Pages

Thursday, August 20, 2009

Bocah lelaki yang menarik hati

Siang itu, selepas bertemu dengan pembimbing I demi sebuah masa depan. Demi sebuah kunci untuk membuka pintu ke dunia yang lebih majemuk dan konon katanya hukum yang berada di sana lebih ganas dan kejam dari yang pernah manusia kira sebelumnya. Welcome to the jungle, bagi semua manusia-manusia yang katanya diharapkan dapat menjadi salah satu penentu nasib bangsa kedepanya, dan manusia-manusia itu masyarakat dunia menyebutnya “mahasiswa”.

Saya mahasiswa, ya saya mahasiswa yang berharap setidaknya beberapa hari ke depan sudah mengantongi gelar sarjana. Mahasiswa yang beralih menjadi seorang manusia wirausaha yang berusaha mencari kerja untuk kemudian mendapatkan modal agar dapat berada pada posisi stabil menurut ukuran Nya tentunya.

Siang itu panas, ya propinsi ini memang senantiasa mengantongi cuaca panas setiap harinya, setiap minggunya, setiap bulannya. Terlebih lagi bila musim kering itu tiba, maka daun-daun yang meranggas, semakin memeriahkan suasana ‘musim panas’ yang melanda propinsi saya dan beberapa propinsi lainnya yang ada di Indonesia.

Ada sesuatu yang menarik pandangan saya siang itu. Sesuatu yang membuat saya termangu dan tertawa tertahan kemudian.

Dua bocah lelaki yang menarik perhatian. Salah satu dari mereka, saya tidak asing dengan wajahnya. Dugaan saya ia adalah adik dari salah satu anak SD yang saya kenal, aziz namanya. Kakaknya, aziz, sering melalui jalan kampus ini untuk pulang ke rumahnya, dan hingga kini saya tidak tahu dimana alamatnya. Sedangkan yang seorang, saya pernah berpapasan dengannya suatu hari, ketika saya sedang dalam perjalanan menuju kampus hijau unila. Karena wajahnya yang nampak lucu ketika berjalan, karena postur tubuhnya yang mungil dan menggemaskan. Akhirnya, pada saat itu saya menegurnya dengan bertanya ‘kelas berapa de?”, “kelas 2” begitu ujarnya pada saya, kalau saya tidak salah mengingatnya. Beberapa saat setelah bertanya, saya menyesal karena tidak mengucapkan salam padanya.

Kembali kepada dua bocah lelaki yang menarik dan membuat geli hati.

Ada yang lucu sehingga membuat saya tersenyum sejenak ketika melihat mereka berdua. Handphone dengan kemampuan kamera 2 Mpx buru-buru saya keluarkan, untuk mengabadikan mereka berdua. Mengapa mereka bisa sebegitu sedemikian sehingganya menarik perhatian saya? Sederhana, mereka menarik karena payung yang mereka bawa. Bukan payung lipat, tetapi payung anak perempuan pada umumnya, yang satu berwarna pink pula.



Agak terpana ketika pertama kali melihatnya. Karena setahu saya, anak lelaki terkadang lebih memilih berhenti kemudian berteduh atau berjalan dalam hujan, daripada berjalan dengan payung sebagai pawang penangkal hujan.

Melihat mereka berdua mengingatkan saya pada seorang teman saya ketika sedang melakukan penelitian di Pupuk Kalimantan TImur. Saat itu hujan turun lumayan deras, lumayan membuat basah sebenarnya. Tetapi, ketika umi saya menawarkan untuk meminjamkan payung, teman saya itu berkata “tidak usah”. Ck…3x padahal saya tahu pasti, dia bisa kebasahan karena penolakan yang ia lakukan.

Teman-teman lelaki saya di kampus pun, hampir tidak pernah terlihat membawa payung, dan nampaknya sebagian dari mereka lebih memilih basah kuyup diguyur air hujan. Aneh, atau memang payung identik dengan perempuan? Wallahualam, bisa jadi begitu, tapi sebenarnya saya yang perempuan saja, tidak berpikiran seperti itu.