gdebuk............?#$%#&%$&$” seperti itu yang ada di dalam kepala ku.

Semua berujung pada uang
Susah payah aku bertahan belum mengganti Hp ku yang hilang, dengan alasan aku masih bisa bertahan dengan hp tua yang menjadi sarang kartu IM-three-ku. Dan untuk kartu sim-pati ku? Aku istirahatkan dia, karena kepalaku masih mengukur seberapa penting hp qwerty pengganti itu. 

Nenek tau itu, nenek tau kemalangan yang menimpaku itu, heran aku dibuatnya, apa nenek tidak ada rasa kasihan kepada ku? Atas kemalangan yang menimpaku.

Aku bisa mengeluarkan 600 ribu itu, sekarang, saat ini juga. Tapi? Medical check up ku? Bagaimana pula dengan rencanaku untuk mengganti handphone yang hilang? Lalu bagaimana pula dengan netbook ku yang diambil orang, pada saat aku sedang tidak berada di kostan. Lalu dengan jam tangan ku? Oh Masya Allah semua berawal dari kata –bagaimana- 

Aku katakan pada hatiku, untuk apa menyimpan uang di dalam bank kalau tidak digunakan.

Ya kalau ada yang disimpan, tapi aku?

“hahahaha” aku tertawa, menertawai diri sendiri

Aku berbangga diri dengan berpikir tentang betapa malangnya diri. Tapi, sebenarnya aku tidak semalang itu.
“Dan kamu tau? Sepertinya aku akan keluarkan uang 600 ribu itu dari genggaman tanganku” ujarku

Aku segera beranjak, meninggalkan angin yang bertiup sepoi-sepoi menyejukkan.
“apapun keputusanmu, aku ucapkan selamat untuk itu” begitu ujar angin dari kejauhan.

Aku berjalan, tersenyum, sesekali mengeluarkan gigiku yang menurut bapak dan ibu
“bagus nduk, lumayan rapi” 

Sebagai akibat dari pengekangan selama hampir dua tahun, pengekangan yang dilakukan oleh kawat-kawat yang dipasangkan oleh seorang dokter gigi muda, beberapa waktu yang lalu.

“......ya, terima kasih untuk ucapan selamat mu itu” begitu balasku dari kejauhan.

Aku berlari, semakin lama, aku semakin menjauh dari sejuknya tiupan angin petang yang menemaniku merenungkan tentang lembar 600ribu itu.

Thursday, December 8, 2011

Jambu biji untuk flu dan kanker

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Jambu biji memang tidak sepopuler jeruk atau semahal apel. Jika Anda berpikir jeruk adalah yang terbaik untuk vitamin C, Anda perlu mencoba jambu biji.

Satu jambu biji memiliki 165 miligram (mg) vitamin C. Sementara, satu jeruk hanya mengandung 69 mg saja. Kandungan vitamin C pada jambu biji ini efektif dalam mengobati infertilitas pria.

Di bawah kulitnya yang hijau, jambu biji memiliki banyak manfaat yang ditawarkan. Satu buah jambu sehari berguna mengurangi resiko penyakit mulai dari flu biasa, gusi bengkak, tekanan darah tinggi, obesitas, diabetes sampai kanker.

Jambu biji memiliki serat makanan berlimpah sehingga baik dikonsumsi bagi yang mengalami sembelit. Bagi yang sedang mencoba untuk menurunkan berat badan, tingginya kandungan serat jambu biji juga sangat bermanfaat.

Buah ini kaya vitamin, serat dan mineral. Jika dijadikan bagian dari makanan sehari-hari, penelitian menunjukkan jambu biji sangat efektif mencegah kanker dan penyakit jantung. Buah yang memiliki nama latin Psidium guajava ini membantu tubuh memerangi radikal bebas yang dihasilkan selama metabolisme.

Para peneliti bekerja untuk departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) telah menemukan bahwa jambu biji mungkin di antara buah terkaya antioksidan. Buah yang lezat ini juga memiliki beta karoten, kalium dan serat larut.

Jambu biji dapat meningkatkan kesehatan jantung dengan mengendalikan tekanan darah dan kolesterol. Kemampuan jambu biji untuk menurunkan tekanan darah disebabkan adanya kandungan kalium. Kalium merupakan elektrolit yang penting untuk reaksi listrik dalam tubuh termasuk pada jantung.

Buah ini juga dikenal bisa menyembuhkan luka eksternal serta mengobati pendarahan hidung dan gusi. Buah yang hidup di daerah tropis ini bisa juga mencegah penyakit 'orang tua' seperti pikun dan katarak. Adanya karbohidrat kompleks dan kandungan serat yang tinggi bisa bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol dan gula darah.

Makan satu jambu biji untuk sarapan memberikan dosis harian yang sangat dibutuhkan seperti zat besi, asam folat, kalsium, serat, protein, karbohidrat, vitamin A, B dan banyak vitamin C. Kandungan lemak total satu jambu biji sekitar 0,9 gram atau 84 kalori. Dibandingkan dengan apel, buah ini memiliki 38 persen lemak dan 42 persen kalori yang lebih sedikit.

sumber yahoo.com