Pages

Monday, April 2, 2012

jelajah 1000 wajah

Entah dengan motivasi apa saya membuat judul 'jelajah seribu wajah' ini beberapa bulan yang lalu, tapi mari membuat sebuah asumsi-asumsi sederhana. Sebuah kesimpulan, meskipun kesimpulan itu didapat dari sebuah analisa dangkal tentang berbagai macam wajah yang bisa manusia nampakkan di hadapan manusia yang lainnya.

Manusia memiliki banyak wajah di dalam hidupnya, bahkan seorang suami/istri sekali pun tidak akan pernah tau seperti apa isi di dalam hati pasangannya.

Media televisi banyak menceritakan tentang bagaimana manusia-manusia yang pendiam, yang terlihat baik di luar, tetapi belakangan melakukan tindakan yang menurut orang-orang di sekelilingnya "tidak mungkin dia melakukan itu"

Jelajah seribu wajah, beberapa kali saya melihat iklan rokok di televisi, betapa manusia setiap harinya menggunakan topeng di dalam kesehariannya. Lebih seperti bahwa "dunia ini panggung sandiwara" atau bukan ya? mengingat setiap pemain sandiwara memainkan peran yang bukan dirinya. Sama seperti mengenakan topeng untuk peran yang dimainkannya di atas panggung pertunjukkan.

"baelah" begitu dalam bahasa sunda

Setiap manusia punya alasan mengapa dia mengenakan topeng di dalam kesehariannya. Mengapa dia bersandiwara di dalam hidupnya.

Beberapa orang kenalan saya, menceritakan pengalaman paling memalukan di dalam hidupnya, diri mereka mengatakan bahwa "ini aib" begitu ujar mereka pada saya.

Ya, saya tahu, saat itu saya mengangguk setuju. Tetapi, aib mereka aman bersama saya, saya simpan, saya terbangkan bersama angin yang bertiup kala itu. Saya mendengarkan mereka bercerita, saya memiliki, saya menyimpan kisah di dalam hidup mereka. Saya mencernanya, saya tidak menghujatnya, saya pun tidak mencibirnya, saya memakluminya, saya memaafkan mereka sebagai manusia.

Lalu ketika seorang kenalan saya itu bertanya "bukankah Allah menutupi aib hamba Nya, lantas mengapa kita harus membukanya" begitu katanya pada saya.

Ya, memang, Allah menutup aib hamba Nya. Begitu Maha pengasih dan penyayangnya Dia, ketika Dia Yang Maha menutupi aib manusia, manusia yang tak ubahnya seperti debu yang beterbangan, yang cuma seorang hamba, kadang merasa berhak untuk mengungkap, menyebarkan aib temannya, sesamanya, saudaranya.

Saya simpan rapat-rapat cerita mereka pada saya tentang seperti apa masa lalu yang mereka punya. Saya tersenyum, saya hanya bisa berkata, sebagai seorang manusia "Allah Maha mengampuni dosa hamba Nya, selama tidak menyekutukan Nya" begitu saya sampaikan padanya, beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih menempuh pendidikan strata satu.

Jelajah seribu wajah

Di dalam gelap aku dendangkan, syair lagu kehidupan

saya biarkan masa lalu itu terbang, hilang
saya menganggap tidak ada, apa-apa yang menyakitkan
saya memaafkan manusia
berharap Dia akan mengganti luka
berharap Dia akan mengampuni dosa
berharap Dia akan memaafkan dengan kemurahan hati Nya
dengan keluasan rahmat dan ampunan Nya

aku, pemuda hijau, lelaki paruh baya, dalam sebuah cerita 'hahaha'

Selamat datang malam, aku punya sedikit cerita tentang empati dan simpati yang tidak berujung pada tempatnya. Tidak menyasar pada sasaran yang tepat hingga membuat aku malu, lari terbirit-birit, sekaligus ketakutan dibuatnya.

Malam ini hujan, begitu banyak syukur terucap. Baiklah sedikit prakata, berbasa-basi sejenak tentu bukan hal berat bagi mu bukan, wahai halaman blog-ku. Toh sebagai auditori, melankoli sejati, aku memang senang berbasa-basi. Mengenai syukur, rasa sakit menjalar di sekitar ibu jari kakiku, sebelah kiri. Nampaknya, kuku itu menusuk ke dalam, hingga sel-sel syaraf ujung ibu jariku, meronta-ronta dengan caranya, hingga membuat kepalaku berpikir tentang bagaimana cara menyudahi penderitaan mereka.

walllahh, aku ambil penjepit kuku, dengan perjuangan sedemikian rupa sehingga, aku, kepalaku, jari-jemari tangan dan ibu jari kakiku, berhasil menciptakan sinergi, kemudian, berhentilah teriakan histeris jaringan syaraf yang tertekan kuku ibu jari kaki ku itu. Lihat-lihatlah, nikmat-Nya baru dikurangi sedikit saja, aku sudah merasakan sakit yang tak hingga. Baru sedikit saja kuku kaki ku itu menekan jaringan syaraf yang ada di ibu jari kaki ku itu, dan aku sudah tak berdaya dibuatnya. Sekarang? jaringan syaraf itu bisa berbahagia, senang hati mereka.

Kembali tentang lari terbirit-birit, tentang ketakutan sebagai hasil dari empati, simpati yang salah sasaran.

Ceritanya, aku duduk, mengamati tingkah laku manusia di sebuah taman tepan di belakang masjid salman. Ada seorang pemuda tampan, berkulit putih, berkaos lengan panjang hijau, dengan topinya, dengan celana panjangnya, dengan ranselnya, dengan beberapa kantong plastik yang dibawanya kemana-mana. 

Untuk sesaat, awalnya aku pikir, dia pemulung, normal, seperti pemulung kebanyakan. Tetapi anggapan berubah manakala, dia mulai menggelar koran bekas di atas meja yang terbuat dari bata dan semen. Dia letakkan tas ranselnya di sana, dia keluarkan isi dari dalam tasnya, isi dari dalam kantong plastiknya. Semua????? plastik, kertas, oh Tuhan, Masya Allah, ternyata dia bukan pemulung biasa, dia pemulung dengan ketidaksempurnaan di dalam kemampuan berpikirnya, alias gila *mungkin.

Aku iba, empati, simpati, dia masih muda, sudah seperti itu, menjadi gila karena dunia, keadaan keluarga, ekonomi, gila karena cinta (*hahahahaha banyak korban karena gila yang satu ini), atau memang sedari lahir dia memang tidak normal. Aku tak tahu, ku katakan aku tak tahu, yang aku tahu, aku iba.

Lalu, aku buntuti dia, terlebih mungkin karena rasa keingintahuanku tentang dia atau karena obsesi gila ku atas rasa ego pribadi tentang mengobservasi? aku tak tahu, yang jelas, aku membuntutinya kemudian duduk tepat di sebelahnya.

Jujur saja, untuk duduk di sebelahnya aku harus mempersiapkan hidungku untuk menerima segala macam kemungkinan tentang bau, karena aku alergi dengan bau. Bau tak sedap atau pun bau dari parfum, terlebih parfum wanita *i hate it.

singkat kata singkat cerita, aku duduk di sebelahnya, lalu dengan singkat pula aku bercakap-cakap dengan seorang lelaki paruh baya yang usianya lebih dari setengah abad. Bercerita tentang pekerjaannya, tentang siapa dia, tentang BBM, tentang mahasiswa yang demo, dan menurutnya *demo untuk siapa. Kemudian menceritakan tentang pemuda berkaos lengan panjang hijau, bertopi, yang duduk di sebelah kiriku. Dan itu berarti lelaki paruh baya itu duduk di sebelah kananku.

Untuk lebih singkat lagi, lelaki paruh baya itu berkata dengan perlahan "dia agak kurang" alias tidak normal. "Bapak pernah ajak ngobrol dia, katanya dari sumatera" begitu katanya, lebih lanjut "kenapa bisa ada di sini?" begitu si bapak meneruskan, lalu "wah rumit ceritanya pak" begitu jawab pemuda berkaos lengan panjang warna hijau itu, beberapa waktu yang lalu.

-sok enak- saja, aku dan lelaki paruh baya yang berpuluh tahun berporfesi sebagai supir angkutan umum, angkutan barang, dan sekarang sedang mencari pekerjaan. Kami berbicara tentang jumlah kendaraan roda dua yang tidak dibatasi, yang mengganggu pendapatan para supir kendaraan umum seperti dia. Kami berbicara tentang terlalu banyak angkutan umum yang beroperasi, dengan trayek yang sama. Pada intinya, menjadi supir angkutan umum tidak menguntungkan lagi, saatnya beralih menjadi supir pribadi, paling tidak sampai tahun 2014, karena pada saat itu masa berlaku SIM lelaki paruh baya habis alias tiba masa 'expired' nya.

Dengan masih 'sok enak' nya pula aku dan si bapak membicarakan tentang pemuda itu lagi. Lalu, menjelang gelap, burung pulang ke sarang, anak-anak berhenti bermain di taman, si bapak dan aku pun memutuskan untuk pulang.

Hasil kesalahan analisa sebagai hasil observasiku yang singkat beberapa saat yang lalu mulai terbukti.

"klik.................., klik" anggap saja ini bunyi kamera dari telepon genggamku

-flashhh, zinghhh, clink- anggap saja itu ilustrasi dari lampu kamera telepon genggamku

lalu

"kunaon teh" pemuda berkaos lengan panjang berwarna hijau itu angkat bicara

'gdubrakkk, jdag, jdug' kepala ku serasa dihujani berton-ton kotoran burung yang melintas dan bertengger di setiap pucuk pohon yang mengelilingi taman ini.

terkejut, ternyata pemuda berkaos lengan panjang, berwarna hijau itu bisa berkomunikasi dengan jelas

"kunaon teh diphoto" begitu ujarnya

aku secara terbata-bata, masih terbenam dalam keterkejutanku berkata dengan bodohnya 

"nuhun nya" ujarku
"dihapus ya, demi Alloh ya" begitu ujar pemuda berkaos lengan panjang, berwarna hijau itu

aku tersenyum, beranjak pergi, berjalan cepat setengah berlari, kemudian aku benar-benar berlari. Malu, tentu saja aku malu, asumsiku salah kaprah. Takut, ya tentu aku takut, berbagai pikiran negatif tentang pemuda itu melayang-layang di kepalaku. Sembari bertekad di dalam hati

"aku tidak akan pergi mengunjungi taman itu untuk beberapa waktu" begitu ujarku

Sepanjang jalan aku tertawa, menahankan kebodohanku. Dan sepanjang jalan pula aku berkata pada diriku sendiri tentang betapa bodohnya aku. Tentang betapa malunya aku, ya ya ya, lain kali, observasi memang tidak cukup dilakukan satu atau dua kali, tetapi berkali-kali seperti ketika aku mengobservasi Dewi.

"Untuk semua kesengajaan, aku memaafkan. Kehidupan"

Friday, March 30, 2012

Anak perempuan itu dan manusia warna-warni

"Angin dingin bertiup, aku kedinginan, meskipun kamu, matahari, sedari tadi mengikuti aku kesana dan kemari"

Aku bercerita tentang seorang anak manusia, seorang perempuan, yang sudah beranjak matang dalam usianya, tetapi masihlah mentah dalam cara berpikirnya.

Anak perempuan itu mematut dirinya di depan kaca, hampir satu jam lamanya. Dia melilitkan kesana-kemari kain penutup kepalanya. senyumnya beberapa waktu yang lalu kecut bukan alang kepalang, rasa kesalnya meradang memenuhi hati dan kepala. Membuatnya berpikir "ihhhh ini jilbab kenapa sih, susahnya" begitu ujarnya pada dirinya sendiri.

Satu jam hampir berlalu, dia selesai dengan kegiatan merias diri sendiri. Untuk orang lain, mungkin dia tidaklah cantik, tidak begitu menarik. Tetapi untuk dirinya sendiri, untuk ibunya untuk ayahnya, dia tetaplah seorang anak perempuan yang akan selalu cantik di mata kedua orang tuanya.

Angin dingin bertiup, kamar yang berdindingkan triplek, beratapkan asbes itu semakin membuat panas kepalanya. Semakin membuatnya ingin segera beranjak pergi dari tempat dimana saat itu dia berdiri, mematut diri, di depan kaca.

"Aku cukup cantik" begitu ujarnya dengan penuh percaya diri.

Anak gadis ayahnya itu segera membereskan tas ranselnya, memasukkan beberapa perlengkapan menulisnya. Satu unit netbook beserta kabel powernya, tidak lupa satu kotak jus instan dia bawa, untuk pelepas dahaganya.

Hari sudah beranjak sore, hampir pukul 14.00 siang. Tujuan pertama adalah salah satu bank negara yang tak berada jauh dari tempat dia tinggal, kamar kosnya. Dengan langkah kaki yang penuh percaya diri dia menapakkan kaki di bumi "hap hap hap" anak perempuan ayahnya itu menantang matahari. 

Senyumnya terkembang, dia lupakan semua kesakitan, dia lupakan semua kesalahan, dia lupakan semua yang ingin dia lupakan, dia anggap tidak pernah ada di dalam hidupnya, bahkan meskipun untuk satu detik saja. 

Sesekali ia menghela nafas panjang, entah apa yang ia pikirkan, tetapi sepertinya alam pikiran bawah sadarnya sedang membebankan sesuatu kepada hatinya.

Lamunannya akan indahnya bercengkrama dengan aku Sang matahari, terhenti. Ketika ia sampai di depan sebuah gedung yang bertuliskan Bank Negara Indonesia. Seorang pria berusia hampir 30 tahun membukakan pintu sembari berkata "selamat siang, ada yang bisa saya bantu" begitu ujar lelaki berpostur tegap itu.

"saya mau print buku tabungan" begitu ujar anak perempuan ayahnya itu

Dengan ramah, lelaki yang berprofesi sebagai satpam itu memandu anak perempuan ayahnya itu untuk mengambil nomor antrian, kemudian berkata "mbak ini nomor antriannya, nanti langsung ke teller saja" begitu katanya

Anak perempuan ayahnya itu tersenyum, senyum yang manis untuk seseorang yang sudah mendedikasikan diri untuk pekerjaaannya dengan sepenuh hati, sembari mengucapkan "terima kasih pak"

Tak lama, "nomor A 196 silahkan ke teller ........."
anak perempuan itu segera menyelesaikan urusannya, mencetak bukti transfer yang dibutuhkan oleh ibu dan kakaknya, yang saat ini sedang berada jauh di desa.

"Ada lagi yang bisa saya bantu mbak" begitu ujar teller cantik itu
"Sudah, sudah mbak, terima kasih ya" ujar anak perempuan itu kepada orang yang sudah melayaninya dengan senyuman.

Dia beranjak pergi, lalu duduk sejenak, menghilangkan panas, meredakan produksi keringat yang memenuhi punggungnya, yang mengalir deras karena sinar matahari yang tak henti dari pagi hari hingga siang ini. Anak perempuan itu duduk, sembari melayangkan pandangan matanya ke sana ke mari, kemudian bertumpu pada layar televisi. Melihat apa yang sedang dilakukan semua Anggota Dewan yang terhormat di Gedung DPR hari ini, siang ini, saat ini. 

Pandangan matanya tertumpu, terdiam, kemudian tiba-tiba nanar, melihat lautan manusia yang berbaju merah, kuning, ungu, hijau, dengan atribut-atribut bendera lengkap di tangan mereka. Anak perempuan itu hanya terdiam, pikirannya silang lintang, hatinya tidak tentu, tidak tenang. Pemandangan seperti itu mengingatkannya pada kejadian di tahun 1998 lalu.

Pikirannya kembali kepada khutbah jumat siang itu "...............mahasiswa merusak fasilitas umum, ini, itu, membakar..........., yang dibakar, yangn dirusak itu dibangun, dibeli dengan uang siapa? uang rakyat? uang saya juga" begitu ujar khotib jumat siang itu

Anak perempuan itu tersenyum kecut, dia memilih berhenti mengarahkan pandangan ke layar televisi berukuran 24" itu. Dia beranjak pergi, kembali diiringi senyuman seorang petugas keamanan bank "terima kasih mbak" dan seperti biasa, dia membalas dengan senyuman yang terbaik yang dapat dia berikan.

Ia melangkahkan kakinya, berat, sembari pikirannya melayang kemana-mana, tentang kenapa, mengapa. Tentang kenapa bangsa ini begini, tentang kenapa mahasiswa yang berbaju warna-warni itu seperti itu. Tentang kenapa mereka harus merusak, tentang kenapa orang-orang yang duduk di kursi nyaman itu berlaku seperti itu. Ia berpikir tentang perkataan khotib jumat siang itu, tentang wakil rakyat yang benar-benar mewakili rakyat
"....., mewakili rakyat untuk tinggal di rumah mewah, mewakili rakyat untuk naik mobil mewah, mewakili rakyat untuk jalan-jalan keluar negeri.........." begitu sindiran sinis khutbah jumat siang itu.
tentang "........, mengantarkan rakyat indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan, hanya sebatas gerbang, pintu gerbang, belumlah sampai ke-kemerdekaan yang sebenarnya, karena dari dulu kita hanya sampai di depan pintu gerbang" begitu seloroh khotib sholat jumat siang itu.

Anak perempuan itu menghentikan langkahnya

"Kita berhenti di sini, angin. Kita akan bersama-sama merenung di sini matahari" begitu ujarnya pada ku dan angin siang ini.

Kami temani dia duduk, aku tetap bersinar, angin tetap bertiup agar dia tidak begitu merasakan panasnya pancaran sinarku siang ini.

Ketika suara azan berkumandang, ketika iqamah mengajak para jamaah yang berada di masjid Salman untuk berdiri, menegakkan sholat, anak perempuan itu khusyuk masyuk dengan netbooknya. Dia menceritakan tentang pengalamannya siang ini, menceritakan tentang kegundahan yang ada di dalam hatinya, mengabaikan keberadaan aku dan angin yang menemaninya. 

Katanya

"temani aku, duduk di sini" begitu ujarnya sembari tersenyum

Dan seperti biasa, aku dan angin tak dapat menolak setiap permintaannya.

Jari jemarinya menari ke sana kemari, bertumbukan dengan tuts-tutus keyboard netbooknya yang berwarna putih. Tidak ia pedulikan tiupan angin yang dengan jahilnya membuat daun-daun berterbangan disekelilingnya. Dia tetap dengan kesibukannya, melupakan apa yang terjadi di sekitarnya. Dia terhenti sejenak ketika seorang lelaki yang usianya tak jauh berbeda dengan dia menghampirinya, kemudian berkata 
"Assalammu'alaikum teh, bisa minta uang 2000" begitu ujar lelaki tampan itu
Anak perempuan itu hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala, kemudian lelaki tampan itu beranjak pergi sembari berbicara pada diri sendiri. Lelaki tampan itu sudah kehilangan kesadarannya akan dirinya sendiri, lelaki itu sudah tidak normal lagi, ia sudah gila, sebenarnya gila.

"Kalian lihat dia, dia gila" begitu ujar anak perempuan itu padaku
"Kemana angin" begitu dia bertanya
"Aku di sini" ujar angin sembari bertiup ke sana kemari. Sibuk dengan kesenangannya menerbangkan dedaunan yang sudah tua, menguning, kemudian jatuh ke tanah, lalu kembali terbang kesana dan kemari. Terkadang membuat kesal petugas taman yang membersihkan taman ini"

Anak perempuan itu tersenyum, melihat ulah temannya yang sedang asyik dengan kesibukan barunya.

"Aihat lelaki tadi wahai matahari?" begitu dia bertanya padaku
"Iya, jelas sekali" begitu jawabnya
Sembari mendongakkan kepalanya, melihat ke arahku. Dia memejamkan matanya, kemudian tersenyum, sembari berkata "aku sedih melihatnya. Aku tersenyum dibalik kegilaannya, aku menghela nafas menyadari seperti apa yang ada di dalam hati dan pikirannya saat ini"
aku terdiam, mendengarkan anak perempuan itu bercerita.

Anak perempuan itu kembali terdiam, kembali sibuk dengan jari-jemarinya yang berlari kesana dan kemari. Aku tinggalkan dia sendiri, sibuk dengan kesenangannya bercerita di dalam dunianya. 

Tak lama, banyak manusia menghampirinya, manusia yang berpakaian merah, kuning, hijau, ungu, semua warna lengkap dengan bendera di tangan mereka. Persis sama seperti apa yang anak perempuan itu lihat di televisi siang ini. 

Aku memanggil angin dari kejauhan, bergegas menghampiri anak perempuan itu yang tak menyadari apa yang akan dia hadapi, apa yang akan dia alami siang ini.

"Aku gak suka lihat kekerasan, lihat dari televisi aja bisa bikin nangis. Jadi inget tragedi tahun 1998" begitu ujarnya padaku ketika bercerita tentang apa yang dilihatnya dari televisi yang berukuran kira-kira 24" siang ini.

Aku terlambat, orang-orang itu sudah meringsek masuk ke dalam taman yang berada di belakang masjid salman itu. Semakin lama semakin mendekat ke arah anak perempuan itu. Aku hanya terdiam, memejamkan mata tak ingin melihat apa yang akan terjadi pada anak perempuan ayahnya itu.

Aku melewatkan kejadian dimana anak perempuan itu terbelalak kedua matanya, duduk diam tak beranjak dari tempat awal dia berada. Ketika orang-orang yang berpakaian warna-warni itu, yang berteriak-teriak "tolak kenaikan harga BBM" itu, berkejar-kejaran dengan aparat keamanan, yang secara sadar atau pun tidak tiba-tiba mengambil netbook putih anak perempuan itu. Kemudian terhempas ke tanah, terinjak, patah menjadi dua. Dan ketika tas anak perempuan itu melayang, terlempar beberapa meter dari tempat dia berada. Anak perempuan itu masih terdiam, terbengong-bengong dengan apa yang terjadi pada dirinya, termenung melihat netbooknya satu-satunya terbagi menjadi dua.

Tak sampai beberapa menit, kerumunan itu sudah menjauh, terbawa angin, pergi ke tempat yang lain, masih berkejar-kejaran dengan aparat kepolisian. Taman itu kembali hening, angin tetap bertiup memberikan kesejukan pada anak perempuan itu, agar berkurang sedih di dalam dadanya.

Anak perempuan itu beranjak dari tempat duduknya, aku beranjak mendekatinya, ku isyaratkan pada angin agar tak bertiup terlalu kencang,
"berikan anak perempuan itu kesejukan, supaya tak terlampau sedih hatinya" begitu ujarku pada angin

"Maafkan aku........." begitu ujarku dan belum selesai aku mengemukakan alasan mengapa aku tak dapat membantunya, anak perempuan itu berkata sembali memungut kertas-kertas yang berterbangan, sembari mengambil tas ranselnya yang terlempar, sembari memungut layar netbook beserta keyboardnya yang sudah terpisah.
"itulah kenapa aku tidak suka kekerasan"
"itu kenapa sedari tadi rasanya aku ingin berkata pada manusia yang berpakaian warna-warni yang berada di dalam televisi itu untuk pulang" anak perempuan itu berbicara dengan ekspresinya yang datar.

"Seperti inilah negeriku" begitu ujarnya sembari berusaha menyatukan layar dengan keyboard netbooknya

Ia memasukkan kedua benda yang sudah terpisah itu ke dalam tas ranselnya, lalu
"mari kita pulang" begitu ujarnya padaku
aku mengajak angin beranjak pergi, memaksanya berhenti bermain-main dengan dedaunan yang berguguran.

Anak perempuan itu beranjak pergi meninggalkan taman yang hening itu, meninggalkan burung-burung yang berkicau bebas di taman itu. 

Dia melangkahkan kaki, derap langkahnya "hap hap hap" sembari tersenyum kepada ku dan angin di sore itu.


Thursday, March 1, 2012

"Selamat malam bulan" begitu katanya

menghela nafas panjang

seorang wanita yang duduk mengamati kelap-kelip layar netbooknya yang menemani sekaligus menebarkan radiasi dalam skala kecil dari hari ke hari.

kembali menghela nafas panjang, seperti orang yang sedang mengalami kesusahan.

wanita itu atau anak perempuan ini, tinggal di dalam sebuah kamar berukuran 4 x 4 meter. Dengan berbalut dinding tipis yang ketika panas maka dia akan kepanasan, ketika dingin dia akan menggigil kedinginan.

ketika hujan? maka suara hujan akan begitu nyaring terdengar. seperti sebuah tong kosong yang dilempari dengan batu kerikil. Kecil memang, tetapi dengan intensitas yang tinggi, dapat membuat yang tertidur jadi tidak ingin tidur, meskipun saat itu cuaca sedang mendung mendukung, dan udara saat itu sedang sejuk bertiup.

anak perempuan itu tinggal di sebuah kamar kecil yang lantainya terbuat dari kayu, yang memuai ketika panas, yang menghasilkan bunyi derit "ngikkkk, ngeeeekk" setiap kali dia menapakkan kakinya tepat di bagian lantai yang tidak rata permukaannya. Dan aku sudah katakan, anak perempuan itu tinggal di kamar yang berdinding tipis bukan? yang bahkan bisa mendengar tangis anak lelaki yang berteriak-teriak karena ibunya belum juga menongolkan wajahnya ke kamar mandi, untuk mencuci *maaf pantatnya yang baru saja selesai dari buang hajat.

dan anak perempuan itu bahkan dapat mendengar "curhat" seorang suami kepada istrinya. Dan bahkan anak perempuan itu dapat mendengar suara gadis remaja, kelas 1 SMA yang berteriak-teriak kepada neneknya atau pamannya. Untuk terakhir kalinya, dari dinding kamar yang tipis itu pula, anak perempuan itu dapat mendengar seorang lelaki tua, renta, "abah" begitu anak perempuan itu menyebutnya, membawakan ayat-ayat suci Al Quran, dengan cara yang lama, lambat, berat, tepat setiap habis maghrib dan selepas isya.

"hhhhhh, menyenangkan" begitu ujarnya suatu ketika

anak perempuan itu mengusap-usap matanya. Ia tidak belia, tidak juga tua. Dewasa? dari sisi usia? atau prilakunya? entah lah aku tak tahu. Aku hanya salah satu dari sekian banyak makhluk Tuhan yang diberikan kesempatan untuk berada di dunia. Menerangi dengan bantuan cahaya matahari, karena aku tidak dapat berdiri sendiri. Lalu, siapakah aku? ya, aku tahu, kita tidak sedang bermain "kuis siapa dia" yang dibawakan oleh Aom kusman, yang sudah meninggal beberapa waktu yang lalu.

"flying to the moon" sekarang, kamu sudah mengenal aku?

ya aku bulan, yang nampak jauh dari keindahan, tapi begitu dingin, gelap, lembab, tak mulus begitu kamu mendekat, melihat dengan lekat.

anak perempuan itu menguap, pukul 21.31 malam. Dia masih terjaga, jari-jemarinya menekan tuts keyboard netbooknya. Dia mulai menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya mungkin tidak gatal, sembari menahan mulutnya agar tidak terbuka ketika rasa kantuk melanda.

sesat, beberapa waktu yang lalu, anak perempuan itu menangis tersedu. Anak perempuan itu terkadang ingin seperti manusia yang lainnya, teman-teman sebayanya. Tetapi, dia berada pada garis hidup yang berbeda. Berhentilah tangisnya seketika, dia sibuk membenahi setiap letak barang-barang yang ada di dalam kamar kecilnya.

Sembari sesekali menitikkan air mata, ketika dia mulai teringat dengan ibu dan bapaknya di desa, jauh di sana. Sembari menyeka air matanya, ketika dia teringat pada suatu pagi, melihat seorang lelaki muda, seorang mahasiswa, yang berjalan di depannya, tergesa-gesa, terseok-seok, menahankan sepatu sebelah kirinya, yang sudah lepas alasnya, yang memaksa lelaki muda itu berjalan dengan menggeser kakinya, agar tak semakin terbuka lubang di dasar sepatunya.

anak perempuan itu terus saja menangis, ketika melihat seorang tukang strika, janda, yang memakan 3 bungkus kue sekedar untuk menahan lapar, karena si majikan belum membelikan apa-apa untuk makan siangnya.

dan ketika anak perempuan itu melayangkan pandangan matanya berkeliling ke setiap sudut kamarnya, dia terdiam, menghitung berapa jumlah pakaian yang tergantung, yang terlipat, yang tersimpan di dalam lemarinya, di kamar ini, dan di rumahnya, di desa.

"hhhhhhh" dia menghela nafas panjang
"hhhhhh" kembali menghela nafas panjang

"apa yang kamu pikirkan?" begitu aku bertanya
"aku menghitung berapa banyak yang harus aku pertanggungjawabkan" jawab anak perempuan itu

"tanggung jawab apa? pada siapa?" tanyaku tak mengerti
"semua yang aku punya"
"pertanggungan jawab pada Dia, Allah azza wajalla" begitu jawabnya

aku terdiam, aku tak mengerti apa yang sedang ia pikirkan. Pertanggungjawab-an apa? semua yang dia punya? memangnya dia memiliki apa? yang aku tahu, dia tidak memiliki apa-apa. Rumah, kendaraan, harta benda? dia tidak memiliki itu semua.

"maaf, tapi aku tak mengerti" ujarku

"hhhhhhh" anak perempuan itu kembali menghela nafas panjang

dia menjatuhkan tubuhnya tepat ke atas kasur busa. Menatap langit-langit kamarnya, lalu

"itu, kamu lihat tumpukan pakaian yang belum sempat aku strika"
begitu jawabnya tanpa melihat, dia mengarahkan telunjuknya ke arah kiri.

aku mengangguk

"itu, kamu liat juga kan, berapa yang digantung?" katanya

aku kembali mengangguk

"di dalem lemari, kamu juga liat kan" katanya

aku kembali mengangguk

"yang di rumah, di desa, kamu juga tau kan" begitu ujarnya

aku kembali mengangguk

"hhhhh" dia kembali menghela nafas panjang. Dia menutup kedua matanya, dengan kedua telapak tangannya. Lalu.......

"rasulullah aja, waktu meninggal, cuma punya beberapa helai pakaian" begitu lanjutnya
"terus, katanya, setiap apa yang kita punya, nanti diminta pertanggungjawabannya. Dari mana asalnya, untuk apa, semuanya, semuanya ditanya" begitu tambahnya
"terus, semakin banyak yang kita punya, semakin lama kita dihisabnya, semakin banyak ditanyanya" begitu jawabnya

"hhhhh" dia kembali menghela nafas panjang

"sekarang kamu tau kan, aku ini kenapa?" ujar perempuan itu

aku kembali mengangguk.

aku temani dia dengan pantulan cahaya, bukan dari aku, tetapi dengan bantuan sinar matahari yang sedang menerangi bagian yang lain dari bumi ini.

perempuan itu tetap menutupi kedua matanya, sembari berkata

"aku belum bisa berbuat apa-apa. Aku merasa tersindir ketika membaca sebuah tulisan yang berkata -jangan cuma bisa 'ngritik' atau mikir tapi gak kreatif-. Aku merasa, aku seperti itu  'Lan" ujar perempuan itu.

"aku merasa sedih, melihat seorang lelaki, pergi menuntut ilmu, dengan sepatu yang sudah rusak alasnya. kamu tau, dia terseok-seok, susah payah menahan supaya dapat berjalan dengan sepatunya itu. Sementara aku? kamu tau kan ada berapa jumlah sepatu ku?".

"aku merasa ingin menangis, melihat seorang janda, hampir setengah abad, makan keripik untuk menahankan rasa laparnya".

"dan aku cuma bisa terdiam, ketika melihat seorang anak remaja, kusut, lusuh, duduk di depan pagar sembari makan biskuit, yang entah dia dapatkan darimana"

"dan aku merasa malu, karena -ketidak syukuranku- sekali waktu atas apa yang sudah Dia berikan padaku"

"dan aku cuma bisa menangis, kamu tau 'Lan, aku cuma bisa menangis. Ketika semua yang enak tidak berpihak pada orang miskin, tidak berpihak pada orang yang lemah".

"aku seperti berteriak-teriak sendiri tanpa ada yang mendengar 'Lan. Kepada penguasa negeri ini, kepada orang-orang kaya, kepada pejabat-pejabat yang berpendidikan tapi tidak ada satupun dari mereka yang mendengarkan teriakan ku. Mereka seperti tuli, mereka seperti buta melihat saudara-saudara mereka yang tidak mampu".

"mereka seperti seolah-olah enggak tau, seperti enggak melihat, di kiri dan kanan mereka yang cuma bisa makan dengan -kerak nasi-, yang hanya bisa makan dengan tempe, yang hanya bisa makan nasi 1 hari sekali. Kemana hati nurani mereka pergi 'Lan".

"dan sampai kering tenggorokanku, mengata-ngatai mereka yang tega menghisap darah saudaranya sendiri. Bagaimana bisa mereka menelan apa yang bukan hak mereka 'Lan? apa tidak cukup dengan rumah mewah, fasilitas serba ada, masih juga ingin mengambil yang bukan milik mereka, masih juga tak henti-hentinya mencari selah untuk mengkorupsi uang 1000 rupiah milik saudara mereka sendiri".

anak perempuan itu terdiam, dia tidak menangis, dia terlalu lelah untuk menangis, dia terlalu malu untuk menangis, dia hanya dapat

"hhhhhhh" menghela nafas, menarik nafas sedalam-dalamnya, karena hanya itu yang tersisa dari negeri ini, yang gratis, tak berbayar, yang dapat dinikmati oleh semua makhluk Nya tanpa memandang strata, usia, status dan kedudukan atau ras bangsanya.

"hhhhh" dia menarik nafas panjang, berat

untuk semua pertanyaan yang tak pernah ada jawabnya, atau sama saja jawabnya.
untuk semua kebuntuan yang belum ia temukan jalan keluarnya
untuk semua cita-cita, keinginan yang ada di dalam kepalanya, yang masih terpenjara, terkekang, terkurung oleh pikirannya tentang "keterbatasan, keberanian, kegagalan, kesombongan"

anak perempuan itu, beristirahat di dalam pikirannya, di dalam pejam-an kedua matanya

"selamat malam bulan" katanya

"selamat malam anak manusia" begitu jawabku

Tuesday, February 28, 2012

Remaja dengan biskuit di genggamannya

sore, bandung 2012 di bulan januari

saya baru tahu, kalau mengganti background colour di google akan berdampak pula pada background blogspot saya.

apa kabar ruang rindu?
semoga senantiasa positif saja dirimu, seperti beberapa waktu yang lalu, ketika pertama kali aku mengenalmu.

ketika seorang teman lama, berkata "saya tidak suka meng-update- status saya di jejaring sosial, karena saya tidak ingin mudah dibaca......". apakah berkisah kepada mu termasuk menjadi pribadi yang mudah terbaca? mungkin saja.

saya sedang berpikir untuk memberikan engkau sebuah nama, daripada hanya sekedar sekarw.blogspot.com, menganggapmu sebagai makhluk pendengar setia. Menempati posisi kesekian, setelah orang tua saya (betapa saya mencintai mereka, semoga mereka mengetahuinya).

Dear diary, what if i call you Dy', same with my diary.

apakah saya manusia? masihkah saya seorang manusia?

pertanyaan itu yang terbesit secara tiba-tiba ketika saya melihat seorang anak remaja, sedang duduk tak sempurna, yang saya maksud dengan tidak sempurna, karena dia tidak menjejakkan *maaf pantatnya serta merta ke tanah untuk menopang seluruh berat badannya.

Beberapa hari yang lalu, hmmhh.

agak sedikit sulit rasanya untuk memulai berbagi cerita. mengabarkan setiap detail dari apa yang aku lihat, dari apa yang aku dengar, dan dari apa yang aku rasakan saat itu. Biarkan kali ini aku berbicara dengan menggunakan ke-aku-an ku kepadamu Dy. Bukan sebagai bentuk egois-me ku kepada kamu, si pendengar setia dari masa ke masa.

anak remaja itu hanya tertunduk di dalam duduknya
dia mengunyah setiap potong biskuit kraker yang ada di genggamannya. Mengunyah perlahan, tidak sedang takut akan kehabisan dan tak pula khawatir ada rekannya yang meminta, atau bahkan adik kecilnya yang merengek-rengek berkata "semua untuk saya".

aku tertegun barang sejenak

langkah kaki ku terhenti, *sialnya, kebiasaan buruk ku akan mengamati sesuatu yang aneh menurut pandangan mata dan hati ku.

pakaiannya lusuh, tetapi masih layak pakai. tak nampak lubang disana-sini, tak ada pula tambal sulam yang nampak dari pakaian yang ia kenakan. Dengan kaus putih lengan panjang, dengan bercelana panjang ia nampak terduduk lesu sembari menikmati setiap gigitan dari rezeki yang ia dapatkan hari ini.

,.....rambutnya kusut masai, di sekelilingnya nampak beberapa bungkus makanan ringan. entah ia dapatkan dengan cara membelinya, melalui belas kasihan, atau melalui nalurinya yang kelaparan, yang kemudian membawa kakinya untuk melangkah, yang membimbing kedua tangannya untuk mengais-ngais di tempat sampah.

aku terdiam Dy
aku terdiam beberapa detik lamanya
melihatnya dalam diam
aku tertegun Dy
aku tersentak

aku tinggal di kalangan mahasiswa yang menjadi orang-orang penting di negerinya, Indonesia Dy. Aku berdiam di lingkungan mahasiswa yang hilir mudik dengan kendaraan roda duanya dy, dengan kendaraan roda empatnya. Dan saat itu aku berdiri tepat dua meter dari remaja itu Dy, dua meter pula dari gerobak bubur ayam dan bakso mie kocok yang menjual mienya dengan harga 10ribu rupiah, lebih mahal dari pada pedagang kaki lima lainnya.

aku tersentak ketika kepala ku bertanya
"apakah kamu manusia......"
di dalam diam, hatiku, bibirku, terdiam, aku sempat terpejam

kemudian membawa kedua kaki ku yang semula melangkah ringan, kemudian menjadi berat, tak tertahan, menahankan malu yang kembali meradang.

"aku pun tidak tahu, apakah aku manusia atau bukan" begitu ujar lidahku dy, lidahku berbicara mewakili hati nuraniku.

aku belum mampu berbuat apa-apa
sampai saat ini, aku belum dapat melakukan apa-apa

bahkan untuk seorang remaja berkaus putih lengan panjang
bahkan untuk seorang remaja yang lusuh dan kusut masai
bahkan untuk seorang remaja tanggung yang memakan makanan sisa dari mahasiswa seperti aku Dy

dan aku bahkan hanya bisa terdiam, tindakan terhebat ku adalah ketika aku bertanya pada diriku sendiri tentang "Apakah aku manusia".

dinginnya cuaca hari ini,
membuat aku membalut tubuh kecilku dengan sebuah sweater berwarna hitam seharga 50ribu. Betapa beberapa waktu yang lalu, nominal itu tidak berarti bagiku. tetapi bisa begitu sangat berarti untuk remaja tanggung itu.

hhhhhh, kembali hanya dapat menghela nafas panjang. ketika aku belum menjadi manusia yang apa-apa. Belum dapat seperti pengusaha lain yang memiliki banyak angka nol di dalam rekeningnya Dy. 

aku tinggalkan anak remaja itu, dalam diam
dalam keadaan kepala ku yang menjejali hatiku dengan pertanyaan "Apakah kamu manusia"
aku katakan "aku bukan manusia, aku belum menjadi manusia"

Remaja tanggung, dengan kusut masai, dengan celana lusuhnya, dengan kaos lengan panjang putihnya. yang terduduk, tertunduk malu, memakan (aku tak sanggup meneruskannya Dy). Ketika secara mengejutkan, titik-titik air mata itu jatuh dy. Aku masihlah manusia, manusia yang bersenjatakan air matanya. 

Tetapi, kemudian kepalaku berkata "air matamu tak mampu merubah apa-apa"

remaja itu masa depan Indonesia Dy
teriak ku kepada hati ku, ketika aku belum mampu berbuat apa-apa pada remaja lelaki tanggung itu. 

jangan menjadi gila wahai bujang, jangan menjadi gila. Gila karena dunia, gila karena rasa tidak puas terhadap takdir yang Allah timpakan kepadamu.

aku tutup catatan ini, di titik ini. Di titik dimana aku merasa menjadi manusia yang cacat jiwanya, yang hanya mampu berkata belum dapat berbuat apa-apa. Cacat menjadi manusia yang sombong, berbicara seolah aku banyak tahu tentang segala sesuatu, tetapi pada kenyataannya aku tidak tahu apa-apa.

Bandung, 17.04, di 28 Februari 2012.

bujang, maafkan aku