Pages

Friday, March 30, 2012

Anak perempuan itu dan manusia warna-warni

"Angin dingin bertiup, aku kedinginan, meskipun kamu, matahari, sedari tadi mengikuti aku kesana dan kemari"

Aku bercerita tentang seorang anak manusia, seorang perempuan, yang sudah beranjak matang dalam usianya, tetapi masihlah mentah dalam cara berpikirnya.

Anak perempuan itu mematut dirinya di depan kaca, hampir satu jam lamanya. Dia melilitkan kesana-kemari kain penutup kepalanya. senyumnya beberapa waktu yang lalu kecut bukan alang kepalang, rasa kesalnya meradang memenuhi hati dan kepala. Membuatnya berpikir "ihhhh ini jilbab kenapa sih, susahnya" begitu ujarnya pada dirinya sendiri.

Satu jam hampir berlalu, dia selesai dengan kegiatan merias diri sendiri. Untuk orang lain, mungkin dia tidaklah cantik, tidak begitu menarik. Tetapi untuk dirinya sendiri, untuk ibunya untuk ayahnya, dia tetaplah seorang anak perempuan yang akan selalu cantik di mata kedua orang tuanya.

Angin dingin bertiup, kamar yang berdindingkan triplek, beratapkan asbes itu semakin membuat panas kepalanya. Semakin membuatnya ingin segera beranjak pergi dari tempat dimana saat itu dia berdiri, mematut diri, di depan kaca.

"Aku cukup cantik" begitu ujarnya dengan penuh percaya diri.

Anak gadis ayahnya itu segera membereskan tas ranselnya, memasukkan beberapa perlengkapan menulisnya. Satu unit netbook beserta kabel powernya, tidak lupa satu kotak jus instan dia bawa, untuk pelepas dahaganya.

Hari sudah beranjak sore, hampir pukul 14.00 siang. Tujuan pertama adalah salah satu bank negara yang tak berada jauh dari tempat dia tinggal, kamar kosnya. Dengan langkah kaki yang penuh percaya diri dia menapakkan kaki di bumi "hap hap hap" anak perempuan ayahnya itu menantang matahari. 

Senyumnya terkembang, dia lupakan semua kesakitan, dia lupakan semua kesalahan, dia lupakan semua yang ingin dia lupakan, dia anggap tidak pernah ada di dalam hidupnya, bahkan meskipun untuk satu detik saja. 

Sesekali ia menghela nafas panjang, entah apa yang ia pikirkan, tetapi sepertinya alam pikiran bawah sadarnya sedang membebankan sesuatu kepada hatinya.

Lamunannya akan indahnya bercengkrama dengan aku Sang matahari, terhenti. Ketika ia sampai di depan sebuah gedung yang bertuliskan Bank Negara Indonesia. Seorang pria berusia hampir 30 tahun membukakan pintu sembari berkata "selamat siang, ada yang bisa saya bantu" begitu ujar lelaki berpostur tegap itu.

"saya mau print buku tabungan" begitu ujar anak perempuan ayahnya itu

Dengan ramah, lelaki yang berprofesi sebagai satpam itu memandu anak perempuan ayahnya itu untuk mengambil nomor antrian, kemudian berkata "mbak ini nomor antriannya, nanti langsung ke teller saja" begitu katanya

Anak perempuan ayahnya itu tersenyum, senyum yang manis untuk seseorang yang sudah mendedikasikan diri untuk pekerjaaannya dengan sepenuh hati, sembari mengucapkan "terima kasih pak"

Tak lama, "nomor A 196 silahkan ke teller ........."
anak perempuan itu segera menyelesaikan urusannya, mencetak bukti transfer yang dibutuhkan oleh ibu dan kakaknya, yang saat ini sedang berada jauh di desa.

"Ada lagi yang bisa saya bantu mbak" begitu ujar teller cantik itu
"Sudah, sudah mbak, terima kasih ya" ujar anak perempuan itu kepada orang yang sudah melayaninya dengan senyuman.

Dia beranjak pergi, lalu duduk sejenak, menghilangkan panas, meredakan produksi keringat yang memenuhi punggungnya, yang mengalir deras karena sinar matahari yang tak henti dari pagi hari hingga siang ini. Anak perempuan itu duduk, sembari melayangkan pandangan matanya ke sana ke mari, kemudian bertumpu pada layar televisi. Melihat apa yang sedang dilakukan semua Anggota Dewan yang terhormat di Gedung DPR hari ini, siang ini, saat ini. 

Pandangan matanya tertumpu, terdiam, kemudian tiba-tiba nanar, melihat lautan manusia yang berbaju merah, kuning, ungu, hijau, dengan atribut-atribut bendera lengkap di tangan mereka. Anak perempuan itu hanya terdiam, pikirannya silang lintang, hatinya tidak tentu, tidak tenang. Pemandangan seperti itu mengingatkannya pada kejadian di tahun 1998 lalu.

Pikirannya kembali kepada khutbah jumat siang itu "...............mahasiswa merusak fasilitas umum, ini, itu, membakar..........., yang dibakar, yangn dirusak itu dibangun, dibeli dengan uang siapa? uang rakyat? uang saya juga" begitu ujar khotib jumat siang itu

Anak perempuan itu tersenyum kecut, dia memilih berhenti mengarahkan pandangan ke layar televisi berukuran 24" itu. Dia beranjak pergi, kembali diiringi senyuman seorang petugas keamanan bank "terima kasih mbak" dan seperti biasa, dia membalas dengan senyuman yang terbaik yang dapat dia berikan.

Ia melangkahkan kakinya, berat, sembari pikirannya melayang kemana-mana, tentang kenapa, mengapa. Tentang kenapa bangsa ini begini, tentang kenapa mahasiswa yang berbaju warna-warni itu seperti itu. Tentang kenapa mereka harus merusak, tentang kenapa orang-orang yang duduk di kursi nyaman itu berlaku seperti itu. Ia berpikir tentang perkataan khotib jumat siang itu, tentang wakil rakyat yang benar-benar mewakili rakyat
"....., mewakili rakyat untuk tinggal di rumah mewah, mewakili rakyat untuk naik mobil mewah, mewakili rakyat untuk jalan-jalan keluar negeri.........." begitu sindiran sinis khutbah jumat siang itu.
tentang "........, mengantarkan rakyat indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan, hanya sebatas gerbang, pintu gerbang, belumlah sampai ke-kemerdekaan yang sebenarnya, karena dari dulu kita hanya sampai di depan pintu gerbang" begitu seloroh khotib sholat jumat siang itu.

Anak perempuan itu menghentikan langkahnya

"Kita berhenti di sini, angin. Kita akan bersama-sama merenung di sini matahari" begitu ujarnya pada ku dan angin siang ini.

Kami temani dia duduk, aku tetap bersinar, angin tetap bertiup agar dia tidak begitu merasakan panasnya pancaran sinarku siang ini.

Ketika suara azan berkumandang, ketika iqamah mengajak para jamaah yang berada di masjid Salman untuk berdiri, menegakkan sholat, anak perempuan itu khusyuk masyuk dengan netbooknya. Dia menceritakan tentang pengalamannya siang ini, menceritakan tentang kegundahan yang ada di dalam hatinya, mengabaikan keberadaan aku dan angin yang menemaninya. 

Katanya

"temani aku, duduk di sini" begitu ujarnya sembari tersenyum

Dan seperti biasa, aku dan angin tak dapat menolak setiap permintaannya.

Jari jemarinya menari ke sana kemari, bertumbukan dengan tuts-tutus keyboard netbooknya yang berwarna putih. Tidak ia pedulikan tiupan angin yang dengan jahilnya membuat daun-daun berterbangan disekelilingnya. Dia tetap dengan kesibukannya, melupakan apa yang terjadi di sekitarnya. Dia terhenti sejenak ketika seorang lelaki yang usianya tak jauh berbeda dengan dia menghampirinya, kemudian berkata 
"Assalammu'alaikum teh, bisa minta uang 2000" begitu ujar lelaki tampan itu
Anak perempuan itu hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala, kemudian lelaki tampan itu beranjak pergi sembari berbicara pada diri sendiri. Lelaki tampan itu sudah kehilangan kesadarannya akan dirinya sendiri, lelaki itu sudah tidak normal lagi, ia sudah gila, sebenarnya gila.

"Kalian lihat dia, dia gila" begitu ujar anak perempuan itu padaku
"Kemana angin" begitu dia bertanya
"Aku di sini" ujar angin sembari bertiup ke sana kemari. Sibuk dengan kesenangannya menerbangkan dedaunan yang sudah tua, menguning, kemudian jatuh ke tanah, lalu kembali terbang kesana dan kemari. Terkadang membuat kesal petugas taman yang membersihkan taman ini"

Anak perempuan itu tersenyum, melihat ulah temannya yang sedang asyik dengan kesibukan barunya.

"Aihat lelaki tadi wahai matahari?" begitu dia bertanya padaku
"Iya, jelas sekali" begitu jawabnya
Sembari mendongakkan kepalanya, melihat ke arahku. Dia memejamkan matanya, kemudian tersenyum, sembari berkata "aku sedih melihatnya. Aku tersenyum dibalik kegilaannya, aku menghela nafas menyadari seperti apa yang ada di dalam hati dan pikirannya saat ini"
aku terdiam, mendengarkan anak perempuan itu bercerita.

Anak perempuan itu kembali terdiam, kembali sibuk dengan jari-jemarinya yang berlari kesana dan kemari. Aku tinggalkan dia sendiri, sibuk dengan kesenangannya bercerita di dalam dunianya. 

Tak lama, banyak manusia menghampirinya, manusia yang berpakaian merah, kuning, hijau, ungu, semua warna lengkap dengan bendera di tangan mereka. Persis sama seperti apa yang anak perempuan itu lihat di televisi siang ini. 

Aku memanggil angin dari kejauhan, bergegas menghampiri anak perempuan itu yang tak menyadari apa yang akan dia hadapi, apa yang akan dia alami siang ini.

"Aku gak suka lihat kekerasan, lihat dari televisi aja bisa bikin nangis. Jadi inget tragedi tahun 1998" begitu ujarnya padaku ketika bercerita tentang apa yang dilihatnya dari televisi yang berukuran kira-kira 24" siang ini.

Aku terlambat, orang-orang itu sudah meringsek masuk ke dalam taman yang berada di belakang masjid salman itu. Semakin lama semakin mendekat ke arah anak perempuan itu. Aku hanya terdiam, memejamkan mata tak ingin melihat apa yang akan terjadi pada anak perempuan ayahnya itu.

Aku melewatkan kejadian dimana anak perempuan itu terbelalak kedua matanya, duduk diam tak beranjak dari tempat awal dia berada. Ketika orang-orang yang berpakaian warna-warni itu, yang berteriak-teriak "tolak kenaikan harga BBM" itu, berkejar-kejaran dengan aparat keamanan, yang secara sadar atau pun tidak tiba-tiba mengambil netbook putih anak perempuan itu. Kemudian terhempas ke tanah, terinjak, patah menjadi dua. Dan ketika tas anak perempuan itu melayang, terlempar beberapa meter dari tempat dia berada. Anak perempuan itu masih terdiam, terbengong-bengong dengan apa yang terjadi pada dirinya, termenung melihat netbooknya satu-satunya terbagi menjadi dua.

Tak sampai beberapa menit, kerumunan itu sudah menjauh, terbawa angin, pergi ke tempat yang lain, masih berkejar-kejaran dengan aparat kepolisian. Taman itu kembali hening, angin tetap bertiup memberikan kesejukan pada anak perempuan itu, agar berkurang sedih di dalam dadanya.

Anak perempuan itu beranjak dari tempat duduknya, aku beranjak mendekatinya, ku isyaratkan pada angin agar tak bertiup terlalu kencang,
"berikan anak perempuan itu kesejukan, supaya tak terlampau sedih hatinya" begitu ujarku pada angin

"Maafkan aku........." begitu ujarku dan belum selesai aku mengemukakan alasan mengapa aku tak dapat membantunya, anak perempuan itu berkata sembali memungut kertas-kertas yang berterbangan, sembari mengambil tas ranselnya yang terlempar, sembari memungut layar netbook beserta keyboardnya yang sudah terpisah.
"itulah kenapa aku tidak suka kekerasan"
"itu kenapa sedari tadi rasanya aku ingin berkata pada manusia yang berpakaian warna-warni yang berada di dalam televisi itu untuk pulang" anak perempuan itu berbicara dengan ekspresinya yang datar.

"Seperti inilah negeriku" begitu ujarnya sembari berusaha menyatukan layar dengan keyboard netbooknya

Ia memasukkan kedua benda yang sudah terpisah itu ke dalam tas ranselnya, lalu
"mari kita pulang" begitu ujarnya padaku
aku mengajak angin beranjak pergi, memaksanya berhenti bermain-main dengan dedaunan yang berguguran.

Anak perempuan itu beranjak pergi meninggalkan taman yang hening itu, meninggalkan burung-burung yang berkicau bebas di taman itu. 

Dia melangkahkan kaki, derap langkahnya "hap hap hap" sembari tersenyum kepada ku dan angin di sore itu.


Thursday, March 1, 2012

"Selamat malam bulan" begitu katanya

menghela nafas panjang

seorang wanita yang duduk mengamati kelap-kelip layar netbooknya yang menemani sekaligus menebarkan radiasi dalam skala kecil dari hari ke hari.

kembali menghela nafas panjang, seperti orang yang sedang mengalami kesusahan.

wanita itu atau anak perempuan ini, tinggal di dalam sebuah kamar berukuran 4 x 4 meter. Dengan berbalut dinding tipis yang ketika panas maka dia akan kepanasan, ketika dingin dia akan menggigil kedinginan.

ketika hujan? maka suara hujan akan begitu nyaring terdengar. seperti sebuah tong kosong yang dilempari dengan batu kerikil. Kecil memang, tetapi dengan intensitas yang tinggi, dapat membuat yang tertidur jadi tidak ingin tidur, meskipun saat itu cuaca sedang mendung mendukung, dan udara saat itu sedang sejuk bertiup.

anak perempuan itu tinggal di sebuah kamar kecil yang lantainya terbuat dari kayu, yang memuai ketika panas, yang menghasilkan bunyi derit "ngikkkk, ngeeeekk" setiap kali dia menapakkan kakinya tepat di bagian lantai yang tidak rata permukaannya. Dan aku sudah katakan, anak perempuan itu tinggal di kamar yang berdinding tipis bukan? yang bahkan bisa mendengar tangis anak lelaki yang berteriak-teriak karena ibunya belum juga menongolkan wajahnya ke kamar mandi, untuk mencuci *maaf pantatnya yang baru saja selesai dari buang hajat.

dan anak perempuan itu bahkan dapat mendengar "curhat" seorang suami kepada istrinya. Dan bahkan anak perempuan itu dapat mendengar suara gadis remaja, kelas 1 SMA yang berteriak-teriak kepada neneknya atau pamannya. Untuk terakhir kalinya, dari dinding kamar yang tipis itu pula, anak perempuan itu dapat mendengar seorang lelaki tua, renta, "abah" begitu anak perempuan itu menyebutnya, membawakan ayat-ayat suci Al Quran, dengan cara yang lama, lambat, berat, tepat setiap habis maghrib dan selepas isya.

"hhhhhh, menyenangkan" begitu ujarnya suatu ketika

anak perempuan itu mengusap-usap matanya. Ia tidak belia, tidak juga tua. Dewasa? dari sisi usia? atau prilakunya? entah lah aku tak tahu. Aku hanya salah satu dari sekian banyak makhluk Tuhan yang diberikan kesempatan untuk berada di dunia. Menerangi dengan bantuan cahaya matahari, karena aku tidak dapat berdiri sendiri. Lalu, siapakah aku? ya, aku tahu, kita tidak sedang bermain "kuis siapa dia" yang dibawakan oleh Aom kusman, yang sudah meninggal beberapa waktu yang lalu.

"flying to the moon" sekarang, kamu sudah mengenal aku?

ya aku bulan, yang nampak jauh dari keindahan, tapi begitu dingin, gelap, lembab, tak mulus begitu kamu mendekat, melihat dengan lekat.

anak perempuan itu menguap, pukul 21.31 malam. Dia masih terjaga, jari-jemarinya menekan tuts keyboard netbooknya. Dia mulai menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya mungkin tidak gatal, sembari menahan mulutnya agar tidak terbuka ketika rasa kantuk melanda.

sesat, beberapa waktu yang lalu, anak perempuan itu menangis tersedu. Anak perempuan itu terkadang ingin seperti manusia yang lainnya, teman-teman sebayanya. Tetapi, dia berada pada garis hidup yang berbeda. Berhentilah tangisnya seketika, dia sibuk membenahi setiap letak barang-barang yang ada di dalam kamar kecilnya.

Sembari sesekali menitikkan air mata, ketika dia mulai teringat dengan ibu dan bapaknya di desa, jauh di sana. Sembari menyeka air matanya, ketika dia teringat pada suatu pagi, melihat seorang lelaki muda, seorang mahasiswa, yang berjalan di depannya, tergesa-gesa, terseok-seok, menahankan sepatu sebelah kirinya, yang sudah lepas alasnya, yang memaksa lelaki muda itu berjalan dengan menggeser kakinya, agar tak semakin terbuka lubang di dasar sepatunya.

anak perempuan itu terus saja menangis, ketika melihat seorang tukang strika, janda, yang memakan 3 bungkus kue sekedar untuk menahan lapar, karena si majikan belum membelikan apa-apa untuk makan siangnya.

dan ketika anak perempuan itu melayangkan pandangan matanya berkeliling ke setiap sudut kamarnya, dia terdiam, menghitung berapa jumlah pakaian yang tergantung, yang terlipat, yang tersimpan di dalam lemarinya, di kamar ini, dan di rumahnya, di desa.

"hhhhhhh" dia menghela nafas panjang
"hhhhhh" kembali menghela nafas panjang

"apa yang kamu pikirkan?" begitu aku bertanya
"aku menghitung berapa banyak yang harus aku pertanggungjawabkan" jawab anak perempuan itu

"tanggung jawab apa? pada siapa?" tanyaku tak mengerti
"semua yang aku punya"
"pertanggungan jawab pada Dia, Allah azza wajalla" begitu jawabnya

aku terdiam, aku tak mengerti apa yang sedang ia pikirkan. Pertanggungjawab-an apa? semua yang dia punya? memangnya dia memiliki apa? yang aku tahu, dia tidak memiliki apa-apa. Rumah, kendaraan, harta benda? dia tidak memiliki itu semua.

"maaf, tapi aku tak mengerti" ujarku

"hhhhhhh" anak perempuan itu kembali menghela nafas panjang

dia menjatuhkan tubuhnya tepat ke atas kasur busa. Menatap langit-langit kamarnya, lalu

"itu, kamu lihat tumpukan pakaian yang belum sempat aku strika"
begitu jawabnya tanpa melihat, dia mengarahkan telunjuknya ke arah kiri.

aku mengangguk

"itu, kamu liat juga kan, berapa yang digantung?" katanya

aku kembali mengangguk

"di dalem lemari, kamu juga liat kan" katanya

aku kembali mengangguk

"yang di rumah, di desa, kamu juga tau kan" begitu ujarnya

aku kembali mengangguk

"hhhhh" dia kembali menghela nafas panjang. Dia menutup kedua matanya, dengan kedua telapak tangannya. Lalu.......

"rasulullah aja, waktu meninggal, cuma punya beberapa helai pakaian" begitu lanjutnya
"terus, katanya, setiap apa yang kita punya, nanti diminta pertanggungjawabannya. Dari mana asalnya, untuk apa, semuanya, semuanya ditanya" begitu tambahnya
"terus, semakin banyak yang kita punya, semakin lama kita dihisabnya, semakin banyak ditanyanya" begitu jawabnya

"hhhhh" dia kembali menghela nafas panjang

"sekarang kamu tau kan, aku ini kenapa?" ujar perempuan itu

aku kembali mengangguk.

aku temani dia dengan pantulan cahaya, bukan dari aku, tetapi dengan bantuan sinar matahari yang sedang menerangi bagian yang lain dari bumi ini.

perempuan itu tetap menutupi kedua matanya, sembari berkata

"aku belum bisa berbuat apa-apa. Aku merasa tersindir ketika membaca sebuah tulisan yang berkata -jangan cuma bisa 'ngritik' atau mikir tapi gak kreatif-. Aku merasa, aku seperti itu  'Lan" ujar perempuan itu.

"aku merasa sedih, melihat seorang lelaki, pergi menuntut ilmu, dengan sepatu yang sudah rusak alasnya. kamu tau, dia terseok-seok, susah payah menahan supaya dapat berjalan dengan sepatunya itu. Sementara aku? kamu tau kan ada berapa jumlah sepatu ku?".

"aku merasa ingin menangis, melihat seorang janda, hampir setengah abad, makan keripik untuk menahankan rasa laparnya".

"dan aku cuma bisa terdiam, ketika melihat seorang anak remaja, kusut, lusuh, duduk di depan pagar sembari makan biskuit, yang entah dia dapatkan darimana"

"dan aku merasa malu, karena -ketidak syukuranku- sekali waktu atas apa yang sudah Dia berikan padaku"

"dan aku cuma bisa menangis, kamu tau 'Lan, aku cuma bisa menangis. Ketika semua yang enak tidak berpihak pada orang miskin, tidak berpihak pada orang yang lemah".

"aku seperti berteriak-teriak sendiri tanpa ada yang mendengar 'Lan. Kepada penguasa negeri ini, kepada orang-orang kaya, kepada pejabat-pejabat yang berpendidikan tapi tidak ada satupun dari mereka yang mendengarkan teriakan ku. Mereka seperti tuli, mereka seperti buta melihat saudara-saudara mereka yang tidak mampu".

"mereka seperti seolah-olah enggak tau, seperti enggak melihat, di kiri dan kanan mereka yang cuma bisa makan dengan -kerak nasi-, yang hanya bisa makan dengan tempe, yang hanya bisa makan nasi 1 hari sekali. Kemana hati nurani mereka pergi 'Lan".

"dan sampai kering tenggorokanku, mengata-ngatai mereka yang tega menghisap darah saudaranya sendiri. Bagaimana bisa mereka menelan apa yang bukan hak mereka 'Lan? apa tidak cukup dengan rumah mewah, fasilitas serba ada, masih juga ingin mengambil yang bukan milik mereka, masih juga tak henti-hentinya mencari selah untuk mengkorupsi uang 1000 rupiah milik saudara mereka sendiri".

anak perempuan itu terdiam, dia tidak menangis, dia terlalu lelah untuk menangis, dia terlalu malu untuk menangis, dia hanya dapat

"hhhhhhh" menghela nafas, menarik nafas sedalam-dalamnya, karena hanya itu yang tersisa dari negeri ini, yang gratis, tak berbayar, yang dapat dinikmati oleh semua makhluk Nya tanpa memandang strata, usia, status dan kedudukan atau ras bangsanya.

"hhhhh" dia menarik nafas panjang, berat

untuk semua pertanyaan yang tak pernah ada jawabnya, atau sama saja jawabnya.
untuk semua kebuntuan yang belum ia temukan jalan keluarnya
untuk semua cita-cita, keinginan yang ada di dalam kepalanya, yang masih terpenjara, terkekang, terkurung oleh pikirannya tentang "keterbatasan, keberanian, kegagalan, kesombongan"

anak perempuan itu, beristirahat di dalam pikirannya, di dalam pejam-an kedua matanya

"selamat malam bulan" katanya

"selamat malam anak manusia" begitu jawabku

Tuesday, February 28, 2012

Remaja dengan biskuit di genggamannya

sore, bandung 2012 di bulan januari

saya baru tahu, kalau mengganti background colour di google akan berdampak pula pada background blogspot saya.

apa kabar ruang rindu?
semoga senantiasa positif saja dirimu, seperti beberapa waktu yang lalu, ketika pertama kali aku mengenalmu.

ketika seorang teman lama, berkata "saya tidak suka meng-update- status saya di jejaring sosial, karena saya tidak ingin mudah dibaca......". apakah berkisah kepada mu termasuk menjadi pribadi yang mudah terbaca? mungkin saja.

saya sedang berpikir untuk memberikan engkau sebuah nama, daripada hanya sekedar sekarw.blogspot.com, menganggapmu sebagai makhluk pendengar setia. Menempati posisi kesekian, setelah orang tua saya (betapa saya mencintai mereka, semoga mereka mengetahuinya).

Dear diary, what if i call you Dy', same with my diary.

apakah saya manusia? masihkah saya seorang manusia?

pertanyaan itu yang terbesit secara tiba-tiba ketika saya melihat seorang anak remaja, sedang duduk tak sempurna, yang saya maksud dengan tidak sempurna, karena dia tidak menjejakkan *maaf pantatnya serta merta ke tanah untuk menopang seluruh berat badannya.

Beberapa hari yang lalu, hmmhh.

agak sedikit sulit rasanya untuk memulai berbagi cerita. mengabarkan setiap detail dari apa yang aku lihat, dari apa yang aku dengar, dan dari apa yang aku rasakan saat itu. Biarkan kali ini aku berbicara dengan menggunakan ke-aku-an ku kepadamu Dy. Bukan sebagai bentuk egois-me ku kepada kamu, si pendengar setia dari masa ke masa.

anak remaja itu hanya tertunduk di dalam duduknya
dia mengunyah setiap potong biskuit kraker yang ada di genggamannya. Mengunyah perlahan, tidak sedang takut akan kehabisan dan tak pula khawatir ada rekannya yang meminta, atau bahkan adik kecilnya yang merengek-rengek berkata "semua untuk saya".

aku tertegun barang sejenak

langkah kaki ku terhenti, *sialnya, kebiasaan buruk ku akan mengamati sesuatu yang aneh menurut pandangan mata dan hati ku.

pakaiannya lusuh, tetapi masih layak pakai. tak nampak lubang disana-sini, tak ada pula tambal sulam yang nampak dari pakaian yang ia kenakan. Dengan kaus putih lengan panjang, dengan bercelana panjang ia nampak terduduk lesu sembari menikmati setiap gigitan dari rezeki yang ia dapatkan hari ini.

,.....rambutnya kusut masai, di sekelilingnya nampak beberapa bungkus makanan ringan. entah ia dapatkan dengan cara membelinya, melalui belas kasihan, atau melalui nalurinya yang kelaparan, yang kemudian membawa kakinya untuk melangkah, yang membimbing kedua tangannya untuk mengais-ngais di tempat sampah.

aku terdiam Dy
aku terdiam beberapa detik lamanya
melihatnya dalam diam
aku tertegun Dy
aku tersentak

aku tinggal di kalangan mahasiswa yang menjadi orang-orang penting di negerinya, Indonesia Dy. Aku berdiam di lingkungan mahasiswa yang hilir mudik dengan kendaraan roda duanya dy, dengan kendaraan roda empatnya. Dan saat itu aku berdiri tepat dua meter dari remaja itu Dy, dua meter pula dari gerobak bubur ayam dan bakso mie kocok yang menjual mienya dengan harga 10ribu rupiah, lebih mahal dari pada pedagang kaki lima lainnya.

aku tersentak ketika kepala ku bertanya
"apakah kamu manusia......"
di dalam diam, hatiku, bibirku, terdiam, aku sempat terpejam

kemudian membawa kedua kaki ku yang semula melangkah ringan, kemudian menjadi berat, tak tertahan, menahankan malu yang kembali meradang.

"aku pun tidak tahu, apakah aku manusia atau bukan" begitu ujar lidahku dy, lidahku berbicara mewakili hati nuraniku.

aku belum mampu berbuat apa-apa
sampai saat ini, aku belum dapat melakukan apa-apa

bahkan untuk seorang remaja berkaus putih lengan panjang
bahkan untuk seorang remaja yang lusuh dan kusut masai
bahkan untuk seorang remaja tanggung yang memakan makanan sisa dari mahasiswa seperti aku Dy

dan aku bahkan hanya bisa terdiam, tindakan terhebat ku adalah ketika aku bertanya pada diriku sendiri tentang "Apakah aku manusia".

dinginnya cuaca hari ini,
membuat aku membalut tubuh kecilku dengan sebuah sweater berwarna hitam seharga 50ribu. Betapa beberapa waktu yang lalu, nominal itu tidak berarti bagiku. tetapi bisa begitu sangat berarti untuk remaja tanggung itu.

hhhhhh, kembali hanya dapat menghela nafas panjang. ketika aku belum menjadi manusia yang apa-apa. Belum dapat seperti pengusaha lain yang memiliki banyak angka nol di dalam rekeningnya Dy. 

aku tinggalkan anak remaja itu, dalam diam
dalam keadaan kepala ku yang menjejali hatiku dengan pertanyaan "Apakah kamu manusia"
aku katakan "aku bukan manusia, aku belum menjadi manusia"

Remaja tanggung, dengan kusut masai, dengan celana lusuhnya, dengan kaos lengan panjang putihnya. yang terduduk, tertunduk malu, memakan (aku tak sanggup meneruskannya Dy). Ketika secara mengejutkan, titik-titik air mata itu jatuh dy. Aku masihlah manusia, manusia yang bersenjatakan air matanya. 

Tetapi, kemudian kepalaku berkata "air matamu tak mampu merubah apa-apa"

remaja itu masa depan Indonesia Dy
teriak ku kepada hati ku, ketika aku belum mampu berbuat apa-apa pada remaja lelaki tanggung itu. 

jangan menjadi gila wahai bujang, jangan menjadi gila. Gila karena dunia, gila karena rasa tidak puas terhadap takdir yang Allah timpakan kepadamu.

aku tutup catatan ini, di titik ini. Di titik dimana aku merasa menjadi manusia yang cacat jiwanya, yang hanya mampu berkata belum dapat berbuat apa-apa. Cacat menjadi manusia yang sombong, berbicara seolah aku banyak tahu tentang segala sesuatu, tetapi pada kenyataannya aku tidak tahu apa-apa.

Bandung, 17.04, di 28 Februari 2012.

bujang, maafkan aku

Wednesday, February 8, 2012

McKinsey & Company : Managing Knowledge and Learning

This case tell us about how McKinsey and Company applied Knowledge Management practices in their company. McKinsey started to applied the knowledge management to face four things
  1. the effect of economic turmoil of the oil crisis,
  2. the slowing of the divisionalization process that had fueled the European Expansion,
  3. the growing ot sophistication of client management, and
  4. the appearance of the new focused competitors like Boston Consulting Group 
here are some short explanation about

History of knowledge management practices
in the McKinsey & company

Daniel

Not only to serving its clients but also developing its consultant

In 1977

1. Assembled working groups to develop knowledge.
2. Asked fred gluck to
  • Doing 3 days meeting to share ideas
  • Develop agenda for strategy service
3. Asked bob waterman
Assemble a group that could articulate the firm’s existing knowledge in the organization

In 1980
Daniel asked gluck to join the small group to comprised the firm office and focus on the knowledge building agenda arena.

Fred Gluck

Wanted to bring an an equally stimulating intellectual environment to McKinsey
- Convert his partner held beliefs that “knowledge deveopment had to be core, not a peripheral firm activity”
- Trying to change internal status hierarchy based on size and importance of one’s client base.
- Created Client Impact committee

In 1987
- Gluck lunched knowledge management building.

After five month study, the team made three recomendation
1. Major commitment to build databaes of knowledge
2. Ensure data bases maintained and used
3. Expand its hiring practices and promotion policies

Bill matassoni and brook manville doing the task to Implementating the three recomendation
1. Focusing the firm practice information system (FPIS) computerized database of client.
2. Selected the documents that provided the critical mass, then launch PDNet

Clientele and Pofessional Development Committee (CPDC) held
The objective
-Replacing the leader driven knowledge creation and Dissemination process-
with a “stewardship model” of self governing practices focused on competence building

Conclusion

“...... professional make a career in McKinsey by emphasizing specialized knowledge development. Than based problem solving skillls and client development orientation”

Rajat Gupta

In 1994
Launched a four-pronged attack
first Capitalized on the firm’s long term investment supported by PDNet and FPIS
second Building on an experiment a grass roots Knowledge Development approached called practice olympics

In 1995

third Internal and external expertise develop “state of the art”
- Focused on the shape function of corporation
- Creating and managing strategy growth
- Capturing global opportunities

fourth Expand the model of McKinsey Global institute

Gupta challange

  1. Must ensure that knowledge sharing within the company takes place through a variety of mediums, including traditional face-to-face interactions such as the Practice Olympics and the practice development.
  2. Gupta should be su.re that his approach to moving the organization forward includes a comprehensive evaluation of all the stakeholders’ interests in the firm.
  3. To guarantee that his four-pronged plan brings success to his company, however, Gupta must be sure that information sharing is always accompanied by tangible benefits.

Friday, January 27, 2012

sebentar-sebentar

sebentar-sebentar senang
sebentar-sebentar sedih
sebentar-sebentar tertawa
sebentar-sebentar menangis

semua serba sebentar

Malam semakin larut dan selama beberapa hari ini sebentar-sebentar merasakan sakit di pergelangan tangan sebelah kanan. Entah apa sebab? tak taulah awak. Ada nampak bahwa pergelangan tangan awak menunjukkan rasa solidaritas yang tinggi kepada buruh yang sedang berdemo, menuntut keadilan demi iming-iming "kehidupan yang layak".

Dan bahkan, pergelangan tangan awak lebih manusiawi, lebih cepat bereaksi, daripada diri awak sendiri. Hebat-hebat...........,

"plok plok plok" awak lakukan ritual tepuk tangan itu demi menghargai aksi solidaritas pergelangan tangan awak yang ikut mogok kepada awak.

Tak sedang senang hati awak untuk bercakap-cakap dengan angin sepoi-sepoi yang sedari pagi hari tadi hilir mudik di depan jendela kamar awak.

"Membuat tulang-tulang dan kulit awak menggigil saja, kau angin" awak kata pada angin

Tak sedang bernafsu pula awak, untuk duduk diam bersama bulan sabit yang sejak malam kemarin menunggu awak untuk sekedar berdiskusi tentang malam bersama bintang.

"Lain kali saja lah bulan, awak sedang tak ingin banyak cakap kali ini" 

Kedua sejawat itu, bulan dan bintang pun pergi meninggalkan awak, sendirian. Awak anak melayu yang tak tahu budaya, yang tak dapat bicara logat ibu dan bapak, hanya dapat mendengarkan sembari melongo, seperti kerbau yang dicucuk hidung oleh si empunya nya.

Awak sedang tak senang
bayang-bayang masa lalu awak, mengenangkan kawan yang dulu masih ada, sekarang sudah tiada. Mengingatkan betapa berbedanya awak yang dulu dengan awak yang sekarang.

Awak mengguncang-guncang
anak melayu udik macam awak, terdampar di pulau seberang. Terperangah dengan gedung-gedung tinggi, bingung macam mana itu gedung bisa sampai setinggi itu. Terbengong-bengong awak dengan banyaknya mobil-mobil mahal mondar-mandir. Bingung, orang-orang dari dalam televisi kata, di negeri awak banyak orang miskin, ya macam awak ini lah. Tapi, melihat mobil-mobil itu, tak lama awak nampak rumah-rumah mewah itu, luar biasa. Negeri awak kaya, orang televisi bohongi orang desa macam awak.

Berhari-hari awak mengumpat-umpat televisi yang awak katakan
"kapitalis kau tipi, barang kotak macam kau ini, berani bohongi awak yang lebih besar, lebih tinggi dari pada kau" umpatku

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, teman awak tetap sama, angin, bulan dan bintang. Tapi awak sudah berubah, awak bukan lagi orang kampung suku melayu yang udik macam dulu. Awak sudah tau itu beda kornet dengan internet, awak juga tau kalau taksi dengan angkot itu tak sama, awak pun bukan lagi kutu buku yang tebal berkacamata, dengan celana macam pelawak jojon. Awak sudah berubah, tak lagi awak bercakap dengan sebutan "Awak". Sekarang zamannya "lo dan gue", begitu cakap teman-teman baru awak. 

Tak lagi awak menjadi udik seperti dulu, setidaknya begitu awak pikir beberapa bulan yang lalu.

sampai, teori sebentar-sebentar awak muncul kembali. Ceritanya awak mulai rindu dengan buku-buku, inilah teori sebentar-sebentar yang awal kali keluar ke permukaan. Awak terkena teori "sebentar-sebentar bosan", ya awak bosan dengan keluar masuk mall, cafe. Otak awak berasa kosong.

Ceritanya, awak bertanya pada angin dimana bisa awak dapat buku-buku untuk hilangkan dahaga otak awak, yang sudah hampir terkena dehidrasi ilmu pengetahuan.
Angin kata "dekat dengan tempat menuntut ilmu, bersebelahan dengan tempat mengisi perut, berhadapan dengan tempat teknologi dipamerkan, berselisih dengan tempat wanita suka habiskan waktunya"

Awak melangkah, mengikuti kemana petunjuk angin mengarah

awak berhenti
awak terdiam
awak serta merta kembali menjadi orang udik yang lebih udik daripada orang udik kebanyakan.

awak menghitung
"satu, dua, tiga,.........................., 10, 11" 
awak berjalan
awak bersyukur 
tetapi, kemudian awak kembali terdiam
".....12, 13" 

awak terkena teori sebentar-sebentar, sebentar-sebentar lega, sebentar kemudian awak kembali terbengong-bengong dibuatnya.

bayi, balita, anak-anak, remaja, orang dewasa, orang tua. Duduk, berjalan, berlari kesana dan kemari, 13 orang manusia dari segala generasi. Dengan mangkuk kecil yang biasa awak pakai untuk makan mie, mereka jalan ke sana kemari, meminta-minta.

sebentar kemudian, awak kembali teringat dengan televisi awak, yang awak umpat karena awak sangka berbohong. Televisi awak jujur, dia katakan negeri awak banyak orang miskin. Hari ini awak begitu banyak nampak orang miskin, tepat di depan mata awak.

Semua terasa semakin kabur, awak tak dapat lagi mengingat untuk apa awak berada di jalan ini. Awak pun sudah lupa dengan siapa diri awak, awak pun sudah tak ingat lagi tentang apa yang harus awak ingat. 

Samar-samar awak mendengar

"besok, sodara saya mau dateng dari kampung. Mau ikut ngemis -ceunah-, dari pada di kampung gak ada kerjaan.........." begitu cakap salah seorang pengemis kepada pengemis lainnya, kawan sebayanya, rekannya, relasi mengemisnya.

"brukkk.........." awak jatuh

Pikiran awak melayang bersama kesadaran awak, awak tinggalkan sebentar alam sadar, awak pergi bersama angin petang, membumbung tinggi menghadiri undangan bulan sabit dan bintang. Undangan menonton televisi bersama, sembari minum kopi di atas awan. 

judulnya "orang udik dan sangkaannya tentang negerinya"

Samar awak membuka mata, terkekeh-kekeh ketiga kawan awak. Angin, bulan dan bintang, mereka menonton film orang udik dan sangkaannya. Dan sebentar kemudian, awak kembali tak sadarkan diri, awak memilih tak sadarkan diri. Mengetahui pemeran utama di dalam film orang udik itu, adalah awak sendiri.

"hahahahahaha" tawa ketiga kawan awak, angin, bulan dan bintang, terdengar nyaring, kemudian hilang. 

Awak memilih tak sadarkan diri sampai film "orang udik dan sangkaannya tentang negerinya" itu selesai diputarkan.